Thursday, June 18, 2015

Zaman Pendidikan Karakter diciptakan Internet ?


Hari ini ketinggalan Internet....nggak zamannya. Belakangan pendidikan karakter menjadi ‘heboh’ tak berujung dalam dunia pendidikan kita. Banyak pihak berlomba menyampaikan pernyataan tentang betapa pentingnya hal itu. Maka, pemerintah pun tergopoh-gopoh mencoba menuangkan itu dalam kebijakan pendidikan sehingga muncullah sisipan-sisipan aneh dalam kurikulum kita bahkan hal yang lucu dalam kurikulum Indonesia.
Kalau diamati, pendidikan karakter yang disisip-sisipkan sedemikian rupa kiranya jauh dari harapan. Tidak semua guru memperhatikan itu. Kalaupun diperhatikan bukan tidak mungkin mereka justru menyampaikannya/mengimplementasikannya dalam bentuk hafalan. Sebuah ‘jebakan batman’ dalam pengajaran, yang sayangnya selalu berulang dan berulang seperti halnya yang menimpa pendidikan budi pekerti.

Kematian Hati

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.
Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu. Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Sunday, June 14, 2015

Teknologi Ghazwul Fikri

 

 “Mereka menghendaki untuk memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir benci .“ (At-Taubah: 32; ash-Shaf: 8)

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian hingga kalian murtad dari agama kalian jika mereka mampu.” (Al-Baqarah: 217)

Satu hal penting yang kurang mendapat perhatian secara proporsional dari kaum muslimin adalah adanya perang pemikiran atau ghazwul fikri. Bahkan tidak sedikit muballigh atau da’i yang belum mengetahuinya. Kalaupun mengetahui, kurang menyadari akan bahayanya bagi Islam dan umatnya. Mudah-mudahan uraian singkat ini, dapat menjadi wasilah (sarana) untuk menambah wawasan dan menggugaj kesadaran kita, sehingga dapat beramal dan berdakwah dengan bijak.

Secara sederhana, ghazwul fikri dapat diartikan sebagai perang pemikiran atau perang intelektual. Namun karena luasnya pembahasan, maka ada pula yang mengartikan (menerjemahkannya) sebagai invasi pemikiran, perang ideologi, perang budaya, perang urat syaraf, dan perang peradaban.

DUIT KALO TINGGAL SEDIKIT PERTANDA AKAN DATANG LAGI....



Suatu hari, KH. Rahmat Abdullah dapat 'laporan' dari sang istri, tentang persediaan uang untuk kebutuhan rumah tangga yang tinggal sedikit. Kyai Rahmat pun menjawabnya dengan santai, "Tenang saja, Bune.. duit kalo tinggal dikit artinya mau dateng lagi..."

Subhanallah!
Ungkapan yang sangat singkat, namun maknanya sangat dalam!
Begitulah kelebihan yang ALLAH berikan kepada orang yg 'alim dan shalih, sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair:

خير الكلام ما قل ودل

“Sebaik baik perkataan yang sedikit dan argumentatif”

Tuesday, June 2, 2015

Mengingat Kematian

Sesungguhnya di antara hal yang membuat jiwa melantur dan mendorongnya kepada berbagai pertarungan yang merugikan dan syahwat yang tercela adalah panjang angan-angan dan lupa akan kematian. Oleh karena itu di antara hal yang dapat mengobati jiwa adalah mengingat kematian yang notabene merupakan konsekuensi dari kesadaran akan keniscayaan keputusan Ilahi, dan pendek angan-angan yang merupakan dampak dari mengingat kematian. Janganlah ada yang menyangka bahwa pendek angan-angan akan menghambat pemakmuran dunia. Persoalannya tidak demikian, bahkan memakmurkan dunia disertai pendek angan-angan justeru akan lebih dekat kepada ibadah, jika bukan ibadah yang murni.