Ada dua benda yang bersahabat karib yaitu besi dan air. Besi seringkali berbangga akan dirinya sendiri. Ia sering menyombong kepada sahabatnya :
"Lihat ini aku, kuat dan keras. Aku tidak seperti kamu yang lemah dan lunak" Air hanya diam saja mendengar tingkah sahabatnya.
Suatu hari besi menantang air berlomba untuk menembus suatu gua dan mengatasi segala rintangan yang ada di sana . Aturannya : "Barang siapa dapat melewati gua itu dengan selamat tanpa terluka maka ia dinyatakan menang" Besi dan air pun mulai berlomba : Rintangan pertama mereka ialah mereka harus melalui penjaga gua itu yaitu batu-batu yang keras dan tajam. Besi mulai menunjukkan kekuatannya, Ia menabrakkan dirinya ke batu-batuan itu.Tetapi karena kekerasannya batu-batuan itu mulai runtuh menyerangnya dan besipun banyak terluka di sana sini karena melawan batu-batuan itu.
Air melakukan tugasnya ia menetes sedikit demi sedikit untuk melawan bebatuan itu, ia lembut mengikis bebatuan itu sehingga bebatuan lainnya tidak terganggu dan tidak menyadarinya, ia hanya melubangi seperlunya saja untuk lewat tetapi tidak merusak lainnya.
Score air dan besi 1 : 0 untuk rintangan ini. Rintangan kedua mereka ialah mereka harus melalui berbagai celah sempit untuk tiba di dasar gua. Besi merasakan kekuatannya, ia mengubah dirinya menjadi mata bor yang kuat dan ia mulai berputar untuk menembus celah-celah itu. Tetapi celah-celah itu ternyata cukup sulit untuk ditembus, semakin keras ia berputar memang celah itu semakin hancur tetapi iapun juga semakin terluka.
Air dengan santainya merubah dirinya mengikuti bentuk celah-celah itu. Ia mengalir santai dan karena bentuknya yang bisa berubah ia bisa dengan leluasa tanpa terluka mengalir melalui celah-celah itu dan tiba dengan cepat didasar gua. Score air dan besi 2 : 0
Rintangan ketiga ialah mereka harus dapat melewati suatu lembah dan tiba di luar gua besi kesulitan mengatasi rintangan ini, ia tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya ia berkata kepada air : "Score kita 2 : 0, aku akan mengakui kehebatanmu jika engkau dapat melalui rintangan terakhir ini !"
Airpun segera menggenang sebenarnya ia pun kesulitan mengatasi rintangan ini,tetapi kemudian ia membiarkan sang matahari membantunya untuk menguap.
Ia terbang dengan ringan menjadi awan, kemudian ia meminta bantuan angin untuk meniupnya kesebarang dan mengembunkannya. Maka air turun sebagai hujan. Air menang telak atas besi dengan score 3 : 0.
Jadikanlah hidupmu seperti air. Ia dapat memperoleh sesuatu dengan kelembutannya tanpa merusak dan mengacaukan karena dengan sedikit demi sedikit ia bergerak tetapi ia dapat menembus bebatuan yang keras. Ingat hati seseorang hanya dapat dibuka dengan kelembutan dan kasih bukan dengan paksaan dan kekerasan.
Kekerasan hanya menimbulkan dendam dan paksaan hanya menimbulkan keinginan untuk membela diri.
Air selalu merubah bentuknya sesuai dengan lingkungannya, ia flexibel dan tidak kaku karena itu ia dapat diterima oleh lingkungannya dan tidak ada yang bertentangan dengan dia. Air tidak putus asa, Ia tetap mengalir meskipun melalui celah terkecil sekalipun. Ia tidak putus asa. Dan sekalipun air mengalami suatu kemustahilan untuk mengatasi masalahnya, padanya masih dikaruniakan kemampuan untuk merubah diri menjadi uap.
Wednesday, October 6, 2010
Tuesday, September 14, 2010
Tetangga: Satu Pintu Surga Bagi Kita
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa’: 36)
Lewat firman-Nya ini, Allah swt. menegaskan kepada kita untuk ihsan (berbuat baik). Salah satu yang harus kita ihsani adalah tetangga. Bahkan Allah swt. memerinci. Mereka adalah al-jaar dzil qurba, al-jaar al-junub, dan ash-shahib bil janb.
Al-jaar dzil qurba adalah sebutan bagi orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan atau kekeluargaan dengan kita, tetangga kita yang muslim, atau yang tempat tinggalnya yang paling dekat dengan kita.
Sedangkan al-jaar al-junub ialah sebutan bagi orang-orang yang tidak memiliki hubungan keluarga atau kekerabatan dnegan kita, tetangga non-muslim, atau tetangga jauh.
Dan ash-shahib bil janb yaitu sebutan bagi suami atau istri Anda, kawan bisnis, atau teman dalam perjalanan.
Ibnu Hajar, dalam Fathul Bari, mendefinisikan, “Kata al-jaar (tetangga) meliputi tetangga muslim, non-muslim, kafir, fasik, kawan, lawan, orang asing, berasal dari negara yang sama, seseorang yang dapat mendatangkan manfaat atau keburukan, kerabat, dan mereka yang rumahnya jauh ataupun dekat.”
Tetangga kita terbagi dalam tiga tingkatan yang masing-masing memiliki hak atas diri kita. Tentang hal ini kita dapat informasi dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tetangga ada tiga macam: tetangga yang memiliki satu hak –dan ia adalah tetangga yang paling dekat–, tetangga yang memiliki dua hak, dan tetangga yang memiliki tiga hak –dan ini adalah tetangga yang paling utama–. Adapun tetangga yang memiliki satu hak adalah tetangga musyrik tidak ada rahmat baginya; ia hanya memiliki hak sebagai tetangga. Adapun tetangga yang memiliki tiga hak adalah tetangga muslim yang memiliki rahmat; ia memiliki hak sebagai tetangga, hak Islam, dan hak silaturrahim.” (Al-Bazzar, Abu Na’im dalam kitab Al-Hilyah)
Saking seringnya Jibril berwasiat tentang tetangga dan menjelaskan hak-hak mereka, Rasulullah saw. sampai-sampai mengira Jibril akan berkata, “Sebagian dari hak-hak mereka adalah mewariskan hartanya setelah kematiannya, seperti kepada kerabatnya.” (Bukhari, hadits nomor 5555)
Karena itu, berhati-hatilah! Jangan sakiti tetangga Anda. Sebab, tetangga bisa menjadi salah satu jalan pembuka pintu surga. Tapi, jika kita buruk dalam bertetangga, bisa menggelicirkan kaki kita ke jurang neraka.
Begitulah kabar yang sampai kepada kita dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (Muslim, hadits nomor 66)
Abu Hurairah r.a. berkata, seseorang lelaki berkata kepada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, sesungguhnya si fulanah sering disebut karena shalat, puasa dan sedekahnya yang sangat banyak, hanya saja ia menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah saw. berkata, “Wanita itu di neraka.” Lelaki itu berkata lagi, “Sesungguhnya si fulanah sering disebut karena shalat, puasa, dan sedekahnya yang sangat sedikit, ia bersedekah dengan sepotong keju serta tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah saw. bersabda, “Wanita itu di surga.” (Ahmad, hadits nomor 9298, dan Al-Hakim)
Masih dari Abu Hurairah r.a., “Seseorang datang kepada Nabi Muhammad saw. mengeluhkan tetangganya. Beliau berkata, ‘Pulang dan bersabarlah!’ Untuk kedua dan ketiga kalinya orang itu datang lagi. Beliau kemudian berkata, ‘Pulang dan letakkan barang-barangmu di tengah jalan.’ Ia kemudian kembali pulang dan meletakkan barang-barangnya di jalan, sehingga orang-orang yang menyaksikannya bertanya kepadanya, ia pun membeberkan masalahnya. Mengetahui hal tersebut, orang-orang justru melaknat tetangganya yang jahat itu dengan mengatakan, ‘Semoga Allah memperlakukannya demikina dan demikian.’ Tetangganya kemudian datang kepadanya dan berkata, ‘Pulanglah ke rumahmu, engkau tidak akan melihat sesuatu yang engkau benci dariku.’” (Abu Dawud, hadits nomor 4468).
Hak tetangga tidak hanya menghentikan kejahatannya saja, tetapi juga harus disertai dengan kelembutan dan menanpakkan kebaikan. Oleh karena itu, seseorang pernah datang kepada Ibnu Mas’ud dan berkata, “Saya memiliki seorang tetangga yang menyakitiku, menghina dna menyempitkanku.” Ibnu Mas’ud menasihatinya, “Pergilah karena ia sesungguhnya bermaksiat kepada Allah melalui engkau, maka taatlah kepada Allah dalam hal itu.”
Apa hak tetangga dari diri kita? Pertanyaan ini pernah ditanyakan para sahabat kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw. Menjawab, “Apabila ia meminta pinjaman kepadamu, engkau meminjamkan. Bila ia meminta meminta pertolongan kepadamu, engkau menolongnya. Bila ia membutuhkan sesuatu, engkau memberikannya. Apabila ia ditimpa kemiskinan, engkau membantunya. Bila mendapatkan kebaikan, engkau ucapkan selamat kepadanya. Bila menerima cobaan, engkau menghiburnya. Dan bila ia meninggal, engkau mengiringi jenazahnya.
Jangan tinggikan tembok rumahmu sehingga angin terhalang untuknya selain dengan seizinnya. Jangan sakiti ia dengan aroma masakanmu kecuali engkau berikan sebagian darinya. Bila engkau membeli buah, maka hadiahkanlah pula untuknya. Bila engkau tak mampu melakukannya, maka curahkanlah kegembiraan dalam dadanya. Jangan keluarkan anakmu untuk menciptakan kemarahan dalam diri anak-anaknya.” (At-Tabrani mengatakan ini ucapan Mu’adz bin Jabal, tapi para ulama berkata ini hadits marfu’ yang sanadnya lemah tapi maknanya shahih).
Karena itu, kualitas hubungan kita dengan tetangga adalah cermin diri kita. Jika hubungan dengan tetangga buruk, kita buruk. Jika baik, kita baik. Hal ini pernah ditanyakan Abdullah bin Mas’ud kepada Rasululllah saw. “Bagaimana saya dapat mengetahui bahwa saya telah berbuat baik dan berbuat buruk?” Rasulullah saw. menjawab, “Apabila engkau mendengar tetanggamu mengatakan bahwa engkau berbuat baik, maka engkau telah berbuat baik. Dan apabila engkau mendengar mereka berkata bahwa engkau berbuat jahat, maka engkau telah berbuat jahat.” (Ibnu Majah, hadits nomor 4213).
Jadi, jangan sampai tetangga kita memberi kesaksian yang buruk kepada kita. Perhatikanlah sampah rumah kita, jangan sampai dibuang ke pekarangan mereka. Jangan keraskan suara radio kita hingga mengganggu tidur tetangga. Jangan biarkan anak-anak Anda memamerkan mainan barunya yang membuat anak tetangga Anda iri sementara orang tua mereka tidak mampu membelikan. Tentu ini sangat menyakitkan hati mereka. Masih banyak lagi perbuatan yang harus kita jaga agar tidak menyakiti tetangga. Ketahuilah, mereka akan bersaksi tentang semua perangai kita di harapan Allah kelak! Semoga mereka memberi kesaksian bahwa kita orang baik dan Allah swt. mengganjar kita dengan surga. Amin.
Lewat firman-Nya ini, Allah swt. menegaskan kepada kita untuk ihsan (berbuat baik). Salah satu yang harus kita ihsani adalah tetangga. Bahkan Allah swt. memerinci. Mereka adalah al-jaar dzil qurba, al-jaar al-junub, dan ash-shahib bil janb.
Al-jaar dzil qurba adalah sebutan bagi orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan atau kekeluargaan dengan kita, tetangga kita yang muslim, atau yang tempat tinggalnya yang paling dekat dengan kita.
Sedangkan al-jaar al-junub ialah sebutan bagi orang-orang yang tidak memiliki hubungan keluarga atau kekerabatan dnegan kita, tetangga non-muslim, atau tetangga jauh.
Dan ash-shahib bil janb yaitu sebutan bagi suami atau istri Anda, kawan bisnis, atau teman dalam perjalanan.
Ibnu Hajar, dalam Fathul Bari, mendefinisikan, “Kata al-jaar (tetangga) meliputi tetangga muslim, non-muslim, kafir, fasik, kawan, lawan, orang asing, berasal dari negara yang sama, seseorang yang dapat mendatangkan manfaat atau keburukan, kerabat, dan mereka yang rumahnya jauh ataupun dekat.”
Tetangga kita terbagi dalam tiga tingkatan yang masing-masing memiliki hak atas diri kita. Tentang hal ini kita dapat informasi dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tetangga ada tiga macam: tetangga yang memiliki satu hak –dan ia adalah tetangga yang paling dekat–, tetangga yang memiliki dua hak, dan tetangga yang memiliki tiga hak –dan ini adalah tetangga yang paling utama–. Adapun tetangga yang memiliki satu hak adalah tetangga musyrik tidak ada rahmat baginya; ia hanya memiliki hak sebagai tetangga. Adapun tetangga yang memiliki tiga hak adalah tetangga muslim yang memiliki rahmat; ia memiliki hak sebagai tetangga, hak Islam, dan hak silaturrahim.” (Al-Bazzar, Abu Na’im dalam kitab Al-Hilyah)
Saking seringnya Jibril berwasiat tentang tetangga dan menjelaskan hak-hak mereka, Rasulullah saw. sampai-sampai mengira Jibril akan berkata, “Sebagian dari hak-hak mereka adalah mewariskan hartanya setelah kematiannya, seperti kepada kerabatnya.” (Bukhari, hadits nomor 5555)
Karena itu, berhati-hatilah! Jangan sakiti tetangga Anda. Sebab, tetangga bisa menjadi salah satu jalan pembuka pintu surga. Tapi, jika kita buruk dalam bertetangga, bisa menggelicirkan kaki kita ke jurang neraka.
Begitulah kabar yang sampai kepada kita dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (Muslim, hadits nomor 66)
Abu Hurairah r.a. berkata, seseorang lelaki berkata kepada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, sesungguhnya si fulanah sering disebut karena shalat, puasa dan sedekahnya yang sangat banyak, hanya saja ia menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah saw. berkata, “Wanita itu di neraka.” Lelaki itu berkata lagi, “Sesungguhnya si fulanah sering disebut karena shalat, puasa, dan sedekahnya yang sangat sedikit, ia bersedekah dengan sepotong keju serta tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah saw. bersabda, “Wanita itu di surga.” (Ahmad, hadits nomor 9298, dan Al-Hakim)
Masih dari Abu Hurairah r.a., “Seseorang datang kepada Nabi Muhammad saw. mengeluhkan tetangganya. Beliau berkata, ‘Pulang dan bersabarlah!’ Untuk kedua dan ketiga kalinya orang itu datang lagi. Beliau kemudian berkata, ‘Pulang dan letakkan barang-barangmu di tengah jalan.’ Ia kemudian kembali pulang dan meletakkan barang-barangnya di jalan, sehingga orang-orang yang menyaksikannya bertanya kepadanya, ia pun membeberkan masalahnya. Mengetahui hal tersebut, orang-orang justru melaknat tetangganya yang jahat itu dengan mengatakan, ‘Semoga Allah memperlakukannya demikina dan demikian.’ Tetangganya kemudian datang kepadanya dan berkata, ‘Pulanglah ke rumahmu, engkau tidak akan melihat sesuatu yang engkau benci dariku.’” (Abu Dawud, hadits nomor 4468).
Hak tetangga tidak hanya menghentikan kejahatannya saja, tetapi juga harus disertai dengan kelembutan dan menanpakkan kebaikan. Oleh karena itu, seseorang pernah datang kepada Ibnu Mas’ud dan berkata, “Saya memiliki seorang tetangga yang menyakitiku, menghina dna menyempitkanku.” Ibnu Mas’ud menasihatinya, “Pergilah karena ia sesungguhnya bermaksiat kepada Allah melalui engkau, maka taatlah kepada Allah dalam hal itu.”
Apa hak tetangga dari diri kita? Pertanyaan ini pernah ditanyakan para sahabat kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw. Menjawab, “Apabila ia meminta pinjaman kepadamu, engkau meminjamkan. Bila ia meminta meminta pertolongan kepadamu, engkau menolongnya. Bila ia membutuhkan sesuatu, engkau memberikannya. Apabila ia ditimpa kemiskinan, engkau membantunya. Bila mendapatkan kebaikan, engkau ucapkan selamat kepadanya. Bila menerima cobaan, engkau menghiburnya. Dan bila ia meninggal, engkau mengiringi jenazahnya.
Jangan tinggikan tembok rumahmu sehingga angin terhalang untuknya selain dengan seizinnya. Jangan sakiti ia dengan aroma masakanmu kecuali engkau berikan sebagian darinya. Bila engkau membeli buah, maka hadiahkanlah pula untuknya. Bila engkau tak mampu melakukannya, maka curahkanlah kegembiraan dalam dadanya. Jangan keluarkan anakmu untuk menciptakan kemarahan dalam diri anak-anaknya.” (At-Tabrani mengatakan ini ucapan Mu’adz bin Jabal, tapi para ulama berkata ini hadits marfu’ yang sanadnya lemah tapi maknanya shahih).
Karena itu, kualitas hubungan kita dengan tetangga adalah cermin diri kita. Jika hubungan dengan tetangga buruk, kita buruk. Jika baik, kita baik. Hal ini pernah ditanyakan Abdullah bin Mas’ud kepada Rasululllah saw. “Bagaimana saya dapat mengetahui bahwa saya telah berbuat baik dan berbuat buruk?” Rasulullah saw. menjawab, “Apabila engkau mendengar tetanggamu mengatakan bahwa engkau berbuat baik, maka engkau telah berbuat baik. Dan apabila engkau mendengar mereka berkata bahwa engkau berbuat jahat, maka engkau telah berbuat jahat.” (Ibnu Majah, hadits nomor 4213).
Jadi, jangan sampai tetangga kita memberi kesaksian yang buruk kepada kita. Perhatikanlah sampah rumah kita, jangan sampai dibuang ke pekarangan mereka. Jangan keraskan suara radio kita hingga mengganggu tidur tetangga. Jangan biarkan anak-anak Anda memamerkan mainan barunya yang membuat anak tetangga Anda iri sementara orang tua mereka tidak mampu membelikan. Tentu ini sangat menyakitkan hati mereka. Masih banyak lagi perbuatan yang harus kita jaga agar tidak menyakiti tetangga. Ketahuilah, mereka akan bersaksi tentang semua perangai kita di harapan Allah kelak! Semoga mereka memberi kesaksian bahwa kita orang baik dan Allah swt. mengganjar kita dengan surga. Amin.
Wednesday, August 11, 2010
Game Online, Play Station, dan Anak-anak Kita

Hari itu masih pagi, sekitar jam delapan. Saya diundang adik-adik untuk memberikan training blog di sebuah warnet yang memiliki ruang tersendiri untuk training. Sambil menunggu peserta saya mengamati pengunjung warnet itu. Kebanyakan adalah wajah-wajah yang masih polos; anak-anak SD. Hampir semuanya main game online.
Ketika saya tanya kepada pemilik warnet, apakah mereka sering main game online? "Ya, mereka sering ke sini. Berjam-jam main game online. Bahkan ada yang sampai sore." Masya Allah, sampai separah itukah?
Fenomena lain yang sampai saat ini masih menjamur adalah rental-rental Play Station yang selalu ramai. Kalau kita jalan-jalan keliling kota, atau saat dalam perjalanan pulang dari tempat kerja, kita akan akan melihat betapa rental-rental Play Station itu tidak pernah sepi oleh anak-anak dan remaja yang gandrung PS-an. Mereka begitu asyik dan menikmati PS sampai lupa akan waktu.
Game online dan Play Station menjadi tantangan sendiri bagi kita para orangtua. Apalagi bagi kita yang sibuk dan "kurang perhatian" pada anak-anak kita. Kita hanya tahu bahwa kita telah menyekolahkan mereka, menyediakan makanan yang cukup bagi mereka, dan memberikan uang saku setiap hari kepada mereka. Kita tidak tahu jika ternyata uang saku itu digunakan untuk bermain game online atau play station. Pulang sekolah mereka mampir ke warnet atau rental PS. Yang lebih parah, ada yang sampai bolos sekolah demi game-game itu.
Game Online dan Play Station Berbahaya bagi Anak-anak Kita
Ayah... Bunda... sadarilah betapa bahayanya game online dan play station bagi anak-anak kita. Tanpa menyadari bahayanya, mungkin ayah dan bunda masih menganggap ini biasa dan acuh tak acuh pada anak-anak kita.
Diantara bahaya itu adalah mengesampingkan ibadah. Shalat, misalnya. Pada anak yang diceriatakan pemilik warnet di atas, shalat Zhuhur dilewati begitu saja karena sore ia baru pulang dari warnet. Anehnya, kadang orang tua justru senang melihat anaknya "tidak merepotkan" dan "tidak membuat gaduh" di rumah seperti itu. Tahu-tahu ia pulang langsung masuk kamar dan tertidur.
Bahaya yang lain adalah melalaikan anak dari belajar. Padahal, belajar merupakan bekalnya menuju masa depan yang lebih baik. Seringkali tugas sekolahnya menjadi berantakan karena sudah kalah dengan game online dan play station. Jika, anak sudah berani bolos sekolah demi dua hal itu, bahaya yang lebih besar mengancam masa depannya.
Dampak psikologi juga tidak kalah berbahayanya bagi mereka. Umumnya game online yang diakses atau play station yang digemari anak-anak mengandung unsur kekerasan. Akumulasi dari interaksi dengan game berunsur kekerasan itu akan mempengaruhi kepribadian mereka dan membentuk mereka menjadi suka marah dan temperamental.
Bahaya berikutnya adalah masalah kesehatan. Depkominfo melalui Direktur Pemberdayaan Telematika Departemen Komunikasi dan Informatika pernah menyampaikan bahwa tidak sedikit pecandu games online yang sakit-sakitan bahkan hingga membawa korbannya kepada kematian akibat tidak mengenal waktu dalam mengakses permainan itu.
Apa yang Perlu Dilakukan Orang Tua?
Anak-anak kita adalah amanah Ilahi. Mereka juga buah hati sekaligus generasi penerus kita. Mereka pula lah penentu masa depan masyarakat dan negeri kita. Saat kita membiarkan mereka kecanduan game online dan play station, sama artinya kita membiarkan masa depan negeri ini menuju kehancurannya, dan harapan umat ini sirna.
Hal-hal yang perlu kita lakukan diantaranya adalah memberikan perhatian kepada mereka. Sesibuk apapun aktifitas dan pekerjaan kita, kita perlu meluangkan waktu untuk berbicara kepada mereka, menemani mereka dan bercanda dengan mereka. Perhatian itu juga kita ungkapkan saat ada momen-momen istimewa. Saat ia menerima rapot, saat ia mendapat nilai bagus waktu ualangan, dan sebagainya. Memberikan hadiah di saat-saat seperti itu adalah pilihan yang tepat.
Kita juga perlu memahami anak kita. Jika ia terlihat murung, mungkin ada masalah dengan temannya. Atau kesulitan di sekolah. Kita perlu menempatkan diri sebagai sahabat yang baik, tempat mereka curhat dan kemudian kita membimbing mereka serta membantu memberikan solusi.
Dekatnya hubungan kita dengan anak-anak akan membuat komunikasi kita berjalan lancar dan nasihat-nasihat kita didengar mereka. Kita bisa memahamkan mereka betapa bahayanya game online dan play station, terutama bagi yang kecanduan.
Orang tua juga perlu berkomunikasi secara periodik dengan guru untuk mengetahui perkembangan anaknya di sekolah. Dalam hal ini tidak cukup hanya mengandalkan buku penghubung. Guru yang paling tahu kondisi anak kita di sekolah pasti akan dengan senang hati menyampaikan perkembangan anak kita jika kita silaturahim langsung kepada beliau. Dan sebenarnya ini juga bisa kita lakukan saat kita menjemput anak kita, jika waktu kita sangat terbatas. Wallaahu a'lam.
Friday, August 6, 2010
Kebersamaan dengan Keluarga

Ada salah satu keluhan dan konsultasi orang tua menanyakan "Pak, apakah anak saya berbuat Asusila pada tahun Ini? Karena saya merasakan ada keanehan dalam anak saya. Apa yang harus saya lakukan?" ungkap salah satu orang tua. Barangkali para pembaca pernah mendengar kata Pubertas?. Inilah salah satu kasus yang pernah dialami orang tua tersebut. Ketika kami menanyakan apa saja aktivitas sehari-hari , maka orang tua kadang ia berkuasa kepada adik-adiknya bahkan mengancam adiknya jika diganggu maka akan marah besar. Ini adalah salah satu usia masa pubertas sedang mengalami proses gejala amarah, egois, banyak alasan/komentar, menjodohkan teman, bahkan keinginan tahu apa itu pergaulan. Banyak sekali menandakan usia 10 tahun keatas adaya perubahan yang signifikan yang akhirnya anak mempunyai kesulitan dalam belajar bahkan ingin selalu memperbanyak pergaulan dan keingintahuan dalam hal pergaulan.
Tujuan anak yang mulai semakin lama mau sulit dipahami oleh orang tua bahkan tidak tahu apa yang harus diberikan solusi bagi anak tersebut. Jalan solusinya adalah pendekatan yang memang harus intensif dan selalu mendampinginya oleh orang tua. Orang tua harus sedikit demi sedikit memberikan pemahaman apa itu pergaulan, hubungan laki wanita, kemandirian bahkan sampai ia mulai akan mengalami aqil baligh.(dewasa). Semakin ia mulai mengerti maka ia tahu apa sebab dan akibatnya oleh anak yang didapatkannya. Perbanyak cerita atau tukar pengalaman dengan anak (sharing)dalam dirumah maupun dalam beraktivitas kreasi. Itu menandakan anak ingin sekali kebersamaan bagi teman, keluarga bahkan dengan guru sekalipun.
Sedikit demi sedikit bocoran atau rahasia anak maka akan lebih tahu apa yang harus diketahui oleh orang tua maupun guru melalui forum diskusi/cerita keinginan anak dengan cara lemah lembut. Penjelasan yang akurat dan konstruktif menandakan akan sangat baik sekali harapan bagi si Anak untuk mendapatkan informasi terbaru. Karena memang mereka ingin mendapatkan informasi sedalam-dalamnya dengan cara vulgar atau sembunyi-sembunyi asalakan pokok diskusi tersebut salaing menghormati dan menjaga kerahasiaan anak.
Kebersamaan bagi orang tua sangat penting dibandingkan temannya karena semakin ia sharing kepada teman atau sahabat sepermainannya khawatir mendapatkan informasi yang salah dan juga berakibat vatal. Namun harus proses yang diskusi yang panjang maupun harus memahami karakter sesama anak, guru maupun orang tua. Intinya adalah kebersama dengan keluarga itu jauh lebih penting karena harapan orang tua bagi si Anak sangat besar, ia juga harta yang sangat tinggi dibandingkan harta dunia sekalipun. wallahu alam bishowab
Dian Parikesit, S.Pd
Thursday, July 22, 2010
Budayakan Buah Hati Mahir Membaca
SETIAP orang tua tentu menginginkan buah hatinya mahir membaca. Latih kemampuan membaca si kecil sejak dini agar prestasinya semakin cemerlang di sekolah.
Berikut ini adalah lima tips jitu mengajarkan anak membaca seperti dianjurkan National Center for Family Literacy dan para ahli:
Interaktif
Idealnya, Anda sudah mulai membacakan buku untuk anak sejak dia berada di dalam kandungan. Ketika anak mencapai usia prasekolah, ajak dia menjadi rekan membaca Anda. Biarkan anak memilih buku yang ia mau, lalu bacakan buku itu untuknya dengan suara keras. Tanyakan mengapa anak memilih buku itu, dan apa yang diingatnya tentang kisah di dalam buku.
Ketika membaca, biarkan anak duduk di samping Anda sehingga ia bisa membalikkan halaman selagi Anda membaca untuknya. Jangan lupa untuk menunjuk dengan jari setiap patah kata yang Anda baca dari buku agar anak bisa mengikutinya. Jadikan aktivitas tersebut semakin interaktif dengan bertanya kepada anak bagaimana menurutnya kisah itu berjalan.
...Ketika anak mencapai usia prasekolah, ajak dia menjadi rekan membaca Anda. Biarkan anak memilih buku yang ia mau...
