Wednesday, April 13, 2011

Salah Paham

Pada suatu hari, adik laki-laki Yangzhu, Yangbu berpakaian putih pergi berkunjung ke temannya. Dalam perjalanan ke rumah temannya, hujan turun. Ia berlari ke rumah temannya dalam hujan dan tinggal di sana hingga hujan berhenti.

Karena pakaiannya yang basah, temannya telah menawarkan pakaian pengganti berwarna hitam. Yangbu akhirnya mengganti pakaiannya yang putih dengan hitam dan pulang ke rumah pada malam hari setelah makan di rumah temannya.

Ketika tiba di rumah, anjingnya tidak mengenal diri Yangbu yang telah berganti pakaian hitam. Ia menggonggong dengan keras.

Yangbu menjadi marah dan hendak memukulnya dengan sebatang ranting, tetapi kakaknya Yangzhu yang mendengar suara gonggongan anjing bergegas keluar rumah dan melarang adiknya, ”Jangan kau pukul anjing itu! Ini bukan salahnya. Coba pikirkan seandainya anjing itu saat keluar rumah berwarna putih dan kembali ke rumah jadi anjing hitam, bukankah anjing itu juga akan menjadi asing bagimu? Lagian, sekarang hari sudah gelap, tidak heran bila ia tidak dapat mengenali dirimu.”

Makna cerita:

Bila seseorang salah paham terhadap diri kita, maka cobalah mencari pada diri sendiri terlebih dahulu, mungkin kesalahan bersumber dari diri kita sendiri. Jangan terburu nafsu melempar kesalahan pada orang lain.

PELAJARAN DARI SEEKOR KUPU-KUPU

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu yang sudah mempunyai lubang kecil dan terlihat calon kupu-kupu yang berjuang keluar. Dia duduk dan mengamati selama beberapa jam. Calon kupu-kupu yang ada di dalam kepompong itu berhenti membuat kemajuan, kelihatannya dia telah berusahan semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantu calon kupu-kupu itu dengan mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu sehingga kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil dengan sayap-sayap yang mengkerut.

Orang tersebut terus mengamati kupu-kupu itu dengan harapan pada suatu saat sayap-sayap itu akan mekar dan melebar smampu menopang tubuhnya yang mungkin akan berkembang. Namun, seiring berjalannya waktu, semua yang diharapkan tidak pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya dengan merangkak di sekitarnya tetap dengan tubuh gembung dan sayap-sayap yang mengkerut.

Kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sehingga dapat mengembang dan dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan setelah keluar dari kepompong. Namun, kebaikan dan ketergesaan seseorang telah memusnahkan kemampuan kupu-kupu itu untuk terbang.

Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak akan menjadi sekuat yang kita mampu dan kita tidak akan pernah dapat “TERBANG”

Saturday, April 9, 2011

Trik-trik dalam menghadapi Ujian Nasional.

Untuk Adik-adik yang menghadapi Ujian Nasional (SD,SMP & SMA ) ada beberapa tips yang sekiranya dapat dipertimbangkan sebagai upaya persiapan dalam menghadapi UN 2011.

1. Hadapilah ujian dengan tenang dan proporsional * Hadapilah ujian ini dengan sikap yang tenang dan proporsional bahwa ujian sebagai sesuatu yang harus dihadapi, dilalui. Sikap tenang akan memungkinkan kita menyusun rencana menentukan strategi dan menjalaninya dengan senang.

2. Bersikaplah proaktif * Proaktif adalah suatu sikap yang beranggapan bahwa kita sendirilah yang menentukan keberhasilan dan kegagalan dalam hidup ini, termasuk dalam menghadapi UN. Yakinlah bahwa kerja keras dan usaha keras yang kita lakukan akan membuahkan hasil. Dalam menyikapi standar minimal 5,5,justru yang terbaik adalah kita sendiri membuat patokan standar nilai minimal. Misalnya, menargetkan 7,01 atau 8,01 sehingga yang muncul adalah tantangan bukan beban.

3. Buatlah rencana * Menghadapi ujian dapat diibaratkan sebagai perjalanan menuju sukses. Sebagaimana perjalanan sukses, sudah sepatutnya kita membuat perencanaan. Dari sekian banyak bahan pelajaran yang harus dipelajari dipilah-pilah antara bahan UN dari pusat dengan bahan ujian dari sekolah. Antara bahan kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga, pelajaran hitungan dan hafalan, sehingga dapat dipelajari dengan teratur dan sistematis. Model belajar semacam itu dapat meringankan dan lebih mengefektifkan cara kerja otak. Salah satu hukum otak yaitu dapat bekerja maksimal dengan cara teratur dan sistematis.

4. Perbanyaklah baca dan latihan soal * Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh lembaga bimbingan belajar adalah para siswa banyak berlatih memecahkan soal-soal dengan cepat. Kita dihadapkan pada soal-soal yang harus dijawab dan dipecahkan dengan tepat. Dengan sering kita berlatih maka kita terbiasa dan terlatih, sehingga tidak cemas atau grogi dalam menghadapi soal (ujian).

5. Belajar kelompok * Belajar kelompok merupakan salah satu cara yang dapat dipakai para siswa untuk berbagi dengan teman yang lain dalam memecahkan soal dan saling menguatkan motivasi belajar dan prestasi. Para siswa daripada banyak bermain dan membuang-buang waktu dengan percuma, manfaatkanlah dengan cara belajar berkelompok dengan teman di sekolah atau di sekitar tempat tinggal kita.

6. Efektifkan belajar di sekolah * Masih terdapat siswa yang datang ke sekolah dan hadir di kelas dengan alakadarnya atau sekadar hadir, tidak mengoptimalisasikan semua potensi dirinya untuk meraih hasil terbaik dalam daya serap materi maupun prestasinya. Padahal jika dimaksimalkan, niscaya hasilnya akan lebih bagus kalaupun tidak ditambah dengan les-les yang lain di luar jam sekolah. Pada umumnya, para siswa kurang menggunakan kemampuan nalarnya dalam belajar, baru sebatas menghafal. Siswa juga masih kurang untuk bertanya, berdialog bahkan berdebat dengan gurunya. Padahal kemampuan bertanya salah satu upaya untuk memperkuat pemahamaman atau pengertian dan keterampilan belajar.

7. Mohon doa restu dari orang tua *Yakinlah bahwa jika kita lulus maka orang tua kita akan senang dan bangga. Jadikanlah perjuangan menghadapi UN 2011 sebagai ajang untuk mempersembahkan yang terbaik kepada kedua orang tua kita tercinta. Mohon doa restulah pada orang tua agar kita diberi kemudahan dan kelancaran. Kedua orang tua kita akan dengan senang mendoakan putra-putrinya yang sedang berjuang menghadapi UN.

8. Berdoalah pada Allah *Adalah sombong yang beranggapan bahwa keberhasilan kita semata-mata usaha dan kerja keras kita sendiri tanpa keikutsertaan Sang Pencipta. Untuk itu dengan segala kerendahan diri dan hati di hadapan-Nya, kita panjatkan doa agar diberi kelulusan, kesehatan dan kemudahan dalam menghadapi ujian nanti. Allah Maha Tahu dan tentu akan mendengarkan dan mengabulkan doa hamba-hambaNYA.

Sunday, March 20, 2011

Pahlawan Itu Ada Di Sekitar Kita


Malam itu seorang ibu menunggu suaminya pulang dari kerja. Ibu itu cemas karena sampai jam setengah sepuluh malam suaminya belum juga pulang. Cemasnya bertambah ketika dentang jam dinding menunjukkan pukul sepuluh. Lambat laun kecemasannya berkurang tatkala ia mendengar suara langkah kaki mendekat kearah pintu. Disibakkan segera gorden yang menutupi kaca besar disamping pintu. Tak sabar ingin melihat suaminya pulang. Ternyata benar, suara langkah kaki itu milik suaminya. Dibukanya pintu untuk segera menyambut kepulangan suaminya.

Sesampainya di dalam rumah, suaminya mempersilahkan istrinya duduk seraya ia berkata, “Maafkan saya istriku, saya membuatmu cemas. Tadi saya harus menambah penghasilan kita untuk bersalinmu nanti. Sepulang kerja saya gunakan motor kita untuk menarik ojek di dekat kantor. Lumayan bisa nambah-nambah.” Sambil mengelus-elus perutnya yang buncit menjawab,”Saya khawatir terjadi apa-apa. Sudah jam sepuluh cuma kamu belum pulang juga. Kalau saya tiba-tiba mau melahirkan bagaimana?” Dengan penuh bijak suaminya menenangkan istrinya,”Makanya kita harus berdoa terus kepada Allah agar anak kita bisa lahir dengan selamat. Walau saya tidak ada di samping kamu, insyaallah, jika Dia berkehendak maka kamu dan anak kita akan diselamatkannya.”

