Thursday, June 30, 2011

Kisah Tentang Kantong Uang Ajaib


Zaman dahulu kala, ada sepasang suami istri yang tinggal di gubuk kecil. Mereka sangat miskin sehingga setiap hari mereka harus memotong dua ikat kayu bakar dan memanggulnya di punggung mereka untuk dijual di pasar.

Suatu hari pasutri tersebut turun dari gunung dengan membawa kayu bakar.

Mereka meletakkan satu ikat di halaman dan merencanakan untuk menjualnya di pasar agar uangnya dapat dibelikan beras. Sedangkan ikatan lainnya, mereka letakkan di dapur untuk digunakan sendiri.


Ketika mereka bangun keesokan harinya, ikatan yang mereka letakkan di halaman secara misterius hilang. Tidak ada yang dapat mereka lakukan, kecuali menjual ikatan yang seharusnya akan digunakan sendiri oleh mereka.

Pada hari itu juga, mereka memotong dua ikat kayu bakar seperti biasanya. Mereka meletakkan satu ikat di halaman untuk dijual dan satu ikat lagi untuk digunakan sendiri. Tetapi keesokan harinya, ikatan kayu bakar itu kembali hilang. Kejadian seperti ini terulang terus menerus, dan suaminya mulai berpikir ada yang aneh dibalik peristiwa ini.

Pada hari kelima, dia membuat lubang di dalam ikatan kayu bakar yang diletakkan di halaman tersebut dan menyembunyikan diri di dalamnya.

Dari luar, ikatan kayu bakar tersebut terlihat seperti biasanya.

Tengah malam, sebuah tali yang sangat besar turun dari langit, menempel pada ikatan kayu bakar tersebut dan kemudian terangkat ke atas langit, dengan sang suami yang masih berada dalam ikatan kayu bakar tersebut.

Setibanya di surga, dia melihat seorang tua berambut putih, yang kelihatannya sangat baik, mendekati ikatan tersebut.

Orang tua tersebut melepaskan ikatan kayu bakar tersebut dan menemukan pria tersebut di dalamnya, dan bertanya, ”Orang lain hanya memotong satu ikat kayu bakar setiap harinya. Mengapa kamu memotong dua ikat?”

Sang suami memberi hormat dan berkata,”Kami tidak punya uang. Itulah alasannya mengapa isteri saya dan saya memotong dua ikat kayu bakar setiap harinya. Satu ikat untuk digunakan sendiri dan satu ikat lagi kami bawa ke pasar untuk dijual. Sehingga kami dapat membeli beras untuk memasak bubur.”

Orang tua tersebut tersenyum dan berkata kepada pemotong kayu tersebut dengan nada yang sangat ramah,” Saya telah tahu sejak lama bahwa kalian adalah pasangan yang baik hati dan selalu hidup hemat dan bekerja keras. Saya akan memberikan kepada kalian sebuah barang berharga. Bawalah barang ini dan dia akan memberikan apa pun yang kalian perlukan dalam hidup ini.”

Setelah orang tua tersebut selesai berbicara, datanglah tujuh peri, membawa pemotong kayu tersebut ke tempat yang sangat indah. Atap emas dan genteng yang berkilau, menyilaukan mata pada saat dia masuk kedalamnya, sehingga dia tak dapat membuka matanya.

Di dalam istana tersebut terdapat banyak barang terpajang yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Kantong uang dalam berbagai bentuk dan ukuran digantung di satu ruangan. Peri tersebut bertanya kepadanya,”Mana yang anda sukai? Pilihlah apapun yang anda sukai dan bawalah pulang ke rumah.”

Pemotong kayu tersebut sangat senang. ”Saya ingin kantong uang tersebut, kantong yang penuh dengan barang berharga. Berikan pada saya kantong yang bulat dan penuh tersebut.”

Dia memilih yang terbesar dan membawanya.

Seketika, orang tua berambut putih tersebut masuk dan dengan ekspersi aneh di wajahnya berkata kepada pemotong kayu tersebut, ”Kamu tidak boleh mengambil yang satu itu. Saya akan memberikan kantong yang kosong kepada kamu. Setiap hari anda dapat mengambil satu tael perak dan tidak boleh lebih.”

Pemotong kayu tersebut dengan enggan menyetujui. Dia mengambil kantong uang yang kosong tersebut, dengan bergantung pada tali tersebut, dia kemudian turun ke bumi.

Setibanya di rumah, dia memberikan kantong uang tersebut kepada isterinya dan menceritakan keseluruhan kejadian tersebut.

Isterinya sangat germbira. Setiap hari, mereka pergi untuk memotong kayu seperti biasanya. Tetapi ketika mereka kembali ke rumah, mereka akan mengunci pintu dan membuka kantong uang tersebut, yang secara cepat sebongkah perak akan bergemerincing keluar.

Sebongkah perak tersebut benar-benar pas satu tael. Setiap hari satu tael perak dan tidak lebih, akan keluar dari kantong tersebut. Isterinya kemudian menyimpannya setiap hari, satu tael demi satu tael.

Waktu berlalu. Suatu hari suaminya berkata,”Mari kita beli lembu.”

Isterinya tidak setuju. Beberapa hari kemudian, suaminya berkata kembali, ”Bagaimana jika kita beli lahan beberapa hektar?”

Isterinya juga tidak setuju. Beberapa hari berlalu, dan isterinya kemudian mengajukan usul, “Mari kita beli pondok jerami yang kecil.”

Suaminya sudah sangat ingin memakai uang yang telah mereka tabung dan berkata, ”Karena kita telah memiliki banyak uang, mengapa kita tidak bangun saja rumah bata yang besar?”

Isterinya tidak dapat menghalangi suaminya dan secara enggan menyetujui ide tersebut.

Suaminya kemudian menggunakan uang tersebut untuk membeli batu bata, ubin dan kayu dan menyewa tukang kayu dan tukang bangunan. Sejak saat itu, mereka tidak pernah lagi pergi ke gunung untuk memotong kayu bakar lagi.

Kemudian tibalah hari, dimana simpanan uang perak mereka hampir kering, tetapi rumah baru tersebut belum juga selesai. Telah lama dalam pikiran suaminya untuk meminta kantong uang tersebut menghasilkan uang perak yang lebih banyak.

Dengan tanpa sepengetahuan isterinya, dia membuka kantong tersebut untuk kedua kalinya dalam hari tersebut. Dan secara cepat, sebongkah perak kedua bergemerincing keluar. Dia membuka kantong tersebut untuk ketiga kalinya, dan mendapatkan uang perak ketiganya dalam hari tersebut.

Dia kemudian berpikir, ”Jika terus menerus seperti ini, rumah ini akan selesai dengan cepat!”

Dia telah melupakan peringatan orang tua berambut putih tersebut. Tetapi ketika dia membuka kantong uangnya untuk yang keempat kalinya, kantong tersebut kosong! Tidak ada perak atau apapun yang keluar.

Kantong tersebut telah menjadi sebuah kantong tua. Ketika dia berbalik untuk melihat rumah batanya yang belum selesai, rumah tersebut juga telah hilang. Yang tertinggal hanyalah gubuk tua.

Pemotong kayu tersebut merasa sangat sedih.

Isterinya datang dan menghiburnya, ”Kita tidak dapat bergantung pada kantong uang ajaib. Mari kita kembali ke gunung dan memotong kayu bakar. Ini cara terbaik untuk menghidupi diri kita.”

Sejak saat itu, pasutri tersebut kembali ke gunung untuk memotong kayu bakar dan hidup dan bekerja seperti dahulu kala.

Thursday, June 9, 2011

Jangan Biarkan Anak Bingung dengan Masa Depannya


Tak tahu ingin jadi apa, atau bagaimana mencapainya, adalah satu gambaran tentang betapa minimnya pemahaman anak tentang masa depan. Tanpa pengetahuan yang memadai, bagaimana kelak mereka menjalani masa depannya? Semasa anak menjalani pendidikan di sekolah dasar, orangtualah yang banyak berperan memilihkan sesuatu untuknya. Namun selepas SD, anak-anak mulai dihadapkan pada pilihan untuk melanjutkan studinya. Walau kemudian, lagi-lagi orangtua masih berperan besar dalam keputusan yang diambil. Ketika SMA, pilihan-pilihan itu semakin banyak. Mulai dari memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan yang akan diambil, lulus sekolah mau kuliah atau bekerja. Kalau kuliah jadi pilihan, mereka pun harus menentukan mengambil D3 atau S1, di universitas mana, program studinya apa, dan sederet pilihan lainnya. Anak, dalam hal ini remaja, semestinya sudah bisa memutuskan pilihannya sendiri. Karena semua pilihan yang ia ambil sebenarnya adalah pilihan tentang masa depannya.

Pendidikan yang Tidak Fokus

“Memang, yang sering terjadi di Indonesia, khususnya, pendidikan tidak banyak membicarakan tentang masa depan. Sehingga saat anak-anak lulus SMA, mereka kaget dan tidak tahu mau ngapain,” kata psikolog Eri Vidiyanto, M. Psi, konsultan di Essa Consulting, Jakarta, tentang kebingungan anak-anak soal masa depannya. Sebagai gambaran, Eri mengaku banyak menemukan kasus anak-anak yang sudah berpayah-payah mengikuti SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dan diterima di jurusan yang ia tuju, tapi akhirnya mundur karena merasa tak cocok. Sebagian yang lain, malah ngotot ikut SPMB berulang-ulang untuk masuk ke fakultas yang diinginkannya, seperti fakultas kedokteran, tapi tak juga lulus. “Padahal, menurut saya, kapasitasnya bukan di situ. Kenapa memaksa di situ?” ujar Eri. Sikap remaja yang seperti ini jelas menunjukkan kebingungan mereka pada masa depan, imbuhnya. Eri, yang mendapat gelar master di bidang psikologi pendidikan Universitas Indonesia, juga menyesalkan sistem pendidikan negeri ini yang mewajibkan siswanya mengambil mata pelajaran yang sudah ditentukan. Padahal belum tentu semua itu bermanfaat nyata bagi kehidupan mereka. “Sudah mengeluarkan usaha yang besar, tapi enggak tahu manfaatnya apa,” terangnya.
Berbeda dengan pendidikan di beberapa negara lain yang memungkinkan siswanya hanya mengambil mata pelajaran sesuai minatnya, semacam sistem perkuliahan. Secara tidak langsung ini akan menunjukkan minat mereka. “Anak tidak lagi dituntut menguasai semua hal, tapi profesional di bidang tertentu,” jelas ayah satu anak ini.

Bimbingan Orangtua

Ketidakmampuan anak memfokuskan diri pada masa depan yang akan mereka jalani, tak terlepas dari peran orangtua. Belum banyak orangtua yang bisa mengarahkan dan membimbing anaknya untuk fokus pada masa depan. Sebagian orangtua kelihatannya memang peduli tapi mereka hanya menginginkan masa depannya anak sesuai dengan rencananya, tanpa melibatkan anak. Mereka ingin anaknya jadi seperti yang mereka inginkan, misalnya dokter, bankir, dan sebagainya. Keinginan anak tak mereka hiraukan. Sementara di sisi lain, ada orangtua yang permisif, terserah anak, apa saja boleh. Tipe orangtua seperti ini tidak memberi arahan sama sekali. Akibatnya, anak kebingungan sendiri. Peran orangtua yang ideal, kata Eri, adalah yang mengarahkan, tapi tidak memaksakan kehendak. Orangtua semestinya mengenali potensi anak, kemudian membantu dan memberikan alternatif yang bisa anak lakukan. “Berikan beberapa alternatif, tapi biarkan anak yang memutuskan karena urusan masa depan adalah urusan pribadi anak,” katanya. Jadi, anak tetap dilibatkan dalam urusan masa depannya. Ketika sudah beranjak remaja, namun ia tak juga punya cita-cita atau pilihan karier di masa depan, sebenarnya ini adalah warning bagi orangtua untuk secepatnya memberi arahan masa depan bagi anak-anaknya. Remaja tak punya cita-cita atau target hidup, tegas Eri, tidaklah wajar.

Merancang dan Mendiskusikan Masa Depan

Sejak dini sebenarnya orangtua dapat mengarahkan anak tentang masa depannya. Pengenalan kepada berbagai pekerjaan yang bisa dijalaninya di masa depan bisa dimulai sejak usia TK atau SD. Namun pemantapan atau pematangan baru bisa dilakukan saat anak duduk di sekolah menengah pertama dan atas. Pada usia SMP dan SMA inilah orangtua harus mulai membicarakan masa depan secara lebih serius. Tentunya dengan gaya yang bisa diterima anak. Sebab, anak-anak usia belasan tak bisa diatur dan diajak bicara dengan gaya directive yang mengatur ini-itu. “Pendekatannya harus perlahan dan kesadaran harus timbul dari dalam diri mereka,” ujar lelaki yang hobi membaca dan diskusi ini. Dengan bijak, orangtua bisa memberi gambaran tentang bagaimana masa depan itu dan seperti apa tuntutannya. Untuk mendukung ini selayaknya orangtua juga sudah mampu mengenali potensi anak. “Dengan potensi yang dimilikinya, kira-kira apa yang bisa dilakukan anak untuk menjawab tantangan masa depannya,” ujar Eri. Bagi anak sendiri, gambaran masa depan yang pastinya semakin kompetitif bisa jadi akan menimbulkan kecemasan. Tak mengapa rasa ini muncul, namun perlu tindakan lanjut untuk mengatasinya. “Rasa cemas ini akan mendorong anak untuk membuat target dalam mencapai kesuksesan, ‘Saya harus cari kuliah yang bikin saya sukses sesuai potensi saya.’ Pada saat inilah mereka perlu bimbingan orangtua atau tenaga ahli,” jelasnya.

Orangtua kemudian semestinya membimbing anak membuat perencanaan. Berikan saran-saran berdasarkan pengalamannya yang memang relatif lebih banyak dari anak. Paparkan juga potensi anak yang bisa menjadi acuan dalam merancang masa depannya. Misal, “Ibu lihat kamu selalu menjadi tempat curhat teman-temanmu dan kelihatannya kamu senang. Mungkin kamu bisa pikirkan untuk kuliah di fakultas psikologi.” Orangtua bisa pula mengajak anak menilai kembali kemampuannya bila ternyata ia memilih suatu bidang di luar kemampuannya. Contohnya, anak ingin masuk fakultas kedokteran tapi kemampuannya kurang memadai. Coba tawari ia untuk masuk bidang lain yang terkait dengan kesehatan juga, seperti pendidikan keperawatan. Soal kemampuan orangtua, terutama finansial, juga perlu dibicarakan. “Ada anak yang saking excited-nya, bikin target tinggi dan kurang melihat kemampuan, bukan hanya potensi diri tapi juga materi,” kata Eri.

