Monday, August 31, 2009

Karakter Manusia

Setiap hidup manusia mempunyai cara dan tujuan yang berbeda-beda. Tapi jangan salahkan jika seseorang yang belum bisa memahami dan pengertian dengan saudaranya sendiri. Itulah pengalaman hidup, semakin usia bertambah maka semakin besar hubungan sosial kita dan juga semakin bertambah tanggung jawab kita. Oleh karena itu janganlah seorang yang terlalu banyak mengeluh karena boleh jadi keluhan itu sama saja seperti keluhan orang yang sudah usianya senja tua. tapi jika ia tidak mengeluh maka ia akan terus berjalan dan selalu mengerjakannya dengan lapang dada.
Kewajiban kita sangat banyak namun kewajiban itu harus juga dilandasi dengan hak pribadinya jangan sampai menzhalimi kehidupan buat dirinya terutama urusan kesehatan maupun yang berkaitan bersifat syar'i. Sesungguhnya pengalaman menjadi ukuran seseorang agar ia bisa menjadi yang terbaik setelah melihat kekurangan-kekaurangan pada masa lampaunya. Boleh jadi setiap manusia mempunyai persepsi yang berbeda namun perbedaan yang tidak dilandasi dengan kebersamaan dan tidak syar'i (logika) membuat orang lain tidak berkembang bahkan stagnan. Apakah manusia selalu menjadi bertingkah aneh jika seseorang membuatnya yang terbaik bagi khalayak umum namun persepsi orang lain menjadi keburukan. Dan itulah yang akhirnya manusia menyebutkannya ia adalah karakter. Akan tetapi berapa banyak karakter seorang dewasa namun masih ada yang berprilaku seperti anak kecil dan sebaliknya berapa banyak karakter seorang anak kecil justru banyak yang berprilaku seperti orang dewasa.
Karakter mempunyai khas tersendiri karena ia sudah dibawa dengan lahir nya pergaulan maupun adaptasi keluarga yang khusus mempunyai simbol yang unik. Namun jangan sampai karakter dipotong dengan hal yang tidak berguna bahkan merajai dengan sesuatu yang merugikan kepribadian manusia.
Maka dari itu perlunya ada tahapan secara kontinyu agar ia bisa memperbaiki karakternya, agar menjadi terbaik dan perlu kesabaran yang kuat. Sebagian manusia tidak tahannya kesabaran membuat ia jatuh dan tidak mengenal arah tujuan hidupnya bahkan karakternya pun akan terus menerobos tanpa melihat rambu-rambu kehidupannya. Ia perlu dituntun ibarat seperti ikatan tali kuda yang bisa menunggangi namun kuda itu harus kembali lagi ketempat kandangnya seperti semula. Dan itulah karakter ia bisa saja berubah namun harus ada yang mengawasinya bahkan membimbingnya dengan baik sehingga perjalanannya pun tetap nyaman dan improvisasinya juga sangat terpesona atas kejelian dalam perjalanan hidupnya. Semoga kita semua selalu sabar dan memberikan yang terbaik untuk anak kita, saudara kita bahkan orang tua kita sekalipun agar masa depannya tetap terjaga dengan arah tujuan yang jelas untuk menghadap ridhonya.

Dian Parikesit, S.Pd

Saturday, August 22, 2009

Puasa Kesehatan

Pada bulan Ramadhan, banyak acara digelar kaum muslimin. Di antara acara tersebut ada yang telah menjadi tradisi yang “wajib” dilakukan meski syariat tidak pernah memerintahkan untuk membuat berbagai acara tertentu menyambut datangnya bulan mulia tersebut. Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari kewajiban puasa yang ditetapkan syariat yang ditujukan dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.

Seperti yang kita ketahui terdapat berbagai macam keutamaan-keutamaan yang kita dapatkan bila menjalankan puasa, antara:
1. Puasa merupakan penangkal.
2. Dengan melakukan puasa dapat memasukkan seseorang ke dalam surga.
3. Orang-orang yang berpuasa diganjar oleh Allah tanpa hitungan.
4. Bagi orang yang berpuasa mendapatkan kegembiraan.
5. Bau mulut orang yang puasa lebih wangi di sisi Allah dari bau misk (kesturi).
6. Puasa dan AI-Our’an memberi syafaat bagi para pelakunya.
7. Puasa merupakan sebuah penebus dosa.
8. Ar-Raiyan adalah surga yang disediakan untuk orang-orang yang berpuasa.

Hampir tak satu pun kewajiban ibadah dalam Islam yang luput dari hikmah maupun manfaat lahiriah, demikian halnya dengan puasa. Ibadah puasa tanpa diragukan lagi sangat bermanfaat ditinjau dari segala segi. Apalagi jika ditinjau dari segi kesehatan. Banyak para ahli kesehatan yang telah mencoba untuk mengungkap rahasia dibalik puasa ini, namun baru sedikit sekali rahasia yang dapat mereka ungkap.

Para dokter sepakat bahwa puasa merupakan salah satu cara membersihkan tubuh dari lemak-Iemak berpenyakit maupun dari makanan yang tidak bermanfaat di dalam tubuh. Tubuh, selain membutuhkan konsumsi makanan, juga perlu dibersihkan dari berbagai zat kimia yang akan merusak anggota tubuh itu sendiri. Saat berpuasa, tubuh mengalami detoksifikasi secara alami. ‘Absen’ nya makanan yang biasa masuk ke dalam perut, membuat organ-organ tubuh seperti hati dan limpa ‘membersihkan diri’. Racun-racun yang dibuang pun 10 kali lebih banyak. Karena racun yang dikeluarkan lebih banyak dari biasanya, maka proses penuaan bisa di ‘rem’ untuk sementara. Itulah sebabnya bila kita melakukan puasa dengan benar, wajah kita tampak lebih berseri.

Seorang dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin asal Amerika, Robert Partolo, menyepakati bahwa tradisi mengosongkan perut dan menahan hawa nafsu yang berasal dari ajaran Islam, ternyata setelah diterapkan kepada pasien-pasienya merupakan terapi mujarab dalam memberantas bakteri sifilis yang terkandung di dalam tubuh mereka. Dengan berpuasa, lanjutnya, bakteri tersebut akan digantikan dengan zat-zat yang menyehatkan.

Begitu pula dokter lain, Bernard Mackpadan, yang juga pakar biologi berkebangsaan Amerika bahkan meyakini puasa merupakan cara jitu dalam memberantas setiap penyakit yang tidak bisa disembuhkan terapi yang lain.

PENGATURAN GIZI SEIMBANG DI BULAN RAMADHAN
Untuk mengoptimalkan kita melalui bulan suci Ramadhan, agar bisa menjadi bulan yang spesial yang dipenuhi amaliah yang bersifat ubudiyah dan muamalah, maka kesehatan badan kita juga harus ditunjang dengan konsumsi makanan bergizi sesuai dengan kebutuhan tubuh, yakni yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, serta mineral dan vitamin yang berasal dari buah-buahan dan sayuran.

Makan sahur penting artinya bagi kesehatan tubuh. Dari sisi syari’ah pun makan sahur sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda: “Makanan waktu sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan anda tinggalkan, sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para malaikat nengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur” (HR Ahmad).

Walaupun dari hadits di atas disebutkan sahur dengan seteguk air, namun bukan berarti kita tidak perlu nemperhatikan masalah gizi dalam makanan sahur kita. Makan sahur dengan makanan yang lengkap dan seimbang angat diperlukan untuk menopang tubuh melakukan aktivitas sepanjang hari.

Oleh karena itu bila saat sahur kita tidak mendapat cukup karbohidrat yang merupakan sumber energi, kita cepat merasa lemas dan tak berenergi di siang hari. Saat berbuka puasa, saat itu tubuh memerlukan asupan sebagai pengganti kadar glukosa darah yang turun. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: “Manusia tetap berkondisi baik selama tidak menunda-nunda berbuka puasa” (HR Bukhari).

Akan tetapi tetap adab (etika) harus diperhatikan juga, dimana dari sisi kesehatan dianjurkan tidak langsung makan makanan yang banyak mengandung lemak dan manis-manis, seperti tape, uli, kolak, dan lain-lain. Sebab lemak dan karbohidrat tinggi tidak bagus untuk kesehatan. Jadi, sebagai pembuka makan sebaiknya mengkonsumsi salad, buah-buahan,atau minuman sirup.

Selain itu saat buka puasa, dianjurkan juga tidak cepat-cepat menyantap makan berat. Karena lambung yang telah mengecil karena tidak bertugas selama belasan jam, akan kaget ketika tiba-tiba diisi makanan dalam porsi besar, tentunya hal ini akan mengakibatkan perut terkejut dan mengeluarkan tenaga ekstra untuk mencerna makanan tersebut.

Sebaiknya setelah shalat Maghrib, barulah menyantap makanan yang berat (nasi, lauk-pauk hewani, nabati, dan sayur¬sayuran). Sebaiknya Konsumsi minum air putih ditingkatkan sesudah shalat tarawih, dan diteruskan sesudah makan sahur. Minumlah sebanyak 15 gelas (kurang lebih 3 liter) atau minimal 10 gelas.

Drg.lmam Rulyawan, MARS

Thursday, August 20, 2009

Dari Mana Bakat Anda ?

JAKARTA, KOMPAS.com — Ditanya akan memilih jurusan apa saat kuliah nanti, Santi mengaku bingung menentukan pilihan, apalagi ketika pilihan tersebut dikaitkan dengan bakat dan minatnya. “Jangankan memilih sesuai minat dan bakat, saya sendiri pun belum tahu minat dan bakat saya,” katanya.

Santi (18), sebutlah namanya begitu, mengaku dirinya memang bukan siswa pandai di kelas. Namun, ia juga bukan nomor buncit dalam urusan nilai pelajaran. Hanya, dia merasa tidak “ngeh” soal minat atau bakatnya pada hal-hal tertentu.

Memang, kerap orang mengatakan minat dan bakat adalah teropong bagi jalan kehidupan di masa depan. Membayangkannya pun terasa menyenangkan karena dengan keduanya kita bisa menjadi siapa pun yang diinginkan asalkan mau kerja keras dan pantang menyerah.

Kenyataannya, pemahaman itu justru sebaliknya. Hal itu sering kali menimbulkan masalah ketika kita beranjak dewasa dan tiba saatnya memilih bidang pendidikan dan karier. Pemahaman itu sedikit banyak menciptakan ilusi akan beragam pilihan bidang pendidikan dan karier yang menjanjikan masa depan. Dan lagi, apakah semua itu pilihan yang benar-benar kita inginkan?

Selain itu, pemahaman tersebut juga membentuk imajinasi tersendiri bahwa kita bisa menjadi sosok terbaik di bidang apa pun yang kita minati. Duh, apa betul begitu? Apakah bisa, prestasi seorang Chris John yang dielu-elukan berkat tinjunya di atas ring itu akan bersinar oleh puja-puji pula di lapangan basket?

Nyatanya tidak. Adalah sebuah fakta bahwa kita memang tidak bisa menjadi siapa pun yang kita mau. Kita lupa, selain minat, ada faktor lain yang sangat menentukan langkah kita ke depan. Ya, bakat dan latihan khusus untuk mempertajamnya.

Temukan, Bukan Ciptakan
Kenyataan, tidak semua orang bisa menjadi seorang Chris John, Bill Gates, atau David Beckham. Mereka bertiga punya bakat alami dan telah menjadikan bakat itu sebagai investasi yang dilatihnya sejak lama. Dan kita tidak bisa membuat dan mengubahnya “semau gue”.

Sekarang, lihat ke sekeliling Anda! Mungkin, ada orang yang suka duduk berlama-lama di depan laptop? Bahkan saking lamanya Anda lupa, kapan orang itu makan dan minum?

Atau, Anda pun mungkin bingung, kenapa rekan dekat Anda lebih memilih les guru bahasa Inggris ketimbang Anda yang lebih senang naik gunung atau bermain band di saat libur? Banyak, dan banyak lagi contoh yang kita pun tidak tahu keuntungan mereka melakukan semua itu.

Anda pun sebetulnya bisa begitu. Meniru untuk kreatif berekspresi seperti mereka, berhasil lalu merasa puas. Namun kelak yang terjadi, Anda tidak akan pernah merasa nyaman melakukan hal-hal di luar kerangka bakat Anda tersebut.

Ya, Anda tidak akan bisa menjadi mahasiswa arkeologi dan menjadi arkeolog mumpuni karena Anda sebenarnya sama sekali tidak hobi “keluyuran”. Usaha Anda hancur terus dan kapok untuk terjun ke bidang bisnis sehingga Anda memilih kembali menjadi karyawan. Tidak salah, Anda memang tidak punya hobi itu. Anda tidak bakat!

Mutlak, Anda harus paham apa yang disebut dengan bawaan atau nature (hormonal atau DNA) dan latihan atau nurture. Sejatinya, yang harus Anda lakukan ialah membentuk diri Anda tak ubahnya dengan bawaan Anda sejak lahir. Anda jangan hanya menginginkan suatu bidang pendidikan yang bisa membuahkan karir tertentu dengan gaji selangit.

Jika itu Anda lakukan, berarti Anda sudah “bunuh diri”. Pasalnya, kerangka neurologis Anda yang telah membentuk bakat tersebut akan menolak. Alhasil, Anda tidak dapat menikmatinya. Kecuali, Anda memang berniat keras untuk menambal “kekurangan” tersebut dengan nurture, dengan latihan-latihan khusus.

Semakin cepat Anda sadar untuk melihat diri Anda dan menemukan potensi di dalamnya, semakin beruntung pula Anda. Pilihan minat dan bakat Anda dengan sendirinya akan lebih mudah Anda tentukan.

Anda mulai bisa memilih peran Anda, bentuk pendidikan yang cocok untuk menambal peran tersebut, serta produktifitas yang akan Anda hasilkan kelak di dunia kerja. Cara memulainya, simak beberapa hal di bawah ini:

Maksimalkan kekuatan Anda, tuntaskan pula kelemahan Anda!
Jika Anda termasuk orang yang sulit berdiplomasi, dapatkah Anda terjun bebas ke dalam bidang ini karena Anda menyukainya? Kalau Anda tergolong paling lambat mengambil keputusan, dapatkah Anda melatihnya sekeras hati? Jika Anda bukan seorang konseptor, siapkah Anda menjadi seorang “ahli lapangan” agar kekurangan Anda tersebut lenyap ditelan bumi!

Tidak cukup latihan keras, Anda butuh bakat alami!
Memang, antara pengetahuan, keterampilan, serta materi bisa Anda dapatkan melalui belajar dan latihan. Namun, hal sesungguhnya yang penting adalah bakat sebagai bawaan Anda sejak lahir. Anda akan mampu melakukan segala hal berkat keterampilan, sementara kuantitas dan kualitas Anda melakukannya adalah berkat dorongan bakat alami Anda.

Siapkan sistem pendukung hindari aktivitas tak terarah!

Sistem pendukung itu bisa saja hanya berupa pesan singkat di ponsel atau sekadar kertas-kertas yang Anda tempel di meja belajar, bahkan pintu kamar!

Sadar dan amati reaksi spontan Anda saat menyikapi hal atau kejadian

Nah, bagaimana Anda akan mengambil peran atas kejadian itu? Anda cenderung memegang kendali, membuat analisa hal itu secara seksama, atau hanya berusaha mencari sisi-sisi lain ternyata tidak penting dari kejadian tersebut?

Amati besarnya niat dan keinginan Anda melakukan aktivitas tertentu

Dari situ, yakinkan bahwa sebuah aktivitas telah membuat Anda rindu untuk berulang melakukannya. Rasa rindu itu akan senantiasa timbul hingga Anda lekas-lekas melakoninya.

Secepat apa Anda belajar dan menguasai sebuah bidang tertentu?
Secepat kilat atau selambat becak? Sadari hal itu dan bandingkan upaya Anda dengan hasil yang didapatkan oleh rekan-rekan Anda.

Sepuas apa perasaan Anda seusai melakukannya?
Entah, karena yang pasti, saat melakukannya Anda nyaman, senang, dan membuat Anda sejenak tenggelam di dalam keasyikan melakukannya.

Monitor perilaku dan perasaan Anda ketika menjalaninya
Dari sini Anda akan mengevaluasi apa yang sudah Anda lakukan. Amati dan berikan analisis pada diri Anda. Benarkah ini pilihan Anda?

Anda tidak bisa menikmati? Anda lambat dan merasa tidak berkembang?
Tinggalkan sekarang juga! Cari peran lain, jangan habiskan uang dan waktu Anda hanya untuk mengatasi kelemahan Anda, melainkan juga pertajam bakat dan kekuatan alami dalam diri Anda.

Ingat, banyak orang muda yang sukses. Yakinlah bahwa mereka memang pribadi-pribadi yang menemukan bakatnya sejak dini dan mau belatih sebagai investasi di masa depannya.

Monday, August 17, 2009

Tips Mengajar Matematika di SD

Mengajar matematika untuk siswa SD merupakan hal yang penting, karena ini merupakan dasar keberhasilan belajar matematika di kemudian hari. Di sini dibutuhkan kemampuan mengingat fakta-fakta. Hal ini dikarenakan siswa yang tidak memiliki kemampuan aritmatika, harus berjuang keras di tingkat yang lebih tinggi (SMP/SMA). Meskipun demikian matematika harus menyenangkan dan menarik.
Matematika harus menyenangkan dan menarik. Ketika siswa terlibat dalam pembelajaran matematika, mereka tidak sekedar menghafalkan rumus-rumus dan fakta-fakta tertentu. Membuat lembar kerja dan menyelesaikan persoalan matematika di papan tulis akan jauh lebih menantang.

Penggunaan media pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif akan membawa dampak psikis pada siswa. Dan disini dibutuhkan kreatif dalam penggunaan teknologi. Berikut beberapa terobosan dalam memanfaatkan media pembelajaran matematika untuk siswa SD.

1. Tanya-Jawab
Dengan cara ini akan membuat siswa lebih memberikan respon daripada hanya menuliskan di papan dan pembelajaran yang bersifat satu arah.

2. Mengumpulkan data
Cara ini akan memberikan kesan bahwa matematika sebenarnya ada dalam diri mereka, di sekitar mereka. Dan mereka dapat mengumpulkan fakta-fakta tentang mereka dengan mudah. Misalkan menghitung panjang berbagai objek yang ada di kelas mereka.

3. Games bilangan bulat positif dan negatif
4. Multiplication Challenge
5. Geometri dalam kehidupan nyata (praktek benda di sekolah)
6. Soal-soal matematika mingguan (soal problem solving)
7. Penggunaan website matematika yang interaktif (situs websitemath)
8. Math Webquest (games math online)
9. Penggunaan Geoboards.

10.Membuat komik matematika.

11. Hartu karun

12. Membuat media math karya siswa

Tentu saja hal ini disesuaiakan dengan kondisi lingkungan sekolah Anda. Penggunaan media pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sekitar dan dekat dengan kehidupan siswa menurut saya jauh akan lebih mudah terserap ke siswa. Jadi bukan hanya untuk siswa hanya untuk menghafal rumus akan tetapi siswa bisa mandiri memahami soal dan memberikan jawaban dengan tepat dan variasi dengan ide-ide karyanya.

Tuesday, August 11, 2009

Mendidik Anak Berpuasa

Banyak perdebatan dan pertanyaan mengenai kapan dan bagaimana baiknya mendidik anak beribadah dan berpuasa di bulan Ramadan. Ada yang berpendapat semakin dini usia anak diperkenalkan semakin baik, ada yang berpendapat kalau terlalu dini anak diajarkan berpuasa maka dikhawatirkan akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun kognitif si anak. Ada yang mau menerapkan sejak anak mulai bisa berjalan ada yang lebih suka mulai diajarkan ketika anak memasuki usia sekolah dll. Terlepas dengan berbagai alasan yang ada, satu hal utama yang perlu dicermati dan sebaiknya digunakan sebagai dasar dan rambu dalam mendidik anak beribadah & berpuasa dibulan Ramadan adalah :

1) Pemahaman hukum dan aturan utama didalam Agama Islam (berdasarkan dari persyaratan & prinsip-prinsip aturan berpuasa/beribadah dibulan ramadhan itu sendiri yang bersumber pada Al qu’ran dan hadeeth ).

2) pemahaman tahapan tumbuh kembang secara umum ( fisik (kesehatan), mental, kognitif serta hubungannya dengan aturan yang telah digariskan didalam Al Qur’an dan Hadeeth ).

Pemahaman hukum dan aturan utama dari sudut pandang Agama Islam

Persyaratan hukum dalam Qur'an tercantum secara explisit (surah Al'Baqarah #183) yang kira -kira arti dari ayat tsb adalah : O believers, Fasting is an obligation upon you as it was obligated upon the [Muslims] before you so it would help you to reach piety. (Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa).

Jadi persyaratan utama dalam berpuasa adalah : orang-orang yang beriman didalam Islam (muslim), dan tujuan utama dari kewajiban berpuasa adalah untuk menunjukkan ketaqwaan kepada Allah SWT. (in general bila diperluas pemahamannya bisa diartikan juga sebagai jalan ketaqwaan / menumbuhkan dan meningkatkan ketaqwaan)

Lantas kewajiban puasa diperkuat lagi oleh hadeeth nabi yang terkenal sebagai pilar dalam Islam (5 rukun Islam) (Al Buchairy : hadeeth Jibril) dimana disebutkan dalam hadeeth tsb Angel Jibril yang menyamar sebagai orang biasa bertanya kepada Nabi Muhamad A.S apakah Islam itu? lantas dijawab oleh Beliau kira-kira sbb: Islam is to bear witness that no one is God except Allah and that Muhammad is the Messenger of Allah, performing Prayer, paying Zakat, performing Pilgrimage if you are able, and Fasting the month of Ramadan (Islam adalah mengakui tiada Tuhan selaih Allah S.W.T and Muhammad adalah utusan Allah, melakukan Shallat, Berzakat, Berhaji bila mampu dan Berpuasa di bulan Ramadan).

Berdasarkan hal diatas maka persyaratan tentang "siapa" saja yang wajib berpuasa yang tersurat dalam Qur’an dan berbagai hadeeth sepakat sbb:

1. Muslim

2. Baliq (memasuki usia puberty)

3. Sehat fisik jiwa & pikiran

Sedangkan yang tidak diwajibkan berpuasa namun tetap harus melakukan kewajiban pengganti sesuai aturan yang berlaku adalah :

1. Wanita selama masa menstrual atau hamil /menyusui/masa nisab dengan kondisi tidak memungkinkannya untuk berpuasa (membahayakan kesehatannya dan si bayi bila berpuasa).

2. Musafir (dengan syarat jarak dllnya) (Al Baqarah #184)

3. Lanjut usia yang tidak mampu lagi berpuasa atau karena alasan sakit

Secara explisit memang batasan angka usia yang menjelaskan kapan baiknya pendidikan beribadah dan berpuasa dibulan ramadhan dilakukan tidaklah disebutkan, namun batasan yang lebih jelas dari angka usia telah ditentukan oleh Allah S.W.T. yaitu ketika memasuki usia baliq atau masa pubertas (Menstrual bagi wanita dan mimpi dewasa mengeluarkan mani bagi laki-laki) maka tuntutan berpuasa menjadi Wajib bagi individu tsb.

Banyak hadeeth yang menjabarkan bahwa anak-anak yang belum memasuki usia baliq/pubertas memang tidak ada kewajibannya untuk berpuasa bagi mereka seperti layaknya mereka yang sudah baliq. Namun demikian kewajiban untuk pengenalan terhadap hukum, aturan dan fungsi dari puasa sebaiknya tetap harus dilakukan dan diajarkan. Merupakan kewajiban orangtua untuk mengajarkan dan memperkenalkan hukum/aturan berpuasa secara agama, sesuai dengan salah satu hadeeth yang berbunyi :

"One who is given the responsibility of the bringing up of daughters and treats them well, there will be a shield for him from Hell." [Bukhari and Muslim) Apabila seseorang diberikan kepercayaandan tanggung jawab untuk membesarkan anak-anak perempuan (anak-anak in general) dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya, maka orang tersebut terlindungi dan tersealamatkan dari api neraka.

Nah karena tahapan tumbuh kembang pada setiap individu anak berbeda-beda, maka usia baliq pun beragam, serta ada pula faktor perbedaan gender dll. Maka tidaklah heran kalau ketetapan usia dimulainya pendidikan berpuasa pun memang menjadi beragam. Semua tergantung pada prinsip-prinsip dalam keluarga dan prinsip dari si orangtua dalam mendidik si anak. Ketetapan usia memulai pendidikan ini merupakan kebijakan orangtua dan keluarga masing-masing. Kapanpun akan dimulainya pendidikan beribadah/berpuasa dibulan Ramadhan baiknya dilakukan sesuai dengan tuntutan dan tahapan tumbuh kembang si anak. Dan tidak menyalahi aturan yang telah digariskan Allah yang telah dijabarkan didalam Qur’an dan Hadeeth.

Agama Islam adalah agama yang mempermudah dan bukanlah agama yang mempersulit. Mempermudah disini maksudnya adalah bila kita pahami dan menerapkannya secara sungguh – sungguh maka Islam dapat mempermudah hidup manusia (karena semua aturan dllnya jelas tercantum dalam Qur'an dan Hadeeth). Tentunya mempermudah disini bukan berarti lantas si manusianya bisa seenak jidat sak penake dhewe, tetapi hidup menjadi lebih mudah karena semua hal ada rambu dan guidelinenya. Rambu tsb terdapat di dalam Qur’an & Hadeeth untuk dijadikan pegangan dalam menjalani hidup. Termasuk di dalamnya hal mendidik anak di dalam Islam.

Berpuasa dari segi kesehatan & tumbuh kembang anak

Tuntutan kewajiban berpuasa ketika memasuki usia pubertas di dalam Islam bukannya tidak beralasan. Masa pubertas (Baliq) umumnya adalah masa dimana pertumbuhan organ-organ tubuh dan pertumbuhan mental & kognitifnya sudah memasuki tahap kelengkapan dan memasuki tahapan menuju kesempurnaan fungsi.

Pada masa pubertas perubahan-perubahan besar terjadi dalam pertumbuhan fisik dan mental seorang manusia (baik wanita maupun pria). Untuk organ tubuh sudah memasuki tahapan dimana organ tubuh sudah mulai siap untuk bisa bereproduksi. Anak wanita sudah mengalami ovulasi/menstrual (pelepasan sel telur dari indung telur yang mengakibatkan menstrual bila tidak dibuahi).Pada anak laki-laki sudah mengalami proses produksi sperma yang salah satunya ditandai dengan mimpi dewasa yang menyebabkan ereksi dan mengeluarkan mani. Sementara untuk tahapan emosi dan kognitif pun usia pubertas merupakan usia pemantapan pembentukan kepribadian. Pola berpikir abstrak dan kompleks sudah mulai dikuasai dan memasuki tahap penguasaan menuju “fluency”. Overal lingkar cycle tumbuh kembangnya hampir menutus sempurna dengan memasuki tahapan akhir sebagai manusia dewasa.

Melalui berpuasa di dalam Islam, latihan-latihan ketahanan fisik (menahan lapar dan haus) dan latihan ketahanan mental & kognitif (melatih menahan nafsu, berusaha selalu menggunakan common sense, mempertimbangkan baik-baik segala prilaku dan pikiran dll) merupakan cara yang sangat baik dalam melatih kemampuan serta ketrampilan mengendalikan diri (Self control, self monitor, self evaluated). Ketrampilan mengendalikan diri merupakan ketrampilan krusial yang sangat diperlukan seorang individu untuk dapat berfungsi sebagai manusia dewasa seutuhnya.

Seperti halnya tahapan tumbuh kembang lainnya, diperlukan persiapan-persiapan bagi si anak untuk bisa memasuki dan menguasai kewajiban berpuasa ketika sudah tiba waktunya. Tugas dari orangtua adalah membantu proses transisi dari masa anak-anak (sebelum wajib berpuasa) sampai memasuki masa baliq/pubertas (dimana berpuasa menjadi wajib). Proses transisi ini termasuk didalamnya memperkenalkan dan melakukan persiapa-persiapan sehingga ketika tiba waktu bagi sianak untuk melakukan kewajiban berpuasa, anak tidak lagi menjadi “kaget” atau merasa terbebani.

Mengingat range usia pubertas berbeda dan cukup bervariasi pada anak-anak, dan ada faktor perbedaan gender. Maka ada baiknya dalam menentukan waktu yang tepat bagi kita untuk mempersiapkan anak, ya dengan menggunakan prinsip tumbuh kembang secara umum. Kita pun bisa melakukan perencanaan pendidikan dengan mengkaji lebih jauh fungsi utama dari berpuasa itu sendiri. Jadi kapanpun orangtua ingin memulai mendidik anaknya dalam hal beribadah/berpuasa dibulan Ramadan, baiknya memang disesuaikan dengan tahapan tumbuh kembang masing-masing anak dan tidak dilakukan melalui pemaksaan-pemaksaan.

Range usia pubertas secara umum mengacu pada tahapan tumbuh kembang anak normal bervariasi antara 9 – 13 tahun, tergantung kondisi individu dan jenis gendernya. Anak wanita biasanya lebih cepat 1-2 tahun perkembangannya dibanding anak pria. Maka penentuan waktu memulai pendidikan ini dapat menggunakan patokan ini.

Apakah ada terlalu dini dalam mengajari/mendidik beribadah/berpuasa di bulan Ramadan?

Untuk menjawab ini maka jawabannya ya tergantung pada perencanaan apa yang akan kita terapkan (target pengajarannya apa dll).Target ini baiknya ditetapkan berdasarkan pada tujuan utama beribadah/berpuasa (sesuai aturan agama) dan disesuaikan dengan tahapan tumbuh kembang anak.

Secara umum tujuan dan fungsi dari beribadah/berpuasa dibulan Ramadan adalah menunjukkan ketaqwaan kepada Allah S.W.T (menumbuhkan/meningkatkan ketaqwaan). Ketaqwaan dalam Islam itu seperti apa? Menjalankan yang diperintahkan dan menjauhkan yang dilarang oleh Allah SWT.

Caranya bagaimana? Dalam berpuasa itu tidak semata hanya menahan nafsu, lapar dan haus secara fisikal saja tetapi juga secara kognitif (kebersihan pikiran dan cara berpikir) serta secara psikologis/afektif (kehalusan budi pekerti, kemampuan berempati dan bersimpati (berbagi), kemampuan menunjukkan rasa sayang terhadap sesama mahluk hidup dan lingkungan dimana kita tinggal dll) termasuk didalamnya. Karena begitu luasnya lingkupan tujuan dan fungsi beribadah/berpuasa di bulan Ramadan maka, banyak sekali yang dapat kita ajarkan kepada anak pada kesempatan baik setahun sekali ini.

Begitu banyaknya hal yang dapat diajarkan kepada anak di dalam berpuasa maka beberapa hadeeth menunjukkan bahwa anak baiknya mulai “serius” diajarkan berpuasa sejak dini salah satu hadeeth yang diceritakan ar-Rubayya' bint Mu'awiyyah : "The Messenger of Allah,salla Allahu alaihi wa sallam, sent a man on the morning of the day of 'Ashurah, to the residences of the Ansar, saying: 'Whoever has spent the morning fasting is to complete his fast. Whoever has not spent this morning fasting should voluntary fast for the remainder of the day.' We fasted after that announcement, as did our young children. We would go to the mosque and make toys stuffed with cotton for them to play with. If one of them started crying due to hunger, we would give them a toy to play with until it was time to eat." [al-Bukhari and Muslim.]

Dari berbagai sumber yang saya dapat, memang anak dianjurkan untuk mulai “serius” beribadah dibulan Ramadan (utamanya berpuasa fisik) memang pada usia 7 tahun dengan catatan bila si anak mampu dan tidak ada pemaksaan. (Karena hukumnya memang sebelum baliq tidak ada kewajiban jadi tidak dibenarkan adanya pemaksaan-pemaksaan kepada anak).

Perlu diingat : Berpuasa fisik (menahan lapar/haus/nafsu) itu bukan berarti lantas kebutuhan gizi dan nutrisi serta kesehatan jadi terabaikan, malah pada prakteknya kan justru kebalikannya . Yang hari-hari biasanya nggak ada snack extra, kalau bulan puasa kan pasti ada extra macem-macem untuk tajil/snacking after taraweh hehehe…dari kolak pisang sampe singkong rebus kumplit, bagi yang miskin pun biasanya gizi & nutrisi lebih bagus dibulan Ramadan karena banyak yang suka berbagi dibulan ini. Jadi kekhawatiran anak menjadi sakit, kurang gizi/nutrisi tidak beralasan kalau memang kita benar dalam menyediakan yang harus dikonsumsi anak disaat tidak berpuasa.

Berdasarkan catatan anekdotal yang saya dapat dari berbagai resources (para ortu/pendidik yang menerapkan pengenalan ibadah berpuasa sejak dini) memang menunjukkan bahwa bila anak dipersiapkan sejak dini dan bertahap maka ketika si anak diwajibkan untuk berpuasa (masuk baliq), puasa menjadi suatu hal yang lumrah dan tidak sulit untuk dilakukan. Karena berdasarkan teori pendidikan dan tumbuh kembang self control merupakan ketrampilan yang dikuasai bertahap diawali dengan tahapan self regulated (pembentukan kebiasaan) dst.

Sebenarnya kapan dan bagaimana mendidikan anak berpuasa dibulan Ramadan kuncinya ya memang di kalimat “bila si anak mampu”…kalau usia 5-6 sudah mampu (dan mau) untuk mulai puasa ¼- ½ waktu puasa ya silahkan saja selama tidak ada pemaksaan untuk melakukan berpuasa sampai si anak memasuki baliq (kalau sampai baliq masih belum puasa maka ortu wajib melakukan enforcing serius, karena hukumnya memang wajib).

Tahapan persiapan pun bisa beragam dan tidak harus melulu dimulai maupun terkonsentrasi pada persiapan fisik (menahan lapar dan haus). Justru persiapan non fisik terhadap pemahaman fungsi berpuasa (ketrampilan mengkontrol diri) lebih utama dan merupakan konsep yang lebih sulit dipahami anak. Jadi persiapan dan pengenalan area ini baiknya memang dilakukan sedini mungkin sesuai kemampuan anak.

Pengenalan/persiapan/latihan berpuasa “non fisik”

Bisa dilakukan secara serius sejak usia dini ketika anak memasuki tahapan pembentukan self concept/self regulate (biasanya dikala anak belajar potty training, umumnya usia 3-4 tahun). Bentuk pengenalannya beragam dan setiap momen bisa dijadikan ajang pembelajaran bagi si anak. Misalnya anak dapat mulai diajarkan untuk bisa menahan nafsu dan mengendalikan dirinya sendiri(self control). Bentuknya dari hal-hal kecil seperti belajar menunggu dan menanti giliran; belajar menyelesaikan permasalahan sendiri; belajar mengendalikan emosinya sendiri, dll. Contoh-contoh praktis seperti membuat jadwal rutinitas sehari-hari yang diakomodasikan dengan suasana Ramadan, merupakan awal pembelajaran yang baik bagi anak. Setiap aktivitas dalam schedule si anak.bisa dikaitkan dengan proses pembelajaran beribadah/berpuasa dibulan Ramadan.

Contoh sederhana lainnya, bila pergi ke mall dan anak merengek minta mainan yang diinginkannya. Momen ini bisa dijadikan ajang pembelajaran berpuasa, Walau kiranya ortu mampu membelikan mainan tsb pada saat itu juga ada baiknya pembelian mainan ditunda dan anak diajarkan kesabaran untuk menunggu. Ajak anak untuk menunda keinginannya (waktu bisa ditentukan bersama anak).Bila anak sudah cukup besar dan sudah mengenal konsep waktu secara lebih baik, maka penundaan ini bisa dijadikan sebagai motivasi untuk melakukan latihan latihan ibadah Ramadan. Dengan reward mainan yang diinginkannya sebagai hadiah lebaran bagi anak.

Berbagai hal sederhana lainnya dalam keseharian seperti misalnya: Menahan marah; berusaha untuk tidak gampang ngamuk/ngambek; tidak membuat oranglain marah/atau susah (terutama ortu)…..=); berusaha memenuhi kewajibannya sehari hari sampai hal yang kecil dan simple saja seperti mengajarkan anak untuk bisa menunda membuka bungkus permen yang diinginkannya (misalnya ditunda selama 15menit, 30 menit sampai satu jam saja (ini sudah luar biasa perjuangan batin untuk wrap or unwrap the candy buat si anak hehehehe) ..dapat dijadikan sebagai bagian dari pendidikan dan pengenalan ibadah Ramadan.

Bentuk latihan lainnya adalah beramal dan berbuat baik melalui modeling yang dilakukan orangtua. Kalau mau lebih efektif ini bisa dibuatkan perencanaan yang lebih kongkrit dimana target dan tujuan pembelajaran selama bulan Ramadan dirinci secara tertulis dan welorganized. Untuk mendeteksi progress dari pembelajaran dapat dibuatkan sistem tracking dan evaluasi yang sederhana. Misalnya dibuatkan chart bagi si anak untuk segala kemandiriannya dalam melakukan amal kebaikan. Bagi suatu amal kebaikan yang dilakukannya tanpa disuruh (independently atas inisiatif sendiri) diberikan score 5, dimana kemandiriannya untuk berbuat baiki bernilai paling tinggi (5 stars), kalau prilaku tsb memerlukan prompt/diingatkan 1 kali (4 stars), dst ..Apabila diingatkan sampail 4 kali (1 star saja). Sedangkan bila pengingatan dilakukan lebih dari 4 kali tidak ada star yang diberikan. Lantas akhir Ramadan starsnya dihitung dan bisa ditukar dengan reward. Inti dari aktivitas ini adalah mengajarkan bahwa ibadah dan ketaqwaan kepada Allah S.W.T di dalam Islam adalah merupakan tanggung jawab masing-masing individu muslimin. Konsep dasar ini bisa diajarkan sejak dini pada anak dengan latihan-latihan dan pembiasaan untuk selalu bertanggung jawab terhadap prilaku dirinya sendiri..

Kreatifitas dalam pelaksanaan pendidikan ini bisa bervariasi. Yang jelas proses persiapan ini baiknya diupayakan tidak membebani anak dan ditekankan pada tanggung jawab dan konsekwensi “pribadi” yang konsisten. Jadi anak melakukannya dengan senang hati dan memiliki internal motivasi yang kuat untuk menjadikannya suatu kebiasaan yang baik.

Pengenalan/persiapan/latihan berpuasa “ fisik”

Pengenalan ibadah berpuasa “fisik” (menahan nafsu, lapar dan haus) bisa dilakukan as early as 4 yrs old, dimana anak umumnya usia segitu sudah disapih. Jadi kebutuhan gizi dan nutrisinya bisa dipenuhi dalam pola makanan keseharian secara maksimal. Tentunya setiap tahapan usia tumbuh kembang memiliki tahapan latihan dan persiapan yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing anak. Tahapan proses belajar ibadah berpuasa secara fisik dimulai dengan 1) Pengenalan konsep dan pembiasaan ritual (Termasuk didalamnya pengenalan istilah istilah dan aturan keagamaan); 2) Persiapan dan latihan fisik.Cara mengajarkan dan memperkenalkan berpuasa pun bisa bermacam macam. Beberapa contoh sbb :

Pengenalan ritual ibadah berpuasa (Sahur, ifthar, menahan lapar/haus/nafsu)

Untuk anak berusia dini 4-6 yrs old, the very minimum kenalkan schedule dan ritual ibadah berpuasa. Kapan waktu sahur, kapan waktu berbuka, kapan waktu shallat Eid, Kapan waktu berzakat dllnya. Ciptakan kebiasaan-kebiasaan dari hal yang paling sederhana, misalnya ajak anak untuk selalu ikut duduk bersama dan merasakan ritual berbuka puasa (walau dia sudah makan sebelumnya). Ubah beberapa jadwal makan-nya mengakomodasikan jadwal ritual berpuasa. Misalnya jam makan malam atau jam makan snacksnya disesuaikan dengan jam berbuka puasa. Jadi walau sianak sendiri tidak diharuskan berpuasa tetapi kesertaannya dalam ritual berpuasa menjadikan ajang pembelajaran dasar bagi konsep berpuasa yang lebih tinggi levelnya. Ajak dan sertakan anak bila ada kesempatan berbuka puasa bersama ditempat umum(di mosque/dengan sanak saudara, sertakan si anak dll).Hal ini membantu penciptaan budaya Ramadan dan pengalaman Ramadan yang spesial bagi anak. Gunakan dan biasakan anak dengan istilah-istilah ritual ramadan sesuai dengan pemahaman anak, istilah -istilah seperti sahur, imsak, puasa, berbuka puasa (ifthar), sedekah, amal, zakat dll sudah dapat dikenalkan dalam tahap yang sederhana yang sesuai dengan usia mereka.

Ciptakan kebiasaan berpuasa dengan menggunakan istilah berpuasa pada anak. Misalnya walau anak tidak/belum berpuasa layaknya orang dewasa, jeda antara jam makan/minum/snack time baginya bisa disebut sebagai puasa-nya ala si anak. Misalnya setelah sarapan anak "berpuasa" sampai dengan waktu makan siangnya. Dalam jeda ini reminder ttg fungsi puasa dapat selalu diingatkan kepada anak. Lantas ketika waktu makan siang tiba "anak berbuka puasa", dan "berpuasa" kembali sampai tiba waktunya snack time/makan malam yang sudah disesuaikan jadwalnya dengan jadwal berbuka secara umum. Pengulangan dan pemahaman bahwa kelak bila ia besar (baliq) menjadi suatu kewajiban penting untuk kerap diingatkan pada anak. Ini dapat membantunya mempersiapkan dirinya sendiri (self regulating) untuk mulai menciptakan internal motivasi dalam mejalani kewajiban berpuasa ketika baliq nantinya. Hal ini mungkin kelihatannya sepele..tapi pengalaman-pengalaman “berpuasa” secara fisik ini menjadikan suatu hal yang “penting” bagi si anak tanpa dia harus merasa terbebani dan dipaksa-paksa. Secara psikologis pun penerapan ini dapat membantu pembentukan jatidiri sebagai muslim yang kuat. Si anak dapat merasakan keterlibatan dan keterkaitannya “belong” dengan ritual keagamaan. Dan dapat memiliki rasa bangga terhadap agama dan budaya dalam keluarganya.

Kalau anak sudah agak besar bisa mulai diajak untuk ritual sahur bersama, mulai diajak dan dicoba dibangunkan ketika sahur (biasanya usia 6 tahun ke atas ini sudah bisa diterapkan pelan-pelan). Sesekali bangun (banyakan nggak bangunnya) ya nggak apa-apa, in some cases banyak anak yang suka dengan “pola khusus dan baru” jadi berpuasa merupakan hal yang cukup istimewa dimana dia bisa partisipasi melakukan hal yang sama dengan orang dewasa. Kalau pas sahur mau ikut makan ya boleh, nggak juga nggak apa-apa yang jelas tidak ada pemaksaan. Penerapan kebiasaan ini pun baik untuk mulai membiasakan dan mengenalkan ritual bangun pagi untuk shallat subuh. Banyak orangtua yang membangunkan anaknya sudah hampir dekat imsak (jadi anak nggak tunggu terlalu lama untuk shallat subuh setelah sahur). Akomodasi-akomodasi dapat dilakukan supaya anak tidak merasa terbebani. Bila anak lantas tidur lagi setelah shallat subuh ya nggak apa-apa...Notes: Crankyness dipagi hari should be expected pada awal-awalnya..=).(ortu musti sabar & musti konsisten), lama-lama anak akan menjadi biasa juga (anak itu cepat beradaptasi loh biasanya).

Pengenalan konsep waktu dan disiplin dalam berpuasa

Bila anak sudah mulai besar 6 keatas, ada baiknya mengajak anak untuk mencoba berpartisipasi dalam berpuasa. Ajak anak menentukan berapa lama dia mau berpuasa. Bisa mulai dari hitungan jam sampai dengan hitungan hari (lamanya berpuasa) : ¼ hari, ½ hari, ¾ hari dan full day. NOTES: Jeda/waktu si anak berpuasa usahakan konsisten, misalnya anak berjanji dan menentukan akan berpuasa selama 1 jam lamanya, lantas baru 1/2 jam sudah laper lagi (hehhhehe..biasa toh namanya juga anak-anak) or pingin snack, ingatkan anak terhadap perjanjiannya dan usahakan “nylimur” secara baik-baik dengan berbagai aktivitas positif sampai 1 jam terpenuhi. Ini bagus untuk melatih kesabaran si anak dan juga melatih “delay rewarding” (kemampuan menunggu giliran). Orangtua pun harus konsisten kalau 1 jam sudah terpenuhi tapi anak masih asik main ya jangan lantas dibiarin aja dan diem-diem aja biar sampe beduk gitu..ya jangan nanti anak nggak percaya lagi sama kita. Baiknya anak diingatkan sudah 1 jam nih, mau diterusin puasanya apa gimana? Jadi si anak juga aware dengan konsep waktu dalam berpuasa (dan juga respect terhadap waktu dan terhadap konsistensi /komitmen).

Secara kesehatan dan tumbuh kembang, anak tidak akan mengalami masalah besar dalam belajar berpuasa, asalkan semua gizi dan nutrisi yang diperlukannya tetap terpenuhi (waktu sahur/berbuka dan jeda antara sahur dan berbuka kan bisa dipakai untuk pemenuhan kebutuhann ini). Kalaupun ada gangguan/perubahan dari pola tidur dan pola makan ini pun tidak akan berpengaruh terlalu banyak dalam proses tumbuh kembang si anak. Malah ketrampilan beradaptasi pada anak dapat dilatih pada bulan Ramadan. Karena dalam kenyataan hidup kadang memang kan kita selalu harus melakukan adaptasi dan penyesuaian dengan hal-hal baru..latihan ini tidak menimbulkan dampak besar terhadap proses tumbuh kembang anak karena kan hanya dilakukan dalam periode satu bulan dan sekali dalam satu tahun saja. Jadi kekhawatiran anak menjadi kurang gizi atau mengganggu kesehatannya memang tidak tepat dan bisa diantisipasi melalui perencanaan yang baik dan matang.

Baiknya pada awal Ramadan bersama anak kita biasakan untuk menententukan “target” yang akan dicapai pada Ramadan tsb. Misalnya kalau tahun lalu belum mulai puasa fisik, mungkin tahun ini bisa dimulai target puasa fisik dengan waktu yang ditentukan secara bertahap. Target ibadah lainnya seperti shallat atau menghafal bacaan shallat (kalau belum bisa) atau menghafal doa/baca qur’an, shallat berjamaah dll bisa juga dibuatkan dan diusahakan untuk dicapai pada Ramadan setiap tahunnya.

Jadi memang secara umum pengenalan beribadah puasa dan beribadah di bulan Ramadhan bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja dalam bentuk segala rupa.Yang jelas pengenalan dan pendidikan ibadah berpuasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadan sebaiknya dilakukan secara konsisten. Misalnya kalau sudah dimulai pada usia 4 ya terus konsisten lakukan tiap tahun setelah itu dan terus sampai si anak masuk usia baliq lantas berubah menjadi kewajiban.Tentunya setiap tahun pengajaran dan targetnya pun berbeda disesuaikan dengan perkembangan pertumbuhan anak).

Diharapkan dengan membiasakan dan mengenalkan sejak dini, dikala anak memasuki usia “Wajib” (ketika mereka masuk baliq), ibadah berpuasa merupakan suatu hal yang normal dan wajar bagi mereka dan relatively tidak canggung/sulit untuk dilakukan. Yang jelas jangan sampai ada pemaksaan ketika kita memperkenalkan dan mulai mengajarkan ibadah ini, karena persepsi awal merupakan hal penting.

Kalau anak sudah resistan pada awal (karena adanya pemaksaan) maka ibadah berpuasa menjadi suatu beban yang tidak menyenangkan bagi sianak. Dan internal motivasi akan sulit diciptakan. Bila pemaksaan berlangsung terus menerus dan resistansi menjadi sangat tinggi, maka anak melakukan “puasa” karena takut dan bukan karena memahami fungsi dan tujuan berpuasa. Biasanya dikala masuk masa baliq/pubertas, resistansi tsb berubah menjadi suatuh beban atau bahkan hal yang “dibenci” anak. Sehingga seringkali bentuk pemberontakannya adalah puasa dirumah (dimata orangtua ) saja asal aman, atau sampai dewasa anak berpuasa ya hanya karena dia "harus" berpuasa tanpa memahami apa maksud dan fungsi dari puasa tsb.Apabila ini terjadi sangatlah disayangkan, karena ketrampilan utama “mengendalikan diri” dan kesempatan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhannya tidak dapat dipelajari dan dikuasainya dengan baik.(Audzubillah minzalik, semoga anak-anak kita terhindar dari situasi ini).

Bila tinggal di negara majoritas muslim seperti di Indonesia atau negara majoritas muslim lainnya, memang tahapan pengenalan relatively lebih mudah. Karena kita tidak perlu menciptakan athmosphere pendukung dan lingkungan pendukung, tetapi sudah tercipta dengan sendirinya. Karena hampir semua orang berpuasa maka suasana beribadah Ramadan terasa sekali. Lain halnya dengan mereka yang tinggal di LN dan di negara majoritas non-muslim.Tugas keluarga/orangtua dan masyarakat muslim setempat menjadi sedikit lebih berat. Tugas kita tidak hanya wajib memperkenalkan ritual ibadah Ramadan, tetapi juga harus menyediakan dan mengakomodasi atmosphere Ramadan bagi anak-anak kita. Dan menjadikan Ramadan sebagai suat moment yang istimewa dan menyenangkan bagi si anak. Karena hal-hal tersebut tidak bisa diharapkan secara otomatis dari lingkungan tempat tinggal kita yang memang majoritas non muslim.

Semoga tulisan panjang lebar ini dapat bermanfaat. Mohon dibukakan pintu maaf bila ada kekurangan dan kekhilafan. Kebenaran datangnya hanya dari Allah SWT, dan bila ada kesalahan dalam tulisan ini adalah kesalahan pribadi saya sebagai manusia biasa.

Ramadan 2006, Lafayette – Indiana

Sunday, August 9, 2009

Kekuatan Paradigma (Stephen covey)

John Gardner berkata demikian, "Kebanyakan organisasi yang sakitsakitan telah mengembangkan kebutaan fungsional terhadap berbagai kekurangan mereka sendiri. Mereka tidak menderita karena tidak
dapat memecahkan masalah mereka, melainkan karena tidak bisa melihat masalah mereka." Einstein mengatakannya demikian, "Masalah penting yang kita hadapi tidak dapat dipecahkan pada aras pemikiran yang sama yang kita pakai ketika menciptakan masalah tersebut." Pernyataan-pernyataan di atas menggarisbawahi pembelajaran yang paling mendalam dalam hidup saya: Apabila Anda ingin
membuat perubahan dan perbaikan kecil-kecilan, sedikit demi sedikit,lakukan sesuatu pada tataran praktik, tingkah laku, dan sikap. Tetapi, bila Anda ingin membuat perbaikan besar yang amat berarti, lakukansesuatu pada paradigma. Kata paradigma berasal dari kata Yunani, paradeigma, yang aslinya adalah istilah ilmiah, tetapi secara umum kini digunakan untuk menyebut persepsi, asumsi, teori, kerangka acuan, atau "kacamata" yang Anda gunakan untuk memandang dunia. Paradigma itu seperti peta kawasan atau kota. Bila tidak tepat, tak akan ada bedanya betapa kerasnya Anda bekerja untuk
menemukan tujuan Anda atau betapa positifnya cara pikir Anda; Anda tetap saja akan tersesat. Bila petanya tepat, ketelitian dan sikap baru akan berguna. Misalnya, Anda tahu cara penyembuhan di Abad Pertengahan?
Caranya adalah mengeluarkan darah dari tubuh penderita. Apa paradigmanya? Penyebab penyakit ada di dalam darah; karena itu keluarkan, dengan cara menyedot darah. Coba bayangkan, bila Anda
tidak mempertanyakan paradigma itu, apa yang akan Anda lakukan? Lakukan lebih banyak; lebih cepat; tanpa rasa sakit. Anda mungkin akan menerapkan Manajemen Qualitas Total (Total Quality Management) atau Six Sigma dalam pengeluaran darah itu. Anda mungkin akan melakukan kontrol kualitas secara statistik, atau analisis varian. Anda mungkin akan melakukan studi kelayakan strategis untuk mendirikan jasa penyedotan darah, dan beroperasi dengan suatu rencana pemasaran yang hebat, sehingga Anda dapat beriklan demikian: "Kami memiliki unit penyedotan darah kelas dunia yang
paling baik mutunya di seluruh dunia!" Atau Anda akan membawa pasien ke puncak gunung, dan menyuruh mereka terjun bebas dari tebing gunung, bergandengan tangan, sehingga ketika mereka
kembali ke unit penyedotan darah di rumah sakit Anda mereka akan bekerja dengan cinta dan kepercayaan yang semakin besar. Atau mungkin Anda akan menyuruh para anggota unit penyedotan
darah Anda duduk di sekitar bak mandi air hangat, dan mengkaji kejiwaan para pasien yang mereka layani, bagaimana perasaan mereka satu sama lain, sehingga mereka akan mengembangkan otentisitas
dalam komunikasi mereka. Anda bahkan juga bisa mengajarkan berpikir positif kepada para pasien Anda, maupun kepada para karyawan Anda, sehingga energi positifnya menjadi optimal ketika
sedang dilakukan penyedotan darah.
Dapatkah Anda membayangkan apa yang terjadi ketika teori mengenai kuman penyakit ditemukan—ketika Semmelweis dariHungaria, Pasteur dari Prancis, dan para ilmuwan empirik lain menemukan bahwa penyebab penyakit adalah kuman? Itu langsung menjelaskan kenapa para wanita ingin dibantu oleh para bidan (dukun bayi) ketika melahirkan, karena para bidan itu lebih bersih. Mereka mandi dan cuci tangan. Itu menjelaskan kenapa lebih banyakpria di medan perang lebih banyak mati karena infeksi daripada karena terkena peluru. Penyakit merebak di belakang garis depan Masalahnya melalui kuman. Teori mengenai kuman itu membuka medan riset yang sama sekali baru. Teori itulah yang membimbing praktik penyelenggaraan kesehatan sampai hari ini. Itulah kekuatan paradigma yang tepat. Dia menjelaskan, lalu mengarahkan. Tetapi, masalahnya adalah bahwa paradigma, seperti tradisi, tak gampang mati, tak mudah berubah. Paradigma yang pincang terus berlangsung berabad-abad setelah yang lebih baik ditemukan. Contohnya, kendati buku-buku sejarah mengisahkan tentang George Washington yang sekarat karena infeksi tenggorokan, amat mungkin bahwa dia meninggal karena terlalu banyak darah yang disedot keluar dari tubuhnya. Infeksi tenggorokan itu adalah
gejala dari suatu penyakit yang lain. Tetapi, karena paradigmanya adalah bahwa penyakitnya ada dalam darah, mereka menyedot darahnya beberapa pint (1 pint = 0,568 liter) dalam jangka waktu
dua puluh empat jam, padahal secara medis kini kita dianjurkan untuk tidak mendonorkan darah lebih dari satu pint per dua bulan; itu pun kalau kondisi kesehatan kita prima.
Zaman Pekerja Pengetahuan berdasarkan paradigma baru, yang sama sekali berbeda dari paradigma kebendaan dari Zaman Industri. Marilah kita menyebutnya Paradigma Pribadi Utuh.

Thursday, August 6, 2009

MENUMBUHKAN KREATIVITAS ANAK

Ternyata tak cuma intelegensi saja yang kini harus dimiliki untuk mengarungi kehidupan yang semakin ketat. Kreativitas pun tak kalah bergunanya. Kreativitas haruslah dikembangkan sejak dini pada diri seorang anak. Peran utama orang tua dan guru haruslah sinergi dalam memberikan rangsangan kepada anak mengembangkan sebuah kreativitas. Juga haruslah berusaha melihat lebih jauh dan lebih mendalam proses si anak dalam mencapai suatu tujuan dan tidak sekadar menginginkan hasil secepat-cepatnya, karena kreativitas adalah sebuah proses.
Beri Rangsangan

Hal-hal dibawah ini harus dilakukan orang tua ataupun guru agar anak dapat mengembangkan kreativitasnya, seperti :

  1. Menciptakan lingkungan yang aman dan memberikan kebebasan bagi anak dalam mengungkapkan pendapat, perasaan dan sikapnya
  2. Orang tua atau guru harus menghormati anak sebagai individu, menghargai keunikan anak.
  3. Orang tua atau guru jangan menghargai prestasi anak hanya dengan rangking
  4. Orang tua atau guru harus dapat menjadi model atau panutan bagi anak.
  5. Orang tua atau guru harus menghargai kreativitas dan keingintahuan anak akan sesuatu., jadi sebuah keharusan bagi orang tua atau guru untuk belajar, mengikuti semua perkembangan yang ada agar dapat mengimbangi rasa ingin tahu anak.
  6. Orang tua atau guru harus dapat menunjang kegiatan anak.
  7. Orang tua atau guru dapat menjadikan anak mandiri dan dapat mengambil keputusan sendiri.
  8. Memberikan pujian pada anak bila mereka melakukan sesuatu dengan baik dan mulai mengurangi hukuman.
  9. Sering berkomunikasi secara dua arah dengan anak. Gunakan teknik bertanya, sehingga memancing diskusi dengan merangsang rasa keingintahuan anak.

Umumnya anak-anak yang kreatif memiliki sikap mandiri. Suatu “tekanan”, kekuatan yang mendorong baik dari lingkungan maupun dari diri sendiri kadang juga diperlukan agar anak bisa kreatif. Namun selain itu terdapat dua faktor yang mempengaruhi kreativitas, sehingga setiap anak akan memiliki tingkat kreativitas yang berbeda-beda. Kedua faktor tersebut adalah faktor yang timbul secara alami atau bawaan yang berasal dari genetik dan faktor pengalaman atau lingkungan.

Tuesday, August 4, 2009

Membuat akuarium

Air di akuarium sama seperti air didalam kolam. Isi dengan tumbuhan dan hewan yang biasanya hidup bersama,dan kamu akan melihat bagaimana mereka akan makan dan tumbuh. Letakkan akuariumdi tempat yang terang, tetapi jauhkan dari sinar matahari langsung.


Kau memerlukan
Akuarium Cetok
Tempat air Kerikil dan batuan akuarium dan permukaan untuk makan
Tanaman dan hewan air



1 Cuci kerikil dan tebarkan untuk lapisan dasar
Akuarium.Kemudian tambahkan batuan sehingga
hewan memiliki tempat untuk bersembunyi dan
permukaan untuk makan.



2 Tambahkan air kira kira setengah akuarium.
Gunakan air hujan atau lebih baik gunakan
air dari kolam. Tambahkan akar tanaman dalam
pot atau tanam dalam kerikil.Tambahkan
rumput kolam ke dalam air.



3 Akuarium sekarang siap untuk diisi.Jika kamu
mengisi akuarium dengan air kolam,kamu akan
menemukan adanya hewan kecil yang mengapung
seperti kutu air.Jika kamu menambahkan beberapa
keong,mereka akan mengais tumbuhan kecil dari
batuan dan kaca dan membantu membersihkan
akuarium.Jika kamu akan menambahkan ikan,
ingatlah untuk memberi mereka makan atau
mereka akan memakan penghuni air yang lebih
kecil.