Di pagi hari, istrinya mengeluh perutnya sakit. Sepertinya akan melahirkan. Dengan sigap suaminya memanggil taksi untuk membawa istrinya ke rumah bersalin terdekat. Di dalam taksi suaminya terus berdoa. “Ya Allah, jika Engkau berkehendak maka tidak ada satupun makhluk yang dapat menolak kehendak-Mu. Izinkanlah aku meminta pada-Mu Ya Robbi pencipta manusia. Istriku akan melahirkan, buatlah ia tenang dalam perjalanannya menuju rumah bersalin agar kegelisahanku berkurang. Ya Robbi, lancarkanlah persalinannya dan selamatkanlah keduanya. Ya Allah, karuniakanlah hamba anak yang sempurna dan sholeh, yang nantinya dapat membahagiakan kami di dunia dan akhirat.”

Sesampainya di rumah bersalin, dipanggilnya suster jaga untuk segera menolong istrinya yang akan melahirkan. Setelah dibawa ke dalam ruang bersalin oleh suster, suaminya menunggu di luar ruang. Harap cemas menyelimutinya. Gelisah menghampiri saat terdengar suara teriakan istrinya dari dalam ruangan. “Sepertinya proses persalinan sedang berlangsung,” pikirnya seraya ia memanjatkan doa kepada Allah agar Dia berkenan menyelamatkan istri dan anaknya. Ya, suaminya tak pernah lepas dari berdoa. Ia sangat yakin hanya kepada Allah ia memohon pertolongan.

Tak lama terdengarlah suara tangis bayi dari dalam ruang bersalin. Haru menyelimuti sang suami. Tak terasa air mata pun menetes deras. Ia bersimpuh sujud seraya berdoa mengucapkan terima kasih kepada Allah Swt, Sang Khaliq yang telah menyelamatkan anaknya. Mendadak muncul pertanyaan dalam hatinya, bagaimana dengan istrinya. Dilanjutkan sujudnya, kini ia meminta agar diselamatkan istrinya, ibu dari anaknya. Dalam sujudnya ia terkaget dengan suara derit pintu dan seorang wanita yang memanggilnya. Oh ternyata dokter yang menolong istrinya keluar dari ruang sambil berucap, “Selamat ya pak! Anak dan istri bapak selamat. Sekarang bapak bisa melihat ke dalam. Silahkan..”

Mendengar itu, ia langsung saja menerobos masuk ke dalam ruang. Dengan penuh cinta ia langsung menggendong bayinya. Lalu ia pun mengumandangkan azan dan iqomat di telinga kanan dan kiri. Saat azan dan iqomat dikumandangkan air mendadak deras mengalir keluar dari matanya. Rupanya ia tak kuasa menahan tangis haru. Selepas itu tak henti-hentinya ia bersyukur kepada Allah atas karunia dan nikmat yang Allah berikan berupa anak dan keselamatan anak-istrinya.

*****

Saudaraku,

Seringkali kita lupa akan sosok yang satu itu. Kisah di atas mungkin cukup untuk mengingatkan kembali sesungguhnya sosok pahlawan itu ada di sekitar kita. Bahkan mereka selalu bersama kita sehari-hari. Setiap pagi selalu membangunkan kita untuk sholat shubuh dan menyiapkan sarapan untuk keluarga. Tatkala kita sakit mereka yang pertama kali mengkhawatirkan keadaan kita dan membawa ke rumah sakit. Mereka tak peduli berapa biaya yang dikeluarkan agar kita sehat kembali. Di pikiran mereka, jangan sampai anak saya terlalu lama merasakan sakitnya.

Saudaraku,

Karena itu seorang ibu dengan rela, siang dan malam menjaga kita. Ia takut kalau kita memerlukan sesuatu atau hanya sekedar memberi minum. Ketika suhu badan kita meninggi ia pun panik berteriak memanggil dokter. Dalam kondisi seperti itu, seorang ayah dengan sekuat tenaga mencari penghasilan tambahan agar ia dapat membiayai pengobatan anaknya. Bahkan berbagai cara terkadang dilakukan. Jika perlu berhutang akan dilakoninya, pintasnya.

Itu hanya sebagian kecil realita dari sosok pahlawan itu. Dalam kondisi yang lain mungkin kita bisa mengingatnya kembali. Bagaimana dua orang pahlawan itu sibuk mempersiapkan berbagai hal tatkala mendengar anaknya masuk ke perguruan tinggi. Mereka tak pernah mengeluh hatta mereka tidak memiliki uang sedikit pun. Mereka selalu menutupi kondisi sebenarnya dengan baik, hanya untuk menyenangkan hati anaknya. Prinsip mereka, biarlah kami berkorban jauh dari kesenangan asalkan anak kami tidak sedih.

Cukupkah realita itu untuk mengkategorikan dua sosok, ayah dan ibu, sebagai pahlawan? Bahkan jika bisa seharusnya mereka menyandang, ’Pahlawan Sejati’ dari seluruh pahlawan yang pernah ada di negeri dan dunia ini. Karena ayah dan ibu, mereka berjuang dengan seluruh jiwa dan harta. Tak ada sejengkal dari jasadnya yang tak ia korbankan demi kebahagiaan anak tercinta. Tak ada sepeserpun uang yang mereka tak keluarkan untuk kepentingan anaknya. Bahkan yang kini kita sebut sebagai pahlawan, apakah mereka adalah Jenderal Sudirman atau Bung Tomo, mereka dilahirkan dan dibesarkan oleh dua sosok pahlawan ini.

Saudaraku,

Berbahagialah kalian yang disekitarnya masih ada dua sosok pahlawan, ayah dan ibu. Jagalah mereka dengan baik. Usahlah kita berperilaku tak baik pada mereka. Apalagi sampai kata ’ahh’ menghiasi mulut kita saat berbicara dengan mereka. Mereka lebih dari sekedar pahlawan tanpa tanda jasa. Jika perlu, apa yang mereka inginkan kita berusaha untuk memenuhinya. Melihat kita menjadi seorang sarjana adalah harapan mereka. Dan menjadi anak yang sholeh-sholehah, berbakti pada mereka, dan berguna bagi ummat adalah cita-cita mereka. Semoga kita dapat mewujudkannya!

Thursday, February 24, 2011

Bahaya Era Digital Bagi Anak



Era digital era penuh kemanjaan dan kemudahan. Anak tak lagi aktif bergerak di alam bebas. Namun lebih sering terkungkung di rumah dengan berbagai fasilitas permainan dan tontonan yang melenakan. Apakah hal ini baik untuk anak?

Anak-anak zaman sekarang hidup di era digital. Era yang serba berteknologi tinggi. Anak tak lagi bermain gobak sodor, kelereng, atau petak umpet. Mereka lebih memilih untuk berdiam saja di dalam rumah, mengakses hiburan dan merekreasikan otak dan fisiknya dengan menonton televisi, memainkan aneka game playstation, menyusuri dunia maya internet, serta mengutak-atik telepon seluler atau HP.

Anak tumbuh di era modern. Era yang bila dipandang di permukaannya saja nampak penuh gengsi dan mutu tinggi, namun bila dilongok hingga ke kedalamannya akan nampak pula segala kelemahan dan kekurangannya. Kelemahan-kelemahan yang hanya akan menyebabkan pertumbuhan anak-anak terganggu, terkontaminasi, terdorong menuju ke masa depan yang negatif dan suram.

Menurut Elly Risman, seorang psikolog asal Jakarta yang mendalami bidang parenting, anak-anak harus dipersiapkan dengan baik kala memasuki dan hidup di era digital ini. Anak-anak hendaknya tak dilepas dan dibebaskan begitu saja, karena dampak dari televisi, internet, dan juga games, sangatlah buruk bagi anak. Terutama bila kecenderungan anak untuk menikmati segala hal itu tak dibatasi dan diimbangi dengan pola pengasuhan anak yang baik dan benar.

“Berbagai media elektronik dan cetak yang diakses oleh anak banyak yang mengandung unsur pornografi,” begitu ujar ibu dari tiga putri ini di dalam seminar ”Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital” yang diselenggarakan oleh Female Radio Semarang, beberapa waktu lalu.

Pengaruh Negatif


Membicarakan mengenai games, Mark Griffiths dari Nottingham Trent University mengatakan bahwa games di abad 21 memiliki berbagai kehandalan yang gampang memicu anak untuk kecanduan. Games masa kini memiliki gambar yang sangat realistis dan membuka peluang bagi anak untuk mengembangkan imajinasinya seluas mungkin dengan jalan membiarkan para pemain memilih karakter apa saja, dalam bentuk apa saja, yang diinginkan oleh otak.

“Bila dimainkan dalam batas-batas wajar, berbagai permainan digital ini bisa digunakan untuk membantu pasien yang tengah menjalani terapi fisik, merangsang anak untuk cekatan, merangsang perkembangan bahasa bagi anak-anak dislexia,” ujar Elly Risman, Psi.

Namun bila pengonsumsiannya sudah berlebihan, hingga anak kecanduan, maka berbagai dampak negatif pun akan menghinggapi. Beberapa di antaranya adalah menyebabkan Repetitive Strain Injury (RSI) yaitu radang jari tangan dan nyeri tulang belakang karena kebanyakan duduk, pengikisan lutein pada retina mata karena terlalu lama terkena sinar biru, serta terjadinya nintendo epilepsi.

Nintendo epilepsi sendiri bisa terjadi pada anak yang tengah bermain games atau anak yang hanya sedang duduk menonton di sebelahnya. “Serangan mendadak ini biasanya ditimbulkan oleh kilatan cahaya dengan pola tertentu atau sinar merah yang kuat. Melalui retina, sinyal-sinyal abnormal ini akan dikirimkan ke otak hingga si anak akhirnya mengalami kejang.”

Selain dampak fisik, tentu saja akan ada pula dampak psikologis yang bisa dialami si anak. Konsumsi games yang tak dibatasi akan membuat anak berperilaku kompulsif, abai dan acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar karena mereka terbiasa hidup dalam dunia khayalannya sendiri, malas belajar yang akhirnya bisa membuat prestasi akademik menurun drastis.

Apakah hanya games saja yang berbahaya? Tentu saja tidak! Televisi dan internet yang dalam penciptaannya dimaksudkan untuk memberikan informasi dan hiburan, dalam kenyataannya, dalam pengaplikasiannya, malah bisa membawa banyak pengaruh negatif bagi anak. Banyaknya tayangan yang tak layak dikonsumsi anak karena adanya unsur kekerasan serta adanya situs-situs yang mengandung unsur pornografi, adalah beberapa di antara penyebab yang bisa membawa dampak negatif itu.

“Selain itu semua, ada pula komik. Dimana komik jaman sekarang banyak mengandung unsur pornografi dan juga kekerasan yang tak berperikemanusiaan,” ujar pemilik Yayasan Kita & Buah Hati ini.

Komunikasi

Lantas bagaimana sebaiknya kita bersikap sebagai orang tua? “Orang tua haruslah berbenah. Membenahi pola komunikasi dengan anak, membenahi pola pengasuhan mereka.”

Menurut Elly, pola pengasuhan anak yang selama ini dilakukan oleh banyak orang tua cenderung salah kaprah. Orang tua cenderung lebih berkonsentrasi pada perkembangan kesehatan fisik anak saja dibandingkan memperhatikan perkembangan jiwa si anak.

“Orang tua hanya berkonsentrasi pada hal-hal fisik saja. Memberikan one day school, memberikan makanan-makanan bergizi tinggi dan kelimpahan materi.”

Padahal pada kenyatannya, itu semua sangatlah kurang. Komunikasi dengan anak yang minim bahkan hampir tak ada, tentu saja membuat perkembangan jiwa si anak tak tumbuh di jalur yang benar. Pada kenyataannya, selama sehari, rata-rata para orang tua hanya berbicara dengan anaknya selama 20 menitan saja, tak lebih.

Komunikasi, adalah hal yang sangat vital dalam membantu tumbuh kembang anak. Dengan komunikasi, kita bisa mengutarakan harapan-harapan kita pada si anak, membuat prioritas bersama dengan anak mengenai hal-hal yang akan diperbaiki di depan, serta menerapkan secara bersama aturan-aturan apa yang sebaiknya diterapkan di dalam rumah.

Komunikasi adalah pondasi. Bila pondasi sudah berdiri kokoh, maka Anda tinggal melangkah ke hal-hal yang lebih prinsipil. Seperti mengawasi bacaan anak, mengenalkan anak kepada bacaan-bacaan yang lebih bermutu dibanding komik, membatasi waktu menonton televisi dan bermain games, mengatur peletakan pesawat televisi dan juga monitor komputer di tempat-tempat strategis agar bisa diawasi senantiasa, serta memblokir situs-situs porno lewat situs-situs yang sudah disediakan seperti www.familyconnect.com atau www.cyberpatrol.com.

Ada baiknya pula jika Anda mengajarkan kepada anak tentang permainan-permainan alternatif yang tak kalah menyenangkannya. Anda bisa kembali ke alam, mengajak anak berkelana di arena outbond, bermain di kubangan lumpur, bergelantungan di pepohonan pedesaan.

“Berekreasilah di arena permainan alam seperti itu. Selain anak bisa teralihkan dari segala bentuk permainan digital, kebersamaan keluarga juga bisa lebih tercipta.”

Paling penting adalah, teruslah berkomunikasi, dan teruslah pula meluangkan waktu sebanyak mungkin untuk para buah hati. Awasi perkembangan jiwa mereka, dan jalani semua dengan dibarengi doa.

“Gunakan dua telinga lebih sering dibandingkan satu mulut!”

Sunday, February 20, 2011

Komunikasi Guru dan Orang tua

Komunikasi Guru dan Orang tua


Komunikasi dengan orang tua / wali merupakan salah satu tanggung jawab terbesar bagi seorang guru. Meskipun Anda memiliki kesempatan untuk berinteraksi dan mempengaruhi kehidupan anak-anak, mereka akhirnya kembali kepada orang tua. Jika Anda gagal untuk menjaga komunikasi dengan orang tua tentang kemajuan anak mereka di sekolah, Anda akan kehilangan kesempatan yang sangat bagus untuk membuat jembatan komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan anak. Orang tua dan guru harus bekerja sama untuk memastikan anak-anak belajar secara efektif dan mendapatkan yang terbaik bagi pendidikan mereka.

Salah satu cara untuk memastikan bahwa Anda sebagai guru bisa berkomunikasi dengan orang tua secara efektif adalah dengan menggunakan formulir dan catatan yang dikirim ke rumah secara berkala untuk membiarkan orang tua tahu perkembangan anak mereka di sekolah. Contoh-contoh formulir dan catatan mungkin mencakup:
Pemberitahuan tugas yang belum selesai
Catatan tentang perbuatan baik yang dilakukan anak
Buku catatan setiap kali guru berkomunikasi dengan orang tua
Kelas newsletter
Surat untuk meminta orang tua datang dan membantu di dalam kelas
Manfaatkan pertemuan orang tua-guru. Tentu saja Anda akan memiliki informasi untuk berbagi dengan orang tua di pertemuan ini, tetapi anda harus menyadari bahwa orang tua akan memiliki pertanyaan yang ingin mereka tanyakan juga. Berikan mereka waktu untuk mengungkapkan pikiran mereka kepada Anda, dan tidak membuat mereka merasa diburu-buru karena ada janji di belakang mereka. Jika ada orang tua yang tidak bisa hadir, anda harus membuat upaya untuk bertemu dengan mereka di waktu yang lain sehingga Anda dapat memberikan perhatian penuh.
Manfaatkan kemajuan teknologi. Anda hanya membutuhkan satu menit atau kurang untuk mengirim e-mail ke orang tua dan memberitahu perkembangan anak mereka. Anda bisamengedarkan formulir permintaan alamat e-mail pada awal tahun ajaran, dan orang tua yang memilih untuk menerima pesan yang dikirim kepada mereka akan menghargai bahwa Anda benar-benar menindaklanjuti ini, setidaknya setiap bulan.
Jika sekolah Anda memiliki sebuah situs web, pastikan untuk memajang alamat situs di kelas Anda. Update situs mingguan dan biarkan orang tua tahu bagaimana menemukan kelas Anda. Ini adalah cara yang baik untuk berkomunikasi dengan orang tua, dan tidak perlu berbicara langsung kepada mereka sepanjang waktu. Mereka akan tetap mengikuti hal-hal baru yang terjadi, dan Anda akan memiliki kepuasan yang luar biasa.
Kadang-kadang orang tua enggan menghubungi guru karena mereka merasa terlalu sibuk. Anda perlu mengambil inisiatif. Mungkin Anda dapat mengatur orang tua untuk berkunjung ke sekolah selama sehari. Biarkan orang tua melihat anak mereka di kelas dan apa yang diajarkan kepada mereka.
Kunci untuk berkomunikasi secara efektif dengan orang tua adalah:
Lakukanlah sesering mungkin. Jangan biarkan bulan berlalu tanpa kabar dari Anda apa yang terjadi di kelas dan bagaimana anak mereka bermasalah.
Bersikaplah jujur. Panggillah orang tua ketika anak mereka memiliki perilaku atau kesulitan belajar di kelas.
Tetap teratur. Ingatlah bahwa ketika Anda berbicara dengan orang tua tentang anak mereka, mereka benar-benar hanya tertarik pada anak mereka, tidak seluruh kelas. Orang tua akan menjadi tidak sabar jika mereka harus menunggu Anda untuk mencari catatan tentang anak mereka di bawah tumpukan kertas lainnya. Berikan kesan bahwa Anda tertarik pada anak mereka.

Wednesday, February 9, 2011

JADWAL UJIAN NASIONAL 2011

Berikut adalah jadwal pelaksanaan UN 2011 Ujian Nasional SD SMP SMA dan setingkatnya, yang akan disosialisasikan:

Jadwal Ujian Nasional UN 2011 Jenjang Sekolah Menengah Atas

* UN untuk SMA/MK, SMALB, dan SMK: 18-21 April 2011
* UN Susulan SMA/MK, SMALB, dan SMK: 25-28 April 2011
* Pengumuman kelulusan paling lambat 16 Mei 2011
* Ujian Praktik Kejuruan untuk SMK: Paling lambat satu bulan sebelum pelaksanaan UN. Pengumuman kelulusan paling lambat 5 Juni 2011

Jadwal UN 2011 Ujian Nasional Jenjang Sekolah Menengah Pertama

* UN untuk SMP/MTs dan SMPLB: 25-28 April 2011
* UN Susulan SMP/MTs dan SMPLB: 3-6 Mei 2011

Jadwal Ujian Nasional UN 2011 Jenjang Sekolah Dasar

* UN untuk SD/MI dan SDLB: 10-12 Mei 2011
* UN Susulan SD/MI dan SDLB: 18-20 Mei 2011
* Pengumuman kelulusan paling lambat minggu ketiga bulan Juni 2011

kompas.com

Sunday, February 6, 2011

KIAT MENGATASI MASA PUBERTAS PADA ANAK




Ada satu fase dari pertumbuhan anak yang paling dikhawatirkan oleh para orang tua, karena pada fase ini seorang anak mulai beranjak dari masa kanak-kanak ke masa pengenalan jati dirinya. Fase ini sering disebut dengan masa pubertas atau pancaroba.