Orangtua memang akan melakukan apa pun untuk masa depan anak, namun tentu kemampuannya terbatas. Nah, berikan gambaran itu padanya. Mungkin bisa diusahakan untuk mencari beasiswa atau melanjutkan pendidikan sejenis tapi dengan biaya yang lebih terjangkau, misalnya mengambil program D3 dulu. Saat anak merasa mantap dengan keputusannya, disertai pertimbangan yang matang terkait dengan potensinya dan pertimbangan lainnya, juga sudah melibatkan orangtua, maka keputusan ini dapat dianggap sebagai keputusan terbaik. Kini orangtua mesti mengawasi konsistensi anak dalam menjalankan semua rencananya. “Kalau anak keluar jalur, tanyakan lagi, ‘Kamu kan dulu yang memilih ini, kenapa jadi ke sana?’ Jadi ada proses tanggung jawab dari si anak,” terang Eri. Kerja sama dan keterbukaan antara anak dan orangtua adalah kunci keberhasilan dalam merancang masa depan. Jangan biarkan remaja bingung sendirian. Eri menuturkan, anak-anak yang didukung orangtua biasanya lebih cepat mencapai keberhasilan dibanding mereka yang menemukan jalannya sendiri. Maka bantu dan dukunglah anak-anak kita merancang masa depan mereka.

Ajak si Kecil Kenali Hari Esok

Membicarakan masa depan, bisa dimulai sejak usia taman kanak-kanak. Karena di masa itu mereka sudah mengenali lingkungan di luar dirinya dan keluarga. Namun, pengenalan masa depan bagi anak usia TK dan SD tetap harus memerhatikan tahapan perkembangannya.

. Anak usia TK pola pikirnya didasarkan pada hal-hal yang konkret. Jadi, pada tahapan ini kenalkan saja mereka beragam profesi yang mungkin bisa mereka pilih di masa depan. Ajak mereka bertemu langsung dengan orang-orang yang berprofesi tertentu atau bermain peran sesuai profesi tertentu.

· Anak usia SD yang sudah mampu berpikir abstrak dan mengembangkan imajinasi biasanya memilih profesi “hebat” dalam pandangan mereka, seperti ingin menjadi astronot karena bisa pergi ke bulan, atau jadi polisi karena bisa naik motor besar. Memang belum ada pertimbangan logis saat mereka memilih satu profesi sebagai cita-cita.

· Wajar bila cita-cita mereka terus berubah dari waktu ke waktu karena semakin banyak yang mereka lihat atau pengaruh teman-temannya. Tetap hargai cita-cita yang selalu berubah itu.

· Jadikan apa pun cita-cita mereka sebagai motivator mereka untuk belajar dan berbuat lebih baik. Orangtua bisa bilang, misalnya, “Kalau mau jadi dokter, Ade harus rajin belajar.”



Wednesday, May 18, 2011

Anekdot Psikologi anak


Kadang guru mencoba menerka-nerka jika anak TK sangat riang dengan keunikan bermain angka maupun membaca dengan suasana banyak berteman. Namun ketika SD kelas 1 anak mencoba mengejar target prestasinya maupun selalu yang terbaik dalam belajar dengan teman sebayanya. Tiba-tiba saja di kelas 2 sudah mulai perkenalan teman yang sangat akrab namun selalu saja ada yang berkelahi karena ingin mendapatkan kekuasaan dan keingintahuan si Anak menjadi yang terbaik. Ketika dikelas 3 mulailah si Anak lebih banyak bermain sambil belajar walaupun kadang suasana kadang tidak kondusif bahkan selalu mencari temuan baru belajarnya serta keingintahuan pengalamannya bahwa "Aku adalah yang Pintar dan yang lebih Tahu".

Setelah sekian banyaknya keingintahuan siAnak masuklah kejenjang tingkat kelas 4 yang selalu saja membuat suasana kelas menjadi berbagai ornamen karya termasuk suasana hiruk pikuk yang menjadi pembelajaran kaya akan karakter siswa mengeluarkan ide dan bakatnya dari segi positif maupun negatifnya. Bermain sambil belajar namun sudah mulai berbicara ngalor ngidul akan fokus pembicaraanya dalam pembelajaran. Setelah kelas 5 sudah mulai cara bicara anak yang beraneka ragam karena ingin dikuasai bahkan guru pun berbagai alasanpun ditepisnya termasuk juga orang tuanya sendiri. Dengan alasan "Aku mempunyai ribuan alasan walaupun jawaban itu kurang mengenakan didalam hati orang lain"

Dengan akhir masa masa sekolahnya kelas 6 pun sudah mulai ceria dengan karakter pubertasnya menuju masa remaja bahkan dengan guyonan sang calon kekasih pun dengan semangat belajar pun tetap senang dan duka. namun rasa kekhawatiran sang ayah dan ibu bahkan guru dengan rasa hormat semakin pudar karena ia mulai tumbuh karena kegadisan maupun keremajaannya setara dengan orang dewasa sehingga lupa akan masa lalunya dan jasa kedua orang tuanya. Semoga analisa ini menjadi cerminan buat orang tua begitu luar biasanya karakter anak yang semakin berkembang namun semakin lama lingkungan juga mempengaruhi perkembangan anak yang terkooptasi dengan orang lain. Sikap, pergaulan, pembelajaran, metode, kebijakan keputusan hanya ada kembali kepada pembimbingnya apakah anakku bisa menjadi kaya akan bakatnya dan kaya akan kedewasaanya untuk masa depan yang gemilang. wallahu alam.

Melatih Kecerdasan Emosi Anak : Mengenali Emosi


Kini orang tua semakin peduli dengan karakter anak, sejak mulai dipopulerkannya konsep kecerdasan emosi oleh Daniel Goleman di tahun 1995. Para orang tua semakin sadar dan yakin bahwa keberhasilan
anak tidak lagi cukup dengan ketrampilan teknis dan pengetahuan ilmiah, namun juga dengan kemampuan pengendalian diri dan hidup bermasyarakat.
Secara garis besar ada dua hal utama dalam kecerdasan emosi, yaitu mengenali dan mengelola emosi. Langkah pertama mengajarkan kecerdasan emosi adalah mengenalkan berbagai jenis emosi kepada anak. Bagaimana caranya?
Tips sederhana dalam mengajarkan kecerdasan emosi adalah dengan sering menyebutkan berbagai jenis emosi kepada anak. Misalnya anak sedang cemberut, maka sebagai orang tua kita dapat menegaskan situasi emosi tersebut kepada anak, misalnya dengan menanyakan, “Adik cemberut, apa sedang kesal? Adik kesal apa karena Ibu melarang nonton TV?” Dengan demikian anak dipandu untuk terbiasa mengenali kondisi emosi dirinya dan penyebab munculnya emosi itu.
Cara lain adalah dengan menunjukkan berbagai gambar, atau mengomentari situasi baik di majalah, TV, maupun media lainnya. Misalnya ketika melihat TV di mana ada tokoh yang sedang sedih karena dinakali oleh tokoh lainnya (hal ini sering muncul di film kartun), maka kita berkomentar, “Aduh, kasihan sekali si anu, pasti dia sangat sedih karena tindakan nakal temannya itu..” Hal yang sama dapat dilakukan pula saat membaca dongeng. Orang tua perlu berkali-kali menyebutkan situasi emosi para tokoh dalam cerita tersebut. Selain memperkenalkan berbagai jenis emosi, pada saat yang sama anak juga belajar hal-hal yang menyebabkan munculnya emosi tersebut, misalnya perasaan sedih salah satu tokoh cerita karena ditipu atau dihina tokoh yang lain. Orang tua juga dapat pula memberikan penilaian moril atas situasi tersebut, misalnya menghina adalah suatu perbuatan buruk dan jahat, sehingga anak menjadi tahu nilai moril dari suatu perilaku. Dalam hal ini secara langsung kita juga telah mengembangkan kecerdasan spiritual anak (kecerdasan dalam mengenali dan mengelola nilai-nilai).
Ketika orang tua marah, sedih, bingung, kesal, gembira, dan situasi emosi lainnya, orang tua juga perlu menyampaikan alasannya. Misalnya, seorang anak bermain dan tidak membereskan mainannya setelah selesai, sang Ibu bisa berkata, “Adik, Ibu sangat kesal melihat mainan yang berantakan, karena Ibu menjadi repot membereskannya. Ibu akan senang kalau Adik membantu Ibu membereskan mainan sendiri.” Dengan pernyataan itu sang anak akan belajar mengenali situasi emosi ibunya (kesal), sebab munculnya (mainan berantakan), dan mengapa sebab tersebut menyebabkan munculnya emosi tertentu (kesal karena repot membereskannya). Perlu ditunjukkan ekspresi yang sesuai dengan emosi saat melatih anak kecil (kalau kesal ya jangan tersenyum, namun tunjukkan wajah serius dan cemberut). Semakin dewasa nanti semakin mungkin menyampaikan emosi dengan ekspresi yang berlawanan misalnya dalam bentuk sindiran (kesal, namun tersenyum).
Apabila anak sedari dini usia telah sering dilatih untuk peka dalam mengenali emosi, maka semakin dewasa akan semakin mudah mengenali emosi, dan akhirnya dapat menyesuaikan sikapnya dengan situasi emosi yang ada


Gadis Cerdas, Gadis Impian

Dahulu ada seorang pemuda Arab yang tampan, shalih, dan sangat cerdas. Dia ingin menikah dengan seorang gadis shalihah dan cerdas pula seperti dirinya. Maka mulailah dia mengembara dari satu kabilah ke kabilah lain untuk mencari gadis impiannya.
Suatu ketika, dia berjalan menuju kabilah di Yaman. Ditengah perjalanan, dia berjumpa dengan seorang lelaki. Akhirnya, dia berjalan bersama lelaki itu.

Pemuda itu menyapa, “Hai Tuan, apakah kau bisa membawaku dan aku membawamu?”

Spontan lelaki itu menjawab, “Hai bodoh, kau ini bagaimana? Aku menunggang kuda dan kau juga menunggang kuda. Bagaimana kita bisa saling membawa?”

Pemuda itu diam saja mendengar jawaban lelaki itu.

Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan. Lalu mereka melewati sebuah kampong. Kampung itu yang dikelilingi oleh kebun yang sudah tiba masa panennya.

Pemuda itu bertanya, “Menurutmu, buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum ya?”

Seketika, lelaki itu menjawab, “pertanyaan itu aneh sekali! Kamu sendiri melihat dengan mata dan kepalamu, buah-buahan itu masih ada di pohonnya dan belum dipanen, kok kamu bertanya apakah buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum?”

Pemuda itu hanya diam dan tidak menjawab perkataan lelaki itu.

Kemudian, keduanya melanjutkan perjalanan. Baru sebentar berjalan, mereka bertemu dengan orang-orang yang sedang mengiringi jenazah.

Pemuda itu berkata, “Menurutmu, yang diiringi dalam keranda itu masih hidup atau sudah mati ya?”

Lelaki itu menjawab, “Aku semakin tidak paham denganmu. Aku tidak pernah menemukan pemuda yang lebih bodoh darimu. Ya jelas, jenazah itu akan dibawa untuk dikuburkan. Tentu dia sudah mati”

Pemuda itu kembali diam dan tidak menjawab sepatah katapun atas komentar lelaki itu. Dia mengajak pemuda itu menginap dirumahnya. Dia merasa kasihan, sebab pemuda itu terlihat sudah sangat letih.

Lelaki itu memiliki seorang anak gadis yang sangat cantik.

Begitu tahu ada seorang tamu yang menginap, anak gadisnya itu bertanya, “Ayah, siapa dia?”

“Dia itu pemuda yang paling bodoh yang pernah aku temui” jawab ayahnya

Anak gadisnya malah penasaran. Dia mengejar dengan pertanyaan berikutnya, “Bodoh bagaimana?”

Ayahnya langsung menceritakan awal pertemuannya dengan pemuda itu dan segala perkataan serta pertanyaannya.

Mendengar cerita ayahnya, anak gadis itu berkata, “Ayah ini bagaimana? Dia tidak bodoh. Justru sangat cerdas dan pandai. Kata-katanya mengandung makna tersirat. Ketika dia mengatakan, apakah kau bisa membawaku dan aku membawamu?”, sebenarnya maksudnya adalah, ‘apakah kita bisa saling berbincang-bincang sehingga bisa membawa kita pada suasana yang lebih akrab?”

Ketika dia mengatakan, ‘buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum’?’, Ia memaksudkan, ‘Apakah pemiliknya sudah menjualnya ketika sebelum dipanen atau belum?’, sebab jika telah menjualnya, pemiliknya belum tentu menerima uangnya dan membelanjakannya untuk makan dia dan keluarganya.

Kemudian, ketika ia bertanya, ‘apakah jenazah di keranda itu masih hidup atau sudah mati?’ Maksudnya, ‘apakah jenazah itu sudah memiliki anak yang bisa melanjutkan perjuangannya atau tidak?’

Setelah mendengar apa yang dikatakan putrinya, lelaki itu keluar menemui pemuda itu. Dia meminta maaf atas perkataannya yang membodoh-bodohkan pemuda itu. Keduanya lalu berbincang-bincang.

Lelaki itu berjata, “Sekarang aku baru tahu apa maksud pertanyaan-pertanyaanmu dalam perjalanan tadi”

Lalu dia menjelaskan seperti yang dikatakan putrinya.

Mendengar itu, sang pemuda bertanya, “Saya yakin itu bukan lahir dari pemikiranmu sendiri dan bukan perkataanmu, demi Allah, katakanlah padaku siapa yang mengatakannya?”

“Yang mengatakan hal itu adalah putriku” jawab lelaki itu.

Spontan pemuda itu berkata, “Apakah kau mau menikahkan aku dengan putrimu?”

“ya” jawab lelaki itu.

Begitulah, setelah melalui pengembaraan panjang, akhirnya pemuda itu menemukan pendamping hidup yang dia impikan.

Wednesday, May 4, 2011

RAHASIA SI UNTUNG

Anda pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini.

Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.

Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesan nya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa?

Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi "berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini". Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: "berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!" Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya "scientific" ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:

1. Sikap terhadap peluang.
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan? Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalam an baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.
Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: "Mr. Buffet!" Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan "hati nurani" (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari "gut feeling". Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan.

Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.

Banyak teman saya yang bertanya, "mendengarkan intuisi" itu bagaimana? Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan. Karena ini subtektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara. Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:

- Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. "Gue kok tiba2 deg-degan ya, mau dapet rejeki kali", semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.

- Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa hal lain.

- Isyarat dari luar. "Follow the omen" demikian kalau kata Paulo Coelho di buku the Alchemist. Baca "isyarat2" dari luar yang datang pada Anda. Saya juga beberapa kali mengalami. Misalnya pernah saja tiba2 di TV saya kok merasa sering melihat iklan suatu perusahaan tertentu, kemudian ketemu teman kok membicarakan perusahaan itu lagi, di jalan melihat iklan perusahaan tadi. Belakangan perusahaan tadi ternyata menjadi klien saya. Jadi kalau akhir2 ini Anda sering berpapasan dengan Mercedez S Class dua pintu, barangkali itu suatu pertanda.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka.

Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: "wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu". Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: "untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit". Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.

Sekolah Keberuntungan.

Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School. Saya yakin Anda semua sudah beruntung dan tidak perlu bersekolah di Luck School. Tapi ada baiknya mengintip sedikit, latihan2 apa yang diberikan di Luck School.
Salah satu yang menonjol dari orang sial adalah betapa mereka sering mengabaikan hal-hal yang positif di sekitar mereka. Misalnya salah satu pasien Prof Wiseman, adalah seorang wanita single parent, yang sangat sial.

Ketika diminta menceritakan hidupnya akan segera nyerocos menceritakan setiap detil kesialannya. Betapa sulitnya memperoleh pasangan, sudah ketemu pria yang cocok tapi si pria jatuh dari motor, di lain kesempatan si pria jatuh dan patah hidungnya, sudah hampir menikah, gereja nya terbakar, dan sebagainya. Pokoknya benar2 sial. Padahal, dalam setiap interview, si wanita datang membawa 2 orang anak yang sangat lucu2 dan sehat. Sebagian besar dari kita akan merasa sangat beruntung memiliki 2 anak tadi. Tapi tidak bagi si wanita sial tadi.

Karena 2 anak lucu tadi tidak ada dalam pikiran si wanita, yang otaknya sudah penuh dengan "kesialan".
Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan membuat "Luck Diary", buku harian keberuntungan. Setiap hari, wanita tadi harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi.

Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan. Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, semakin mereka akan sadari betapa mereka beruntung. Dan sesuai prinsip "law of attraction", semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk Anda.

Siap mulai menjadi si Untung?

Saturday, April 16, 2011

Puisi Kebaikan Seorang Ayah

Puisi Cinta Untuk Orang Tua ini khususnya untuk Bapak atau Ayah yang kadang kebanyakan dari kita kurang menyadari kebaikan seorang Ayah dibandingkan dengan seorang Ibu.

Puisi Untuk Orang Tua
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Papa?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil……
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja….
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama….
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?
“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”
Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa
Ketika kamu menjadi gadis dewasa….
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…
Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu…..
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya….
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia….
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa….
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik….
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik….
Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….
Papa telah menyelesaikan tugasnya….
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal…

Wednesday, April 13, 2011

Salah Paham

Pada suatu hari, adik laki-laki Yangzhu, Yangbu berpakaian putih pergi berkunjung ke temannya. Dalam perjalanan ke rumah temannya, hujan turun. Ia berlari ke rumah temannya dalam hujan dan tinggal di sana hingga hujan berhenti.

Karena pakaiannya yang basah, temannya telah menawarkan pakaian pengganti berwarna hitam. Yangbu akhirnya mengganti pakaiannya yang putih dengan hitam dan pulang ke rumah pada malam hari setelah makan di rumah temannya.

Ketika tiba di rumah, anjingnya tidak mengenal diri Yangbu yang telah berganti pakaian hitam. Ia menggonggong dengan keras.

Yangbu menjadi marah dan hendak memukulnya dengan sebatang ranting, tetapi kakaknya Yangzhu yang mendengar suara gonggongan anjing bergegas keluar rumah dan melarang adiknya, ”Jangan kau pukul anjing itu! Ini bukan salahnya. Coba pikirkan seandainya anjing itu saat keluar rumah berwarna putih dan kembali ke rumah jadi anjing hitam, bukankah anjing itu juga akan menjadi asing bagimu? Lagian, sekarang hari sudah gelap, tidak heran bila ia tidak dapat mengenali dirimu.”

Makna cerita:

Bila seseorang salah paham terhadap diri kita, maka cobalah mencari pada diri sendiri terlebih dahulu, mungkin kesalahan bersumber dari diri kita sendiri. Jangan terburu nafsu melempar kesalahan pada orang lain.

PELAJARAN DARI SEEKOR KUPU-KUPU

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu yang sudah mempunyai lubang kecil dan terlihat calon kupu-kupu yang berjuang keluar. Dia duduk dan mengamati selama beberapa jam. Calon kupu-kupu yang ada di dalam kepompong itu berhenti membuat kemajuan, kelihatannya dia telah berusahan semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantu calon kupu-kupu itu dengan mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu sehingga kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil dengan sayap-sayap yang mengkerut.

Orang tersebut terus mengamati kupu-kupu itu dengan harapan pada suatu saat sayap-sayap itu akan mekar dan melebar smampu menopang tubuhnya yang mungkin akan berkembang. Namun, seiring berjalannya waktu, semua yang diharapkan tidak pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya dengan merangkak di sekitarnya tetap dengan tubuh gembung dan sayap-sayap yang mengkerut.

Kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sehingga dapat mengembang dan dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan setelah keluar dari kepompong. Namun, kebaikan dan ketergesaan seseorang telah memusnahkan kemampuan kupu-kupu itu untuk terbang.

Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak akan menjadi sekuat yang kita mampu dan kita tidak akan pernah dapat “TERBANG”

Saturday, April 9, 2011

Trik-trik dalam menghadapi Ujian Nasional.

Untuk Adik-adik yang menghadapi Ujian Nasional (SD,SMP & SMA ) ada beberapa tips yang sekiranya dapat dipertimbangkan sebagai upaya persiapan dalam menghadapi UN 2011.

1. Hadapilah ujian dengan tenang dan proporsional * Hadapilah ujian ini dengan sikap yang tenang dan proporsional bahwa ujian sebagai sesuatu yang harus dihadapi, dilalui. Sikap tenang akan memungkinkan kita menyusun rencana menentukan strategi dan menjalaninya dengan senang.

2. Bersikaplah proaktif * Proaktif adalah suatu sikap yang beranggapan bahwa kita sendirilah yang menentukan keberhasilan dan kegagalan dalam hidup ini, termasuk dalam menghadapi UN. Yakinlah bahwa kerja keras dan usaha keras yang kita lakukan akan membuahkan hasil. Dalam menyikapi standar minimal 5,5,justru yang terbaik adalah kita sendiri membuat patokan standar nilai minimal. Misalnya, menargetkan 7,01 atau 8,01 sehingga yang muncul adalah tantangan bukan beban.

3. Buatlah rencana * Menghadapi ujian dapat diibaratkan sebagai perjalanan menuju sukses. Sebagaimana perjalanan sukses, sudah sepatutnya kita membuat perencanaan. Dari sekian banyak bahan pelajaran yang harus dipelajari dipilah-pilah antara bahan UN dari pusat dengan bahan ujian dari sekolah. Antara bahan kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga, pelajaran hitungan dan hafalan, sehingga dapat dipelajari dengan teratur dan sistematis. Model belajar semacam itu dapat meringankan dan lebih mengefektifkan cara kerja otak. Salah satu hukum otak yaitu dapat bekerja maksimal dengan cara teratur dan sistematis.

4. Perbanyaklah baca dan latihan soal * Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh lembaga bimbingan belajar adalah para siswa banyak berlatih memecahkan soal-soal dengan cepat. Kita dihadapkan pada soal-soal yang harus dijawab dan dipecahkan dengan tepat. Dengan sering kita berlatih maka kita terbiasa dan terlatih, sehingga tidak cemas atau grogi dalam menghadapi soal (ujian).

5. Belajar kelompok * Belajar kelompok merupakan salah satu cara yang dapat dipakai para siswa untuk berbagi dengan teman yang lain dalam memecahkan soal dan saling menguatkan motivasi belajar dan prestasi. Para siswa daripada banyak bermain dan membuang-buang waktu dengan percuma, manfaatkanlah dengan cara belajar berkelompok dengan teman di sekolah atau di sekitar tempat tinggal kita.

6. Efektifkan belajar di sekolah * Masih terdapat siswa yang datang ke sekolah dan hadir di kelas dengan alakadarnya atau sekadar hadir, tidak mengoptimalisasikan semua potensi dirinya untuk meraih hasil terbaik dalam daya serap materi maupun prestasinya. Padahal jika dimaksimalkan, niscaya hasilnya akan lebih bagus kalaupun tidak ditambah dengan les-les yang lain di luar jam sekolah. Pada umumnya, para siswa kurang menggunakan kemampuan nalarnya dalam belajar, baru sebatas menghafal. Siswa juga masih kurang untuk bertanya, berdialog bahkan berdebat dengan gurunya. Padahal kemampuan bertanya salah satu upaya untuk memperkuat pemahamaman atau pengertian dan keterampilan belajar.

7. Mohon doa restu dari orang tua *Yakinlah bahwa jika kita lulus maka orang tua kita akan senang dan bangga. Jadikanlah perjuangan menghadapi UN 2011 sebagai ajang untuk mempersembahkan yang terbaik kepada kedua orang tua kita tercinta. Mohon doa restulah pada orang tua agar kita diberi kemudahan dan kelancaran. Kedua orang tua kita akan dengan senang mendoakan putra-putrinya yang sedang berjuang menghadapi UN.

8. Berdoalah pada Allah *Adalah sombong yang beranggapan bahwa keberhasilan kita semata-mata usaha dan kerja keras kita sendiri tanpa keikutsertaan Sang Pencipta. Untuk itu dengan segala kerendahan diri dan hati di hadapan-Nya, kita panjatkan doa agar diberi kelulusan, kesehatan dan kemudahan dalam menghadapi ujian nanti. Allah Maha Tahu dan tentu akan mendengarkan dan mengabulkan doa hamba-hambaNYA.

Sunday, March 20, 2011

Pahlawan Itu Ada Di Sekitar Kita


Malam itu seorang ibu menunggu suaminya pulang dari kerja. Ibu itu cemas karena sampai jam setengah sepuluh malam suaminya belum juga pulang. Cemasnya bertambah ketika dentang jam dinding menunjukkan pukul sepuluh. Lambat laun kecemasannya berkurang tatkala ia mendengar suara langkah kaki mendekat kearah pintu. Disibakkan segera gorden yang menutupi kaca besar disamping pintu. Tak sabar ingin melihat suaminya pulang. Ternyata benar, suara langkah kaki itu milik suaminya. Dibukanya pintu untuk segera menyambut kepulangan suaminya.

Sesampainya di dalam rumah, suaminya mempersilahkan istrinya duduk seraya ia berkata, “Maafkan saya istriku, saya membuatmu cemas. Tadi saya harus menambah penghasilan kita untuk bersalinmu nanti. Sepulang kerja saya gunakan motor kita untuk menarik ojek di dekat kantor. Lumayan bisa nambah-nambah.” Sambil mengelus-elus perutnya yang buncit menjawab,”Saya khawatir terjadi apa-apa. Sudah jam sepuluh cuma kamu belum pulang juga. Kalau saya tiba-tiba mau melahirkan bagaimana?” Dengan penuh bijak suaminya menenangkan istrinya,”Makanya kita harus berdoa terus kepada Allah agar anak kita bisa lahir dengan selamat. Walau saya tidak ada di samping kamu, insyaallah, jika Dia berkehendak maka kamu dan anak kita akan diselamatkannya.”

Di pagi hari, istrinya mengeluh perutnya sakit. Sepertinya akan melahirkan. Dengan sigap suaminya memanggil taksi untuk membawa istrinya ke rumah bersalin terdekat. Di dalam taksi suaminya terus berdoa. “Ya Allah, jika Engkau berkehendak maka tidak ada satupun makhluk yang dapat menolak kehendak-Mu. Izinkanlah aku meminta pada-Mu Ya Robbi pencipta manusia. Istriku akan melahirkan, buatlah ia tenang dalam perjalanannya menuju rumah bersalin agar kegelisahanku berkurang. Ya Robbi, lancarkanlah persalinannya dan selamatkanlah keduanya. Ya Allah, karuniakanlah hamba anak yang sempurna dan sholeh, yang nantinya dapat membahagiakan kami di dunia dan akhirat.”

Sesampainya di rumah bersalin, dipanggilnya suster jaga untuk segera menolong istrinya yang akan melahirkan. Setelah dibawa ke dalam ruang bersalin oleh suster, suaminya menunggu di luar ruang. Harap cemas menyelimutinya. Gelisah menghampiri saat terdengar suara teriakan istrinya dari dalam ruangan. “Sepertinya proses persalinan sedang berlangsung,” pikirnya seraya ia memanjatkan doa kepada Allah agar Dia berkenan menyelamatkan istri dan anaknya. Ya, suaminya tak pernah lepas dari berdoa. Ia sangat yakin hanya kepada Allah ia memohon pertolongan.

Tak lama terdengarlah suara tangis bayi dari dalam ruang bersalin. Haru menyelimuti sang suami. Tak terasa air mata pun menetes deras. Ia bersimpuh sujud seraya berdoa mengucapkan terima kasih kepada Allah Swt, Sang Khaliq yang telah menyelamatkan anaknya. Mendadak muncul pertanyaan dalam hatinya, bagaimana dengan istrinya. Dilanjutkan sujudnya, kini ia meminta agar diselamatkan istrinya, ibu dari anaknya. Dalam sujudnya ia terkaget dengan suara derit pintu dan seorang wanita yang memanggilnya. Oh ternyata dokter yang menolong istrinya keluar dari ruang sambil berucap, “Selamat ya pak! Anak dan istri bapak selamat. Sekarang bapak bisa melihat ke dalam. Silahkan..”

Mendengar itu, ia langsung saja menerobos masuk ke dalam ruang. Dengan penuh cinta ia langsung menggendong bayinya. Lalu ia pun mengumandangkan azan dan iqomat di telinga kanan dan kiri. Saat azan dan iqomat dikumandangkan air mendadak deras mengalir keluar dari matanya. Rupanya ia tak kuasa menahan tangis haru. Selepas itu tak henti-hentinya ia bersyukur kepada Allah atas karunia dan nikmat yang Allah berikan berupa anak dan keselamatan anak-istrinya.

*****

Saudaraku,

Seringkali kita lupa akan sosok yang satu itu. Kisah di atas mungkin cukup untuk mengingatkan kembali sesungguhnya sosok pahlawan itu ada di sekitar kita. Bahkan mereka selalu bersama kita sehari-hari. Setiap pagi selalu membangunkan kita untuk sholat shubuh dan menyiapkan sarapan untuk keluarga. Tatkala kita sakit mereka yang pertama kali mengkhawatirkan keadaan kita dan membawa ke rumah sakit. Mereka tak peduli berapa biaya yang dikeluarkan agar kita sehat kembali. Di pikiran mereka, jangan sampai anak saya terlalu lama merasakan sakitnya.

Saudaraku,

Karena itu seorang ibu dengan rela, siang dan malam menjaga kita. Ia takut kalau kita memerlukan sesuatu atau hanya sekedar memberi minum. Ketika suhu badan kita meninggi ia pun panik berteriak memanggil dokter. Dalam kondisi seperti itu, seorang ayah dengan sekuat tenaga mencari penghasilan tambahan agar ia dapat membiayai pengobatan anaknya. Bahkan berbagai cara terkadang dilakukan. Jika perlu berhutang akan dilakoninya, pintasnya.

Itu hanya sebagian kecil realita dari sosok pahlawan itu. Dalam kondisi yang lain mungkin kita bisa mengingatnya kembali. Bagaimana dua orang pahlawan itu sibuk mempersiapkan berbagai hal tatkala mendengar anaknya masuk ke perguruan tinggi. Mereka tak pernah mengeluh hatta mereka tidak memiliki uang sedikit pun. Mereka selalu menutupi kondisi sebenarnya dengan baik, hanya untuk menyenangkan hati anaknya. Prinsip mereka, biarlah kami berkorban jauh dari kesenangan asalkan anak kami tidak sedih.

Cukupkah realita itu untuk mengkategorikan dua sosok, ayah dan ibu, sebagai pahlawan? Bahkan jika bisa seharusnya mereka menyandang, ’Pahlawan Sejati’ dari seluruh pahlawan yang pernah ada di negeri dan dunia ini. Karena ayah dan ibu, mereka berjuang dengan seluruh jiwa dan harta. Tak ada sejengkal dari jasadnya yang tak ia korbankan demi kebahagiaan anak tercinta. Tak ada sepeserpun uang yang mereka tak keluarkan untuk kepentingan anaknya. Bahkan yang kini kita sebut sebagai pahlawan, apakah mereka adalah Jenderal Sudirman atau Bung Tomo, mereka dilahirkan dan dibesarkan oleh dua sosok pahlawan ini.

Saudaraku,

Berbahagialah kalian yang disekitarnya masih ada dua sosok pahlawan, ayah dan ibu. Jagalah mereka dengan baik. Usahlah kita berperilaku tak baik pada mereka. Apalagi sampai kata ’ahh’ menghiasi mulut kita saat berbicara dengan mereka. Mereka lebih dari sekedar pahlawan tanpa tanda jasa. Jika perlu, apa yang mereka inginkan kita berusaha untuk memenuhinya. Melihat kita menjadi seorang sarjana adalah harapan mereka. Dan menjadi anak yang sholeh-sholehah, berbakti pada mereka, dan berguna bagi ummat adalah cita-cita mereka. Semoga kita dapat mewujudkannya!

Thursday, February 24, 2011

Bahaya Era Digital Bagi Anak



Era digital era penuh kemanjaan dan kemudahan. Anak tak lagi aktif bergerak di alam bebas. Namun lebih sering terkungkung di rumah dengan berbagai fasilitas permainan dan tontonan yang melenakan. Apakah hal ini baik untuk anak?

Anak-anak zaman sekarang hidup di era digital. Era yang serba berteknologi tinggi. Anak tak lagi bermain gobak sodor, kelereng, atau petak umpet. Mereka lebih memilih untuk berdiam saja di dalam rumah, mengakses hiburan dan merekreasikan otak dan fisiknya dengan menonton televisi, memainkan aneka game playstation, menyusuri dunia maya internet, serta mengutak-atik telepon seluler atau HP.

Anak tumbuh di era modern. Era yang bila dipandang di permukaannya saja nampak penuh gengsi dan mutu tinggi, namun bila dilongok hingga ke kedalamannya akan nampak pula segala kelemahan dan kekurangannya. Kelemahan-kelemahan yang hanya akan menyebabkan pertumbuhan anak-anak terganggu, terkontaminasi, terdorong menuju ke masa depan yang negatif dan suram.

Menurut Elly Risman, seorang psikolog asal Jakarta yang mendalami bidang parenting, anak-anak harus dipersiapkan dengan baik kala memasuki dan hidup di era digital ini. Anak-anak hendaknya tak dilepas dan dibebaskan begitu saja, karena dampak dari televisi, internet, dan juga games, sangatlah buruk bagi anak. Terutama bila kecenderungan anak untuk menikmati segala hal itu tak dibatasi dan diimbangi dengan pola pengasuhan anak yang baik dan benar.

“Berbagai media elektronik dan cetak yang diakses oleh anak banyak yang mengandung unsur pornografi,” begitu ujar ibu dari tiga putri ini di dalam seminar ”Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital” yang diselenggarakan oleh Female Radio Semarang, beberapa waktu lalu.

Pengaruh Negatif


Membicarakan mengenai games, Mark Griffiths dari Nottingham Trent University mengatakan bahwa games di abad 21 memiliki berbagai kehandalan yang gampang memicu anak untuk kecanduan. Games masa kini memiliki gambar yang sangat realistis dan membuka peluang bagi anak untuk mengembangkan imajinasinya seluas mungkin dengan jalan membiarkan para pemain memilih karakter apa saja, dalam bentuk apa saja, yang diinginkan oleh otak.

“Bila dimainkan dalam batas-batas wajar, berbagai permainan digital ini bisa digunakan untuk membantu pasien yang tengah menjalani terapi fisik, merangsang anak untuk cekatan, merangsang perkembangan bahasa bagi anak-anak dislexia,” ujar Elly Risman, Psi.

Namun bila pengonsumsiannya sudah berlebihan, hingga anak kecanduan, maka berbagai dampak negatif pun akan menghinggapi. Beberapa di antaranya adalah menyebabkan Repetitive Strain Injury (RSI) yaitu radang jari tangan dan nyeri tulang belakang karena kebanyakan duduk, pengikisan lutein pada retina mata karena terlalu lama terkena sinar biru, serta terjadinya nintendo epilepsi.

Nintendo epilepsi sendiri bisa terjadi pada anak yang tengah bermain games atau anak yang hanya sedang duduk menonton di sebelahnya. “Serangan mendadak ini biasanya ditimbulkan oleh kilatan cahaya dengan pola tertentu atau sinar merah yang kuat. Melalui retina, sinyal-sinyal abnormal ini akan dikirimkan ke otak hingga si anak akhirnya mengalami kejang.”

Selain dampak fisik, tentu saja akan ada pula dampak psikologis yang bisa dialami si anak. Konsumsi games yang tak dibatasi akan membuat anak berperilaku kompulsif, abai dan acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar karena mereka terbiasa hidup dalam dunia khayalannya sendiri, malas belajar yang akhirnya bisa membuat prestasi akademik menurun drastis.

Apakah hanya games saja yang berbahaya? Tentu saja tidak! Televisi dan internet yang dalam penciptaannya dimaksudkan untuk memberikan informasi dan hiburan, dalam kenyataannya, dalam pengaplikasiannya, malah bisa membawa banyak pengaruh negatif bagi anak. Banyaknya tayangan yang tak layak dikonsumsi anak karena adanya unsur kekerasan serta adanya situs-situs yang mengandung unsur pornografi, adalah beberapa di antara penyebab yang bisa membawa dampak negatif itu.

“Selain itu semua, ada pula komik. Dimana komik jaman sekarang banyak mengandung unsur pornografi dan juga kekerasan yang tak berperikemanusiaan,” ujar pemilik Yayasan Kita & Buah Hati ini.

Komunikasi

Lantas bagaimana sebaiknya kita bersikap sebagai orang tua? “Orang tua haruslah berbenah. Membenahi pola komunikasi dengan anak, membenahi pola pengasuhan mereka.”

Menurut Elly, pola pengasuhan anak yang selama ini dilakukan oleh banyak orang tua cenderung salah kaprah. Orang tua cenderung lebih berkonsentrasi pada perkembangan kesehatan fisik anak saja dibandingkan memperhatikan perkembangan jiwa si anak.

“Orang tua hanya berkonsentrasi pada hal-hal fisik saja. Memberikan one day school, memberikan makanan-makanan bergizi tinggi dan kelimpahan materi.”

Padahal pada kenyatannya, itu semua sangatlah kurang. Komunikasi dengan anak yang minim bahkan hampir tak ada, tentu saja membuat perkembangan jiwa si anak tak tumbuh di jalur yang benar. Pada kenyataannya, selama sehari, rata-rata para orang tua hanya berbicara dengan anaknya selama 20 menitan saja, tak lebih.

Komunikasi, adalah hal yang sangat vital dalam membantu tumbuh kembang anak. Dengan komunikasi, kita bisa mengutarakan harapan-harapan kita pada si anak, membuat prioritas bersama dengan anak mengenai hal-hal yang akan diperbaiki di depan, serta menerapkan secara bersama aturan-aturan apa yang sebaiknya diterapkan di dalam rumah.

Komunikasi adalah pondasi. Bila pondasi sudah berdiri kokoh, maka Anda tinggal melangkah ke hal-hal yang lebih prinsipil. Seperti mengawasi bacaan anak, mengenalkan anak kepada bacaan-bacaan yang lebih bermutu dibanding komik, membatasi waktu menonton televisi dan bermain games, mengatur peletakan pesawat televisi dan juga monitor komputer di tempat-tempat strategis agar bisa diawasi senantiasa, serta memblokir situs-situs porno lewat situs-situs yang sudah disediakan seperti www.familyconnect.com atau www.cyberpatrol.com.

Ada baiknya pula jika Anda mengajarkan kepada anak tentang permainan-permainan alternatif yang tak kalah menyenangkannya. Anda bisa kembali ke alam, mengajak anak berkelana di arena outbond, bermain di kubangan lumpur, bergelantungan di pepohonan pedesaan.

“Berekreasilah di arena permainan alam seperti itu. Selain anak bisa teralihkan dari segala bentuk permainan digital, kebersamaan keluarga juga bisa lebih tercipta.”

Paling penting adalah, teruslah berkomunikasi, dan teruslah pula meluangkan waktu sebanyak mungkin untuk para buah hati. Awasi perkembangan jiwa mereka, dan jalani semua dengan dibarengi doa.

“Gunakan dua telinga lebih sering dibandingkan satu mulut!”

Sunday, February 20, 2011

Komunikasi Guru dan Orang tua

Komunikasi Guru dan Orang tua


Komunikasi dengan orang tua / wali merupakan salah satu tanggung jawab terbesar bagi seorang guru. Meskipun Anda memiliki kesempatan untuk berinteraksi dan mempengaruhi kehidupan anak-anak, mereka akhirnya kembali kepada orang tua. Jika Anda gagal untuk menjaga komunikasi dengan orang tua tentang kemajuan anak mereka di sekolah, Anda akan kehilangan kesempatan yang sangat bagus untuk membuat jembatan komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan anak. Orang tua dan guru harus bekerja sama untuk memastikan anak-anak belajar secara efektif dan mendapatkan yang terbaik bagi pendidikan mereka.

Salah satu cara untuk memastikan bahwa Anda sebagai guru bisa berkomunikasi dengan orang tua secara efektif adalah dengan menggunakan formulir dan catatan yang dikirim ke rumah secara berkala untuk membiarkan orang tua tahu perkembangan anak mereka di sekolah. Contoh-contoh formulir dan catatan mungkin mencakup:
Pemberitahuan tugas yang belum selesai
Catatan tentang perbuatan baik yang dilakukan anak
Buku catatan setiap kali guru berkomunikasi dengan orang tua
Kelas newsletter
Surat untuk meminta orang tua datang dan membantu di dalam kelas
Manfaatkan pertemuan orang tua-guru. Tentu saja Anda akan memiliki informasi untuk berbagi dengan orang tua di pertemuan ini, tetapi anda harus menyadari bahwa orang tua akan memiliki pertanyaan yang ingin mereka tanyakan juga. Berikan mereka waktu untuk mengungkapkan pikiran mereka kepada Anda, dan tidak membuat mereka merasa diburu-buru karena ada janji di belakang mereka. Jika ada orang tua yang tidak bisa hadir, anda harus membuat upaya untuk bertemu dengan mereka di waktu yang lain sehingga Anda dapat memberikan perhatian penuh.
Manfaatkan kemajuan teknologi. Anda hanya membutuhkan satu menit atau kurang untuk mengirim e-mail ke orang tua dan memberitahu perkembangan anak mereka. Anda bisamengedarkan formulir permintaan alamat e-mail pada awal tahun ajaran, dan orang tua yang memilih untuk menerima pesan yang dikirim kepada mereka akan menghargai bahwa Anda benar-benar menindaklanjuti ini, setidaknya setiap bulan.
Jika sekolah Anda memiliki sebuah situs web, pastikan untuk memajang alamat situs di kelas Anda. Update situs mingguan dan biarkan orang tua tahu bagaimana menemukan kelas Anda. Ini adalah cara yang baik untuk berkomunikasi dengan orang tua, dan tidak perlu berbicara langsung kepada mereka sepanjang waktu. Mereka akan tetap mengikuti hal-hal baru yang terjadi, dan Anda akan memiliki kepuasan yang luar biasa.
Kadang-kadang orang tua enggan menghubungi guru karena mereka merasa terlalu sibuk. Anda perlu mengambil inisiatif. Mungkin Anda dapat mengatur orang tua untuk berkunjung ke sekolah selama sehari. Biarkan orang tua melihat anak mereka di kelas dan apa yang diajarkan kepada mereka.
Kunci untuk berkomunikasi secara efektif dengan orang tua adalah:
Lakukanlah sesering mungkin. Jangan biarkan bulan berlalu tanpa kabar dari Anda apa yang terjadi di kelas dan bagaimana anak mereka bermasalah.
Bersikaplah jujur. Panggillah orang tua ketika anak mereka memiliki perilaku atau kesulitan belajar di kelas.
Tetap teratur. Ingatlah bahwa ketika Anda berbicara dengan orang tua tentang anak mereka, mereka benar-benar hanya tertarik pada anak mereka, tidak seluruh kelas. Orang tua akan menjadi tidak sabar jika mereka harus menunggu Anda untuk mencari catatan tentang anak mereka di bawah tumpukan kertas lainnya. Berikan kesan bahwa Anda tertarik pada anak mereka.

Wednesday, February 9, 2011

JADWAL UJIAN NASIONAL 2011

Berikut adalah jadwal pelaksanaan UN 2011 Ujian Nasional SD SMP SMA dan setingkatnya, yang akan disosialisasikan:

Jadwal Ujian Nasional UN 2011 Jenjang Sekolah Menengah Atas

* UN untuk SMA/MK, SMALB, dan SMK: 18-21 April 2011
* UN Susulan SMA/MK, SMALB, dan SMK: 25-28 April 2011
* Pengumuman kelulusan paling lambat 16 Mei 2011
* Ujian Praktik Kejuruan untuk SMK: Paling lambat satu bulan sebelum pelaksanaan UN. Pengumuman kelulusan paling lambat 5 Juni 2011

Jadwal UN 2011 Ujian Nasional Jenjang Sekolah Menengah Pertama

* UN untuk SMP/MTs dan SMPLB: 25-28 April 2011
* UN Susulan SMP/MTs dan SMPLB: 3-6 Mei 2011

Jadwal Ujian Nasional UN 2011 Jenjang Sekolah Dasar

* UN untuk SD/MI dan SDLB: 10-12 Mei 2011
* UN Susulan SD/MI dan SDLB: 18-20 Mei 2011
* Pengumuman kelulusan paling lambat minggu ketiga bulan Juni 2011

kompas.com