Monday, April 25, 2016

Fase-Fase Perkembangan


Fase perkembangan yaitu penahapan atau periodesasi rentang kehidupan manusia yang ditandai oleh ciri-ciri atau pola-pola tingkah laku tertentu.
Meskipun masing-masing anak mempunyai masa perkembangan yang berlainan, namun secara umum ternyata terdapat tanda-tanda perkembangan yang hampir sama. Atas dasar itulah kesamaan-kesamaan dalam suatu periode ini maka para ahli mengadakan fase-fase perkembangan anak. Dengan adanya pembagian fase-fase ini tidak berarti bahwa antara fase yang satu terpisah dengan yang lain namun ini hanya sekedar memudahkan pemahaman dan pembahasan mengenai perkembangan anak.

Secara garis besar terdapat tiga dasar pembagian fase-fase perkembangan, namun dalam ini akan dijelaskan empat dasar pembagian fase-fase perkembangan sebagai berikut:
B. Periodesasi Perkembangan Berdasarkan Ciri-ciri Biologis
Fase-fase perkembangan pada pembagian ini menitik beratkan pada gejala-gejala perubahan fisik anak, atau didasarkan atas proses biologis (pertumbuhan) tertentu. Seperti yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya:
Aristoteles
Ia membagi fase perkembangan manusia sejak lahir sampai usia 21 tahun ke dalam tiga masa, di mana setiap fase meliputi masa tujuh tahun, yaitu:
1. Fase anak kecil (masa bermain), umur 0 – 7 tahun yang diakhiri dengan pergantian gigi
2. Fase anak sekolah (masa belajar), umur 7 – 14 tahun yang dimulai dengan tumbuhnya gigi baru sampai timbulnya gejala berfungsinya kelenjar-kelenjar kelamin (seksual).
3. Fase remaja (pubertas) atau masa peralihan dari anak menjadi dewasa (14 – 21) tahun, yang dimulai dari mulai bekerjanya kelenjar-kelenjar kelamin sampai akan memasuki masa dewasa.[1]
Elizabeth B. Hurlock
Pakar ini membagi perkembangan individu berdasarkan konsep biologis atas lima fase, yaitu:
  1. Fase prenatal (sebelum lahir), mulai masa konsepsi sampai proses kelahiran, lebih kurang 280 hari.
  2. Fase infancy (orok), mulai lahir sampai usia 14 hari.
  3. Fase babyhood (bayi), mulai usia 2 minggu sampai sekitar usia 2 tahun.
  4. Fase childhood (kanak-kanak), mulai usia 2 tahun sampai usia pubertas.
  5. Fase adolescence (remaja), mulai usia 11 dan 13 tahun sampai usia 21 tahun, yang dibagi atas tiga masa, yaitu:
1) Fase pre adolescence, mulai usia 11 – 13 tahun untuk wanita, dan usia-usia sekitar setahun kemudian bagi pria.
2) Fase early adolescence, mulai usia 13 – 14 tahun sampai 16 – 17
3) Fase late adolescence, masa-masa akhir dari perkembangan seseorang atau masa ketika seseorang menempuh perguruan tinggi.[2]
Menurut Freud, ada enam tahap perkembangan fisik manusia meliputi:
a) Taham infantile : umur 0-5 tahun. Fase ini dibedakan menjadi tiga tahap yaitu :
· Tahap Oral : umur 0-1 tahun. Pada tahap ini mulut bayi merupakan daerah utama aktivitas yang dinamis pada manusia.
· Tahap Anal : umur 1-3 tahun. Pada tahap ini dorongan dan aktivitas gerak individu yang lebih banyak terpusat pada fungsi pembuangan kotoran.