Pada fase ini, seorang anak berada di persimpangan jalan antara istiqamah dan penyimpangan!? Oleh karena itu, mengatasi dan melewati fase ini dengan mulus merupakan harapan setiap orang tua!

Definisi Pubertas

Dari aspek biologis, pubertas merupakan fase yang dimulai dari usia baligh alias kematangan biologis hingga terbentuknya tulang secara sempurna yang sering dinamakan dengan fase baligh. Fase ini biasanya berada antara usia 12 tahun dan 18 tahun.

Bila dibagi, maka menjadi dua fase:
Pertama; fase Pubertas. Yaitu dari usia 12-14 tahun, merupakan fase menam-pakkan sikap sangat kasar dan bergejolak.

Ke Dua; fase Baligh. Yaitu dari usia 14-18 tahun di mana tingkat kekasaran sudah berkurang, namun masih merupakan perpanjangan dari fase pertama.

Masa Pubertas Identik dengan Prilaku Negatif?

Sejumlah kajian dan penelitian ilmiah membantah teori yang berpandangan bahwa fase pubertas adalah fase topan dan badai kejiwaan. Keguncangan jiwa yang mencolok pada diri seorang anak yang memasuki masa pubertas tidak lain adalah proses alami akibat perubahan biologis yang dilewatinya, yaitu fase kejiwaan yang memiliki karakteristik umum di kalangan semua individu manusia di mana pun mereka berada.

Realitasnya, teori ini tidak benar sebab sangat jelas ditentang oleh pendapat yang santer sekarang ini, yaitu pandangan bahwa problematika pubertas, bila pun ada, maka itu dilatarbelakangi oleh kondisi kebudayaan, sosial, dan pertumbuhan yang dialami seseorang, bukan sekedar perkembangan biologis saja!

Beberapa penelitian yang dilakukan di negara Arab dan di luarnya terhadap sejumlah anak-anak yang memasuki masa Pubertas berakhir pada kesimpulan:

* Masa Pubertas tidaklah mesti merupakan masa 'topan dan badai' kejiwaan.
* Fase Pubertas dianggap fase perpindahan dari masa kanak-kanak yang bergantung sepenuhnya kepada orang lain kepada fase baligh, yang matang, independen, dan mandiri.



Beberapa Kesalahan Sebagian Orang Tua dalam Mendidik Anak

Kesalahan-kesalahan ini banyak sekali dan beragam, namun di sini, hanya akan disinggung sejumlah kesalahan yang memiliki dampak kejiwaan, sosial, dan akhlaq yang selanjutnya berpengaruh langsung dalam penyimpangan si anak yang memasuki masa Pubertas, di antaranya:

1. Tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk menangani dan mengurusi sendiri urusan dan permasalahannya dengan membantunya, mengemban tanggung jawab dan menyelesaikan berbagai persoalan mewakilinya. Sementara sang anak merasa semua kewajibannya telah dirampas keluarganya, atau digantikan sang sopir, bila memiliki sopir, misalnya. Akibatnya, mereka seakan hidup dalam kekosongan, yang pada akhirnya menjadi sebab kebobrokan mereka. Padahal Rasulullah shallallahhu ‘alaihi wasallam melatih anak-anak kaum Muslimin sejak kecil untuk memikul tanggung jawab dalam bidang-bidang yang beragam dan menanggung beban kehidupan.

Hal ini seperti digambarkan dalam hadits Tsabit radhiyallahu ‘anhu, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang saat aku bermain bersama bocah-bocah lainnya, lalu beliau memberi salam kepada kami, lalu mengutusku untuk suatu urusan.” Sebelum pergi, aku menemui ibuku lalu ia bertanya, “Apa keperluan beliau itu.?” Aku berkata, “Itu rahasia.!” Ia berkata, “Kalau begitu, jangan ceritakan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini kepada siapa pun.!'" Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, "Demi Allah, andaikata boleh aku menceritakannya kepada seseorang, pastilah sudah aku ceritakan hal itu kepadamu, wahai Tsabit.!" (HR. Ahmad)

Pelajaran yang dapat diambil dalam hadits ini:

Pertama, Adanya perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam melatih dan membiasakan anak-anak kecil untuk melakukan sebagian pekerjaan demi meneguhkan jati diri mereka dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi kehidupan.

Ke dua, Keteguhan seorang shahabat mulia semacam Anas radhiyallahu ‘anhu untuk menjaga rahasia dan tidak menyebarkannya kepada siapa pun.

2. Kontrol seorang ayah yang terus-menerus dan langsung terhadap si anak yang memasuki usia Pubertas dengan menemaninya sepanjang hari tanpa mempedulikan kecenderungan dan kesenangannya atau pun memenuhi kebutuhan psikologis dan sosialnya. Sang ayah memaksakan kehendaknya dalam memilih sesuatu, padahal si anak masih memiliki keinginan utama, yaitu bermain dan mengembangkan bakatnya. Alasannya, demi menjaga anaknya dari penyimpangan dan teman buruk. Sekali pun ada sisi positifnya, tetapi lebih banyak negatifnya, seperti melemahkan kepribadian sang anak dan membuatnya mudah menjadi korban penyimpangan dan teman buruk begitu ia merasa bebas nantinya, baik karena meninggal, jatuh sakit atau sudah tuanya sang ayah, terjadinya perceraian, 'broken home atau lainnya. Karena tidak ditanamkannya rasa percaya diri, kemandirian dan menjaganya dengan norma-norma Islami, maka bisa jadi sang anak akan demikian mudah tergoda dengan peradaban Barat melalui beragam media seperti radio dan televisi yang sudah masuk ke dalam rumah!?

3. Robohnya pagar kokoh yang dibangun Islam dalam membentengi keluarga dan menjaganya dari penyimpangan dan kebobrokan karena meniru gaya Barat. Perasaan dan rasa kecemburuan dalam jiwa seakan telah mati. Hal ini memberikan ruang masuknya fitnah dan kejahatan pada keluarga dan anak-anak yang memasuki usia pubertas. Dengan tindakan sang ayah membawa orang-orang yang tidak diizinkan agama hadir di tengah keluarganya, baik dengan alasan hubungan kerabat; kerabat bagi suami atau isteri. Atau pun dengan alasan teman suami, kakaknya, pembantu, guru pria sang anak perempuan dan beragam alasan lainnya. Inilah tipe suami dan laki-laki 'Dayyuts' yang tidak akan masuk surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tiga orang yang telah Allah haramkan masuk surga: pecandu khamer, pendurhaka terhadap kedua orang tuanya dan Dayyuts (suami berprofesi germo) yang menyetujui perbuatan keji dalam keluarganya." (HR. An-Nasa'i)

4. Membiarkan si anak yang memasuki usia pubertas tanpa pengawasan dan terapi dari sejak pertama terjadinya penyimpangan.

5. Kebiasaan merokok di depan mata anak-anak plus lemahnya pengetahuan agama. Hal ini mendorong anak yang dalam usia pubertas untuk meniru sang ayah dan menyeretnya berada di persimpangan jalan.!

6. Penjagaan yang berlebihan karena takut bahaya mengancam sang anak

7. Tidak memberikan perhatian dan pengarahan pada anak.

8. Memanjakan sang anak dan me-nuruti apa saja kemauannya tanpa mengajarkannya untuk memiliki rasa tanggung jawab.

9. Tindak kekerasan terhadap anak berupa sanksi fisik atau lainnya.

10. Membeda-bedakan antar anak yang satu dengan yang lainnya.

S o l u s i

Di antara solusi yang dapat dilakukan dalam mengatasi masa pubertas anak adalah:

1. Menanamkan Rasa Percaya Diri Pada Diri Anak
Secara umum, sebagian anak yang memasuki usia pubertas ada yang mengalami rasa takut yang berlebihan dalam banyak sisi kehidupannya, seperti takut bertemu dengan para tamu, takut menghadapi ujian, takut berbicara di tengah masyarakat mana pun atau momen apa pun karena khawatir dikritik atau salah. Kelompok anak ini mengalami krisis kurang percaya diri, merasa tidak aman dan nyaman akibat pendidikan yang salah, terutama sikap ketergantungan pada orang lain. Terkadang timbul hal-hal lainnya, seperti tidak mampu berbicara, malu, stres, cemas dan sebagainya. Karena itu, kedua orang tua harus menanamkan rasa percaya diri pada diri anak-anak mereka dan memenuhi kebutuhan psikologis dan sosial mereka yang bertujuan mengaitkan mereka dengan orang lain dan merealisasikan sikap mandiri.

2. Menanamkan Norma-Norma Islami
Tidak dapat disangkal lagi, ini merupakan hal yang amat agung yang mesti diperhatikan para orangtua. Sebab norma ini berpedoman pada akidah yag diambil dari prinsip-prinsip yang mulia. Ia tidak akan bertentangan dengan perkembangan zaman dan tempat karena ia berasal dari Allah subhanahu wata’ala. Karena itu, adalah kewajiban para pendidik untuk menanamkan norma-norma yang menyeru kepada keadilan, persamaan (egaliter), persaudaraan, kecintaan, dan toleransi dalam berinteraksi dengan manusia itu.

3. Mendidik Anak untuk Memperbaiki Niat dan Amal
Islam dengan ajarannya yang mulia datang untuk mengarahkan manusia agar memiliki niat yang baik dalam beramal. Sebab niat yang tulus merupakan pondasi amal. Karena itu, para orang tua harus membimbing anak-anak mereka agar mem-perbaiki niat dan amal serta antusias untuk beribadah, jauh dari pertimbangan kuantitas dan penampilan. Masalah niat ini merupakan hal dasar dan utama dalam Islam yang memasuki hampir semua bab Fiqih sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “Sesungguhnya semua amal itu tergantung pada niat.” (HR. Muslim) [Hanif Yahya]

Wednesday, January 19, 2011

Active Learning



Pembelajaran aktif (active learning) tampaknya telah menjadi pilihan utama dalam praktik pendidikan saat ini. Di Indonesia, gerakan pembelajaran aktif ini terasa semakin mengemuka bersamaan dengan upaya mereformasi pendidikan nasional, sekitar akhir tahun 90-an. Gerakan perubahan ini terus berlanjut hingga sekarang dan para guru terus menerus didorong untuk dapat menerapkan konsep pembelajaran aktif dalam setiap praktik pembelajaran siswanya.

Beberapa kalangan berpendapat bahwa inti dari reformasi pendidikan ini justru terletak pada perubahan paradigma pembelajaran dari model pembelajaran pasif ke model pembelajaran aktif.

Merujuk pada pemikiran L. Dee Fink dalam sebuah tulisannya yang berjudul Active Learning, di bawah ini akan diuraikan konsep dasar pembelajaran aktif. Menurut L. Dee Fink, pembelajaran aktif terdiri dari dua komponen utama yaitu: unsur pengalaman (experience), meliputi kegiatan melakukan (doing) dan pengamatan (obeserving) dan dialogue, meliputi dialog dengan diri sendiri (self) dan dialog dengan orang lain (others)


Dialog dengan Diri (Dialogue with Self) :

Dialog dengan diri adalah bentuk belajar dimana para siswa melakukan berfikir reflektif mengenai suatu topik. Mereka bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang atau harus dipikirkan, apa yang mereka rasakan dari topik yang dipelajarinya. Mereka “memikirkan tentang pemikirannya sendiri, (thinking about my own thinking)”, dalam cakupan pertanyaan yang lebih luas, dan tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif semata.

Dialog dengan orang lain (Dialogue with Others) :

Dalam pembelajaran tradisional, ketika siswa membaca buku teks atau mendengarkan ceramah, pada dasarnya mereka sedang berdialog dengan “mendengarkan” dari orang lain (guru, penulis buku), tetapi sifatnya sangat terbatas karena didalamnya tidak terjadi balikan dan pertukaran pemikiran. L. Dee Fink menyebutnya sebagai “partial dialogue“

Bentuk lain dari dialog yang lebih dinamis adalah dengan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil (small group), dimana para siswa dapat berdiskusi mengenai topik-topik pelajaran secara intensif. Lebih dari itu., untuk melibatkan siswa ke dalam situasi dialog tertentu, guru dapat mengembangkan cara-cara kreatif, misalnya mengajak siswa untuk berdialog dengan praktisi, ahli, dan sebagainya. baik yang berlangsung di dalam kelas maupun di luar kelas, melalui interaksi langsung atau secara tertulis.

Mengamati (Observing) :

Kegiatan ini terjadi dimana para siswa dapat melihat dan mendengarkan ketika orang lain “melakukan sesuatu (doing something)” , terkait dengan apa yang sedang dipelajarinya. Misalnya, mengamati guru sedang melakukan sesuatu. Misalnya, guru olah raga yang sedang memperagakan cara menendang bola yang baik, guru komputer yang sedang membelajarkan cara-cara browsing di internet, dan sebagainya,

Selain mengamati peragaan yang ditampilkan gurunya, siswa juga dapat diajak untuk mendengarkan dan melihat dari orang lain, misalnya menyaksikan penampilan bagaimana cara kerja seorang dokter ketika sedang mengobati pasiennya, menyaksikan seorang musisi sedang memperagakan kemahirannya dalam memainkan alat musik gitar, dan sebagainya. Begitu juga siswa dapat diajak untuk mengamati fenomena-fenomena lain, terkait dengan topik yang sedang dipelajari, misalnya fenomena alam, sosial, atau budaya.

Tindakan mengamati dapat dilakukan secara “langsung” atau “tidak langsung.” Pengamatan langsung artinya siswa diajak mengamati kegiatan atau situasi nyata secara langsung. Misalnya, untuk mempelajari seluk beluk kehidupan di bank, siswa dapat diajak langsung mengunjungi bank-bank yang ada di daerahnya. Sedangkan pengamatan tidak langsung, siswa diajak melakukan pengamatan terhadap situasi atau kegiatan melalui simulasi dari situasi nyata, studi kasus atau diajak menonton film (video). Misalnya unruk mempelajari seluk beluk kehidupan di bank, siswa dapat diajak menyaksikan video tentang situasi kehidupan di sebuah bank.

Melakukan (Doing):

Kegiatan ini menunjuk pada proses pembelajaran di mana siswa benar-benar melakukan sesuatu secara nyata. Misalnya, membuat desain bendungan (bidang teknik), mendesain atau melakukan eksperimen (bidang ilmu-ilmu alam dan sosial), menyelidiki sumber-sumber sejarah lokal (sejarah), membuat presentasi lisan, membuat cerpen dan puisi (bidang bahasa) dan sebagainya. Sama halnya dengan mengamati (observing), kegiatan “melakukan” dapat dilaksanakan secara langsung atau tidak langsung

Terkait dengan upaya mengimplementasikan konsep di atas, L. Dee Fink menyampaikan 3 (tiga) saran, sebagai berikut:

1. Memperluas jenis pengalaman belajar.

Buatlah kelompok-kelompok kecil siswa dan meminta mereka membuat keputusan atau menjawab sebuah pertanyaan terfokus secara berkala.

Temukan cara agar siswa dapat terlibat dalam berbagai dialog otentik dengan orang lain, di luar teman-teman sekelasnya (di website, melalui email, atau dalam kehidupan nyata).

Dorong siswa untuk membuat jurnal pembelajaran atau portofolio belajar. Guru dapat meminta para siswa untuk menuliskan tentang apa yang mereka pelajari, bagaimana mereka belajar, apa peran pengetahuan yang dipelajarinya untuk kehidupan mereka sendiri, bagaimana hal ini membuat mereka merasa, dan sebagainya.

Temukan cara untuk membantu siswa agar dapat mengamati sesuatu yang ingin dipelajarinya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Temukan cara yang memungkinkan siswa untuk benar-benar melakukan sesuatu yang dipelajarinya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

2. Mengambil manfaat dari “Power of Interaction.”

Dari keempat bentuk belajar di atas, masing-masing memiliki nilai tersendiri, tetapi apabila keempat bentuk belajar tersebut (Dialogue with Self, Dialogue with Others, Observing, dan Doing) dikombinasikan secara tepat, maka akan dapat memberikan efek belajar yang lebih kaya kepada para siswa.

Para pendukung Problem-Based Learning menyarankan kepada para guru untuk mengawalinya dengan kegiatan “Doing”, dimana guru terlebih dahulu mengajukan berbagai masalah nyata (real problem) untuk diselesaikan oleh siswanya. Kemudian, siswa diminta untuk berkomunikasi dan berkonsultasi dengan rekan-rekan sekelompoknya (Dialogue with Others) untuk menemukan cara-cara terbaik guna memecahkan masalah nyata yang telah diajukan. Setelah para siswa saling berkomunikasi dan berkonsultasi, selanjutnya para siswa akan melakukan berbagai macam bentuk belajar sesuai pilihannya, termasuk didalamnya melakukan Dialogue with Self dan Observing.

3. Membuat dialektika antara pengalaman dan dialog.

Melalui pengalaman (baik melalui doing dan observing) siswa memperoleh perspektif baru tentang apa yang benar (keyakinan) dan apa yang baik (nilai). Sementara melalui dialog dapat membantu siswa untuk mengkonstruksi berbagai makna dan pemahamannya.

Untuk menyempurnakan prinsip interaksi sebagaimana dijelaskan di atas yaitu dengan melakukan dialektika antara kedua komponen tersebut. Dalam hal ini, secara kreatif guru dapat mengkonfigurasi dialektika antara pengalaman baru yang kaya dan mendalam dengan dialog yang bermakna, sehingga pada akhirnya siswa benar-benar dapat memperoleh pengalaman belajar yang signifikan dan bermakna

Sumber: Terjemahan bebas dan adaptasi dari: L. Dee Fink. 1999 - Active Learning

Monday, January 3, 2011

Perjuangan Seekor Keledai Tua



Suatu hari ada seekor keledai milik seorang petani yang jatuh ke dalam sumur yang dalam dan kering. Binatang tersebut menangis dengan nyaring selama beberapa jam sementara itu sang petani tersebut mencoba mencarikan jalan keluarnya. Akhirnya, dia memutuskan bahwa keledai itu sudah terlalu tua, sumur itu juga perlu ditutup, dan menolong keledai tersebut merupakan suatu usaha yang sia-sia belaka. Sehingga dia mengundang tetangganya untuk datang ke lokasi guna membantunya mengubur keledai tersebut di dalam sumur untuk menghentikan kesengsaraannya.

Mereka semuanya memegang sekop dan mulai menimbunkan tanah ke dalam sumur. Pada awalnya, keledai tersebut menyadari apa yang sedang terjadi dan lagi-lagi menangis dengan begitu memilukan. Tidak lama kemudian, semua orang menjadi tercengang karena keledai tersebut tiba-tiba diam. Setelah beberapa sekop kemudian, petani tersebut melongok ke dalam sumur dan begitu terpana atas apa yang dilihatnya. Keledai tersebut melakukan suatu hal yang memukau atas setiap sekop tanah yang menimpa punggungnya. Keledai tersebut melepaskannya dengan menggoyangkan badannya dan lalu melangkah naik ke atas tanah yang telah jatuh tersebut !

Setiap kali mereka menjatuhkan tanah ke atas binatang tersebut, ia akan melepaskannya dan melangkah ke atasnya. Tidak lama kemudian, semua orang terperangah begitu sang keledai memenangkan perjuangan tersebut dengan melangkahi tepi sumur dan meloncat keluar !

Seperti keledai tersebut, kehidupan ini juga akan senantiasa membuat tubuhmu kotor juga, segala macam kotoran. Cara untuk keluar dari sumur tersebut adalah melepaskannya sambil melangkah naik ke atas. Setiap kemunduran adalah seperti kotoran yang dilemparkan ke atas punggung kita. Setiap kesulitan yang kita hadapi merupakan suatu batu loncatan. Kita hanya dapat keluar dari sumur yang paling dalam sekalipun hanya dengan tanpa berhenti, dengan tanpa putus asa ! Lepaskan dan melangkah ke atas !

Apa yang sepertinya akan menimbun keledai tersebut sebenarnya merupakan suatu berkah baginya, dengan cara yang dia gunakan untuk mengatasi kemalangannya. Ini merupakan suatu kunci misteri kehidupan ini. Jika kita menghadapi masalah, tanggapilah secara positif dan jangan menjadi panik serta terlarut dalam kegetiran, kemalangan yang akan membenamkan kita biasanya di dalamnya terdapat potensi yang dapat bermanfaat dan memberikan berkah buat kita !

Semuanya tergantung pada kita sendiri agar selalu ingat untuk mengembangkan kemampuan diri kita guna memaafkan, melupakan, dan melangkah terus pada tujuan kita. Kita harus terus mengembangkan keyakinan, harapan, dan kemampuan kita untuk mengasihi tanpa syarat apapun. Ini merupakan peralatan yang akan membantu kita “melepaskannya dan melangkah ke atas” keluar dari sumur-sumur di mana akhirnya kita akan menemukan jati diri kita.

Wednesday, December 1, 2010

Cerita lucu lagu anak

Cerita lucu Anak-Anak

Lagu anak-anak yang populer ternyata mengandung kesalahan, mengajarkan kerancuan, dan menurunkan motivasi.

Mari kita buktikan :

"Balonku ada 5... rupa-rupa warnanya... merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru..., meletus balon hijau, dorrrr!!!"

Perhatikan warna-warna kelima balon tsb., kenapa tiba2 muncul warna hijau
Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5 !

"Aku seorang kapiten... mempunyai pedang panjang...kalo
berjalan prok..prok..prok... aku seorang kapiten!"

Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsis- tensi). Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi :

"mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang)... kalo berjalan prok..prok..prok.."

nah, itu baru klop! jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia

bernyanyi : "mempunyai pedang panjang... kalo ber-jalan
ndul..gondal..gandul.. atau srek.. srek.. srek.." itu baru sesuai dg kondisi pedang panjangnya!

"Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku.."

Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur.

Lagu Ini membuat anak-anak tidak bias terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang!

"Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali.. kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara.. 2X"

Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi!

Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu jadi bingung dan gak tau mau ngapain, bisanya Cuma noleh ke kiri ke kanan aja, gak maju2!

"Naik kereta api tut..tut..tut.. siapa hendak turut ke Bandung.. Surabaya.. bolehlah naik dengan naik percuma.. ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama"

Nah, yg begini ini yg parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah dewasa,
Maunya gratis melulu. Pantesan PJKA rugi terus! Terutama jalur Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya!

Wednesday, November 24, 2010

Ayah Menjadi Model Bagi Si Anak



Bagaimana kepribadian si Buyung nanti tergantung pada ayah. Karena di usia ini, anak lelaki biasanya akan menjadikan ayah sebagai model perilakunya.

Kerap kali ayah sangat sibuk dengan pekerjaannya, sehingga sulit baginya membagi waktu antara pekerjaan dan rumah. Kala ayah pulang, anak sudah tidur. Bahkan tak jarang, pagi pun ayah tak sempat lagi ketemu dengan anak karena si kecil belum bangun sementara ayah harus berangkat kerja pagi-pagi sekali. Ayah tak sempat lagi menanyakan kegiatan anak dari pagi sampai sore, bermain dengan siapa saja, dan sebagainya.

Padahal kita tahu, peran ayah tak kalah penting dengan peran ibu. Jadi, ujar Zamralita, Psi ., sesibuk apapun, ayah harus tetap menyediakan waktu bersama anak, minimal satu jam sehari. "Waktu tersebut harus betul-betul efektif agar tujuan yang dicapai sesuai, yaitu mengakrabkan ayah dan anak," jelas psikolog pada Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta ini.

Dalam waktu yang efektif tersebut, ayah dapat berkomunikasi dengan cara bermain, mengobrol atau melakukan aktivitas lain bersama anak. "Namun selama bersama anak, ayah tak boleh ada pikiran apapun tentang pekerjaan. Jadi, seluruh perhatian ayah benar-benar tercurah pada anak," tandas Zamralita. Jika ayah tak bisa menyediakan waktu malam hari, bisa dilakukan paginya sebelum ke kantor. "Toh, biasanya anak kerap bangun lebih awal karena tidurnya pun lebih awal."

Tapi jika ayah harus berangkat pagi-pagi sekali, maka gunakanlah malam hari untuk bersama anak. Paling tidak, saat magrib ayah sudah berada di rumah sehingga masih sempat bermain bersama anak. Kemudian saat weekend atau libur, juga manfaatkan seefektif mungkin untuk bersama anak. "Namun ayah harus konsekuen menyediakan waktu untuk anak, jangan sampai kehilangan waktu sehari pun untuk bersama anak."

Tentunya, dengan keterbatasan waktu yang ada, ayah tak mungkin dapat mengawasi seluruh aktivitas anak, namun ayah tetap harus mengetahuinya. Caranya, ayah harus aktif mendapatkan informasi; misalnya, dari ibu. Dengan begitu, ayah jadi tahu harus masuk pada bagian mana dan apa yang harus diawasi. Misal, anak suka omong kasar atau jorok. Nah, ayah harus tahu dari mana anak bisa berkata seperti itu dan apa yang harus ia lakukan agar si kecil tak keterusan omong kasar/jorok.

TOKOH IDENTIFIKASI

Penting diketahui, pada usia prasekolah, anak mulai melakukan identifikasi. Bila di usia sebelumnya (batita) si kecil hanya sekadar meniru omongan atau tingkah laku orang tua maupun orang lain, maka di usia ini peniruannya lebih dalam. Maksudnya, ia tak hanya sekadar meniru tapi "mengambil" apa yang ditirunya dari si model/tokoh, yang kemudian akan menjadi bagian dari dirinya. Oleh karena itu, yang ditiru pun tak sebatas hanya omongan dan tingkah laku, tapi seluruhnya yang ada pada si model/tokoh. "Umumnya, anak akan beridentifikasi pada orang yang berjenis kelamin sama. Anak lelaki akan beridentifikasi pada ayah dan anak perempuan pada ibu," tutur Zamralita.

Namun begitu, anak perempuan juga bisa beridentifikasi pada ayah dan anak lelaki beridentifikasi pada ibu. Jadi, anak perempuan bisa saja "mengambil" sifat tegas dari ayah atau anak lelaki "mengambil" sifat ibu yang perhatian, misalnya. Bukankah konon, ayah lebih mengajarkan sifat-sifat seperti ketegasan, tanggung jawab, dan melindungi; sedangkan ibu lebih pada kasih sayang, kepedulian, dan kelembutan?

