Sunday, October 31, 2010

Waswas (Lagi) Hadapi Ujian Nasional

Syarat kelulusan Ujian Nasional SMP, SMA, SMK bertambah berat. Mata pelajaran yang diujikan juga bertambah. UASBN akhirnya digelar juga. Kecemasan itu ada baiknya.

Jumlah peserta ujian nasional SMP/MTs/SMPLB sebanyak 3.567.472, dan siswa SMA/MA/SMK sebanyak 2.260.148. Siswa SD/MI/SDLB yang tahun 2008 baru mengikuti UASBN tercatat sebanyak 4.599.217 siswa. Orangtua dan sekolah bisa sedikit bernafas lega karena ujian nasional tidak perlu merogoh kocek wali siswa. Pemerintah mendanai semua proses pelaksanaan ujian nasional.

”Total dana yang dikeluarkan pemerintah untuk pelaksanaan UN dan UASBN sebesar Rp 572.850.000.000,” kata Prof. Dr. Mansyur Ramly, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Depdiknas. Dana tersebut termasuk biaya untuk ujian nasional pendidikan kesetaraan, biaya operasional tim pemantau independen dan biaya sosialisasi UN dan UASBN.

Persiapan siswa menghadapi ujian nasional tahun ini dituntut lebih ekstra keras. Pasalnya, mulai tahun ini, standar nilai rata-rata kelulusan dinaikkan dari dari 5,00 (tahun 2007) lalu menjadi 5,25. “Tidak ada nilai di bawah 4,25 atau boleh memiliki nilai minimal 4,00 pada salah satu mata pelajaran namun nilai mata pelajaran lainnya minimal 6,00. Khusus untuk SMK, nilai mata pelajaran kompetensi keahlian kejuruan minimal harus 7,00,” kata Prof. Djemari Mardapi, Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Depdiknas, pada jumpa pers Selasa (8/4) lalu.

Beban ujian tahun yang akan datang juga bertambah berat. Mata pelajaran yang diujikan untuk jenjang SMA/MA program IPA meliputi Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika, dan Biologi. Untuk SMA program IPS, ujian meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi. Siswa program Bahasa mengikuti ujian Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Sastra Indonesia, Bahasa Asing, dan Antropologi, sedangkan Program Keagamaan meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, Matematika, dan Tasawuf/Ilmu Kalam.

Pada jenjang SMK mata pelajaran yang diujikan meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika. Sedangkan siswa SMP harus mampu mengerjakan soal-soal Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Pro-kontra UASBN

Ujian nasional format anyar dialami siswa SD/MI/SDLB. Tahun ini siswa SD dan setara mengikuti ujian Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA. Berbeda dengan pola ujian nasional buat siswa SMP dan SMA, ujian untuk siswa SD, soal-soalnya sebagian besar disusun daerah masing-masing. Perbandingan soal dari pusat dan provinsi rasionya 25%: 75%.

Berbeda halnya dengan ujian nasional SMP, SMA, dan SMK yang seluruhnya disusun penyelenggara dari pusat. ”Penyusunan soal-soal UN dasarnya adalah standar kompetensi lulusan. Materinya merupakan irisan dari kurikulum 1994, 2004, dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),” kata Djemari.

Berkaitan dengan UASBN SD yang sempat menjadi pro kontra beberapa waktu yang lalu, menurut Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Kapuspendik) Dr. Burhanuddin Tolla, M.A, masyarakat tidak perlu terlalu khawatir dengan UASBN untuk siswa SD.

“Kita tidak perlu ragu lagi melaksanakan ujian nasional ini, karena satu-satunya cara untuk meningkatkan mutu adalah dengan melakukan evaluasi yang melalui UN dan UASBN ini. Hasil assessment kami di lapangan, justru dengan adanya UN ini para guru mengajarnya lebih baik. Manajemen kepala sekolah pun semakin meningkat,” kata Burhanuddin Tolla.

Burhanudin Tolla sangat berharap dengan adanya UASBN ini bangsa Indonesia akan selangkah lebih maju dan tidak kalah dengan negara–negara lain. Ada sejumlah “keringanan” bagi siswa SD dalam menempuh UASBN. Di antaranya, jenis soal UASBN menggunakan pola pilihan ganda (multiple choice). Peserta UASBN juga dibolehkan mengikuti ujian susulan, bagi siswa yang dinyatakan sakit oleh dokter, atau mereka yang mengikuti even mewakili Indonesia di ajang dunia seperti olimpiade.

Djemari Mardapi juga menambahkan, ada efek psikologis dari orangtua siswa SD dalam menyiapkan anak-anak mereka. “Kami lihat sisi positifnya saja, para orangtua kian serius memperhatikan anaknya. Siswa juga semakin belajar lebih keras dalam menghadapi ujian. Kecemasan itu ada baiknya juga,” ujar Djemari santai.

Kelulusan siswa SD mutlak diserahkan pada sekolah. “Kriteria kelulusan UASBN ditetapkan oleh setiap sekolah/madrasah yang peserta didiknya mengikuti UASBN. Kriteria kelulusan UASBN itu ditetapkan melalui rapat dewan guru dengan mempertimbangkan nilai minimum setiap mata pelajaran yang diajukan dan nilai rata-rata ketiga mata pelajaran,” kata Djemari.

Perketat Pengawasan


Di setiap provinsi, rektor salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di provinsi tempat pelaksanaan ujian nasional, diangkat sebagai penanggung jawab TPI Provinsi, didukung unsur PTN dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), Kopertis, dan Kopertais. “Anggota TPI adalah para dosen, dan asosiasi profesi pendidikan bukan guru. Untuk daerah terpencil dan sulit dijangkau, mahasiswa diperbolehkan menjadi anggota TPI,” ujar Djemari Merdapi merinci.

Pada tingkat provinsi, dibentuk dua Pemantau A dan Pemantau B. Pemantau A mengawasi kegiatan yang meliputi penggandaan naskah dan bahan pendukung UN, distribusi ke penyelenggara UN di tingkat kabupaten/kota, pengumpulan, proses scanning dan pengiriman hasil scanning lembar jawaban UN (LJUN) sedangkan Pemantau B mengkoordinasi pemantauan kegiatan UN di kabupaten/kota yang terdapat di provinsi tersebut.

Pada tingkat kabupaten/kota dibentuk pemantau C dan pemantau D. Pemantau C mengawasi kegiatan penyelenggaraan UN di tingkat kab/kota yang meliputi penerimaan bahan UN dari penyelenggara UN tingkat provinsi, penyimpanan naskah UN di kab/kota dan distribusi ke sekolah, sedangkan pemantau D mengkoordinasi pemantauan di sejumlah sekolah, meneliti kesesuaian sekolah penyelenggara UN, meneliti calon pengawas yang ditugaskan di sejumlah sekolah.

Wednesday, October 20, 2010

Sekolah Jadi Penjara Bagi Anak



"Sistem pendidikan kita memperlakukan anak seperti robot. Anak ke sekolah harus membawa koper berisi begitu banyak buku, sampai di rumah masih harus mengerjakan PR. Habis itu terus teler,"
Padahal, katanya, bermain merupakan salah satu unsur penting dalam tumbuh kembang fisik, intelektual, dan mental anak.

Sistem pendidikan yang kaku dan mengekang seperti itu, menganggap otak anak-anak kosong, sehingga harus dijejali dengan berbagai hafalan materi pelajaran.

Karena sekolah sudah seperti penjara bagi peserta didik, maka ketika guru mengumumkan siswa bisa pulang lebih awal karena guru akan rapat, reaksi spontan siswa adalah kegirangan.

"Mereka bergembira karena bisa lepas sejenak dari penjara," karena beban di sekolah berat, tidak mengherankan bila sebagian anak pada saat ini ada yang mengidap fobia sekolah (school phobia), yang manifestasinya bisa bermacam, misalnya merasa sakit, tidak enak badan, dan lainnya.Beban berat tersebut tidak hanya dialami siswa di Indonesia, tetapi dihadapi siswa bangsa-bangsa lain yang ingin mengejar kemajuan, terutama bangsa-bangsa di Asia, seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, Taiwan, dan lainnya.

"Mereka stres menghadapi situasi sekolah dan lingkungan yang begitu menekan, sehingga ada yang nekat bunuh diri. Padahal semua anak ingin bersekolah dalam situasi gembira. Kurikulum pendidikan dasar di Indonesia terlalu padat, sehingga kurang memberi ruang ekpresi dan kreativitas bagi peserta didik. Padahal, pendidikan nasional bertujuan mengembangkan segenap potensi peserta didik, bukan ingin menciptakan robot atau bebek-bebek (penurut, red).

Menurut dia, kreativitas dengan kedisiplinan seseorang bisa berjalan beriring karena itu keliru bila kebebasan dan kreativitas identik dengan ketidakdispilinan.

"Kecerdasan intelektual (IQ) bukan segala-galanya. Masih ada banyak kecerdasan yang bisa dikembangkan untuk tumbuh kembang anak," katanya.

Ilustrasi lima tokoh nasional yang memiliki prestasi istimewa di bidangnya masing-masing. B.J. Habibie yang ahli pesawat terbang, Rudy Hartono (juara tujuh kali berturut-turut All England), Rudy Salam (aktor), Rudi Hadisuwarno (tata rias), dan Rudy Choirudin (kuliner).

"Jadi, spektrum kecerdasan itu sangat luas. Rudi Hadisuwarno ketika kecil hobi menggunting-gunting kertas, lantas belakangan mahir gunting rambut," Kepala Biro Kerja Sama dan Pemasyarakatan Iptek Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Neni Sintawardani, mengemukakan Finlandia merupakan negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia.

Padahal, katanya, di negara itu siswa hanya menempuh belajar di sekolah 30 jam per minggu, sedangkan di Korsel 50 jam dan siswa Indonesia menghabiskan waktu di sekolah jauh lebih banyak dibanding murid Finlandia.

"Finlandia bisa sukses karena guru-gurunya berkualitas. Yang menjadi guru adalah lulusan terbaik SMA. Gaji mereka tidak fantastis, tapi profesi mereka sangat dihargai," kata Neni.Kunci sukses lain Finlandia, katanya, guru di negeri itu tidak pernah mengritik siswa yang gagal, tetapi terus mendorong siswa bisa bekerja independen. "Kegagalan siswa juga menjadikan guru introspeksi. Apa yang salah dengan sistem pembelajaran," katanya.

Apa yang dimaksud pendidikan yang membebaskan? Membebaskan anak untuk berkreasi, mengekspresikan perasaannya, dan sebagainya. Intinya tidak membebani anak dan tidak menjadikan sekolah itu seperti penjara. Ketika anak mendengar “hari ini boleh pulang, kerena ibu guru mau rapat,” mereka bilang “horeee, bebas!” Ini karena sekolah kita laksana penjara. Seharusnya sekolah itu membebaskan ide-ide kreatif
mereka.
Sistem pendidikan kita sudah membebaskan? Belum! Kesadaran bahwa pendidikan itu untuk anak, belajar itu hak bukan kewajiban, itu masih minim. Sekarang anak-anak
lebih banyak diperlakukan seperti robot; harus nurut, anak untuk kurikulum, sarat kekerasan, dan kadang sekedar mengejar nilai bukan proses. Ini sangat merugikan bagi pengembangan kreativitas dan kemandirian anak.

Pendidikan yang membebaskan itu seperti apa? Seperti home schooling, sekolah alternatif, juga sekolah alam yang memungkinkan anak belajar dengan cara masing-masing. Kalau ada delapan standar pendidikan nasional yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), maka yang harus diikuti hanya tiga; yaitu standar isi kurikulum, standar kompetensi lulusan dan standar evaluasi. Sedangkan standar proses, standar guru, standar biaya, standar sarana prasarana, itu bebas.

Saturday, October 9, 2010

Komunikasi orang tua Anak



Ketika menghadapi lawan bicara yang bermasalah, kita perlu untuk break sebentar dan bertanya pada diri sendiri “Masalah siapakah ini ?“

Kita tidak mungkin menjadi Super Problem Solver, semua kita coba untuk kita tangani sendiri sehingga akhirnya anak tidak belajar untuk mandiri. Anak tidak bisa menalikan sepatunya, ibu yang akan membantu. Anak bertengkar dengan temannya, ibu akan segera mendatangi anak itu bahkan mungkin orangtuanya untuk menyelesaikan masalah. Anak tidak bisa masuk ke sekolah favorit, orang tua akan menggunakan segala cara agar si anak dapat memasuki sekolah tersebut. Begitu terus, orang tua yang menyelesaikan semua permasalahan anak.

Bagaimana anak bisa mandiri jika selalu orang tua yang turun tangan? Bahkan dia akan mempelajari bahwa walaupun itu masalah orang lain, dia bisa ikut campur mengurusi.

Kita seharusnya mengajari anak untuk bertanggung jawab dan menyelesaikan masalahnya sendiri serta tidak ikut campur dengan urusan orang lain. Selanjutnya anak akan belajar mandiri. Ada empat pertanyaan yang harus kita tanyakan kepada diri sendiri untuk dapat menentukan masalah siapakah ini.

1. Apakah tingkah laku anak mengganggu hak (kita) pribadi sebagai manusia?
2. Apakah tingkah laku anak mengganggu keselamatan dirinya atau orang lain?
3. Apakah tingkah laku anak mengganggu keselamatan harta benda kita?
4. Apakah anak tidak mampu menyelesaikan masalahnya karena usianya yang masih kecil?

Jika dari semua pertanyaan tersebut jawabannya adalah YA, maka itu berarti masalah tersebut adalah masalah orang tua solusinya adalah PESAN SAYA. Jika jawabannya adalah TIDAK, maka merupakan masalah anak dan solusinya adalah MENDENGAR AKTIF.

PESAN SAYA

Dalam berbicara dengan anak, seringkali kita menggunakan bahasa kamu, padahal dengan cara ini justru tidak menyampaikan akibat yang ditimbulkan oleh perilaku anak dan berpusat pada kesalahan anak serta cenderung tidak membedakan antara anak sebagai pribadi dan perilakunya. Hal ini akan membuat anak merasa direndahkan, disudutkan dan disalahkan dan akibatnya anak akan mudah merasa dendam/benci.

Jika menggunakan PESAN SAYA maka lebih menekankan perasaan orang tua sebagai akibat dari perilaku anak, jadi anak akan mengerti bahwa perilakunya mempunyai akibat kepada orang lain. Dengan PESAN SAYA, anak akan merasa nyaman tetapi sadar akan akibat perilakunya tersebut.

Contoh situasi:

Ibu masuk ke kamar anak dan melihat kamar sangat berantakan, buku berserakan, mainan bertebaran, pakaian bergantungan dimana-mana. Si anak sendiri sedang asyik membaca komik di tempat tidur tanpa terganggu dengan keadaan kamar

Pesan Kamu : “Ya ampun, Kakak….kok malah asyik baca sih… Coba lihat kamarmu berantakan gini, sudah dibilang berkali-kali…kamar itu mesti rapi. Kamu kok ga dengerin Ibu sih…”

Pesan Saya : “ Kakak…Ibu tuh merasa kesal kalau melihat kamarmu berantakan begini karena jadi kelihatan sumpek, kotor dan terutama lagi bisa jadi sarang nyamuk”

Coba perhatikan beda antara Pesan Kamu dan Pesan Saya.

Pertama kali tentukan dulu masalah siapa ini dengan menjawab 4 pertanyaan di atas, untuk kasus di atas, saya yakin semua setuju bahwa kondisi itu merupakan masalah orang tua. Jadi clue kalimat dalam pesan saya adalah: Ibu merasa ……....kalau kamu…….…..karena…….….

Atau kalimat lain yang sejenis, yang jelas poin kalimatnya adalah penekanan perasaan orang tua terhadap kondisi yang terjadi dan jangan lupa jelaskan alasannya kenapa. Karena saya yakin anak sekarang tidak mudah menerima pendapat orang tua jika tidak disertai alasan yang logis. Ingat juga bahwa dalam menyampaikan Pesan Saya tersebut kita melandasinya dengan perasaan kasih, tegas dan tidak merusak harga diri dan perasaan anak.

Waktu pelatihan tersebut Ibu Rani memberi contoh kejadian yang dialaminya dengan anak bungsunya. Waktu itu si Bungsu pulang terlambat dari sekolah tanpa pemberitahuan. Sejam pertama Bu Rani merasa masih bisa terima karena mungkin saja terlambat akibat macet Dua jam terlambat mulai merasa khawatir karena takut terjadi apa-apa. Tiga jam-empat jam berikutnya berubah jadi jengkel dan selanjutnya marah. Sambil menunggu di depan pintu dengan kemarahan yang memuncak, Bu Rani berusaha menghapus kemarahannya dengan membayangkan betapa sangat sayangnya beliau kepada si anak. Dia mengingat-ingat hal yang indah-indah dari si anak sehingga ketika sang anak muncul di depan pintu Ibu Rani langsung memeluk si anak dan mengucapkan:

“Aduh sayang…ibu khawatir dan takut sekali kalau kamu pulang terlambat tanpa pemberitahuan begini karena mungkin saja terjadi apa-apa sama kamu sedangkan ibu tidak bisa menghubungi siapa-siapa. Lain kali jangan lupa untuk memberitahu Ibu ya”.

Ibu Rani selalu memberi contoh kejadian nyata antara si bungsu dengan dirinya karena dulu beliau sengaja terjun ke bidang parenting ini karena ingin membesarkan si bungsu dengan cara yang benar. Hasilnya adalah si bungsu yang saat ini sudah SMP menjadi anak dengan rasa empati yang tinggi dan selalu berkomunikasi dengan kedua orang tuanya sehingga diharapkan dengan kondisi pergaulan yang seperti sekarang ini si anak dapat menjadi pribadi yang tangguh dan peka.

MENDENGAR AKTIF

Jika dalam penentuan masalah, jawaban dari empat pertanyaan di atas adalah tidak maka merupakan masalah anak sehingga ada dua kemungkinan yang dapat dilakukan yaitu membantu (sejauh mana?) dan membiarkan si anak mengatasinya sendiri. Nah, dalam menanggapi anak inilah kita melakukan MENDENGAR AKTIF artinya berusaha mendengar tidak hanya dengan telinga tapi juga dengan mata dan hati. Dengan demikian yang kita lakukan adalah pemahaman empatik, memahami dari sudut pandang anak bukan dari yang kita lihat atau kita pikirkan.

Mendengar aktif akan sangat tepat digunakan jika:

* Anak sedang bermasalah dan menunjukkan emosi yang kuat (marah, sedih, menangis)
* Emosi anak tidak cukup kuat, namun bisa kita rasakan perasaannya sedang tidak nyaman
* Kita ingin menolak permintaan anak
* Ketika kita tidak menerima “ejekan atau cap” yang diberikan anak ( misalnya:”aku benci sama Mama..”)

Dengan mendengar aktif, kita membantu anak untuk mengenali, menerima, mengerti dan sadar akan perasaannya sendiri. Selain itu dapat membantu mereka mengatasi perasaann dan masalahnya, sehingga mereka dapat mengekspresikan perasaannya secara tepat dan dapat diterima. Pada akhirnya mereka pun akan belajar untuk peduli dan memahami orang lain.
Pada saat kita melakukan Mendengar Aktif, kita sebagai orang tua harus mampu menghargai perasaan dan apa yang diucapkan anak, terbuka terhadap makna dibelakang kata dan bahasa tubuhnya dan mau mengerti dan memahami apa yang dialami anak.

Hal yang paling utama adalah perhatian penuh kepada anak, artinya jangan sambil melakukan pekerjaan lain dan lakukan kontak mata. Carikan kata yang paling menggambarkan perasaan anak, dengan rumus: Kamu …………… (perasaan) karena …………(alasan).

Satu hal lagi, jangan menggunakan 12 gaya populer.

Contoh kasus misalnya dari dialog yang saya contohkan di tulisan pertama.

I. Mendengar Biasa

Menggunakan 12 gaya popular terutama mengkritik,menasehati, memberi peringatan/ mengancam

Anak : “Aku benci sama Ibu Guru”

Ibu : “Eh, kok ngomongnya gitu sih. kamu harus hormat pada gurumu”.

Anak : “Ibu Guru bikin aku malu. Masak aku dimarahin di depan teman-teman..”

Ibu : “Bu Guru marah pasti karena kamu berbuat salah, ya kan?”

Anak : “Aku kan cuma mau pinjam selembar kertas.”

Ibu : “Kamu tidak membawa kertas? Itulah hukumannya kalau kamu tidak mempersiapkan peralatan sekolah di malam hari. Berapa kali Ibu harus mengingatkanmu untuk selalu menyiapkan peralatan sekolahmu sebelum berangkat? Kalau saja kamu turuti kata-kata Ibu pasti hal itu ga akan terjadi.”

Anak : “Ah, Ibu cerewet..”

Ibu : “Jangan bicara seperti itu pada Ibumu..!”

Anak : “Iya,iya aku yang salah, aku teruus yang salah, ibu yang benar. Ah..Ibu ga pernah ngerti perasaanku.”





II. Mendengar Aktif

Menerima dan merefleksikan perasaan dan harapan anak

Anak : “Aku benci sama Ibu Guru”

Ibu : “Kamu kedengarannya sedang kesal ya?”

Anak : “Bu Guru marah-marah di depan temanku dan ga jelas alasan marahnya”.

Ibu : “Waaah, kamu pasti malu dan kesal ya”.

Anak : “Bu Guru marah karena aku lupa bawa kertas.”

Ibu : ”Oooo, begitu.. Terus gimana?”

Anak : “Ya..kadang-kadang aku memang lupa bawa perlengkapan sekolah.”

Ibu : “Dan sebenarnya kamu ga ingin lupa kan?”

Anak : “Ya, Bu. Makanya mulai besok, aku akan mempersiapkan dulu semua peralatan sekolah di malam hari. Jadi ga akan ketinggalan lagi”

Ibu : “Kelihatannya kamu sudah menemukan jawaban untuk masalahmu itu.”

Anak : “Ya, Bu. Terimakasih ya.”

Bagaimana menurut Anda setelah membaca contoh di atas?

Dengan menggunakan 12 gaya popular, perasaan anak tidak diakui dan membuat anak untuk berhenti menceritakan apa yang dialaminya, karena tanggapan orang tua selalu menidakkan perasaan yang dialaminya. Anak akan merasa daripada disalahkan terus oleh orang tua lebih baik baginya untuk tidak bercerita. Dan mandeglah komunikasi orang tua dan anak.

Dengan mendengar aktif maka, perasaan anak diakui dan orang tua dapat mengarahkan dengan benar apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa ikut serta memutuskan, orang tua juga dapat mengarahkan anak untuk memutuskan sendiri langkah apa yang harus diambil untuk mengatasi masalahnya.

Sebagai latihan Anda dapat memecahkan masalah yang ada dalam contoh 12 gaya popular untuk diselesaikan apakah melalui PESAN SAYA atau MENDENGAR AKTIF.

Selanjutnya praktek yang paling nyata adalah bagaimana Anda melakukan komunikasi aktif dengan orang-orang yang Anda sayangi dengan menggunakan teori di atas. Saya sendiri pun masih dalam tahap belajar, seringkali apa yang saya lakukan masih kembali lagi menggunakan 12 gaya popular (bagaimanapun reflek yang sudah seumur hidup nempel ya gaya itu). Namun dengan membaca kembali modul seperti yang saya lakukan sekarang, membuat saya teringat lagi untuk melakukan yang lebih baik. Bukankah kita ingin membangun generasi mendatang yang jauh lebih baik? Tidak usah terlalu jauh, cukuplah dimulai dari lingkungan terdekat.

Jika Anda tanya apa yang saya dapat dengan metode di atas diterapkan di sekolah dan di rumah ? Anak-anak saya menjadi mudah untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan dan terutama sekali adalah si sulung yang sangat pandai berempati (bahkan guru-gurunya mengatakan bahwa si sulung sangat mudah diajak berkomunikasi dan sangat mengerti terhadap orang lain, baik itu guru maupun teman sebaya). Anak kedua pun menjadi mudah berbicara padahal sebelumnya dia seringkali tantrum sampai saya kewalahan mengatasinya.
Semoga bisa bermanfaat…

Wednesday, October 6, 2010

KISAH BESI DAN AIR

Ada dua benda yang bersahabat karib yaitu besi dan air. Besi seringkali berbangga akan dirinya sendiri. Ia sering menyombong kepada sahabatnya :
"Lihat ini aku, kuat dan keras. Aku tidak seperti kamu yang lemah dan lunak" Air hanya diam saja mendengar tingkah sahabatnya.

Suatu hari besi menantang air berlomba untuk menembus suatu gua dan mengatasi segala rintangan yang ada di sana . Aturannya : "Barang siapa dapat melewati gua itu dengan selamat tanpa terluka maka ia dinyatakan menang" Besi dan air pun mulai berlomba : Rintangan pertama mereka ialah mereka harus melalui penjaga gua itu yaitu batu-batu yang keras dan tajam. Besi mulai menunjukkan kekuatannya, Ia menabrakkan dirinya ke batu-batuan itu.Tetapi karena kekerasannya batu-batuan itu mulai runtuh menyerangnya dan besipun banyak terluka di sana sini karena melawan batu-batuan itu.

Air melakukan tugasnya ia menetes sedikit demi sedikit untuk melawan bebatuan itu, ia lembut mengikis bebatuan itu sehingga bebatuan lainnya tidak terganggu dan tidak menyadarinya, ia hanya melubangi seperlunya saja untuk lewat tetapi tidak merusak lainnya.

Score air dan besi 1 : 0 untuk rintangan ini. Rintangan kedua mereka ialah mereka harus melalui berbagai celah sempit untuk tiba di dasar gua. Besi merasakan kekuatannya, ia mengubah dirinya menjadi mata bor yang kuat dan ia mulai berputar untuk menembus celah-celah itu. Tetapi celah-celah itu ternyata cukup sulit untuk ditembus, semakin keras ia berputar memang celah itu semakin hancur tetapi iapun juga semakin terluka.

Air dengan santainya merubah dirinya mengikuti bentuk celah-celah itu. Ia mengalir santai dan karena bentuknya yang bisa berubah ia bisa dengan leluasa tanpa terluka mengalir melalui celah-celah itu dan tiba dengan cepat didasar gua. Score air dan besi 2 : 0

Rintangan ketiga ialah mereka harus dapat melewati suatu lembah dan tiba di luar gua besi kesulitan mengatasi rintangan ini, ia tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya ia berkata kepada air : "Score kita 2 : 0, aku akan mengakui kehebatanmu jika engkau dapat melalui rintangan terakhir ini !"

Airpun segera menggenang sebenarnya ia pun kesulitan mengatasi rintangan ini,tetapi kemudian ia membiarkan sang matahari membantunya untuk menguap.
Ia terbang dengan ringan menjadi awan, kemudian ia meminta bantuan angin untuk meniupnya kesebarang dan mengembunkannya. Maka air turun sebagai hujan. Air menang telak atas besi dengan score 3 : 0.

Jadikanlah hidupmu seperti air. Ia dapat memperoleh sesuatu dengan kelembutannya tanpa merusak dan mengacaukan karena dengan sedikit demi sedikit ia bergerak tetapi ia dapat menembus bebatuan yang keras. Ingat hati seseorang hanya dapat dibuka dengan kelembutan dan kasih bukan dengan paksaan dan kekerasan.
Kekerasan hanya menimbulkan dendam dan paksaan hanya menimbulkan keinginan untuk membela diri.

Air selalu merubah bentuknya sesuai dengan lingkungannya, ia flexibel dan tidak kaku karena itu ia dapat diterima oleh lingkungannya dan tidak ada yang bertentangan dengan dia. Air tidak putus asa, Ia tetap mengalir meskipun melalui celah terkecil sekalipun. Ia tidak putus asa. Dan sekalipun air mengalami suatu kemustahilan untuk mengatasi masalahnya, padanya masih dikaruniakan kemampuan untuk merubah diri menjadi uap.