· Tahap Falis : umur 3-5 tahun. Tahap ini alat-alat kelamin merupakan daerah perhatian yang penting dan pendorong aktivitas.
b) Tahap Laten : umur 5-12 ddan 13 tahun. Pada tahap ini dorongan-dorongan aktivitas dan pertumbuhan cenderung bertahan dan sepertinya istirahat dalam arti tidak meningkatkan kecepatan pertumbuhan.
c) Tahap pubertas: umur 12 dan 13-12 tahun. Pada tahap ini terjadi impuls-impuls menonjol kembali, kelenjar-kelenjar indokrin tumbuh peesat, dan berfungsi mempercepat pertumbuhan kearah kematangan.
d) Tahap genital: umur 12 dan seterusnya. Pada tahap ini pertumbuhan genital merupakan dorongan penting bagi tingkah laku seseorang.[3]
Montessori mengemukakan empat tahap perkembangan dengan berazaz pokok pada azaz kebutuhan vital dan azaz kesibukan sendiri. Fase-fase tersebut adalah :
a) Periode I : umur 0-7 tahun.tahap penangkapan (penerimaan) dan pengaturan dunia luar dengan perantaraan alat-alat indera.
b) Periode II : umur 7-12 tahun. Tahap ketika anak-anak mulai memperhatikan hal-hal kesusilaan dan mulai menilai perbuatan mausia atas dasar baik buruk karena mulai timbul kata hatinya.
c) Periode III : umur 12-18 tahun. Tahap penemuan diri dan kepekaan rasa sosial.
d) Periode IV : umur 18 tahun keatas. Tahap pendidikan tinggi, perhatian Montessari ditujukan kepada seluruh mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi yang menyediakan diriuntuk kepentingan dunia.[4]
C. Fase Perkembangan Berdasarkan Konsep Didaktis
Dasar yang digunakan untuk menentukan pembagian fase-fase perkembangan ini adalah materi dan cara bagaimana mendidik anak pada masa-masa tertentu.
1. Johann Amos Comenius, seorang ahli didik di Moravia. Ia membagi fase perkembangan berdasarkan tingkat sekolah yang diduduki anak sesuai dengan tingkat usia dan bahasa yang dipelajari, yaitu:
  1. 0 – 6 tahun = sekolah ibu, merupakan masa mengembangkan alat-alat indra dan memperoleh penegetahun dasar di bawah asuhan ibunya di lingkungan rumah tangga.
Usia 6 – 12 tahun disebut sebagai periode sekolah bahasa ibu, karena pada periode ini anak baru mampu menghayati setiap pengalaman dengan pengertian bahasa sendiri atau bahasa ibu. Bahasa ibu dipakai sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan orang lain, yaitu untuk mendapatkan impresi dari luar berupa pengasuh, seugesti, serta transmisi cultural dari orang dewasa juga dipakai untuk mengespresikan kehidupan batinnya kepada orang lain.
  1. 12 – 18 tahun = sekolah bahasa latin, merupakan masa mengembangkan daya pikirnya di bawah pendidikan sekolah menengah. Pada masa ini mulai diajarkan bahasa latin sebagai bahasa asing dan bahasa kebudayaan yang ada pada saat itu dianggap paling tinggi dan paling kaya kedudukannya. Bahasa tersebut diajarkan pada anak agar mereka mencapai taraf beradab dan berbudaya.
  2. 18 – 24 tahun = sekolah tinggi dan pengembaraan, merupakan masa mengembangkan kemauannya dan memilih suatu lapangan hidup yang berlangsung di bawah perguruan tinggi.[5]
2. Jean Jacques Rousseau
Mendasarkan pada prinsip perkembangan, prinsip aktiva murid, dan prinsip individualisasi dia berpendapat bahwa dalam perkembangannya, anak – anak mengalami bermacam – macam sifat dan ciri perkembangan yang berbeda – beda dari dari satu fase ke fase lain. Oleh karena itu, pendidikan harus disesuaikan dengan sifat – sifat masa tertentu itu. Masa – masa perkembangan itu adalah sebagai berikut :
a. Masa I, masa asuhan (usia 0 – 2 tahun).
b. Masa II, masa pendidikan jasmanidan latihan panca indra (usia 2 – 12 tahun).
c. Masa III, masa pembentukan watak dan pendidikan agama (usia 15 – 20 tahun).