Alfabet
Cari buku alfabet dengan subjek yang menarik minat anak. Misalnya buku tentang binatang, makanan, atau mesin. Selain itu, dorong anak untuk membuat sendiri buku alfabetnya menggunakan guntingan gambar dari majalah atau koran yang ditempelkan ke scrapbook. Setiap gambar mewakili sebuah huruf. Perkenalkan pula kepadanya bagaimana bunyi setiap huruf tersebut.
Mengenali objek
Gunakan kartu indeks untuk melabeli berbagai benda di rumah, mulai dari pintu, tempat tidur, dinding, lampu, televisi, lemari dan lain sebagainya. Dengan demikian, rumah Anda akan menjadi buku bergambar raksasa yang menyenangkan baginya. Anak akan mempelajari berbagai kosakata baru dengan melihat dan membaca objek-objek tersebut.
Libatkan pula anak saat membuat label untuk ditempelkan ke berbagai objek.Setelah itu, tingkatkan kemampuan anak dengan memintanya membaca nama-nama jalan, gedung, papan reklame atau apa pun yang Anda temukan saat berjalan-jalan keluar rumah.
Role model
Berikan contoh yang baik kepada anak. Biarkan dia melihat Anda membaca berbagai novel, majalah, surat kabar, atau resep masakan. Selagi membaca, biarkan anak bergelung di samping Anda sambil memegang buku bergambar miliknya sendiri. Melihat orang tuanya senang membaca, anak akan semakin terpacu mengasah kemampuannya bersama Anda.
...Berikan contoh yang baik kepada anak. Melihat orang tuanya senang membaca, anak akan semakin terpacu mengasah kemampuannya bersama Anda....
Bahan bacaan
Ketika anak mulai belajar membaca atau sudah fasih membaca, biarkan dia memilih sendiri bahan bacaannya. Kotak sereal, katalog, atau selebaran bisa menjadi bahan bacaan yang baik untuk melatih kemampuannya selain buku atau majalah. Selain itu, ajak anak ke perpustakaan atau toko buku untuk menumbuhkan kecintaannya dalam membaca. Semakin anak senang membaca semakin banyak wawasannya dan selalu ingin cari tahu ilmu yang akan didapatkan
Monday, July 12, 2010
Sharing : 24 Tahun Hidup dengan Jantung Bocor

Pdpersi, Jakarta - Dari beberapa kelainan jantung, Bocor Jantung termasuk gangguan serius. Selama hidup, penderita sepeti aku harus terus menerus tergantung obat. Belum lagi kondisi lemah, mudah capek dan pingsan yang sudah menjadi santapan sehari-hari.
Empat puluh hari setelah lahir, dokter mendiagnosa ada yang tidak beres dengan jantungku. Ini tentu saja mengejutkan orangtuaku. Bayi mungil, imut-imut dan mereka nantikan kedatangannya di dunia iti ternyata memiliki jantung tak normal, jantungku dinyatakan bocor. Dalam benak orangtuaku, tergambar hidup yang akan aku jalani kelak. Bagaimana hidupku saat tumbuh menjadi anak-anak, remaja dan dewasa?
Memang terbukti, kelainan itu membuat irama hidupku berantakan. Aku gampang sekali capek. Tak satu pun permainan anak-anak bisa aku ikuti hingga selesai. Ketika asyik bermain, kerap kali tubuhku limbung. Ujung-ujungnya aku pun jatuh tanpa tenaga. Teman sebaya mengejek, menghina, dan menolak bermain denganku. Mereka bilang, aku tidak sehat, jadi mereka malas bermain denganku. Biasanya aku pulang, menangis dan langsung ambruk dipangkuan ibu.
Salah satu hal yang aku ingat dan aku syukuri, orangtuaku tahu persis cara membangkitkan semangat hidupku. Bahkan saat krits dan ingin menyudahi hidup ini, mereka mendatangiku dengan uluran kasih saying. Saat itu aku belum mengerit apa yang terjadi dengan tubuhku. Aku tidak tahu, kenapa aku gampang sekali lelah, limbung, dan goyah. Bukan sekadar tak bisa bermain, prestasi belajarku pun menjadi korban. Aku pernah tinggal kelas saat duduk di bangku sekolah. Tentu saja bukan karena aku tak mampu, namun apa daya kesehatanku tidak mendukung. Untuk berpikir sedikit saja, seluruh persendianku gemetar. Tubuhku oleng, kepala pusing, pandangan berputar dan puncaknya, aku pingsan.
Derita itu semakin menjadi saat aku duduk di bangku SMKK. Setiap hari, aku harus naik tangga sebelum mencapai kelas yang ada di lantai dua. Menapaki dua anak tangga saja butuh tenaga ekstra, apalagi sampai ke puncak tangga. Entahlah, aku selalu down lebih dulu sebelum menapakkan langkah. Pekerjaan sepele itu menjadi luar biasa. Dari anak tangga pertama ke anak tangga kedua nafasku sudah ngos-ngosan. Darahku serasa terisap, entah oleh siapa. Wajahku pucat. Mata berkunang, kaki gemetar, dada berdegup, jantung berdebar, hingga akhirnya…bruk..aku ambruk, pingsan dan dunia gelap. Teman-teman mengelilingiku dengan mata prihatin. Bukan sepuluh atau dua puluh menit, tapi satu setengah jam aku pingsan.
Ingin Mati
Kalau dihitung-hitung sudah puluhan kali aku pingsan. Yang pasti, acara pingsan di sekolah selalu berakhir di rumah sakit. Di rumah sakit, aku berteman dengan tabung oksigen dan selang-selang infuse. Aku juga tergantung pada obat. Kalau obat habis, ancaman anfal pasti dating. Sejak kecil hingga remaja, pertumbuhan fisikku seolah stagnan. Aku sulit gemuk. Lengkap sudah keringkihanku, tubuhj kecil, sulit gemuk dan mudah anfal.
Usia remaja aku lewati dengan sejuta kecemasan. Rasa takut dan putus asa turut melengkapi. Hingga suatu ketika aku melihat hidup dengan mata gelap. Aku benar-benar putus asa. Bahkan aku sempat berpikir, untuk apa aku hidup kalau terus begini. Namun sebelum aku berbuat lebih jauh untuk mengakhiri hidup, lagi-lagi ibuku memberi support. Ibu bilang : “nggak usah nangis, nggak usah kecewa. Jalani saja hidup kamu, sampai dimana penderitaan kamu berakhir.” Selain Ibu, dokter Deddy, yang merawatku ketika aku anfal, juga mengingatkanku. Katanya aku tidak boleh kecewa. Suatu saat pasti ada jalan untuk operasi. Kalau dipikir, mereka berdualah yang selalu membuatku kuat. Akupun lantas ingat Tuhan, dan sejak itu aku tak pernah melewatkan hari-hariku tanpa doa.
Setelah lulus SMKK tahun 1994, aku takut mencari kerja. Aku pikir, bagaimana bisa bekerja, kalau beraktivitas atau berpikir sedikit saja sudah pingsan. Dan lagi siapa yang mau menerima karyawan yang punya kelainan jantung dan gampang anfal. Setahun lebih aku menjalani masa penuh ketakutan, sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak kerja dan memilih kuliah. Dengan keberanian yang kupaksa dan kulipatgandakan, akhirnya aku bersandar di bangku sebuah PGTK, pendidikan untuk menjadi guru Taman Kanak-Kanak (TK).
Tiga Jam yang Mengubah Hidupku
Beberapa saat aku bisa nikmati hari-hari di PGTK. Tapi sayang, masa menyedihkan ketika kecil dan remaja terulang kembali. Aku masih gampang anfal. Bahkan saat aku berusia 22 tahun, aku tergeletak di rumah sakit untuk kesekian kalinya dan menghabiskan tuhuh botol infuse dan dua tabung oksigen. Tubuhku semakin kurus. Ibaratnya, disenggol sedikit saja pasti jatuh. Kejadian serupa terulang lagi beberapa saat menjelang wisuda. Ketika para calon wisudawan berkumpul untuk mengikuti upacara penerimaan ijazah kelulusan, aku malah terkulai. Saat namaku dipanggil, tubuhku semakin terkulai karena berdiri terlalu lama ketika mengikuti upacara. Aku kembali anfal, kembali digotong ke rumah sakit. Kali ini dokter sudah tak punya pilihan lain, aku harus dioperasi. Bocor jantung sudah meluluhlantarkan kekuatan tubuhku. Aku segera dirujuk ke RS Pondok Indah Jakarta. Disini, aku ketemu dokter Maezul (dr. Maezul Anwar. SpBTKV, ahli bedah jantung RS Pondok Indah). Ahli bedah jantung yang bertangan dingin itulah yang menangani operasiku.
Tapi entahlah, saat ini aku kembali terlilit rasa takut yang teramat sangat. Sudah masuk ruang operasi, tapi tiba-tiba aku minta pulang. Aku bukan takut dibedah, tapi akut takut kalau operasi ini gagal. Kalau sampai gagal, entah dengan cara apa lagi aku hadapi hidup ini. Ketika aku sampaikan ketakutan itu, dokter Maezul cuma tersenyum. Ia memberiku keberanian. Katanya, “Untuk apa gagal, kalau gagal saya yang menyesal. Nanti kalau sudah sembuh, mbak tidak usah nangis lagi. Enak kok, jadi anak sehat,” saat itu juga aku langsung bilang : ya saya mau dok!
Maka segeralah sejarah baru dalam hidupku bergulir di meja operasi di bulan Oktober 1999, saat usiaku 24 tahun. Operasi berlangsung hanya tiga jam, dan sesudahnya aku harus menginap di ruang ICU selama seminggu dan di ruang perawatan tiga hari. Dari rangkaian waktu itulah sejarah hidupku berbalik. Beberapa minggu setelah operasi hari-hariku mendadak cerah. Apalagi dalam waktu yang hampir bersamaan, aku diterima di sebuah TK cukup ternama di Jakarta. Kesiapan fisikku saat menjalani tugas sebagai guru K bertolakbelakang dengan kondisi sebelum operasi. Sekarang aku merasa lebih segar, bertenaga, dan penuh vitalitas.
Untuk operasi ini, aku mendapat bantuan besar dari Yayasan Jantung Indonesia, atas rekomendasi Dr. Dedy. Yayasan inilah yang menanggung sebagian besar biaya operasi. Dari Rp. 150 juta biaya keseluruhan, orangtuaku hanya mengeluarkan Rp. 2 juta. Selebihnya ditanggung Yayasan.
Karir Meroket
Perlahan tapi pasti, pasca operasi karierku meroket. Jika dulu aku takut naik tangga, kini tidak lagi. Jangankan tangga, karier pun sanggup aku naiki. Kepala sekolah tempatku mengajar memberiku kesempatan seluas-luasnya. Aku ingin tunjukkan pada lingkungan sekitar bahwa Diana yang sekarang bukan Diana yang dulu. Diana sekarang adalah orang yang kuat, tangguh dan tak mudah jatuh. Tak adal lagi cerita tentang gadis kurus yang saat remaja hampir mundur dari kehidupan. Tak ada lagi kisah mahasiwi yang pingsan saat upacara wisuda. Yang ada adalah guru TK yang ingin mengubur masa lalunya karena itu sangat menyakitkan.
Kini, tak ada lagi masa-masa sulit itu. Jantungku sekarang lebih liat, kokoh dan normal. Irama perputaran darahnya kian lama kian stabil. Stok tenagaku pun memudahkan aku untuk bertindak apa saja. Seberat apa pun pekerjaan yang aku jalani tak pernah berakhir dengan wajah pucat, keringat dingin, dan mata berkunang. Aktivitas super keras pun tak sanggup mengencangkan degub jantungku. Memang benar, sejak lepas operasi jantungku tak pernah berdegup kencang.
Kondisi fisik ini membantuku melewati masa kebahagiaan selanjutnya. Yakni, ketika masuk gerbang pernikahan. Sejak menikah dan menjalani masa berumahtangga aku tak pernah anfal. Kondisiku tetap terjaga sampai aku melahirkan bayi mungilku. Aku heran tak henti-hentinya memanjatkan syukur pada Tuhan, karena mampu melahirkan secara normal. Padahal, ketika jantungku bermasalah, aku tidak berani membayangkan persalinan. Sebab, kata dokter, dengan jantung tidak normal, sulit bagiku untuk melahirkan normal. Ketika kontraksi rahimku menguat. Nafasku stabil. Detak jantungku normal. Satu hal, aku jalani detik-detik persalinan tanpa bantuan tabung oksigen. Semuanya aku lakukan dengan kekuatanku sendiri. Terima kasih Tuhan, ini benar-benar luar biasa.
Sumber : Indonesia Hospital
Friday, June 18, 2010
Hadapi masalah dan cari solusinya dari Anak kita

Beberapa hari yang lalu kembali saya terima sms dari salah seorang siswa terbaik kami, intinya Fulan (bukan nama sebenarnya) minta saran pindah kelas. Mengapa? Seberat apakah permasalahannya hingga punya keinginan pindah kelas. Sudah agak lama saya amati ketidak harmonisan hubungan Fulan dengan teman-temannya di kelas. Salah satu pemicunya, karena Fulan menjadi mendapat kepercayaan guru-guru sedangkan yang lain tidak (menurut kaca mata teman-temannya). Fulan selalu mendapat nilai baik bahkan terbaik di kelasnya.
Dia memang anak yang baik, jenius dan cepat tanggap terhadap tugas yang diberikan guru padanya. Pekerjaannya selalu rapi, baik pelajaran adaptif, normatif dan produktif. Tapi sayang sekali dia sedikit memiliki sifat egois. Emotional Questionnya kurang baik. Seringkali menganggap remeh teman. Hasilnya dia dijauhi oleh teman-temannya dan kebetulan dia berada di kelas yang agak bermasalah.
Pada saat di kelas X belum banyak timbul masalah. Kini setelah berada di kelas XI semakin memperlebar jarak dengan teman-temannya. Sebenarnya ada beberapa masalah pribadi yang dia pendam tanpa mau terbuka dengan teman-temannya, dengan tujuan sebenarnya hanya tidak mau merepotkan serta menimbulkan prasangka buruk. Ternyata semua itu juga menimbulkan persepsi jelek dari teman-temannya. Semakin hari semakin buruk. Dan kelihatannya hari ini mencapai puncak kesabarannya.
Beruntung Fulan masih mau berkonsultasi. Akan lebih berbahaya jika dipendam tanpa mendapat pencerahan dan bantuan menyelesaikan permasalahannya.
Kadang saya goda, “Fisika bisa dapat sepuluh. Menghadapi masalah kehidupan kok …. Loyo ?!. Semangat …Semangat! Jangan lari dari masalah. Jangan menyerah dan jangan pernah putus asa.”
Salah satu saran saya, menulis … menuliskan semua permasalahannya, biar hatinya sedikit lapang. Lega. Sehingga mampu berpikir jernih. Tidak emotional. Bahkan beberapa siswa mampu menulis di dalam blognya. Ketika permasalahnya bisa dilewati dan memperoleh hasil yang baik. Bisa menjadi memory yang membahagiakan dimasa datang.
Setiap ada siswa mengadukan permasalahannya, seringkali hanya saya bekali buku supaya dibaca. Belajar secara otodidak terlebih dahulu. Dan hasilnya ada banyak siswa mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri dari membaca. Bisa dimulai dari bacaan ringan tentu saja. Mungkin bisa di mulai dari serial teenlit jika perempuan, buku-buku tetralogi milik Andrea Hirata serta buku-buku motivator untuk mengasah kepekaan nalurinya.
Bagi yang tidak suka membaca …. Memang agak sedikit repot, namun ada saja jalan keluar yang bisa kita berikan ke siswa sebagai solusinya jika kita memang berniat belajar, belajar membimbing siswa menjadi dewasa. Menemani siswa menghadapi masalah berjuang mencari solusi sendiri dengan membaca.
Masih banyak siswa yang memiliki masalah, sebagian besar tidak tahu harus bicara dengan siapa, sebagian yatim/piatu, bahkan beberapa terpaksa hidup sendiri sementara orangtuanya merantau. Jika mereka salah bergaul/berteman, bukan solusi yang didapatkan melainkan permasalahan mereka semakin buruk, bahkan mereka bisa lari ke rokok, minuman keras dan narkoba. Mereka berusaha lari dari permasalahannya dengan mengkonsumsi barang haram. Pelarian semu.
Sudah waktunya orangtua, guru dan masyarakat bersatu padu membangun mental dan berempati pada permasalahan remaja supaya mereka tidak salah jalan. Berani menghadapi masalah dan mencari solusinya bukannya lari dari masalah. Lari pada rokok, minuman keras dan narkoba. Yang lebih parah pada sex bebas
Monday, May 31, 2010
Menumbuhkan Semangat Kerjasama di Sekolah

Kerja sama merupakan salah satu fitrah manusia sebagai mahluk sosial. Kerja sama memiliki dimensi yang sangat luas dalam kehidupan manusia, baik terkait tujuan positif maupun negatif. Dalam hal apa, bagaimana, kapan dan di mana seseorang harus bekerjasama dengan orang lain tergantung pada kompleksitas dan tingkat kemajuan peradaban orang tersebut. Semakin modern seseorang, maka ia akan semakin banyak bekerja sama dengan orang lain, bahkan seakan tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu tentunya dengan bantuan perangkat teknologi yang modern pula.
Bentuk kerjasama dapat dijumpai pada semua kelompok orang dan usia. Sejak masa kanak-kanak, kebiasaan bekerjasama sudah diajarkan di dalam kehidupan keluarga. Setelah dewasa, kerjasama akan semakin berkembang dengan banyak orang untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Pada taraf ini, kerjasama tidak hanya didasarkan hubungan kekeluargaan, tetapi semakin kompleks. Dasar utama dalam kerja sama ini adalah keahlian, di mana masing-masing orang yang memiliki keahlian berbeda, bekerja bersama menjadi satu kelompok/tim dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan. Kerja sama tersebut adakalanya harus dilakukan dengan orang yang sama sekali belum dikenal, dan begitu berjumpa langsung harus bekerja bersama dalam sebuah kolempok. Oleh karena itu, selain keahlian juga dibutuhkan kemampuan penyesuaian diri dalam setiap lingkungan atau bersama segala mitra yang dijumpai.
Dari sudut pandang sosiologis, pelaksanaan kerjasama antar kelompok masyarakat ada tiga bentuk, yaitu: (a) bargaining yaitu kerjasama antara orang per orang dan atau antarkelompok untuk mencapai tujuan tertentu dengan suatu perjanjian saling menukar barang, jasa, kekuasaan, atau jabatan tertentu, (b) cooptation yaitu kerjasama dengan cara rela menerima unsur-unsur baru dari pihak lain dalam organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya keguncangan stabilitas organisasi, dan (c) coalition yaitu kerjasama antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama. Di antara oganisasi yang berkoalisi memiliki batas-batas tertentu dalam kerjasama sehingga jati diri dari masing-masing organisasi yang berkoalisi masih ada. Bentuk-bentuk kerjasama di atas biasanya terjadai dalam dunia politik (Soekanto, 1986).
Selain pandangan sosiologis, kerjasama dapat pula dilihat dari sudut manajemen yaitu dimaknai dengan istilah collaboration. Makna ini sering digunakan dalam terminologi manajemen pemberdayaan staf yaitu satu kerjasama antara manajer dengan staf dalam mengelola organisasi. Dalam manajemen pemberdayaan, staf bukan dianggap sebagai bawahan tetapi dianggap mitra kerja dalam usaha organisasi (Stewart, 1998).
Kerja sama (collaboration) dalam pandangan Stewart merupakan bagian dari kecakapan ”manajemen baru” yang belum nampak pada manajemen tradisional. Dalam bersosialisasi dan berorganisasi, bekerjasama memiliki kedudukan yang sentral karena esensi dari kehidupan sosial dan berorganisasi adalah kesepakatan bekerjasama. Tidak ada organisasi tanpa kerjasama. Bahkan dalam pemberdayaan organisasi, kerjasama adalah tujuan akhir dari setiap program pemberdayaan. Manajer akan ditakar keberhasilannya dari seberapa mampu ia menciptakan kerjasama di dalam organisasi (intern), dan menjalin kerja sama dengan pihak-pihak di luar organisasi (ekstern).
Sekolah adalah sebuah oganisasi. Di dalam sekolah terdapat struktur organisasi, mulai kepala sekolah, wakil kepala, dewan guru, staf, komite sekolah, dan tentu saja siswa-siswi. Dalam sekolah terdapat kurikulum dan pembelajaran, biaya, sarana, dan hal-hal lain yang harus direncanakan, dilaksankan, dipimpin, dan diawasi, yang kesemuanya itu bermuara pada hubungan kerja sama atau human relation.
Terkait dengan cara menumbuhkan semangat kerjasama di lingkungan sekolah, Michael Maginn (2004) mengemukakan 14 (empat belas) cara, yakni:
1.Tentukan tujuan bersama dengan jelas. Sebuah tim bagaikan sebuah kapal yang berlayar di lautan luas. Jika tim tidak memiliki tujuan atau arah yang jelas, tim tidak akan menghasilkan apa-apa. Tujuan memerupakan pernyataan apa yang harus diraih oleh tim, dan memberikan daya memotivasi setiap anggota untuk bekerja. Contohnya, sekolah yang telah merumuskan visi dan misi sekolah hendaknya menjadi tujuan bersama. Selain mengetahui tujuan bersama, masing-masing bagian seharusnya mengetahui tugas dan tanggungjawabnya untuk mencapai tujuan bersama tersebut.
2.Perjelas keahlian dan tanggung jawab anggota. Setiap anggota tim harus menjadi pemain di dalam tim. Masing-masing bertanggung jawab terhadap suatu bidang atau jenis pekerjaan/tugas. Di lingkungan sekolah, para guru selain melaksanakan proses pembelajaran biasanya diberikan tugas-tugas tambahan, seperti menjadi wali kelas, mengelola laboratorium, koperasi, dan lain-lain. Agar terbentuk kerja sama yang baik, maka pemberian tugas tambahan tersebut harus didasarkan pada keahlian mereka masing-masing.
3.Sediakan waktu untuk menentukan cara bekerjasama. Meskipun setiap orang telah menyadari bahwa tujuan hanya bisa dicapai melalui kerja sama, namun bagaimana kerja sama itu harus dilakukan perlu adanya pedoman. Pedoman tersebut sebaiknya merupakan kesepakatan semua pihak yang terlibat. Pedoman dapat dituangkan secara tertulis atau sekedar sebagai konvensi.
4.Hindari masalah yang bisa diprediksi. Artinya mengantisipasi masalah yang bisa terjadi. Seorang pemimpin yang baik harus dapatmengarahkan anak buahnya untuk mengantisipasi masalah yang akan muncul, bukan sekedar menyelesaikan masalah. Dengan mengantisipasi, apa lagi kalau dapat mengenali sumber-sumber masalah, maka organisasi tidak akan disibukkan kemunculan masalah yang silih berganti harus ditangani.
5.Gunakan konstitusi atau aturan tim yang telah disepakati bersama. Peraturan tim akan banyak membantu mengendalikan tim dalam menyelesaikan pekerjaannya dan menyediakan petunjuk ketika ada hal yang salah. Selain itu perlu juga ada konsensus tim dalam mengerjakan satu pekerjaan..
6.Ajarkan rekan baru satu tim agar anggota baru mengetahui bagaimana tim beroperasi dan bagaimana perilaku antaranggota tim berinteraksi. Yang dibutuhkan anggota tim adalah gambaran jelas tentang cara kerja, norma, dan nilai-nilai tim. Di lingkungan sekolah ada guru baru atau guru pindahan dari sekolah lain, sebagai anggota baru yang baru perlu ”diajari” bagaimana bekerja di lingkungan tim kerja di sekolah. Suatu sekolah terkadang sudah memiliki budaya saling pengertian, tanpa ada perintah setiap guru mengambil inisiatif untuk menegur siswa jika tidak disiplin. Cara kerja ini mungkin belum diketahui oleh guru baru sehingga perlu disampaikan agar tim sekolah tetap solid dan kehadiran guru baru tidak merusak sistem.
7.Selalulah bekerjasama, caranya dengan membuka pintu gagasan orang lain. Tim seharusnya menciptakan lingkunganyang terbuka dengan gagasan setiap anggota. Misalnya sekolah sedang menghadapi masalah keamanan dan ketertiban, sebaiknya dibicarakan secara bersama-sama sehingga kerjasama tim dapat berfungsi dengan baik.
8.Wujudkan gagasan menjadi kenyataan. Caranya dengan menggali atau memacu kreativitas tim dan mewujudkan menjadi suatu kenyataan. Di sekolah banyak sekali gagasan yang kreatif, karena itu usahakan untuk diwujudkan agar tim bersemangat untuk meraih tujuan. Dalam menggali gagasan perlu mencari kesamaan pandangan.
9.Aturlah perbedaan secara aktif. Perbedaan pandangan atau bahkan konflik adalah hal yang biasa terjadi di sebuah lembaga atau organisasi. Organisasi yang baik dapat memanfaatkan perbedaan dan mengarahkannya sebagai kekuatan untuk memecahkan masalah. Cara yang paling baik adalah mengadaptasi perbedaan menjadi bagian konsensus yang produktif.
10.Perangi virus konflik, dan jangan sekali-kali ”memproduksi” konflik. Di sekolah terkadang ada saja sumber konflik misalnya pembagian tugas yang tidak merata ada yang terlalu berat tetapi ada juga yang sangat ringan. Ini sumber konflik dan perlu dicegah agar tidak meruncing. Konflik dapat melumpuhkan tim kerja jika tidak segera ditangani.
11.Saling percaya. Jika kepercayaan antaranggota hilang, sulit bagi tim untuk bekerja bersama. Apalagi terjadi, anggota tim cenderung menjaga jarak, tidak siap berbagi informasi, tidak terbuka dan saling curiga.. Situasi ini tidak baik bagi tim. Sumber saling ketidakpercayaan di sekolah biasanya berawal dari kebijakan yang tidak transparan atau konsensus yang dilanggar oleh pihak-pihak tertentu dan kepala sekolah tidak bertindak apapun. Membiarkan situasi yang saling tidak percaya antar-anggota tim dapat memicu konflik.
12.Saling memberi penghargaan. Faktor nomor satu yang memotivasi karyawan adalah perasaan bahwa mereka telah berkontribusi terhadap pekerjaan danm prestasi organisasi. Setelah sebuah pekerjaan besar selesai atau ketika pekerjaan yang sulit membuat tim lelah, kumpulkan anggota tim untuk merayakannya. Di sekolah dapat dilakukan sesering mungkin setiap akhir kegiatan besar seperti akhir semester, akhir ujian nasional, dan lain-lain.
13.Evaluasilah tim secara teratur. Tim yang efektif akan menyediakan waktu untuk melihat proses dan hasil kerja tim. Setiap anggota diminta untuk berpendapat tentang kinerja tim, evaluasi kembali tujuan tim, dan konstitusi tim.
14.Jangan menyerah. Terkadang tim menghadapi tugas yang sangat sulit dengan kemungkinan untuk berhasil sangat kecil. Tim bisa menyerah dan mengizinkan kekalahan ketika semua jalan kreativitas dan sumberdaya yang ada telah dipakai. Untuk meningkatkan semangat anggotanya antara lain dengan cara memperjelas mengapa tujuan tertentu menjadi penting dan begitu vital untuk dicapai. Tujuan merupakan sumber energi tim. Setelah itu bangkitkan kreativitas tim yaitu dengan cara menggunakan kerangka fikir dan pendekatan baru terhadap masalah.
Tuesday, May 25, 2010
TUJUH (7) KEBIASAAN MANUSIA YANG SANGAT EFEKTIF

1 : Jadilah Proaktif
Bersikap proaktif adalah lebih dari sekedar mengambil inisiatif. Bersikap proaktif artinya bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri (kerja/belajar di masa lalu, di masa sekarang, maupun di masa mendatang), dan membuat pilihan-pilihan berdasarkan prinsip-prinsip serta nilai-nilai ketimbang pada suasana hati atau keadaan. Orang-orang proaktif adalah pelaku-pelaku perubahan dan memilih untuk tidak menjadi korban, untuk tidak bersikap reaktif, untuk tidak menyalahkan orang lain. Mereka
lakukan ini dengan mengembangkan serta menggunakan keempat karunia manusia yang unik – kesadaran diri, hati nurani, daya imajinasi, dan kehendak bebas – dan dengan menggunakan Pendekatan Dari Dalam Ke Luar untuk menciptakan perubahan. Mereka bertekad menjadi daya pendorong kreatif dalam hidup mereka sendiri, yang adalah keputusan paling mendasar yang bisa diambil setiap orang dengan bijaksana.
Kebiasaan 2 : Merujuk pada Tujuan Akhir
Segalanya diciptakan dua kali – pertama secara mental, kedua secara fisik. Individu, keluarga, tim, dan organisasi, membentuk masa depannya masing-masing dengan terlebih dulu menciptakan visi serta tujuan setiap proyek secara mental. Mereka bukan menjalani kehidupannya hari demi hari tanpa tujuan-tujuan yang jelas dalam benak mereka. Secara mental mereka identifikasikan prinsip-prinsip, nilai-nilai, hubungan-hubungan, dan tujuan-tujuan yang paling penting bagi mereka sendiri dan membuat
komitmen terhadap diri sendiri untuk melaksanakannya. Suatu pernyataan misi adalah bentuk tertinggi dari penciptaan secara mental, yang dapat disusun oleh seorang individu, keluarga, atau organisasi. Pernyataaan misi ini adalah keputusan utama, karena melandasi keputusan-keputusan lainnya. Menciptakan budaya kesamaan misi, visi, dan nilai-nilai, adalah inti dari kepemimpinan yang bisa disepakati oleh keluarga maupun organisasi.
Kebiasaan 3 : Dahulukan yang Utama
Mendahulukan yang utama adalah penciptaan kedua secara fisik. Mendahulukan yang utama artinya mengorganisasikan dan melaksanakan, apa-apa yang telah diciptakan secara mental (tujuan Anda, visi Anda, nilai-nilai Anda, dan prioritas-prioritas Anda). Hal-hal sekunder tidak didahulukan. Hal-hal utama tidak dikebelakangkan. Individu dan organisasi memfokuskan perhatiannya pada apa yang paling penting, entah
mendesak entah tidak. Intinya adalah memastikan diutamakannya hal yang utama.
Kebiasaan 4 : Berpikir Menang/Menang
Berpikir menang/menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati dalam semua interaksi. Berpikir menang/menang adalah didasarkan pada kelimpahan – “kue” yang selamanya cukup, peluang, kekayaan, dan sumber-sumber daya yang berlimpah – ketimbang pada kelangkaan serta persaingan. Berpikir menang/menang artinya tidak berpikir egois
(menang/kalah) atau berpikir seperti martir (kalah/menang) . Dalam kehidupan bekerja maupun keluarga, para anggotanya berpikir secara saling tergantung – dengan istilah “kita”, bukannya “aku”. Berpikir menang/menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu masing-masing individu untuk mencari solusi-solusi yang sama-sama menguntungkan. Berpikir menang/menang artinya berbagi informasi, kekuasaan, pengakuan, dan imbalan.karena kemenangan akan mendapatkan reward (hadiah) yang memuaskan pada diri Anda
Kebiasaan 5 : Berusaha untuk Memahami Terlebih dulu, Baru Dipahami Kalau kita mendengarkan dengan seksama, untuk memahami orang lain, ketimbang untuk menanggapinya, kita memulai komunikasi sejati dan membangun hubungan. Kalau orang lain merasa dipahami, mereka merasa ditegaskan dan dihargai, mau membuka diri, sehingga peluang untuk berbicara secara terbuka serta dipahami terjadi lebih alami dan mudah. Berusaha memahami ini menuntut kemurahan; berusaha dipahami menuntut
keberanian. Keefektifan terletak dalam keseimbangan di antara keduanya tidak hanya satu persoalan saja.
Kebiasaan 6 : Wujudkan Sinergi
Sinergi adalah soal menghasilkan alternatif ketiga – bukan caraku, bukan caramu, melainkan cara ketiga yang lebih baik ketimbang cara kita masing-masing. Memanfaatkan perbedaan-perbedaan yang ada dalam mengatasi masalah, memanfaatkan peluang. Tim-tim serta keluarga-keluarga yang sinergis memanfaatkan kekuatan masing-masing individu sehingga secara keseluruhannya lebih besar seperti ini mengenyampingkan sikap saling merugikan (1 + 1 = 1/2). Mereka tidak puas dengan kompromi (1 + 1 = 1 ½), atau sekedar kerjasama (1 + 1 = 2). Melainkan, mereka kejar kerjasama yang kreatif (1 + 1 = 3 atau lebih).
Kebiasaan 7 : Mengasah Gergaji
Mengasah gergaji adalah soal memperbaharui diri terus-menerus dalam keempat bidang kehidupan dasar: fisik, sosial/emosional, mental, dan rohaniah. Kebiasaan inilah yang meningkatkan kapasitas kita utnuk menerapkan kebiasaan-kebiasaan efektif lainnya. Bagi sebuah organisasi, Kebiasaan 7 menggalakkan visi, pembaharuan, perbaikan terus-menerus, kewaspadaan terhadap kelelahan atau kemerosotan moral, dan memposisikan organisasinya di jalan pertumbuhan yang baru. Bagi sebuah keluarga,
Kebiasaan 7 meningkatkan keefektifan lewat kegiatan-kegiatan pribadi maupun keluarga secara berkala, seperti membentuk tradisi-tradisi yang merangsang semangat pembaharuan keluarga.
Rekening Bank Emosional
Rekening Bank Emosional mencerminkan tingkat kepercayaan dalam suatu hubungan. Seperti rekening keuangan di Bank, kita memasukkan simpanan ke atau melakukan penarikan dari rekening ini. Perbuatan-perbuatan seperti berusaha untuk memahami terlebih dulu, sikap murah hati, menepati janji, dan bersikap setia walaupun orang yang bersangkutantidak hadir, meningkatkan saldo kepercayaan. Tidak murah hati,
melanggar janji, dan bergosip tentang seseorang yang tidak hadir,mengurangi atau bahkan menghapuskan kepercayaan dalam suatu hubungan.
Paradigma
Paradigma adalah cara masing-masing orang memandang dunia, yang belum tentu cocok dengan kenyataan. Paradigma adalah petanya, bukan wilayahnya. Paradigam adalah lensa kita, lewat mana kita lihat segalanya, yang terbentuk oleh cara kita dibesarkan, pengalaman, serta pilihan-pilihan kita selama ini
Insya Allah dengan kebiasaan ini anak maupun orang tua bisa menjadi seimbang dan komukasi berjalan serta menjadikan sebagai pembelajaran kepemimpinan sejati dengan rasa gembira senang maupun bahagia di lingkungannya.
Dian Parikesit,S.Pd
Tuesday, May 18, 2010
10 Kebiasaan Buruk yang Merusak Otak

Sayangi otak Anda,dan ada baiknya kalau Anda kembali menelaah kebiasaan-kebiasaan kecil yang Anda anggap remeh namun berdampak negatif pada otak Anda
1. Tidak Mau Sarapan
Banyak orang yang menyepelekan sarapan. Padahal tidak mengkonsumsi apapun di pagi hari menyebabkan turunnya kadar gula dalam darah. Hal ini berakibat pada kurangnya masukan nutrisi pada otak yang akhirnya berakhir pada kemunduran otak. Sarapan yang terbaik di pagi hari bukanlah makanan berat seperti nasi goreng spesial, tetapi cukup air putih dan segelas jus buah segar. Ringkas dan berguna untuk tubuh!
2. Kebanyakan Makan.
Terlalu banyak makan mengeraskan pembuluh otak yang biasanya menuntun orang pada menurunnya kekuatan mental. Jadi makanlah dalam porsi yang normal. Biasakan menahan diri dengan cara berhenti makan sebelum Anda kekenyangan.
3. Merokok
Jika rokok memiliki segudang efek buruk, semua orang pasti sudah tahu. Dan ada satu lagi efek buruk rokok yang terungkap di sini. Merokok ternyata berakibat sangat mengerikan pada otak! Bayangkan, otak manusia lama kelamaan bisa menyusut dan akhirnya kehilangan fungsi-fungsinya karena rajin menghisap benda berasap itu. Tak ayal di waktu tua bahkan pada saat masih muda sekalipun, kita rawan alzheimer (alzheimer adalah penyakit pikun).
4. Terlalu Banyak Mengkonsumsi Gula
Terlalu banyak asupan gula akan menghalangi penyerapan protein dan gizi sehingga tubuh kekurangan nutrisi dan perkembangan otak terganggu. Karena itu, kurangi konsumsi makanan manis favorit Anda.
5. Polusi Udara
Otak adalah bagian tubuh yang paling banyak menyerap udara. Terlalu lama berada di lingkungan dengan udara berpolusi membuat kerja otak tidak efisien.
6. Kurang Tidur
Tidur memberikan kesempatan otak untuk beristirahat. Sering melalaikan tidur membuat sel-sel otak menjadi mati kelelahan. Tapi jangan juga kebanyakan tidur karena bisa membuat Anda menjadi pemalas yang lamban. Sebaiknya tidur 6-8 jam sehari agar sehat dan bugar.
7. Menutup Kepala Ketika Sedang Tidur
Tidur dengan kepala yang ditutupi merupakan kebiasaan buruk yang sangat berbahaya karena karbondioksida yang diproduksi selama tidur terkonsentrasi sehingga otak tercemar. Jangan heran kalau lama kelamaan otak menjadi rusak.
8. Berpikir Terlalu Keras Ketika Sedang Sakit
Bekerja keras atau belajar ketika kondisi tubuh sedang tidak fit juga memperparah ketidakefektifan otak. Sudah tahu sedang tidak sehat, sebaiknya istirahat total dan jangan forsir otak Anda.
9. Kurangnya Stimulasi Otak
Berpikir adalah cara terbaik untuk melatih kerja otak. Kurang berpikir akan membuat otak menyusut dan akhirnya tidak berfungsi maksimal. Rajin membaca, mendengar musik dan bermain (catur, scrabble, dll) membuat otak Anda terbiasa berpikir aktif dan kreatif.
10. Jarang Bicara
Percakapan intelektual biasanya membawa efek bagus pada kerja otak. Jadi jangan terlalu bangga menjadi pendiam. Obrolan yang bermutu sangat baik untuk kesehatan Anda.
Thursday, May 13, 2010
Target Belajar mengejar Prestasi?

Ketika itu ada salah satu orang tua mengeluh akan belajarnya disekolah dikarenakan belajar sering malas, mudah bertengkar dan susah untuk diberi nasehat. Namun tidak hanya orangtua yang mengeluh, guru dan sahabatnya juga mengeluh ada apa dengan si Fulan ini ya? Ternyata sikap dan daya nalar bagi siswa terhadap guru maupun orang tua belum bisa mengetahui apakah ia bisa naik kelas/lulus di sekolahnya ?
Pasti ini pertanyaan besar bagi orang tuanya, bahkan orang tuanya pun tidak yakin akan bisa naik kelas. Akhirnya keyakinan dan motivasi anak haruslah didukung dari masalah belajar, bermain, maupun kebutuhan makan dan minumnya harus dipantau juga. Padahal sekolah juga adalah tempat bermain, mencari teman, berkreativitas maupun mandiri dalam belajarnya sehingga mampu memberikan yang terbaik dalam belajarnya. Biasanya si anak ini pola tidur tidak teratur, makannya kurang atau keseringan dalam bermain games sehingga ia lupa pada identitas dalam dirinya. Tapi apa daya, keinginan orang tua inginnya naik kelas atau lulus dari sekolah harus 100 %.
Apakah selama ini orang tua lupa pernahkah berkomunikasi dengan si anak ? karena kesulitan berkomunikasi ternyata bisa menjadikan yang sangat fatal sekali pada si Anak karena itu juga hambatan. Ada salah satu sahabat saya begitu luar biasanya yang namanya TELEVISI tidak ada waktu belajar hanya untuk menghabiskan menonton saja bagi si Anak apalagi games/internet yang akhirnya pengganti belajar lupa kontrol untuk berusaha ia harus melaksanakan amanah dalam pendidikan. Tapi bagaimana hasilnya ? luar biasa hasilnya terbukti anak lebih mandiri, selalu mengerjakan PR/tugas bahkan nilai pun sangat memuaskan bahkan hampir semuanya anak tersebut Hafidz Qur'an semuanya. Kenapa bisa begitu ya?
Memang setiap zaman akan mengikuti zaman modern apalagi yang namanya teknologi. Akan tetapi jangan sampai teknologi yang pada akhirnya membuat bodoh dan malas dalam keseharian dirumah maupun disekolah. Lihat saja masak nasi saja nggak perlu dikuras atau pakai kukus lagi tinggal pencet ricecocer atau seperti TV pun nggak perlu tekan tombol tinggal pakai remote control. Semuanya lebih praktis karena kecanggihan teknologi. Akan tetapi ketika dunia praktis (serba bisa) harus juga seimbang dengan kemandirian bagi si anak seperti makan, mandi, tidur, bahkan belajar mereka yang harusnya mandiri tidak disuruh atau perintah lagi dari guru atau orangf tuanya.
Oleh karena itu perlu ada keseimbangan apakah anak sekolah harus lulus atau harus mengejar prestasi? Ya tentunya harus kedua-duanya dengan jalan mereka belajar bukan untuk mencari target akan tetapi mereka hanya berusaha yang terbaik dalam belajarnya karena itu merupakan hasil evaluasi bagi orang tua juga dan guru yang terus memantau evaluasi belajarnya. Apakah guru maksimal mengajarnya disekolah? Apakah orang tua selalu setiap hari mengevaluasi belajarnya? Tentu saja tidak semua terkontrol. Oleh karena itu target anak dalam belajar tentu mempunya cara tersendiri agar prestasinya terbaik dan senang atas keberhasilan dalam usaha belajarnya. Karena anak juga punya peranan yang berbeda-beda, ia mendapatkan tugas bagaimana cara ia bisa berteman, bermain, berdiskusi (sharing) maupun mencari apa saja yang terbaik dalam belajarnya.
Sangat ironi sekali jika anak tidak mencapai target prestasinya dari sekolah yang akhirnya anak despresi, bunuh diri bahkan tidak mau berbicara dengan orang lain karena persepsi anak akhirnya mereka mengatakan sia-sia dalam belajarnya bahkan ada yang mengatakan "oh ternyata ada sifulan main-main tapi hasilnya bagus atau sebaliknya". Itulah dilema dunia pendidikan kita yang akhirnya kreativitas, aktif belajar tidak dilandasi dengan kemauan/kerja kerasnya kreatif mandiri anak hanya kebanyakan menilai dari target kurikulum Diknas ataupun nilai "an sih" saja, kurang jelasnya dalam evaluasi guru, orang tua maupun tugas Diknas sekalipun masih dipertanyakan. Wallahu' alam bi showab
Dian Parikesit, S.Pd
Thursday, May 6, 2010
Membayangkan sekolah sebagai keluarga

Pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa sekolah dimana tempat kita bekerja mendedikasikan diri pada pendidikan anak bangsa adalah sebuah keluarga? Pikiran ini sangat menggelitik saya sehingga muncul keinginan yang kuat untuk menulis ini.
Dibanyak sesi sering sekali dibahas masalah konsep keluarga. Di majelis keagamaan, seminar, talkshow di TV media cetak maupun elektronik lainnya. Namun apakah kita sudah benar-benar memahami konsep sebuah keluarga dengan jelas sehingga pada akhirnya kita dapat menerapkan konsep tersebut dalam kehidupan kita sehari hari. Bagaimana dengan sebuah sekolah, silahkan mengikuti lebih lanjut hasil perenungan saya.
Oleh karena itu saya menganalogikan komponen yang ada di lembaga sekolah sebagai anggota keluarga dengan perannya masing-masing. Sebagaimana layaknya sebuah keluarga maka struktur yang ada disebuah sekolah didalamnya akan terlihat seperti dibawah ini:
1. Adanya figur pemimpin yang mengarahkan mengayomi, berjuang keras untuk memastikan keberlangsungan keluarga, kesejahteraan, keharmonisan, membangun semangat dan menghargai setiap anggotanya. Figur pemimpin ini bisa diibaratkan sebagai yayasan dan kepala sekolah.
2. Figur Ibu, dalam hal ini saya identikkan dengan peran guru, yang bertugas menididk untuk menumbuhkan semua potensi yang dimiliki anak didiknya. Memberi nutrisi untuk kesehatan lahir dan batin yang baik serta sanggup menjadi mitra yang baik bagi pemimpinnya dengan memberi semangat sang pemimpin agar dapat bekerja secara maksimal.
3. Peran anak yang membutuhkan bimbingan, kasih sayang, motivasi, sarana untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya serta bimbingan untuk memiliki sikap moral positif dan mandiri. Budaya saling menghargai gotong royong dan kebersamaan dapat ditanamkan sejak dini pada diri anak agar dapat berinteraksi secara sehat.
4. Peran orang lain diluar anggota inti yang bertugas membantu keluarga mewujudkan lingkungan yang bersih, tertata dan terorganisir dengan baik, tentunya dengan kerjasama bersama anggota keluarga inti lainnya. Peran ini bisa diibaratkan sebagai peran komunitas yang ada di sekeliling sekolah.
5. Selain keluarga inti dan peran support tim yang ada, keluarga juga perlu menggandeng pihak lain yang dapat dijadikan mitra agar mendapat dukungan dalam menjalankan roda kehidupannya. Disinilah peran pinpinan dan guru menjaga hubungan baik dengan mereka agar segala program yang telah direncanakan dapat terselenggara dengan baik.
Setelah kita mengetahui struktur dan peran masing-masing maka pertanyaan selanjutnya apakah keluarga tersebut akan menjadi sebuah keluarga yang harmonis dengan ke kompakkan serta keselarasan dalam berpikir dan bertindak.
Keluarga yang mempunyai visi, misi dan tujuan yang jelas tentunya akan menghantarkan anak-anaknya memasuki setiap tahapan dalam kehidupan untuk masa depan mereka yang cerah.Ketika ucapan, prilaku dan aktivitas guru teladan, profesional maka tidak menutup mata siswa pun juga akan menjadi keluarga yang menyatu dalam hatinya yang memberikan pusat perhatian/konsultasi bagi si murid dan guru. Kebersamaan dan memahami karakter anak didik perlu saling menutupi kesalahan maupun memperbaiki dalam prestasi siswa maupun masa transisi pubertas sangat perlu sekali siswa saling tukar pengalaman dengan guru.
Oleh karena itu kekeluargaan sekolah bukan berarti hanya target prestasi, nilai yang bagus tapi memberikan kemandirian, kepemimpinan, serta kreativitas anak yang bisa diwujudkan cita-citanya yang nyata agar ia bisa mengalami pembaruan pikiran akal dan hatinya sehingga ia benar-benar membutuhkan dan mencari identitas kepribadiannya yang sebenarnya. Tiba saatnya guru memberikan kekeluargaan yang harmonis kepada siswa, orang tua, karyawan maupun pimpinan Yayasan agar tercapai pendidikan yang profesional dan muncul kepribadian yang baik, selalu tekun dalam ibadahnya serta peduli dengan lingkungan sekitarnya, perlu satu persepsi yang sama, mengurangi rasa buruk sangka serta menjauhi dari sikap egois kecemburuan yang tinggi. Rusaknya ukhuwah maka rusak pula imannya.
Dian Parikesit, S.Pd
Subscribe to:
Posts (Atom)