Kendati demikian, lanjut Zamralita, pada dasarnya peran ayah terhadap anak lelaki dan perempuan sama saja. Bedanya cuma pada cara menerapkannya. "Tentunya dalam memperlakukan anak perempuan dan lelaki akan berbeda, karena ada perilaku-perilaku tertentu yang bersifat normatif." Misalnya, ayah lebih mengarahkan anak perempuan harus rapi, berbicara halus, lemah lembut, dan sebagainya. "Jadi, lebih diarahkan pada stereotipe perempuan. Sedangkan pada anak lelaki, ayah bisa saja mengajak membetulkan mobil, misalnya."

Yang harus disadari, lanjut Zamralita, anak bukan hanya akan beridentifikasi pada hal-hal positif dari orang tua, tapi juga bisa perilaku negatifnya. Padahal, identifikasi berkaitan dengan pembentukan konsep diri; anak tengah mencari pola perilaku dalam rangka pembentukan konsep dirinya. Sifat-sifat maupun perilaku orang tua yang dimasukkan ke dalam diri anak akan menjadi bagian dari perilakunya kelak.

Nah, agar ayah bisa menjadi tokoh identifikasi yang baik, menurut Zamralita, ayah harus menjadi contoh yang baik pula bagi anak. "Ayah harus bersifat maupun berperilaku baik dan konsisten." Tapi ingat, lo, si kecil tak akan begitu saja beridentifikasi dengan ayah. Sebab, anak hanya akan beridentifikasi pada orang yang dekat dengannya dan cukup berpengaruh terhadapnya. Itulah mengapa kedekatan ayah dan anak harus sudah mulai dibina sejak bayi; lebih bagus lagi sejak anak masih di kandungan ibu. Jadi, Pak, segeralah "berubah" bila Anda sadar bahwa selama ini Anda kurang terlibat dalam mengasuh si kecil.

KEMAMPUAN AKADEMISNYA RENDAH

Karena ayah lebih menjadi figur identifikasi bagi anak lelaki, maka ketiadaan ayah akan berdampak lebih besar pada anak lelaki ketimbang anak perempuan. Meski sebetulnya anak lelaki bisa saja beridentifikasi pada sifat-sifat ayah dari ibu, namun, seperti sudah dipaparkan di muka oleh psikolog Rahmitha P. Soendjojo, hasilnya bisa berbeda bila sifat-sifat lelaki diberikan oleh sosok yang an sich memang lelaki.

Tapi bukan berarti si Buyung nantinya akan bersifat kewanitaan atau menjadikannya homoseksual. Sebab, terang Zamralita, untuk sampai pada terjadinya penyimpangan seksual biasanya lebih dikarenakan ada sesuatu dalam dirinya, seperti bawaan dari lahir dan kemudian ada trigger -nya atau pencetusnya.

Jadi, tak usah khawatir si Buyung kelak akan mengarah ke sana hanya karena ketiadaan figur ayah. Toh, masih ada ibu yang bisa mengajarkan sifat-sifat lelaki kepadanya. Apalagi dari banyak penelitian, lebih sering ditemukan pengaruhnya pada perkembangan kognitif anak lelaki. "Anak lelaki yang tumbuh dalam bimbingan ayahnya akan mendapat pencapaian akademis tinggi dan keterampilan matematika yang lebih baik dibanding anak lelaki tanpa ayah," tutur Zamralita.

Selain itu, dari penelitian terhadap jenis kelamin orang tua tunggal karena salah satunya meninggal atau berpisah, ditemukan bahwa anak lelaki yang diasuh oleh ayahnya akan tampak lebih mandiri, ceria, punya rasa percaya diri tinggi dan lebih matang. Bagi anak perempuan, ketiadaan ayah membuatnya kehilangan sifat-sifat ayah, karena sifat-sifat tersebut tak akan diperolehnya dari figur ibu.

Tapi dampaknya tak terlalu besar, karena umumnya anak perempuan tak menjadikan ayah sebagai model identifikasinya. Jadi, tak akan membuat si Upik sampai mencari-cari figur ayah atau malah membenci dan penyimpangan perilaku lainnya. Ketiadaan ayah juga tak berdampak pada kemampuan akademis si Upik, tapi lebih pada masalah sosialisasinya dengan lawan jenis. "Bila ketiadaan ayah karena meninggal, biasanya di masa remaja nanti ia akan menjadi sosok pencemas, mudah gelisah dan tak nyaman bila berada di antara teman lelakinya. Tapi bila karena bercerai, ia cenderung bersikap tak tegas terhadap pria di usia remajanya," tutur Zamralita.

Umumnya, ketiadaan ayah karena meninggal akan sangat berbeda pengaruhnya dibanding karena bercerai. Bila ayah meninggal, biasanya anak akan mengenang hal-hal yang indah dan menyenangkan bersama ayah. Tapi bila disebabkan perceraian, biasanya berdampak buruk karena akan banyak hal negatif yang dikenang anak. Bukankah biasanya sumber perceraian adalah ketidakcocokan?

Nah, hal inilah yang sulit disembunyikan orang tua dari anak, sehingga akan menciptakan iklim tak menyenangkan atau tak baik bagi perkembangan anak. Misalnya, ibu sering menangis atau ayah jarang pulang. Padahal anak usia ini perlu belajar kasih sayang, rasa aman, percaya diri, dan berani dari lingkungan rumah yang nyaman. Pendeknya, ketiadaan ayah, entah karena meninggal atau bercerai, mengakibatkan ada sesuatu yang kosong atau hilang pada diri anak.

Ibaratnya, ada ruang kosong dalam kepribadian anak, baik anak lelaki maupun perempuan. Karena, jarang sekali ibu dapat dengan sempurna berperan ganda. Itulah mengapa para ahli kerap menganjurkan, harus dicari figur substitusi yang dapat menggantikan peran ayah, seperti kakek atau paman. Bagaimana bila ayah ada namun tak berperan? Misal, ayah sangat sibuk sehingga tak ada waktu untuk anak. "Tetap akan berdampak psikologis pada anak," ujar Zamralita, "karena keterlibatan emosi bagi anak sangatlah penting; akan timbul keraguan pada anak dan ia pun pasti akan komplain. Misalnya, 'Kok, Ayah nggak pernah ajak aku jalan-jalan, sih?'," lanjutnya.

BERMAIN

Nah, semakin paham, kan, Pak? Tentunya peran ayah bagi anak usia ini tak hanya sebatas tokoh identifikasi. Sebagaimana di usia-usia sebelumnya, ayah pun ikut berperan untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan lainnya pada anak. Hanya bedanya, bagaimana cara ayah menjalankan perannya tersebut akan "diambil", terutama oleh anak lelaki.

Dalam perkembangan motorik, misalnya, ayah biasanya mengajak anak perempuan melakukan permainan yang bersifat netral semisal main kartu. Tapi dengan anak lelaki, biasanya dalam bentuk fisik, seperti main bola atau mengajaknya melakukan suatu bentuk pekerjaan yang umumnya dianggap sebagai pekerjaan lelaki, seperti membetulkan mobil. "Umumnya, ayah tak membedakan antara anak lelaki dan perempuan," ujar Zamralita. "Hanya pada anak lelaki, ayah biasanya mengarahkan agar memiliki sifat-sifat berani seperti tegas, tak pengecut, tak pemalu, harus mempertahankan apa yang benar, tanggung jawab, dan sebagainya," lanjutnya.

Jadi, bila si Buyung menangis gara-gara berkelahi, misalnya, ayah biasanya akan menanyakan duduk persoalannya dan si Buyung pun diajarkan untuk tak boleh cengeng, serta harus berbaikan lagi dengan temannya. "Pada anak perempuan sebetulnya juga sama. Cuma bentuk pengarahan dan cara penyampaiannya berbeda. Misal, anak perempuan berkelahi, biasanya lebih secara verbal bentuk agresinya.

Nah, ayah mengarahkan atau melarang anaknya berkelahi, berlaku atau berucap kasar." Selain itu, ayah juga turut mengarahkan dengan siapa si Upik dan Buyung boleh bermain. Bukan dalam arti membeda- bedakan teman, lo, tapi ayah harus tahu persis lingkungan pergaulan anaknya. Bukankah teman turut mempengaruhi pula perkembangan emosi dan moral anak nantinya? "Nah, biasanya ayah lebih tegas dalam hal ini dibanding ibu." Pendeknya, tandas Zamralita, banyak hal dalam perkembangan anak dimana ayah dapat terlibat, terutama dengan kegiatan anak.

Permainan merupakan salah satu caranya. "Banyak sekali bentuk dan variasi permainan yang dapat dilakukan ayah bersama anak usia ini." Lewat bermain, selain kemampuan anak dirangsang, juga akan menciptakan kedekatan anak dan ayah. "Anak akan merasa, ayah menyediakan waktu baginya. Ini tentunya akan berdampak positif bagi hubungan anak dan ayah." Itulah mengapa, Zamralita minta, ayah harus berespons positif dalam bermain atau menanggapi ajakan anak.

"Umumnya anak usia ini masih banyak bergerak. Ada kesenangan tersendiri dengan melakukan banyak kegiatan. Apalagi jika kegiatan tersebut dilakukan bersama orang tua." Jadi, Pak, jangan beralasan capek atau sibuk, ya, kalau diajak main oleh si kecil. Bisa-bisa Anda nanti dijauhi si kecil dan akhirnya tak dijadikan tokoh identifikasi, lo.

Thursday, November 18, 2010

Kenapa yah, banyak siswa-siswi malas sekolah?




Tulisan ini tidak menyebutkan sekolah yang dijadikan contoh. Jadi, jangan GR dulu.

Yup, mungkin ini menjadi pertanyaan ‘hot’ para guru terhadap murid. Dalam waktuku kali ini, saya mau membahas tentang kenapa teman-temanku itu males sekolah/belajar. Saya melakukan observasi terhadap beberapa orang. Jawabannya sangat bermacam-macam, tapi saya ambil yang lebih masuk akal. Berikut beberapa alasan :

1. enggak ‘comfort’ (nyaman) belajarnya.
2. terlalu lama jam belajarnya.
3. orang-orang yang disekeliling kita.
4. gurunya bikin stress.
5. dan masih banyak lagi.

Alasan dari alasan :

1. enggak comfort belajarnya. Sip, saya juga setuju dengan pendapat teman-teman saya yang beralasan ini. Kenapa? karena lingkungan kita belajar is number one. Apakah anda nyaman dengan tempat (bisa dikatakan kelas) yang bau sampah? Apakah anda nyaman dengan tempat yang kotor? dll. Tentu tidak, sebuah tempat yang dikatakan nyaman minimal bersih. Tapi, ada beberapa alasan juga walaupun tempatnya sudah bersih. Karena masih syarat minimal, ada beberapa alasan yang memang harus ditunjangi oleh sekolah (biar saya enggak rugi ngeluarin DSP dan SPP). Alasannya seperti meja/kursi rusak, papan tulis rusak, penerangan kurang, tempatnya panas, dll. Bayangin kalau mendung, kelas kita gelap, penerangannya kurang. Apa yang mau dilihat? Lampu yang idup cuman 1. Pokoknya trouble lighting. Yahh, mana nyaman. Tapi ada alasan yang berlebihan seperti tidak ada Komputer/Laptop perorang, tidak ada AC, tidak ada TV, dll. Mungkin kita akan rugi kalau DSPnya Rp. +30 Juta. Atau SPPnya Rp. +5 Juta. Yahh itu mah pasti rugi.
2. terlalu lama jam belajarnya. Ya iyah lahh… Siapa lagi , yang mau belajar 9 Jam per hari. CUkup capek dan membosankan. Maksimal harusnya belajar itu 7 Jam perhari. Yahh, itu mah menurut saya. Yahh, lebih baik bimbel yang 3 Jam tapi Masuk. Daripada bimbel yang 7 Jam tapi enggak masuk gara-gara sudah ngantuk.
3. Orang-orang yang disekelilingi kita. Yep, alasan ini juga mungkin alasan yang tidak/cukup masuk akal karena sudah masuk ke perasaan. Apakah anda bisa bekerja dengan orang yang anda benci? Apakah anda bisa berpikir kalau ada orang yang anda benci disamping anda? Apakah anda bisa belajar kalau semua orang yang dikelas membenci anda? Jawabannya tentu TIDAK. Nahh, itulah fungsi bersosialisasi. Bersosialisasi itu membuatnya lebih mudah. Mau belajar, tidur, maen, kalau punya sosialisasi dan niat itu pasti mudah untuk rilex/fokus. Oleh karena itu, janganlah punya musuh. atau orang yang ingin dijauhi. karena bermusuhan itu tidak baik. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada kedamaian. Mungkin ini juga ada hubungan dengan ilmu SPP. Pokoknya, lakukan yang terbaik dan jangan pernah menyesal dikian hari.
4. Gurunya bikin stress. Stress disini maksudnya gurunya neranginnya enggak jelas, suaranya kecil, bahasanya yang dipakai terlalu berat (rumit), dll. Maka dari itu, sekolah seharusnya melakukan masa percobaan guru. Apakah guru tersebut masih layak? atau tidak? Banyak kasus yang disebabkan oleh alasan ini. Cuman gara-gara muridnya enggak bayar uang fotokopian (Rp.100) Nilainya langsung eNOL (misal). Bukankah nanti si murid jadi stress. Yahh, lulusan yang dari Kependidikan harus mempunyai standarisasi mengajar yang baik. Atau memang harus dijadikan Surat Izin Guru. atau surat izin menggurui.. hehehe :D
5. dan masih banyak lagi.

Wednesday, November 10, 2010

Faktor Yang Mempengaruhi Situasi Kelas


Menjadi seorang guru merupakan pekerjaan paling mulia tetapi menjadi pekerjaan yang membahayakan pula bagi kelangsungan generasi berikutnya di masa yang akan datang. Guru menjadi salah satu dari sekian bagian yang mempengaruhi keberhasilan suatu generasi pada suatu bangsa. Makanya menjadi guru tidaklah cukup dengan hanya mengajar (menyampaikan) materi saja tetapi lebih kompleks lagi. Dari begitu banyak hal yang mempengaruhi berhasil dan tidaknya menciptakan generasi penerus adalah kemampuan memahami faktor yang mempengaruhi situasi kelas. Karena guru jelas harus mampu menguasai kelasnya agar kegiatan transfer ilmu berjalan kondusif, lancar dan sesuai dengan tujuan mulia pendidikan.

Dibawah ini berbagai faktor yang mempengaruhi situasi kelas, diantaranya:

1. Tingkat penguasaan materi oleh siswa di dalam kelas
Materi yang telah dikuasai oleh siswa, baik itu diperoleh dari di waktu sebelumnya, dari guru lain atau dari berbagai media yang pernah dibaca oleh siswa tanpa disadari memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penguasaan materi. Hal ini sebaiknya disesuaikan dengan materi selanjutnya atau ditingkatkan keleluasaan dan kedalaman materinya. Guru bisa saja melakukan pre test untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi yang aka diajarkan. Hal ini penting agar susunan materi yang diajarkan menjadi sempurna dan tidak berulang-ulang yang bisa menjadikan siswa mengalami kejenuhan.
Demikian pula jika materi yang akan disampaikan terlalu sulit atau tinggi, maka guru sebaiknya melakukan penyesuaian materi walaupun mungkin hal itu tidak tertuang didalam kurikulum pendidikan yang telah disusun hal ini dilakukan agar siswa bisa diikuti oleh siswa. Efek negatif jika materi yang akan disampaikan terlalu tinggi atau sulit dan tidak dilakukan penyesuaian materi maka biasanya akan menimbulkan kegaduhan kelas atau siswa kurang serius untuk mengikuti materi yang sedang dibahas.

2. Fasilitas yang diperlukan
Jika suatu materi membutuhkan fasilitas alat, media, tempat atau biaya tertentu dan itu ternyata diluar kemampuan kelas/sekolah maka sebaiknya dilakukan penyesuaian seperlunya tanpa mengurangi esensi materi yang sedang disampaikan. Guru bisa saja menggunakan metode pembelajaran alternatif lainnya yang lebih mendekati keadaan siswa dan kemampuan kelas/sekolah. Disinilah seorang guru diuji keprofesionalannya dalam mengambil langkah alternatif yang terbaik dalam mengatasi masalah tersebut. Bisa saja fasilitas alat, media, tempat dan biaya tertentu yang tidak mampu disediakan oleh kelas/sekolah menjadi salah satu pemicu guru untuk melakukan inovasi pendidikan yang memungkinkan materi tersebut tetap bisa disampaikan dengan baik di kelas.

3. Kondisi siswa
Jumlah jam belajar yang harus diselesaikan oleh siswa dalam satu hari juga menjadi salah satu faktor penyebab kelelahan siswa. Siswa lesu, mengantuk, lapar atau karena ada kegiatan diluar yang akan dilakukan dan sebagainya ini dapat mempengaruhi situasi kelas. Hal ini harus diperhatikan oleh guru sehingga seorang guru haruslah mampu menyesuaikan keadaan ini dengan materi yang akan/sedang disampaikan. Guru bisa saja menyisipkan kedalam materi yang sedang disampaikan dengan cerita-cerita yang memotivasi, cerita-cerita lucu, dan atau cerita yang berhubungan dengan materi yang mampu memancing konsentrasi siswa agar tetap fokus pada materi.

4. Metode Pembelajaran
Banyak guru yang tidak menyadari bahwa teknik mengajar yang digunakan untuk menyampaikan materi tidak cocok dengan situasi kelas yang hal tersebut bisa menjemukan dan kurang menggairahkan suasana kelas. Guru hendaknya melakukan penyesuaian agar tidak terhanyut dalam situasi kelas yang demikian. Banyak metode pembelajaran yang bisa digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi tetapi hal itu haruslah dilakukan berdasarkan obervasi kecocokan antara materi dengan keadaan siswa, tingkat penguasaan dan fasilitas yang diperlukan. Janganlah memaksakan suatu metode pembelajaran dengan materi yang tidak sesuai, hal ini akan memicu ketidak kondusif-an kelas.

Guru profesional dituntut kepekaannya dalam menguasai situasi kelas sehingga mampu melakukan penyesuaian-penyesuaian seperlunya agar ke-efektif-an pelaksanaan program pembelejaran bisa tercapai. Selamat bekerja guru profesional...