3. Jean Piaget
Pernah melakukan penelitian mengenai fase – fase perkembangan dikaitkan dengan terjadinya perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar. Piaget membagi perkembangan menjadi empat fase sebagai berikut :
a. Fase sensori motorik
Aktivitas kognitif didasarkan pada pengalaman langsung panca indra. Aktivitas belum menggunakan bahasa, sedangkan pemahaman intelektual muncul di akhir fase ini.
b. Fase pra operasional
Anak tidak lagi terikat pada lingkungan sensori, kesanggupan menyimpan tanggapan bertambah besar. Anak suka meniru orang lain dan mampu menerima khayalan dan suka bercerita tentang hal – hal yang fantastis dan sebagainya.
c. Fase operasi konkret
Pada fase ini anak mulai berpikir logis, bentuk aktivitas dapat ditemukan dengan peraturan yang berlaku. Karena anak masih berfikir harfiah sesuai dengan tugas – tugas yang diberikan padanya.
d. Fase operasi formal
Anak telah mampu mengembangkan pola – pola berpikir logis, rasional, dan bahkan abstrak. Telah mampu menangkap arti simbolis, kiasan, dan menyimpulkan suatu berita, dan sebagainya.[6]
D. Periodesasi Perkembangan Berdasarkan Ciri-ciri Psikologis
Para ahli menggunakan aspek psikologis sebagai landasan dalam menganalisis tahap perkembangan, mencari pengalaman-pengalaman psikologis mana yang khas bagi individu pada umumnya dapat digunakan sebagai masa perpindahan dari fase yang lain dalam perkembangannya. Dalam hal ini para ahli berpendapat bahwa dalam perkembangan, pada umumnya individu mengalami masa-masa kegoncangan. Apabila perkembangan itu dilukiskan sebagai proses evaluasi, maka pada masa kegoncangan itu evolusi berubah menjadi revolusi. Kegoncangan psikis ini hampir dialami oleh semua orang. Pada umumnya individu mengalami masa kegoncangan dua kali, yaitu: a) pada kira-kira tahun ketiga atau keempat, dan b) pada permulaan masa pubertas.
Berdasarkan dua masa kegoncangan tersebut, dan periodesasi ini didasarkan atas ciri-ciri kejiwaan yang menonjol, yang menandai masa dalam periode tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh pakar:
1. Oswald Kroch memandang bahwa pada anak-anak umunya adalah pengalaman kegunjangan jiwa yang manifestasikan dalam bentuk sifat “keras kepala”. Atas dasar ini ia membagi fase perkembangan menjadi tiga, yaitu:
  1. Fase anak awal umur 0 – 3 tahun. Fase ini terjadi sifat pertama yang ditandai dengan serba membantah (menentang) orang lain. Hal ini disebabkan mulai timbulnya kesadaran akan kemampuannya untuk berkemauan sehingga ia ingin menguji kemampuan itu.
  2. Fase keserasian sekolah umur 3 – 13 tahun. Fase ini timbul sifat ke dua yakni di mana anak mulai serba membantah dan menentang orang lain terutama orang tuanya. Gejala seperti ini merupaka gejala biasa sebagai akibat kesadaran fisiknya. Sifat berfikir yang dirasa lebih maju dari orang lain, keyakinan yang dianggap benar dan sebagainya tetapi yang dirasakan masih tetap seperti keguncangan.
  3. Fase kematangan umur 13 -21 tahun, yaitu anak mulai menyadari kekurangan dan kelebihannya dan menghadapinya dengan sikap yang sewajarnya. Ia mulai dapat menghargai pendapat orang lain, dapat memberikan toleransi karena ia menyadari bahwa orang lain pun mempunyai hak yang sama. Masa inilah yang merupakan masa kebangkitan atau terbentuknya kepribadian menuju kemantapan.[7]
2. Robbet J. Havighurst
Menyebutkan fase-fase dari anak sampai tua, sebagai berikut:
a. Infancy and early childhood (masa sekolah) yaitu usia 0-6 tahun.
b. Middle childood ( masa sekolah) yaitu usia 6-12 taahun.
c. Adolescence (masa remaja) yaitu usia 12-18 tahun.
d. Middle age (masa dewasa lanjut) yaitu usia 30-50 tahun.
e. Early adulthood (masa awal dewasa) yaitu usia 18-30 tahun.
f. Old age ( masa tua sampai meninggal dunia) yaitu usia 50 sampai ke atas.
3. Prof. Kohetamm, membagi periode perkembangan anak menjadi tiga fase sebagai berikut:
a. Periode vital, yaitu usia 0-1 tahun disebut juga sebagai masa menyusu.
b. Periode estetis, yaitu usia 1-6 tahun disebut masa pencoba dan masa bermain.
c. Periode inteletuil, yaitu usia 6-12 tahun disebut juga masa sekolah.
d. Periode social, usia 12-21 tahun disebut juga masa pemuda dan masa adolescence.
e. Periode manusia matang, usia 21 tahun ke atas disebut juga masa dewasa.
4. Charlotte Buhler, mengemukakan masa perkembangan anak dan pemuda sebagai berikut:
a. Masa pertama
Usai 0-1 tahun, pada masa aini anak berlatih mengenal dunia lingkungan dengan berbagai macam gerakan. Pada wktu lahirnya ia mengalami dunia tersendiri yang tak ada hubungannya dengan lingkungannya. Perangsang-perangsang luar hanya sebagian kecil yang dapat disambutnya. Pada masa ini terdapat dua peristiwa penting yaitu belajar dan berbicara.
b. Masa Kedua
Usia 2-4 tahun. Keadaan dunia luar semakin dikuasai dan dikenalnnya melalui bermain, kemajuan berbahasa, dan pertumbuhan kemauannya. Dunia dilihat dan dinilainya menurut keadan dan sifat batinnya. Semua binatang dan benda mati disamakan dengan dirinya. Bila ia berusia 3 tahun ia akan mengalami krisi pertama (trotzalter I).
c. Masa Ketiga
Usia 3-5 tahun. Keinginan bermain berkembang menjadi semangat bekerja dan tanggung jawab terhadap semakin tinggi , demikian pula ras sosialnya. Pandangan terhadap dunia sekelilingnya ditinjau dan diterima secara obyektif.
d. Masa Keempat
Usia 9-13 tahun. Keinginan maju dan memahami kenyataan mencapai puncaknya Pertumbuhan jasmani sangat subur, kondisi kejiwaannya tampak tenang. Ketika usia 12 – 13 tahun (bagi perempuan) dan usia 13 – 14 tahun (bagi laki – laki), mereka mengalami masa krisis dalam proses perkembangannya. Pada masa ini mulai timbul kritik terhadap diri sendiri, kesadaran akan kemauan, penuh pertimbangan, mengutamakan tenaga sendiri, disertai berbagai pertentangan yang timbul dengan dunia lingkungan, dan sebagainya.
e. Masa Kelima
Usia 14 – 19 tahun (masa pubertas mencapai kematangan). Pada awal masa pubertas anak kelihatan lebih subyektif. Kemampuan dan kesadaran dirinya terus meningkat yang hal ini mempengaruhi sifat – sifat dan tingkah lakunya. Anak yang berada pada masa puber selalu merasa gelisah karena mereka sedang mengalami sturm und drang (ingin membrontak, gemar mengkritik, suka menentang, dan lain sebagainya). Pada akhir pubertas, yaitu sekitar usia 17 tahun, anak mulai mencapai perpaduan (sintesis), berkat keseimbangan antara dirinya dengan pengaruh dunia lingkungan. Pertanda bahwa remaja masuk pada usia matang, yaitu mereka membentuk pribadi, menerima norma – norma budaya, dan kehidupan pasca keseimbangan diri.[8]
E. Periodesasi Perkembangan Berdasarkan Konsep Tugas Perkembangan
Tugas perkembangan adalah berbagai ciri perkembangan yang diharapkan timbul dan dimiliki setiap anak pada setiap masa dalam periode perkembangannya. Seperti yang dikemukakan oleh Robert J. Havighurst, yaitu:
  1. Masa bayai dan kanak-kanak umur 0 – 6 tahun
  2. Masa sekolah (pertengahan kanak-kanak) umur 6 – 12 tahun
  3. Masa remaja umur 12 – 18 tahun
  4. Masa awal dewasa umur 18 – 30 tahun
  5. Masa dewasa pertengahan umur 30 – 50 tahun
  6. Masa tua umur 50 tahun ke atas.[9]

No comments: