Thursday, August 20, 2009

Dari Mana Bakat Anda ?

JAKARTA, KOMPAS.com — Ditanya akan memilih jurusan apa saat kuliah nanti, Santi mengaku bingung menentukan pilihan, apalagi ketika pilihan tersebut dikaitkan dengan bakat dan minatnya. “Jangankan memilih sesuai minat dan bakat, saya sendiri pun belum tahu minat dan bakat saya,” katanya.

Santi (18), sebutlah namanya begitu, mengaku dirinya memang bukan siswa pandai di kelas. Namun, ia juga bukan nomor buncit dalam urusan nilai pelajaran. Hanya, dia merasa tidak “ngeh” soal minat atau bakatnya pada hal-hal tertentu.

Memang, kerap orang mengatakan minat dan bakat adalah teropong bagi jalan kehidupan di masa depan. Membayangkannya pun terasa menyenangkan karena dengan keduanya kita bisa menjadi siapa pun yang diinginkan asalkan mau kerja keras dan pantang menyerah.

Kenyataannya, pemahaman itu justru sebaliknya. Hal itu sering kali menimbulkan masalah ketika kita beranjak dewasa dan tiba saatnya memilih bidang pendidikan dan karier. Pemahaman itu sedikit banyak menciptakan ilusi akan beragam pilihan bidang pendidikan dan karier yang menjanjikan masa depan. Dan lagi, apakah semua itu pilihan yang benar-benar kita inginkan?

Selain itu, pemahaman tersebut juga membentuk imajinasi tersendiri bahwa kita bisa menjadi sosok terbaik di bidang apa pun yang kita minati. Duh, apa betul begitu? Apakah bisa, prestasi seorang Chris John yang dielu-elukan berkat tinjunya di atas ring itu akan bersinar oleh puja-puji pula di lapangan basket?

Nyatanya tidak. Adalah sebuah fakta bahwa kita memang tidak bisa menjadi siapa pun yang kita mau. Kita lupa, selain minat, ada faktor lain yang sangat menentukan langkah kita ke depan. Ya, bakat dan latihan khusus untuk mempertajamnya.

Temukan, Bukan Ciptakan
Kenyataan, tidak semua orang bisa menjadi seorang Chris John, Bill Gates, atau David Beckham. Mereka bertiga punya bakat alami dan telah menjadikan bakat itu sebagai investasi yang dilatihnya sejak lama. Dan kita tidak bisa membuat dan mengubahnya “semau gue”.

Sekarang, lihat ke sekeliling Anda! Mungkin, ada orang yang suka duduk berlama-lama di depan laptop? Bahkan saking lamanya Anda lupa, kapan orang itu makan dan minum?

Atau, Anda pun mungkin bingung, kenapa rekan dekat Anda lebih memilih les guru bahasa Inggris ketimbang Anda yang lebih senang naik gunung atau bermain band di saat libur? Banyak, dan banyak lagi contoh yang kita pun tidak tahu keuntungan mereka melakukan semua itu.

Anda pun sebetulnya bisa begitu. Meniru untuk kreatif berekspresi seperti mereka, berhasil lalu merasa puas. Namun kelak yang terjadi, Anda tidak akan pernah merasa nyaman melakukan hal-hal di luar kerangka bakat Anda tersebut.

Ya, Anda tidak akan bisa menjadi mahasiswa arkeologi dan menjadi arkeolog mumpuni karena Anda sebenarnya sama sekali tidak hobi “keluyuran”. Usaha Anda hancur terus dan kapok untuk terjun ke bidang bisnis sehingga Anda memilih kembali menjadi karyawan. Tidak salah, Anda memang tidak punya hobi itu. Anda tidak bakat!

Mutlak, Anda harus paham apa yang disebut dengan bawaan atau nature (hormonal atau DNA) dan latihan atau nurture. Sejatinya, yang harus Anda lakukan ialah membentuk diri Anda tak ubahnya dengan bawaan Anda sejak lahir. Anda jangan hanya menginginkan suatu bidang pendidikan yang bisa membuahkan karir tertentu dengan gaji selangit.

Jika itu Anda lakukan, berarti Anda sudah “bunuh diri”. Pasalnya, kerangka neurologis Anda yang telah membentuk bakat tersebut akan menolak. Alhasil, Anda tidak dapat menikmatinya. Kecuali, Anda memang berniat keras untuk menambal “kekurangan” tersebut dengan nurture, dengan latihan-latihan khusus.

Semakin cepat Anda sadar untuk melihat diri Anda dan menemukan potensi di dalamnya, semakin beruntung pula Anda. Pilihan minat dan bakat Anda dengan sendirinya akan lebih mudah Anda tentukan.

Anda mulai bisa memilih peran Anda, bentuk pendidikan yang cocok untuk menambal peran tersebut, serta produktifitas yang akan Anda hasilkan kelak di dunia kerja. Cara memulainya, simak beberapa hal di bawah ini:

Maksimalkan kekuatan Anda, tuntaskan pula kelemahan Anda!
Jika Anda termasuk orang yang sulit berdiplomasi, dapatkah Anda terjun bebas ke dalam bidang ini karena Anda menyukainya? Kalau Anda tergolong paling lambat mengambil keputusan, dapatkah Anda melatihnya sekeras hati? Jika Anda bukan seorang konseptor, siapkah Anda menjadi seorang “ahli lapangan” agar kekurangan Anda tersebut lenyap ditelan bumi!

Tidak cukup latihan keras, Anda butuh bakat alami!
Memang, antara pengetahuan, keterampilan, serta materi bisa Anda dapatkan melalui belajar dan latihan. Namun, hal sesungguhnya yang penting adalah bakat sebagai bawaan Anda sejak lahir. Anda akan mampu melakukan segala hal berkat keterampilan, sementara kuantitas dan kualitas Anda melakukannya adalah berkat dorongan bakat alami Anda.

Siapkan sistem pendukung hindari aktivitas tak terarah!

Sistem pendukung itu bisa saja hanya berupa pesan singkat di ponsel atau sekadar kertas-kertas yang Anda tempel di meja belajar, bahkan pintu kamar!

Sadar dan amati reaksi spontan Anda saat menyikapi hal atau kejadian

Nah, bagaimana Anda akan mengambil peran atas kejadian itu? Anda cenderung memegang kendali, membuat analisa hal itu secara seksama, atau hanya berusaha mencari sisi-sisi lain ternyata tidak penting dari kejadian tersebut?

Amati besarnya niat dan keinginan Anda melakukan aktivitas tertentu

Dari situ, yakinkan bahwa sebuah aktivitas telah membuat Anda rindu untuk berulang melakukannya. Rasa rindu itu akan senantiasa timbul hingga Anda lekas-lekas melakoninya.

Secepat apa Anda belajar dan menguasai sebuah bidang tertentu?
Secepat kilat atau selambat becak? Sadari hal itu dan bandingkan upaya Anda dengan hasil yang didapatkan oleh rekan-rekan Anda.

Sepuas apa perasaan Anda seusai melakukannya?
Entah, karena yang pasti, saat melakukannya Anda nyaman, senang, dan membuat Anda sejenak tenggelam di dalam keasyikan melakukannya.

Monitor perilaku dan perasaan Anda ketika menjalaninya
Dari sini Anda akan mengevaluasi apa yang sudah Anda lakukan. Amati dan berikan analisis pada diri Anda. Benarkah ini pilihan Anda?

Anda tidak bisa menikmati? Anda lambat dan merasa tidak berkembang?
Tinggalkan sekarang juga! Cari peran lain, jangan habiskan uang dan waktu Anda hanya untuk mengatasi kelemahan Anda, melainkan juga pertajam bakat dan kekuatan alami dalam diri Anda.

Ingat, banyak orang muda yang sukses. Yakinlah bahwa mereka memang pribadi-pribadi yang menemukan bakatnya sejak dini dan mau belatih sebagai investasi di masa depannya.

Monday, August 17, 2009

Tips Mengajar Matematika di SD

Mengajar matematika untuk siswa SD merupakan hal yang penting, karena ini merupakan dasar keberhasilan belajar matematika di kemudian hari. Di sini dibutuhkan kemampuan mengingat fakta-fakta. Hal ini dikarenakan siswa yang tidak memiliki kemampuan aritmatika, harus berjuang keras di tingkat yang lebih tinggi (SMP/SMA). Meskipun demikian matematika harus menyenangkan dan menarik.
Matematika harus menyenangkan dan menarik. Ketika siswa terlibat dalam pembelajaran matematika, mereka tidak sekedar menghafalkan rumus-rumus dan fakta-fakta tertentu. Membuat lembar kerja dan menyelesaikan persoalan matematika di papan tulis akan jauh lebih menantang.

Penggunaan media pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif akan membawa dampak psikis pada siswa. Dan disini dibutuhkan kreatif dalam penggunaan teknologi. Berikut beberapa terobosan dalam memanfaatkan media pembelajaran matematika untuk siswa SD.

1. Tanya-Jawab
Dengan cara ini akan membuat siswa lebih memberikan respon daripada hanya menuliskan di papan dan pembelajaran yang bersifat satu arah.

2. Mengumpulkan data
Cara ini akan memberikan kesan bahwa matematika sebenarnya ada dalam diri mereka, di sekitar mereka. Dan mereka dapat mengumpulkan fakta-fakta tentang mereka dengan mudah. Misalkan menghitung panjang berbagai objek yang ada di kelas mereka.

3. Games bilangan bulat positif dan negatif
4. Multiplication Challenge
5. Geometri dalam kehidupan nyata (praktek benda di sekolah)
6. Soal-soal matematika mingguan (soal problem solving)
7. Penggunaan website matematika yang interaktif (situs websitemath)
8. Math Webquest (games math online)
9. Penggunaan Geoboards.

10.Membuat komik matematika.

11. Hartu karun

12. Membuat media math karya siswa

Tentu saja hal ini disesuaiakan dengan kondisi lingkungan sekolah Anda. Penggunaan media pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sekitar dan dekat dengan kehidupan siswa menurut saya jauh akan lebih mudah terserap ke siswa. Jadi bukan hanya untuk siswa hanya untuk menghafal rumus akan tetapi siswa bisa mandiri memahami soal dan memberikan jawaban dengan tepat dan variasi dengan ide-ide karyanya.

Tuesday, August 11, 2009

Mendidik Anak Berpuasa

Banyak perdebatan dan pertanyaan mengenai kapan dan bagaimana baiknya mendidik anak beribadah dan berpuasa di bulan Ramadan. Ada yang berpendapat semakin dini usia anak diperkenalkan semakin baik, ada yang berpendapat kalau terlalu dini anak diajarkan berpuasa maka dikhawatirkan akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun kognitif si anak. Ada yang mau menerapkan sejak anak mulai bisa berjalan ada yang lebih suka mulai diajarkan ketika anak memasuki usia sekolah dll. Terlepas dengan berbagai alasan yang ada, satu hal utama yang perlu dicermati dan sebaiknya digunakan sebagai dasar dan rambu dalam mendidik anak beribadah & berpuasa dibulan Ramadan adalah :

1) Pemahaman hukum dan aturan utama didalam Agama Islam (berdasarkan dari persyaratan & prinsip-prinsip aturan berpuasa/beribadah dibulan ramadhan itu sendiri yang bersumber pada Al qu’ran dan hadeeth ).

2) pemahaman tahapan tumbuh kembang secara umum ( fisik (kesehatan), mental, kognitif serta hubungannya dengan aturan yang telah digariskan didalam Al Qur’an dan Hadeeth ).

Pemahaman hukum dan aturan utama dari sudut pandang Agama Islam

Persyaratan hukum dalam Qur'an tercantum secara explisit (surah Al'Baqarah #183) yang kira -kira arti dari ayat tsb adalah : O believers, Fasting is an obligation upon you as it was obligated upon the [Muslims] before you so it would help you to reach piety. (Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa).

Jadi persyaratan utama dalam berpuasa adalah : orang-orang yang beriman didalam Islam (muslim), dan tujuan utama dari kewajiban berpuasa adalah untuk menunjukkan ketaqwaan kepada Allah SWT. (in general bila diperluas pemahamannya bisa diartikan juga sebagai jalan ketaqwaan / menumbuhkan dan meningkatkan ketaqwaan)

Lantas kewajiban puasa diperkuat lagi oleh hadeeth nabi yang terkenal sebagai pilar dalam Islam (5 rukun Islam) (Al Buchairy : hadeeth Jibril) dimana disebutkan dalam hadeeth tsb Angel Jibril yang menyamar sebagai orang biasa bertanya kepada Nabi Muhamad A.S apakah Islam itu? lantas dijawab oleh Beliau kira-kira sbb: Islam is to bear witness that no one is God except Allah and that Muhammad is the Messenger of Allah, performing Prayer, paying Zakat, performing Pilgrimage if you are able, and Fasting the month of Ramadan (Islam adalah mengakui tiada Tuhan selaih Allah S.W.T and Muhammad adalah utusan Allah, melakukan Shallat, Berzakat, Berhaji bila mampu dan Berpuasa di bulan Ramadan).

Berdasarkan hal diatas maka persyaratan tentang "siapa" saja yang wajib berpuasa yang tersurat dalam Qur’an dan berbagai hadeeth sepakat sbb:

1. Muslim

2. Baliq (memasuki usia puberty)

3. Sehat fisik jiwa & pikiran

Sedangkan yang tidak diwajibkan berpuasa namun tetap harus melakukan kewajiban pengganti sesuai aturan yang berlaku adalah :

1. Wanita selama masa menstrual atau hamil /menyusui/masa nisab dengan kondisi tidak memungkinkannya untuk berpuasa (membahayakan kesehatannya dan si bayi bila berpuasa).

2. Musafir (dengan syarat jarak dllnya) (Al Baqarah #184)

3. Lanjut usia yang tidak mampu lagi berpuasa atau karena alasan sakit

Secara explisit memang batasan angka usia yang menjelaskan kapan baiknya pendidikan beribadah dan berpuasa dibulan ramadhan dilakukan tidaklah disebutkan, namun batasan yang lebih jelas dari angka usia telah ditentukan oleh Allah S.W.T. yaitu ketika memasuki usia baliq atau masa pubertas (Menstrual bagi wanita dan mimpi dewasa mengeluarkan mani bagi laki-laki) maka tuntutan berpuasa menjadi Wajib bagi individu tsb.

Banyak hadeeth yang menjabarkan bahwa anak-anak yang belum memasuki usia baliq/pubertas memang tidak ada kewajibannya untuk berpuasa bagi mereka seperti layaknya mereka yang sudah baliq. Namun demikian kewajiban untuk pengenalan terhadap hukum, aturan dan fungsi dari puasa sebaiknya tetap harus dilakukan dan diajarkan. Merupakan kewajiban orangtua untuk mengajarkan dan memperkenalkan hukum/aturan berpuasa secara agama, sesuai dengan salah satu hadeeth yang berbunyi :

"One who is given the responsibility of the bringing up of daughters and treats them well, there will be a shield for him from Hell." [Bukhari and Muslim) Apabila seseorang diberikan kepercayaandan tanggung jawab untuk membesarkan anak-anak perempuan (anak-anak in general) dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya, maka orang tersebut terlindungi dan tersealamatkan dari api neraka.

Nah karena tahapan tumbuh kembang pada setiap individu anak berbeda-beda, maka usia baliq pun beragam, serta ada pula faktor perbedaan gender dll. Maka tidaklah heran kalau ketetapan usia dimulainya pendidikan berpuasa pun memang menjadi beragam. Semua tergantung pada prinsip-prinsip dalam keluarga dan prinsip dari si orangtua dalam mendidik si anak. Ketetapan usia memulai pendidikan ini merupakan kebijakan orangtua dan keluarga masing-masing. Kapanpun akan dimulainya pendidikan beribadah/berpuasa dibulan Ramadhan baiknya dilakukan sesuai dengan tuntutan dan tahapan tumbuh kembang si anak. Dan tidak menyalahi aturan yang telah digariskan Allah yang telah dijabarkan didalam Qur’an dan Hadeeth.

Agama Islam adalah agama yang mempermudah dan bukanlah agama yang mempersulit. Mempermudah disini maksudnya adalah bila kita pahami dan menerapkannya secara sungguh – sungguh maka Islam dapat mempermudah hidup manusia (karena semua aturan dllnya jelas tercantum dalam Qur'an dan Hadeeth). Tentunya mempermudah disini bukan berarti lantas si manusianya bisa seenak jidat sak penake dhewe, tetapi hidup menjadi lebih mudah karena semua hal ada rambu dan guidelinenya. Rambu tsb terdapat di dalam Qur’an & Hadeeth untuk dijadikan pegangan dalam menjalani hidup. Termasuk di dalamnya hal mendidik anak di dalam Islam.

Berpuasa dari segi kesehatan & tumbuh kembang anak

Tuntutan kewajiban berpuasa ketika memasuki usia pubertas di dalam Islam bukannya tidak beralasan. Masa pubertas (Baliq) umumnya adalah masa dimana pertumbuhan organ-organ tubuh dan pertumbuhan mental & kognitifnya sudah memasuki tahap kelengkapan dan memasuki tahapan menuju kesempurnaan fungsi.

Pada masa pubertas perubahan-perubahan besar terjadi dalam pertumbuhan fisik dan mental seorang manusia (baik wanita maupun pria). Untuk organ tubuh sudah memasuki tahapan dimana organ tubuh sudah mulai siap untuk bisa bereproduksi. Anak wanita sudah mengalami ovulasi/menstrual (pelepasan sel telur dari indung telur yang mengakibatkan menstrual bila tidak dibuahi).Pada anak laki-laki sudah mengalami proses produksi sperma yang salah satunya ditandai dengan mimpi dewasa yang menyebabkan ereksi dan mengeluarkan mani. Sementara untuk tahapan emosi dan kognitif pun usia pubertas merupakan usia pemantapan pembentukan kepribadian. Pola berpikir abstrak dan kompleks sudah mulai dikuasai dan memasuki tahap penguasaan menuju “fluency”. Overal lingkar cycle tumbuh kembangnya hampir menutus sempurna dengan memasuki tahapan akhir sebagai manusia dewasa.

Melalui berpuasa di dalam Islam, latihan-latihan ketahanan fisik (menahan lapar dan haus) dan latihan ketahanan mental & kognitif (melatih menahan nafsu, berusaha selalu menggunakan common sense, mempertimbangkan baik-baik segala prilaku dan pikiran dll) merupakan cara yang sangat baik dalam melatih kemampuan serta ketrampilan mengendalikan diri (Self control, self monitor, self evaluated). Ketrampilan mengendalikan diri merupakan ketrampilan krusial yang sangat diperlukan seorang individu untuk dapat berfungsi sebagai manusia dewasa seutuhnya.

Seperti halnya tahapan tumbuh kembang lainnya, diperlukan persiapan-persiapan bagi si anak untuk bisa memasuki dan menguasai kewajiban berpuasa ketika sudah tiba waktunya. Tugas dari orangtua adalah membantu proses transisi dari masa anak-anak (sebelum wajib berpuasa) sampai memasuki masa baliq/pubertas (dimana berpuasa menjadi wajib). Proses transisi ini termasuk didalamnya memperkenalkan dan melakukan persiapa-persiapan sehingga ketika tiba waktu bagi sianak untuk melakukan kewajiban berpuasa, anak tidak lagi menjadi “kaget” atau merasa terbebani.

Mengingat range usia pubertas berbeda dan cukup bervariasi pada anak-anak, dan ada faktor perbedaan gender. Maka ada baiknya dalam menentukan waktu yang tepat bagi kita untuk mempersiapkan anak, ya dengan menggunakan prinsip tumbuh kembang secara umum. Kita pun bisa melakukan perencanaan pendidikan dengan mengkaji lebih jauh fungsi utama dari berpuasa itu sendiri. Jadi kapanpun orangtua ingin memulai mendidik anaknya dalam hal beribadah/berpuasa dibulan Ramadan, baiknya memang disesuaikan dengan tahapan tumbuh kembang masing-masing anak dan tidak dilakukan melalui pemaksaan-pemaksaan.

Range usia pubertas secara umum mengacu pada tahapan tumbuh kembang anak normal bervariasi antara 9 – 13 tahun, tergantung kondisi individu dan jenis gendernya. Anak wanita biasanya lebih cepat 1-2 tahun perkembangannya dibanding anak pria. Maka penentuan waktu memulai pendidikan ini dapat menggunakan patokan ini.

Apakah ada terlalu dini dalam mengajari/mendidik beribadah/berpuasa di bulan Ramadan?

Untuk menjawab ini maka jawabannya ya tergantung pada perencanaan apa yang akan kita terapkan (target pengajarannya apa dll).Target ini baiknya ditetapkan berdasarkan pada tujuan utama beribadah/berpuasa (sesuai aturan agama) dan disesuaikan dengan tahapan tumbuh kembang anak.

Secara umum tujuan dan fungsi dari beribadah/berpuasa dibulan Ramadan adalah menunjukkan ketaqwaan kepada Allah S.W.T (menumbuhkan/meningkatkan ketaqwaan). Ketaqwaan dalam Islam itu seperti apa? Menjalankan yang diperintahkan dan menjauhkan yang dilarang oleh Allah SWT.

Caranya bagaimana? Dalam berpuasa itu tidak semata hanya menahan nafsu, lapar dan haus secara fisikal saja tetapi juga secara kognitif (kebersihan pikiran dan cara berpikir) serta secara psikologis/afektif (kehalusan budi pekerti, kemampuan berempati dan bersimpati (berbagi), kemampuan menunjukkan rasa sayang terhadap sesama mahluk hidup dan lingkungan dimana kita tinggal dll) termasuk didalamnya. Karena begitu luasnya lingkupan tujuan dan fungsi beribadah/berpuasa di bulan Ramadan maka, banyak sekali yang dapat kita ajarkan kepada anak pada kesempatan baik setahun sekali ini.

Begitu banyaknya hal yang dapat diajarkan kepada anak di dalam berpuasa maka beberapa hadeeth menunjukkan bahwa anak baiknya mulai “serius” diajarkan berpuasa sejak dini salah satu hadeeth yang diceritakan ar-Rubayya' bint Mu'awiyyah : "The Messenger of Allah,salla Allahu alaihi wa sallam, sent a man on the morning of the day of 'Ashurah, to the residences of the Ansar, saying: 'Whoever has spent the morning fasting is to complete his fast. Whoever has not spent this morning fasting should voluntary fast for the remainder of the day.' We fasted after that announcement, as did our young children. We would go to the mosque and make toys stuffed with cotton for them to play with. If one of them started crying due to hunger, we would give them a toy to play with until it was time to eat." [al-Bukhari and Muslim.]

Dari berbagai sumber yang saya dapat, memang anak dianjurkan untuk mulai “serius” beribadah dibulan Ramadan (utamanya berpuasa fisik) memang pada usia 7 tahun dengan catatan bila si anak mampu dan tidak ada pemaksaan. (Karena hukumnya memang sebelum baliq tidak ada kewajiban jadi tidak dibenarkan adanya pemaksaan-pemaksaan kepada anak).

Perlu diingat : Berpuasa fisik (menahan lapar/haus/nafsu) itu bukan berarti lantas kebutuhan gizi dan nutrisi serta kesehatan jadi terabaikan, malah pada prakteknya kan justru kebalikannya . Yang hari-hari biasanya nggak ada snack extra, kalau bulan puasa kan pasti ada extra macem-macem untuk tajil/snacking after taraweh hehehe…dari kolak pisang sampe singkong rebus kumplit, bagi yang miskin pun biasanya gizi & nutrisi lebih bagus dibulan Ramadan karena banyak yang suka berbagi dibulan ini. Jadi kekhawatiran anak menjadi sakit, kurang gizi/nutrisi tidak beralasan kalau memang kita benar dalam menyediakan yang harus dikonsumsi anak disaat tidak berpuasa.

Berdasarkan catatan anekdotal yang saya dapat dari berbagai resources (para ortu/pendidik yang menerapkan pengenalan ibadah berpuasa sejak dini) memang menunjukkan bahwa bila anak dipersiapkan sejak dini dan bertahap maka ketika si anak diwajibkan untuk berpuasa (masuk baliq), puasa menjadi suatu hal yang lumrah dan tidak sulit untuk dilakukan. Karena berdasarkan teori pendidikan dan tumbuh kembang self control merupakan ketrampilan yang dikuasai bertahap diawali dengan tahapan self regulated (pembentukan kebiasaan) dst.

Sebenarnya kapan dan bagaimana mendidikan anak berpuasa dibulan Ramadan kuncinya ya memang di kalimat “bila si anak mampu”…kalau usia 5-6 sudah mampu (dan mau) untuk mulai puasa ¼- ½ waktu puasa ya silahkan saja selama tidak ada pemaksaan untuk melakukan berpuasa sampai si anak memasuki baliq (kalau sampai baliq masih belum puasa maka ortu wajib melakukan enforcing serius, karena hukumnya memang wajib).

Tahapan persiapan pun bisa beragam dan tidak harus melulu dimulai maupun terkonsentrasi pada persiapan fisik (menahan lapar dan haus). Justru persiapan non fisik terhadap pemahaman fungsi berpuasa (ketrampilan mengkontrol diri) lebih utama dan merupakan konsep yang lebih sulit dipahami anak. Jadi persiapan dan pengenalan area ini baiknya memang dilakukan sedini mungkin sesuai kemampuan anak.

Pengenalan/persiapan/latihan berpuasa “non fisik”

Bisa dilakukan secara serius sejak usia dini ketika anak memasuki tahapan pembentukan self concept/self regulate (biasanya dikala anak belajar potty training, umumnya usia 3-4 tahun). Bentuk pengenalannya beragam dan setiap momen bisa dijadikan ajang pembelajaran bagi si anak. Misalnya anak dapat mulai diajarkan untuk bisa menahan nafsu dan mengendalikan dirinya sendiri(self control). Bentuknya dari hal-hal kecil seperti belajar menunggu dan menanti giliran; belajar menyelesaikan permasalahan sendiri; belajar mengendalikan emosinya sendiri, dll. Contoh-contoh praktis seperti membuat jadwal rutinitas sehari-hari yang diakomodasikan dengan suasana Ramadan, merupakan awal pembelajaran yang baik bagi anak. Setiap aktivitas dalam schedule si anak.bisa dikaitkan dengan proses pembelajaran beribadah/berpuasa dibulan Ramadan.

Contoh sederhana lainnya, bila pergi ke mall dan anak merengek minta mainan yang diinginkannya. Momen ini bisa dijadikan ajang pembelajaran berpuasa, Walau kiranya ortu mampu membelikan mainan tsb pada saat itu juga ada baiknya pembelian mainan ditunda dan anak diajarkan kesabaran untuk menunggu. Ajak anak untuk menunda keinginannya (waktu bisa ditentukan bersama anak).Bila anak sudah cukup besar dan sudah mengenal konsep waktu secara lebih baik, maka penundaan ini bisa dijadikan sebagai motivasi untuk melakukan latihan latihan ibadah Ramadan. Dengan reward mainan yang diinginkannya sebagai hadiah lebaran bagi anak.

Berbagai hal sederhana lainnya dalam keseharian seperti misalnya: Menahan marah; berusaha untuk tidak gampang ngamuk/ngambek; tidak membuat oranglain marah/atau susah (terutama ortu)…..=); berusaha memenuhi kewajibannya sehari hari sampai hal yang kecil dan simple saja seperti mengajarkan anak untuk bisa menunda membuka bungkus permen yang diinginkannya (misalnya ditunda selama 15menit, 30 menit sampai satu jam saja (ini sudah luar biasa perjuangan batin untuk wrap or unwrap the candy buat si anak hehehehe) ..dapat dijadikan sebagai bagian dari pendidikan dan pengenalan ibadah Ramadan.

Bentuk latihan lainnya adalah beramal dan berbuat baik melalui modeling yang dilakukan orangtua. Kalau mau lebih efektif ini bisa dibuatkan perencanaan yang lebih kongkrit dimana target dan tujuan pembelajaran selama bulan Ramadan dirinci secara tertulis dan welorganized. Untuk mendeteksi progress dari pembelajaran dapat dibuatkan sistem tracking dan evaluasi yang sederhana. Misalnya dibuatkan chart bagi si anak untuk segala kemandiriannya dalam melakukan amal kebaikan. Bagi suatu amal kebaikan yang dilakukannya tanpa disuruh (independently atas inisiatif sendiri) diberikan score 5, dimana kemandiriannya untuk berbuat baiki bernilai paling tinggi (5 stars), kalau prilaku tsb memerlukan prompt/diingatkan 1 kali (4 stars), dst ..Apabila diingatkan sampail 4 kali (1 star saja). Sedangkan bila pengingatan dilakukan lebih dari 4 kali tidak ada star yang diberikan. Lantas akhir Ramadan starsnya dihitung dan bisa ditukar dengan reward. Inti dari aktivitas ini adalah mengajarkan bahwa ibadah dan ketaqwaan kepada Allah S.W.T di dalam Islam adalah merupakan tanggung jawab masing-masing individu muslimin. Konsep dasar ini bisa diajarkan sejak dini pada anak dengan latihan-latihan dan pembiasaan untuk selalu bertanggung jawab terhadap prilaku dirinya sendiri..

Kreatifitas dalam pelaksanaan pendidikan ini bisa bervariasi. Yang jelas proses persiapan ini baiknya diupayakan tidak membebani anak dan ditekankan pada tanggung jawab dan konsekwensi “pribadi” yang konsisten. Jadi anak melakukannya dengan senang hati dan memiliki internal motivasi yang kuat untuk menjadikannya suatu kebiasaan yang baik.

Pengenalan/persiapan/latihan berpuasa “ fisik”

Pengenalan ibadah berpuasa “fisik” (menahan nafsu, lapar dan haus) bisa dilakukan as early as 4 yrs old, dimana anak umumnya usia segitu sudah disapih. Jadi kebutuhan gizi dan nutrisinya bisa dipenuhi dalam pola makanan keseharian secara maksimal. Tentunya setiap tahapan usia tumbuh kembang memiliki tahapan latihan dan persiapan yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing anak. Tahapan proses belajar ibadah berpuasa secara fisik dimulai dengan 1) Pengenalan konsep dan pembiasaan ritual (Termasuk didalamnya pengenalan istilah istilah dan aturan keagamaan); 2) Persiapan dan latihan fisik.Cara mengajarkan dan memperkenalkan berpuasa pun bisa bermacam macam. Beberapa contoh sbb :

Pengenalan ritual ibadah berpuasa (Sahur, ifthar, menahan lapar/haus/nafsu)

Untuk anak berusia dini 4-6 yrs old, the very minimum kenalkan schedule dan ritual ibadah berpuasa. Kapan waktu sahur, kapan waktu berbuka, kapan waktu shallat Eid, Kapan waktu berzakat dllnya. Ciptakan kebiasaan-kebiasaan dari hal yang paling sederhana, misalnya ajak anak untuk selalu ikut duduk bersama dan merasakan ritual berbuka puasa (walau dia sudah makan sebelumnya). Ubah beberapa jadwal makan-nya mengakomodasikan jadwal ritual berpuasa. Misalnya jam makan malam atau jam makan snacksnya disesuaikan dengan jam berbuka puasa. Jadi walau sianak sendiri tidak diharuskan berpuasa tetapi kesertaannya dalam ritual berpuasa menjadikan ajang pembelajaran dasar bagi konsep berpuasa yang lebih tinggi levelnya. Ajak dan sertakan anak bila ada kesempatan berbuka puasa bersama ditempat umum(di mosque/dengan sanak saudara, sertakan si anak dll).Hal ini membantu penciptaan budaya Ramadan dan pengalaman Ramadan yang spesial bagi anak. Gunakan dan biasakan anak dengan istilah-istilah ritual ramadan sesuai dengan pemahaman anak, istilah -istilah seperti sahur, imsak, puasa, berbuka puasa (ifthar), sedekah, amal, zakat dll sudah dapat dikenalkan dalam tahap yang sederhana yang sesuai dengan usia mereka.

Ciptakan kebiasaan berpuasa dengan menggunakan istilah berpuasa pada anak. Misalnya walau anak tidak/belum berpuasa layaknya orang dewasa, jeda antara jam makan/minum/snack time baginya bisa disebut sebagai puasa-nya ala si anak. Misalnya setelah sarapan anak "berpuasa" sampai dengan waktu makan siangnya. Dalam jeda ini reminder ttg fungsi puasa dapat selalu diingatkan kepada anak. Lantas ketika waktu makan siang tiba "anak berbuka puasa", dan "berpuasa" kembali sampai tiba waktunya snack time/makan malam yang sudah disesuaikan jadwalnya dengan jadwal berbuka secara umum. Pengulangan dan pemahaman bahwa kelak bila ia besar (baliq) menjadi suatu kewajiban penting untuk kerap diingatkan pada anak. Ini dapat membantunya mempersiapkan dirinya sendiri (self regulating) untuk mulai menciptakan internal motivasi dalam mejalani kewajiban berpuasa ketika baliq nantinya. Hal ini mungkin kelihatannya sepele..tapi pengalaman-pengalaman “berpuasa” secara fisik ini menjadikan suatu hal yang “penting” bagi si anak tanpa dia harus merasa terbebani dan dipaksa-paksa. Secara psikologis pun penerapan ini dapat membantu pembentukan jatidiri sebagai muslim yang kuat. Si anak dapat merasakan keterlibatan dan keterkaitannya “belong” dengan ritual keagamaan. Dan dapat memiliki rasa bangga terhadap agama dan budaya dalam keluarganya.

Kalau anak sudah agak besar bisa mulai diajak untuk ritual sahur bersama, mulai diajak dan dicoba dibangunkan ketika sahur (biasanya usia 6 tahun ke atas ini sudah bisa diterapkan pelan-pelan). Sesekali bangun (banyakan nggak bangunnya) ya nggak apa-apa, in some cases banyak anak yang suka dengan “pola khusus dan baru” jadi berpuasa merupakan hal yang cukup istimewa dimana dia bisa partisipasi melakukan hal yang sama dengan orang dewasa. Kalau pas sahur mau ikut makan ya boleh, nggak juga nggak apa-apa yang jelas tidak ada pemaksaan. Penerapan kebiasaan ini pun baik untuk mulai membiasakan dan mengenalkan ritual bangun pagi untuk shallat subuh. Banyak orangtua yang membangunkan anaknya sudah hampir dekat imsak (jadi anak nggak tunggu terlalu lama untuk shallat subuh setelah sahur). Akomodasi-akomodasi dapat dilakukan supaya anak tidak merasa terbebani. Bila anak lantas tidur lagi setelah shallat subuh ya nggak apa-apa...Notes: Crankyness dipagi hari should be expected pada awal-awalnya..=).(ortu musti sabar & musti konsisten), lama-lama anak akan menjadi biasa juga (anak itu cepat beradaptasi loh biasanya).

Pengenalan konsep waktu dan disiplin dalam berpuasa

Bila anak sudah mulai besar 6 keatas, ada baiknya mengajak anak untuk mencoba berpartisipasi dalam berpuasa. Ajak anak menentukan berapa lama dia mau berpuasa. Bisa mulai dari hitungan jam sampai dengan hitungan hari (lamanya berpuasa) : ¼ hari, ½ hari, ¾ hari dan full day. NOTES: Jeda/waktu si anak berpuasa usahakan konsisten, misalnya anak berjanji dan menentukan akan berpuasa selama 1 jam lamanya, lantas baru 1/2 jam sudah laper lagi (hehhhehe..biasa toh namanya juga anak-anak) or pingin snack, ingatkan anak terhadap perjanjiannya dan usahakan “nylimur” secara baik-baik dengan berbagai aktivitas positif sampai 1 jam terpenuhi. Ini bagus untuk melatih kesabaran si anak dan juga melatih “delay rewarding” (kemampuan menunggu giliran). Orangtua pun harus konsisten kalau 1 jam sudah terpenuhi tapi anak masih asik main ya jangan lantas dibiarin aja dan diem-diem aja biar sampe beduk gitu..ya jangan nanti anak nggak percaya lagi sama kita. Baiknya anak diingatkan sudah 1 jam nih, mau diterusin puasanya apa gimana? Jadi si anak juga aware dengan konsep waktu dalam berpuasa (dan juga respect terhadap waktu dan terhadap konsistensi /komitmen).

Secara kesehatan dan tumbuh kembang, anak tidak akan mengalami masalah besar dalam belajar berpuasa, asalkan semua gizi dan nutrisi yang diperlukannya tetap terpenuhi (waktu sahur/berbuka dan jeda antara sahur dan berbuka kan bisa dipakai untuk pemenuhan kebutuhann ini). Kalaupun ada gangguan/perubahan dari pola tidur dan pola makan ini pun tidak akan berpengaruh terlalu banyak dalam proses tumbuh kembang si anak. Malah ketrampilan beradaptasi pada anak dapat dilatih pada bulan Ramadan. Karena dalam kenyataan hidup kadang memang kan kita selalu harus melakukan adaptasi dan penyesuaian dengan hal-hal baru..latihan ini tidak menimbulkan dampak besar terhadap proses tumbuh kembang anak karena kan hanya dilakukan dalam periode satu bulan dan sekali dalam satu tahun saja. Jadi kekhawatiran anak menjadi kurang gizi atau mengganggu kesehatannya memang tidak tepat dan bisa diantisipasi melalui perencanaan yang baik dan matang.

Baiknya pada awal Ramadan bersama anak kita biasakan untuk menententukan “target” yang akan dicapai pada Ramadan tsb. Misalnya kalau tahun lalu belum mulai puasa fisik, mungkin tahun ini bisa dimulai target puasa fisik dengan waktu yang ditentukan secara bertahap. Target ibadah lainnya seperti shallat atau menghafal bacaan shallat (kalau belum bisa) atau menghafal doa/baca qur’an, shallat berjamaah dll bisa juga dibuatkan dan diusahakan untuk dicapai pada Ramadan setiap tahunnya.

Jadi memang secara umum pengenalan beribadah puasa dan beribadah di bulan Ramadhan bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja dalam bentuk segala rupa.Yang jelas pengenalan dan pendidikan ibadah berpuasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadan sebaiknya dilakukan secara konsisten. Misalnya kalau sudah dimulai pada usia 4 ya terus konsisten lakukan tiap tahun setelah itu dan terus sampai si anak masuk usia baliq lantas berubah menjadi kewajiban.Tentunya setiap tahun pengajaran dan targetnya pun berbeda disesuaikan dengan perkembangan pertumbuhan anak).

Diharapkan dengan membiasakan dan mengenalkan sejak dini, dikala anak memasuki usia “Wajib” (ketika mereka masuk baliq), ibadah berpuasa merupakan suatu hal yang normal dan wajar bagi mereka dan relatively tidak canggung/sulit untuk dilakukan. Yang jelas jangan sampai ada pemaksaan ketika kita memperkenalkan dan mulai mengajarkan ibadah ini, karena persepsi awal merupakan hal penting.

Kalau anak sudah resistan pada awal (karena adanya pemaksaan) maka ibadah berpuasa menjadi suatu beban yang tidak menyenangkan bagi sianak. Dan internal motivasi akan sulit diciptakan. Bila pemaksaan berlangsung terus menerus dan resistansi menjadi sangat tinggi, maka anak melakukan “puasa” karena takut dan bukan karena memahami fungsi dan tujuan berpuasa. Biasanya dikala masuk masa baliq/pubertas, resistansi tsb berubah menjadi suatuh beban atau bahkan hal yang “dibenci” anak. Sehingga seringkali bentuk pemberontakannya adalah puasa dirumah (dimata orangtua ) saja asal aman, atau sampai dewasa anak berpuasa ya hanya karena dia "harus" berpuasa tanpa memahami apa maksud dan fungsi dari puasa tsb.Apabila ini terjadi sangatlah disayangkan, karena ketrampilan utama “mengendalikan diri” dan kesempatan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhannya tidak dapat dipelajari dan dikuasainya dengan baik.(Audzubillah minzalik, semoga anak-anak kita terhindar dari situasi ini).

Bila tinggal di negara majoritas muslim seperti di Indonesia atau negara majoritas muslim lainnya, memang tahapan pengenalan relatively lebih mudah. Karena kita tidak perlu menciptakan athmosphere pendukung dan lingkungan pendukung, tetapi sudah tercipta dengan sendirinya. Karena hampir semua orang berpuasa maka suasana beribadah Ramadan terasa sekali. Lain halnya dengan mereka yang tinggal di LN dan di negara majoritas non-muslim.Tugas keluarga/orangtua dan masyarakat muslim setempat menjadi sedikit lebih berat. Tugas kita tidak hanya wajib memperkenalkan ritual ibadah Ramadan, tetapi juga harus menyediakan dan mengakomodasi atmosphere Ramadan bagi anak-anak kita. Dan menjadikan Ramadan sebagai suat moment yang istimewa dan menyenangkan bagi si anak. Karena hal-hal tersebut tidak bisa diharapkan secara otomatis dari lingkungan tempat tinggal kita yang memang majoritas non muslim.

Semoga tulisan panjang lebar ini dapat bermanfaat. Mohon dibukakan pintu maaf bila ada kekurangan dan kekhilafan. Kebenaran datangnya hanya dari Allah SWT, dan bila ada kesalahan dalam tulisan ini adalah kesalahan pribadi saya sebagai manusia biasa.

Ramadan 2006, Lafayette – Indiana

Sunday, August 9, 2009

Kekuatan Paradigma (Stephen covey)

John Gardner berkata demikian, "Kebanyakan organisasi yang sakitsakitan telah mengembangkan kebutaan fungsional terhadap berbagai kekurangan mereka sendiri. Mereka tidak menderita karena tidak
dapat memecahkan masalah mereka, melainkan karena tidak bisa melihat masalah mereka." Einstein mengatakannya demikian, "Masalah penting yang kita hadapi tidak dapat dipecahkan pada aras pemikiran yang sama yang kita pakai ketika menciptakan masalah tersebut." Pernyataan-pernyataan di atas menggarisbawahi pembelajaran yang paling mendalam dalam hidup saya: Apabila Anda ingin
membuat perubahan dan perbaikan kecil-kecilan, sedikit demi sedikit,lakukan sesuatu pada tataran praktik, tingkah laku, dan sikap. Tetapi, bila Anda ingin membuat perbaikan besar yang amat berarti, lakukansesuatu pada paradigma. Kata paradigma berasal dari kata Yunani, paradeigma, yang aslinya adalah istilah ilmiah, tetapi secara umum kini digunakan untuk menyebut persepsi, asumsi, teori, kerangka acuan, atau "kacamata" yang Anda gunakan untuk memandang dunia. Paradigma itu seperti peta kawasan atau kota. Bila tidak tepat, tak akan ada bedanya betapa kerasnya Anda bekerja untuk
menemukan tujuan Anda atau betapa positifnya cara pikir Anda; Anda tetap saja akan tersesat. Bila petanya tepat, ketelitian dan sikap baru akan berguna. Misalnya, Anda tahu cara penyembuhan di Abad Pertengahan?
Caranya adalah mengeluarkan darah dari tubuh penderita. Apa paradigmanya? Penyebab penyakit ada di dalam darah; karena itu keluarkan, dengan cara menyedot darah. Coba bayangkan, bila Anda
tidak mempertanyakan paradigma itu, apa yang akan Anda lakukan? Lakukan lebih banyak; lebih cepat; tanpa rasa sakit. Anda mungkin akan menerapkan Manajemen Qualitas Total (Total Quality Management) atau Six Sigma dalam pengeluaran darah itu. Anda mungkin akan melakukan kontrol kualitas secara statistik, atau analisis varian. Anda mungkin akan melakukan studi kelayakan strategis untuk mendirikan jasa penyedotan darah, dan beroperasi dengan suatu rencana pemasaran yang hebat, sehingga Anda dapat beriklan demikian: "Kami memiliki unit penyedotan darah kelas dunia yang
paling baik mutunya di seluruh dunia!" Atau Anda akan membawa pasien ke puncak gunung, dan menyuruh mereka terjun bebas dari tebing gunung, bergandengan tangan, sehingga ketika mereka
kembali ke unit penyedotan darah di rumah sakit Anda mereka akan bekerja dengan cinta dan kepercayaan yang semakin besar. Atau mungkin Anda akan menyuruh para anggota unit penyedotan
darah Anda duduk di sekitar bak mandi air hangat, dan mengkaji kejiwaan para pasien yang mereka layani, bagaimana perasaan mereka satu sama lain, sehingga mereka akan mengembangkan otentisitas
dalam komunikasi mereka. Anda bahkan juga bisa mengajarkan berpikir positif kepada para pasien Anda, maupun kepada para karyawan Anda, sehingga energi positifnya menjadi optimal ketika
sedang dilakukan penyedotan darah.
Dapatkah Anda membayangkan apa yang terjadi ketika teori mengenai kuman penyakit ditemukan—ketika Semmelweis dariHungaria, Pasteur dari Prancis, dan para ilmuwan empirik lain menemukan bahwa penyebab penyakit adalah kuman? Itu langsung menjelaskan kenapa para wanita ingin dibantu oleh para bidan (dukun bayi) ketika melahirkan, karena para bidan itu lebih bersih. Mereka mandi dan cuci tangan. Itu menjelaskan kenapa lebih banyakpria di medan perang lebih banyak mati karena infeksi daripada karena terkena peluru. Penyakit merebak di belakang garis depan Masalahnya melalui kuman. Teori mengenai kuman itu membuka medan riset yang sama sekali baru. Teori itulah yang membimbing praktik penyelenggaraan kesehatan sampai hari ini. Itulah kekuatan paradigma yang tepat. Dia menjelaskan, lalu mengarahkan. Tetapi, masalahnya adalah bahwa paradigma, seperti tradisi, tak gampang mati, tak mudah berubah. Paradigma yang pincang terus berlangsung berabad-abad setelah yang lebih baik ditemukan. Contohnya, kendati buku-buku sejarah mengisahkan tentang George Washington yang sekarat karena infeksi tenggorokan, amat mungkin bahwa dia meninggal karena terlalu banyak darah yang disedot keluar dari tubuhnya. Infeksi tenggorokan itu adalah
gejala dari suatu penyakit yang lain. Tetapi, karena paradigmanya adalah bahwa penyakitnya ada dalam darah, mereka menyedot darahnya beberapa pint (1 pint = 0,568 liter) dalam jangka waktu
dua puluh empat jam, padahal secara medis kini kita dianjurkan untuk tidak mendonorkan darah lebih dari satu pint per dua bulan; itu pun kalau kondisi kesehatan kita prima.
Zaman Pekerja Pengetahuan berdasarkan paradigma baru, yang sama sekali berbeda dari paradigma kebendaan dari Zaman Industri. Marilah kita menyebutnya Paradigma Pribadi Utuh.

Thursday, August 6, 2009

MENUMBUHKAN KREATIVITAS ANAK

Ternyata tak cuma intelegensi saja yang kini harus dimiliki untuk mengarungi kehidupan yang semakin ketat. Kreativitas pun tak kalah bergunanya. Kreativitas haruslah dikembangkan sejak dini pada diri seorang anak. Peran utama orang tua dan guru haruslah sinergi dalam memberikan rangsangan kepada anak mengembangkan sebuah kreativitas. Juga haruslah berusaha melihat lebih jauh dan lebih mendalam proses si anak dalam mencapai suatu tujuan dan tidak sekadar menginginkan hasil secepat-cepatnya, karena kreativitas adalah sebuah proses.
Beri Rangsangan

Hal-hal dibawah ini harus dilakukan orang tua ataupun guru agar anak dapat mengembangkan kreativitasnya, seperti :

  1. Menciptakan lingkungan yang aman dan memberikan kebebasan bagi anak dalam mengungkapkan pendapat, perasaan dan sikapnya
  2. Orang tua atau guru harus menghormati anak sebagai individu, menghargai keunikan anak.
  3. Orang tua atau guru jangan menghargai prestasi anak hanya dengan rangking
  4. Orang tua atau guru harus dapat menjadi model atau panutan bagi anak.
  5. Orang tua atau guru harus menghargai kreativitas dan keingintahuan anak akan sesuatu., jadi sebuah keharusan bagi orang tua atau guru untuk belajar, mengikuti semua perkembangan yang ada agar dapat mengimbangi rasa ingin tahu anak.
  6. Orang tua atau guru harus dapat menunjang kegiatan anak.
  7. Orang tua atau guru dapat menjadikan anak mandiri dan dapat mengambil keputusan sendiri.
  8. Memberikan pujian pada anak bila mereka melakukan sesuatu dengan baik dan mulai mengurangi hukuman.
  9. Sering berkomunikasi secara dua arah dengan anak. Gunakan teknik bertanya, sehingga memancing diskusi dengan merangsang rasa keingintahuan anak.

Umumnya anak-anak yang kreatif memiliki sikap mandiri. Suatu “tekanan”, kekuatan yang mendorong baik dari lingkungan maupun dari diri sendiri kadang juga diperlukan agar anak bisa kreatif. Namun selain itu terdapat dua faktor yang mempengaruhi kreativitas, sehingga setiap anak akan memiliki tingkat kreativitas yang berbeda-beda. Kedua faktor tersebut adalah faktor yang timbul secara alami atau bawaan yang berasal dari genetik dan faktor pengalaman atau lingkungan.

Tuesday, August 4, 2009

Membuat akuarium

Air di akuarium sama seperti air didalam kolam. Isi dengan tumbuhan dan hewan yang biasanya hidup bersama,dan kamu akan melihat bagaimana mereka akan makan dan tumbuh. Letakkan akuariumdi tempat yang terang, tetapi jauhkan dari sinar matahari langsung.


Kau memerlukan
Akuarium Cetok
Tempat air Kerikil dan batuan akuarium dan permukaan untuk makan
Tanaman dan hewan air



1 Cuci kerikil dan tebarkan untuk lapisan dasar
Akuarium.Kemudian tambahkan batuan sehingga
hewan memiliki tempat untuk bersembunyi dan
permukaan untuk makan.



2 Tambahkan air kira kira setengah akuarium.
Gunakan air hujan atau lebih baik gunakan
air dari kolam. Tambahkan akar tanaman dalam
pot atau tanam dalam kerikil.Tambahkan
rumput kolam ke dalam air.



3 Akuarium sekarang siap untuk diisi.Jika kamu
mengisi akuarium dengan air kolam,kamu akan
menemukan adanya hewan kecil yang mengapung
seperti kutu air.Jika kamu menambahkan beberapa
keong,mereka akan mengais tumbuhan kecil dari
batuan dan kaca dan membantu membersihkan
akuarium.Jika kamu akan menambahkan ikan,
ingatlah untuk memberi mereka makan atau
mereka akan memakan penghuni air yang lebih
kecil.


Friday, July 24, 2009

Penanganan Tepat pada Anak Autisme

AUTISME atau disebut dengan Autistic Spectrum Disorder (ASD), hingga kini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Meski demikian, saat ini sudah ada beberapa langkah tepat untuk penderita autis agar dapat memiliki kemampuan bersosialisasi, bertingkah laku, dan berbicara.

Anak yang menderita autis sebenarnya dapat diketahui sejak usia dini. Karena umumnya gangguan ini muncul sebelum anak berusia tiga tahun. Hanya kebanyakan orangtua kurang aware dengan gejala yang timbul pada anaknya hingga usia empat tahun.

Padahal pada usia tersebut, anak sudah larut dengan dunianya sendiri sehingga tidak bisa berkomunikasi dan berinterkasi dengan teman-teman dan lingkungannya. Ketika kondisi tersebut terlambat diketahui, maka langkah utama yang harus dilakukan ialah memfokuskan kelebihan anak di bidang tertentu yang dikuasainya.

Nah, kunci sukses untuk membantu para orangtua atau keluarga agar penderita autis dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, maka seluruh anggota keluarga harus turut langsung membantu para penderita ini berusaha melakukan hal itu.

Menurut dr Irawan Mangunatmadja, Sp.A(K), pakar autis indonesia, beberapa keganjalan yang sering dilakukan oleh penderita autis dapat dibantu dengan melakukan empat macam terapi. Saat ini sudah terdapat beberapa terapi bagi penderita autis, baik itu terapi perilaku - ABA, terapi sensori integrasi, terapi okupasi, terapi wicara maupun terapi tambahan seperti terapi musik, AIT, Dolphin Assisted Therapy.

"Terapi perilaku - ABA merupakan terapi gentak untuk memperbaiki perilaku anak autis yang sering menyimpang. Salah satu hal yang dapat dilakukan ialah bersuara keras saat memberikan perintah pada anak. Kalau anak tidak mau melakukan apa yang diperintahkan, maka harus mengagetkan mereka," kata dr Irawan dalam seminar yang diselenggarakan di Kantor Pusat Sun Hope Indonesia, belum lama ini.

Terapi sensori integrasi, sambungnya, khusus ditujukan pada fungsi biologis otak. Sehingga otak melakukan segala sesuatu dengan benar. Sementara itu, terapi okupasi dilakukan untuk memperbaiki aktivitas penderita autis. Selain itu ada juga terapi wicara yang dilakukan untuk membantu penderita autis yang mengalami gangguan bicara agar bisa berbicara kembali.

Ternyata agar anak autis dapat kembali di tengah-tengah keluarganya, tak hanya langkah terapi saja yang dilakukan. Pemberian nutrisi tepat bagi penyandang autis juga harus diperhatikan. Karena pada beberapa studi menunjukkan bahwa anak yang mengalami autisme ternyata juga alergi terhadap makanan tertentu.

Menurut ahli gizi Sun Hope Indonesia, Fatimah Syarief, AMG, StiP, orang tua perlu memerhatikan beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari seperti makanan yang mengandung gluten (tepung terigu), permen, sirip, dan makanan siap saji yang mengandung pengawet, serta bahan tambahan makanan.

"Penderita autis umumnya mengalami masalah pencernaan terutama makanan yang mengandung casein (protein susu) dan gluten (protein tepung)," kata Fatimah saat dihubungi okezone melalui telepon genggamnya, Rabu (30/4/2008).

Selain asupan makanan yang tepat, suplementasi pun perlu diberikan pada pasien autis mengingat adanya gangguan metabolisme penyerapan zat gizi (lactose intolerance) dan gangguan cerna yang diakibatkan karena konsumsi antibiotik dengan pemberian sinbiotic (kombinasi Sun Hope probiotik dan enzymes sebagai prebiotik).

"Meski suplemen penting diberikan pada penderita autis, hal yang paling tepat dilakukan adalah memberikan pengaturan nutrisi yang tepat. Ketika makanan tidak tepat masuk ke dalam tubuh, maka akan masuk ke usus halus dan tidak tercerna dengan baik. Akhirnya makanan tersebut keluar melalui urin, karena material tersebut sifatnya toxic (racun) sehingga terserap ke otak. Hal tersebut menyebabkan anak autis semakin hiperaktif," jelasnya panjang lebar.

Tak hanya itu saja, untuk membantu mengurangi gejala hiperaktif dan membantu meningkatkan konsentrasi dan perbaikan perilaku, suplementasi omega 3 yang terdapat pada Sun Hope Deep Sea dapat dijadikan alternatif. (nsa)

Saturday, July 18, 2009

Tukang Kayu dan Segelas susu

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya. Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta.
Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan. Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. "Ini adalah rumahmu, " katanya, "hadiah dari kami." Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia
mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri. Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala
kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.
Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda. Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaikbaiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.
(adapted from "The Builder", Unknown, thanks to Cecilia Attal) "Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri".

Segelas Susu

Suatu hari seorang bocah miskin sedang berjualan dari rumah ke rumah demi membiayai sekolahnya.Ia merasa lapar dan haus, tapi sayangnya ia hanya mempunyai sedikit sekali uang.
Anak itu memutuskan untuk meminta makanan dari rumah terdekat. Tetapi, saat seorang gadis muda membukakan pintu, ia kehilangan keberaniannya. Akhirnya ia hanya meminta segelas air putih untuk menawarkan dahaga. Gadis muda itu berpikir pastilah anak ini merasa lapar, maka dibawakannyalah segelas besar susu untuk anak tersebut.
Ia meminumnya perlahan, kemudian bertanya, "Berapa saya berhutang kepada anda ?"
"Kamu tidak berhutang apapun kepada saya," jawabnya. "Ibuku mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk perbuatan baik yang kami lakukan." Anak itu menjawab, "Kalau begitu, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih dari lubuk hati saya yang terdalam."
Saat Howard Kelly - anak kecil yang miskin itu - meninggalkan rumah tersebut, dia bukan hanya merasa badannya lebih segar, tetapi keyakinannya pada Tuhan dan sesama manusia menjadi lebih kuat. Sebelumnya dia sudah merasa putus asa dan hampir menyerah. Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari wanita muda tersebut mengalami sakit parah. Dokter yang menanganinya merasa bingung dan akhirnya mengirim wanita itu kekotabesar untuk mendapatkan pertolongan spesialis. Dr. Howard Kelly dipanggil untuk berkonsultasi. Ketika ia mendengar namakotatempat asal si pasien, ia segera pergi ke kamar tempatdimana wanita tersebut dirawat. Ia langsung mengenali dan memutuskan untuk melakukan hal terbaik yang bisa ia usahakan untuk menolongnya. Sejak hari itu, ia memberikan perhatian khusus pada kasus ini.
Setelah melewati perjuangan panjang, peperanganpun dapat dimenangkan. Dr. Kelly dipanggil oleh pihak administrasi untuk menandatangani biaya yang harus dibayarkan oleh si wanita kepadanya. Ia melihat kepada kuitansi tersebut, dan kemudian menuliskan sesuatu. Kuintansi tersebut lalu di kirim ke kamar perawatan si wanita. Wanita tersebut merasa takut untuk membukanya, karena ia merasa yakin bahwa ia tidak akan mampu membayarnya. Akhirnya dengan menguatkan hati, ia melihat ke kuintansi tersebut. Sebuah tulisan pada kuitansi telah menarik perhatiannya. Ia membaca tulisan itu : "TELAH DI BAYAR PENUH DENGAN SATU GELAS SUSU." Tertanda, Dr. Howard Kelly. Air mata mengalir dari matanya saat hatinya yang bahagia mengucapkan doa dan pujian :
"Terima kasih Tuhan, kasihMu telah memancar melalui hati dan tangan manusia."

BELAJAR KREATIF, ASYIK dan BERMAKNA

BELAJAR KREATIF, ASYIK dan BERMAKNA*

Pendahuluan

Makalah ini tidak menguraikan bagaimana metoda belajar kreatif yang asyik dan bermakna secara detail. Di sini diuraikan prinsip fungsi otak dalam abad neurosains yang menjadi sumber ditemukannya metoda cara baca cepat, quantum learning, quantum teaching atau revolution learning. Selanjutnya dapat disaksikan pada penjelasan dengan LCD/OHP.

Alasan Perlunya Metoda Baru

Para ahli psikologi belajar berpendapat bahwa:

a) Manusia sekarang penuh dengan persoalan kompleksitas, sehingga tantangannya berkembang cepat serta semakin rumit teapi pada saat yang bersamaan kebutuhan untuk hidup bahagia lebih sulit diperoleh, bahkan oleh anak-anak sekalipun. Oleh karena itu, jaman ini diperlukan manusia dengan persiapan lebih kompleks tetapi perlu didasari masa kecil yang bahagia, sebelum mereka terjebak oleh penderitaan jaman.

b) Ditemukannya pengetahuan tentang peta otak manusia lebih intensif sebagaimana dinyatakan oleh ilmuwan Amerika bahwa abad ini adalah abad neurosciens, bahkan penelitian otak dua dasawarsa terakhir telah menjungkirbalikkan berbagai teori tentang otak. Sejak Daniel Goleman (1996) meluncurkan tema kecerdasan emosional, kesadaran orang semakin besar akan pentingnya asah emosi, belum lagi reda semburan ide tentang kecerdasan spiritual oleh Danar Zohar dan Ian Marshal (2002) semakin menjadikan manusia modern merasa perlu untuk mengenali struktur biologis otaknya. Apalagi setelah Amerika menyatakan bahwa dekade 1990-2000 adalah termasuk brain era, maka berbagai penelitian tentang strutjtur dan fungsi otak hampir menyamai penelitian tentang kosmologi. Misteri kosmologi hingga kini belum juga terpecahkan, apalagi setelah pesawat Columbia, Chalanger meledak berturut-turut. Rupanya alam kosmologi manusia tengah mengalami penelusuran, dan jejak-jejaknya ditelusuri melalui pemetaan otak yang semakin computerized dengan paduan neurosains modern.

c) Salah satu tema terpenting dari neurosains akhir-akhir ini adalah adanya noktah yang menjadi lahan subur “rasa ber-Tuhan” yang diberi nama “god spot”. “Kehadiran” Tuhan di otak merupakan suatu hal yang menarik. Bukan saja karena otak adalah CPU (Central Processing Unit)-nya manusia, melainkan juga karena isi dan fungsi otak merupakan pembentuk sejarah hidup pemiliknya maupun sejarah kehidupan itu sediri. Banyak sekali kemampuan yang dinisbahkan kepada otak melebihi yang diberikan pada jantung atau ginjal.

Era Fungsi Neurosains

Ada tiga fungsi yang diperankan oleh otak dan membuatnya berbeda dengan yang lain: (1) fungsi emosi, (2) fungsi rasional – eksploratif atau fungsi kognisi, dan (3) fungsi refleksi.

Fungsi emosi

Fungsi yang pertama ditunjukkan oleh beragam penemuan tetang emotional intelligence (EQ), termasuk penemuan faktor – faktor biologis yang mempengaruhi terjadinya penyakit jiwa; antara lain penemuan psikoneuroimunologi dan pentingnya “keyakinan” dalam menciptakan kodisi biologis tubuh yang baik. Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa “keyakinan” dapat menjadi salah satu terapi penting dalam meciptakan kodisi tubuh yang seimbang. “Keyakinan untuk sembuh adalah metode penyembuhan itu sendiri”. Keyakinan berhubungan secara timbal balik dengan metabolisme tubuh. Dengan kata lain, optimisme dan positive thinking memberi pengaruh menguntungkan dalam kodisi biologis manusia. Sistem limbik dan amigdala yang terletak di daerah tengah otak merupakan dua komponen yang berperan penting.

Hal yang penting dari fungsi emosional otak adalah munculnya rasa bahagia, senang, gembira dalam setting sosial dan lingkungan. Tanpa kecerdasan yang satu ini manusia tidak akan pernah menjadi manusia sosial yang hidup dengan snejata emosionalnya.

Berdasarkan penelitian para neurosains, fungsi emosional lebih dahulu berkembang daripada fungsi rasional. Oleh karenanya perkembangannya menjadi penting.

Fungsi kognisi

Fungsi kedua ditunjukkan oleh semaraknya penemuan dalam bidang keilmuan yang membuahkan teknologi, dari yang sederhana sampai yang tercanggih. Apa yang disebut Thomas Kuhn (1984) sebagai revolusi paradigma, sesungguhnya adalah aktualisasi dari fungsi eksploratif tersebut. Fungsi rasional – eksploratif sari otak digambarkan secara jelas dan tegas dalam makna harfiah kata berfikir. Kata fikir (dalam bahasa indonesia) itu diambil dari kata fikr yang diubah dari bentuk awal fark. Kata fark itu sediri bermakna, antara lain: (1) mengorek sehingga apa yang dikorek itu muncul, (2) menumbuk sampai hancur, (3) menyikat (pakaian) sehingga kotorannya hilang, dan (4) menggosok hingga bersih. Dari keempat makna yang ditunjukkan oleh kata fark, tampak bahwa berpikir itu menunjukkanpada usaha tak kenal lelah dan keras untuk “menyingkap “, “membuka “ atau “mengeksplorasi” setiap objek yang ada sehingga objek itu dapat dipahami dan ditangkap secara jelas. Dengan demikian, usaha yang dilakukan oleh Democritus dengn teori atom, Nicolaus Copernicus dengan teori heliosentris, Albert Einstein dengan teori relativitas, Rutherford dengan teori proton, Abdussalam dengan teori gabungan gaya elektromagnetik – gaya lemah, Edward Jenner dengan teori vaksinasi, Robert Koch dengan teori linguistik, Sigmund Freud dengan teori psikoanalisis, adalah kegiatan berpikir untuk dapat menyingkap segala sesuatu tentang objek yang ada di alam semesta. Kulit otak merupakan komponen utama untuk fungsi ini.

Fungsi spiritual

Fungsi ketiga mencangkup hal – hal yang bersifat supranatural dan religius, yang menurut beberapa penelitian “bersumber” dari dalam otak manusia. Kerangka orientasi (seperti agama), sebagaimana ditegaskan oleh Erich Fromm (1994) yang “bersumber” dalam kulit otak (korteks serebri) manusia adalah contoh fungsi refleksi.

Fungsi ini hendak menegaskan bahwa “keberadaan Tuhan“ adalah sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu dipermasalahkan. “Keberadaan Tuhan” sedikitnya, ditampakkan dalam kesempurnaan jalinan dan jaringan saraf manusia. Pernyataan ini tidak berarti bahwa “Tuhan” itu direduksi sampai bentuk seluler persarafan manusia atau tingkat terrendah dalam wujud materi sebagaimana diyakini oleh para materialis. Makna “kehadiran Tuhan“ berhubungan erat dengan adanya kesempurnaan tubuh fisik manusia. Kesempurnaan tubuh fisik manusia, antara lain, ditunjukkan oleh adanya setruktur tubuh yang efektif dan fungsional dalam menjamin fungsi – fungsi kehidupan yang penting. Posisi tegak, sistem lokomotorik, dan panca indra adalah tiga contoh kesempurnaan itu.

Zohar dan Marshall memberikan gambaran bagaimana tanda-tanda orang yang memiliki SQ tinggi, yaitu :

1. Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif)

2. Tingkat kesadaran yang tinggi

3. Kemampuan menghadapi dan memanfaatkan penderitaan

4. Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa takut

5. Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai

6. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu

7. Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan holistik)

8. Kecenderungan nyata untuk bertanya: “mengapa?” atau “bagaimana jika?” untuk mencari jawaban yang mendasar

9. Pemimpin yang penuh pengabdian dan bertanggungjawab

Ada dua hal yang diangap penting oleh Danar Zohar dan Marshal, yakni aspek nilai dan makna sebagai unsur penting dari kecerdasan spiritual, sebagai misal yang dapat dicatat:

· “SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai”.

· ‘SQ adalah kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya

· “Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain

· “Kecerdasan ini tidak hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.

Bagaimana Belajar?

Pada dasarnya anak-anak dapat belajar dengan metoda apa saja. Metoda akan efektif selama ia sesuai dengan fungsi dasar otak: emosional, rasional dan spiritual. Ketiga aspek ini perlu dirangsang sejak dini dengan prinsip seimbang, mudah dan mungkin. Setiap fungsi otak memiliki karakteristik tersendiri seperti otak emosional perlu belajar dengan metoda yang membahagiakan karena ia otak primitif yang bersifat hedonis. Otak rasional bersifat kreatif, imajinatif dan logis. Otak spiritual perlu dirangsang dengan hal-hal yang bersifat memberi makna dan nilai.

Bagaimanakah merancang metoda yang tepat?

Semua metode belum tentu tepat untuk semua anak, dan tidak semua guru dapat menjalankan metoda yang sama dengan kualitas yang sama. Oleh karena itu metoda merupakan hasil dari kematangan belajar sang guru terhadap dirinya sendiri. Metoda yang tepat adalah mencerdaskan diri pendidik, sehingga selalu terjadi proses kreativitas guru yang dapat menstimulasi peserta didik. Proses yang tepat adalah belajar dari prinsip-prinsip pembelajaran yang berbasis neurosains mutakhir dengan terus meyakini ada sisi gelap “penciptaan” yang dimensinya adalah kekuatan do’a dan raihan hidayah.

Lebih jauh karena keterbatasan ruang, dapat dilihat pada tayangan OHP/LCD.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disarikan dalam tabel berikut:

Fungsi

Emosional

Rasional

Spiritual

Ciri umum

Cerdas secara emosi, mampu mandiri, komunikasi, memimpin, adaptasi, humoris, dan membangun relasi

Cerdas secara intelektual: pandai dalam merumuskan, menganalisa, memutuskan dengan pendekatan kuantitatif dan logis

Cerdas secara nurani: mampu memberi makna, transendensi diri, mengambil hikmah, keshalehan, bermoral dan mengatasi kesulitan dengan para logis dan metafisik.

Daftar Pustaka

Dryden Gordon, Vos Jeannette, 1999, The Learning Revolution: To Change the way the world Learns. New Zealand: The Learning web

Goleman, Daniel, 1996, Emotional Intelligence, Jakarta:Gramedia.

Pasiak, Taufik, 2002, Revolusi IQ, EQ, SQ antara Neurosains dan Al Quran, Bandung: Mizan

Tasmara, Toto, (2001) “Kecerdasan Ruhaniyah” (Transcendental Intelligence), Gema Insani Press, Jakarta.

Zohar, Danah dan Ian Marshall, 2000, SQ: Spiritual Quotient, The Ultimate Intelligence, London. (Edisi Indonesia diterjemahakan oleh Rahmani Astuti dkk, Mizan, Bandung)