Friday, October 5, 2012

Pesimis atau Kecewa ?


Anak juga perlu belajar kecewa. Percaya?
Yup, belajar kecewa atau belajar mengalami rasa kecewa merupakan salah satu life skill yang dibutuhkan anak-anak dalam menghadapi kehidupannya kelak. Tidak selamanya kita sebagai orang tua selalu bisa mendampinginya kan?
Dengan memberikan anak kesempatan untuk belajar mengalami rasa kecewa, anak secara tidak langsung juga jadi belajar bagaimana menghadapinya. Ada banyak paket yang didapat dari belajar kecewa ini. Anak jadi belajar coping, problem solving, hingga moving. So, kebayang yaa, kalo sampai orang tua malah tidak memberikan kesempatan ini?
Suatu saat mereka akan hidup di alamnya sendiri dengan daya juangnya sendiri, dengan segala macam ragam kehidupan, mulai susah sampai senang, gampang sampai ruwet. Soo, bukan tidak mungkin mereka juga suatu saat akan menghadapi kekecewaan. Entah itu yang biasa-biasa aja, maupun yang dahsyat cobaannya. Sooo, mereka perlu sekali belajar menghadapinya "face it!!"
Anak yang sedari kecil sudah belajar kecewa, tidak akan gampang pundung ketika menghadapi hal-hal yang tidak berkenan di hatinya, ketika menghadapi berbagai cobaan dan musibah dalam hidupnya, ketika menghadapi berbagai kegagalan dalam menggapai cita-citanya, karena mereka sudah terbiasa menghadapi berbagai kekecewaan kecil dan sudah belajar cara menghadapinya sedikit-dikit.
Apa sih maksudnya dengan belajar kecewa?
Naaah coba deh inget-inget, pernah ga anak minta sesuatu dan tidak dikabulkan?
Sebenarnya pada saat itu kita sudah memberikan sebagian pembelajaran kecewa padanya
Inget juga anak-anak suka minta-minta sesuatu, kadang pakai mewek, merajuk, menangis, ngambek, bahkan temperamen?
Lantas, apa yang kita lakukan? Membiarkan? Mendiamkan? atau Mengabulkan?
Menghadapi tangisan anak memang sangatlah tidak mudah, diperlukan keteguhan mental, harus kuat dianggap tega sama anak, harus kuat dianggap tidak sayang anak, harus kuat dianggap tidak perduli anak, harus kuat dianggap tidak memperhatikan anak, dan harus kuat membiarkaan anak menangis, di satu sisi ga tega, tapi di sisi lain pengen mendidik.
Mengabulkan keinginan anak hanya karena dia temperamen, menangis berguling-guling, menghentakkan kaki, atau mengancam hal yang macam-macam hanya akan membuat anak belajar bahwa orang tuanya bisa diperdaya dengan tangisan, ancaman, amukan, temperamen, dsb.
Semakin sering dikabulkan, semakin anak belajar bahwa "ancaman"nya itu berhasil meluluhkan hati orang tuanya dan akan digunakan selanjutnya untuk mendapatkan keinginannya yang lain!!
Sesekali orang tua boleh kok tidak mengabulkan apa yang dimaui anak, selagi dipandang perlu untuk dicegah dan tidak dikabulkan, terutama jika menyangkut keselamatan anak. Asaaaall, jelaskan pada mereka, alasan utama kita tidak mengabulkan mereka sesuatu hal, dengan jujur!! Bukan alasan yang dibuat-buat apalagi tidak jujur. Walaupun nantinya mereka mungkin akan kecewa keinginannya tidak terpenuhi, tapi di satu sisi, hal ini akan memberikan pembelajaran cukup penting bagi hidupnya, "belajar kecewa!"
Biarkan mereka belajar menghadapi kekecewaan, bantu mereka menghadapi, fasilitasi, sediakan bahu jika perlu, jauhkan dari hal2 yang membahayakan, tapi tetap jangan terpengaruh ya untuk mengabulkan permintaannya ^____^
Soo, kalo sesekali anak minta tas dan tidak dibelikan, boleh donk?
Sesekali minta dibeliin permen/coklat/es tidak dikabulkan, boleh kan?
sesekali minta jalan-jalan dan tidak dikabulkan, boleh donk?
sesekali minta jajan tidak dikabulkan, boleh juga kan?
Mereka perlu belajar, bahwa kelak, tidak semua yang diinginkan bisa didapatkan.
Begitulah salah satu cara kita membekali hidupnya.

No comments: