Wednesday, November 11, 2009

Cobalah Berkaca Diri

Setiap anak selalu mengikuti arah dan jejak prilaku kehidupannya dari orang tua, lingkungan maupun sahabat dekatnya. Karakter mempengaruhi besar melalui dari lingkungan internal rumah khususnya orang tua. mulai dari gerakan, emosional, maupun tatap muka pembicaraan terhadap keluarga. Namun sedini mungkin karakter itu haruslah membuat si anak agar timbulnya rasa kedermawanan maupun keteladanan terutama perhatiannya, baik dari bertemu dengan sang Ayah maupun berjalan rekreasi dengan sekeluarga. Karena itu adalah reward yang sangat besar bagi sang dambaan anak. Namun kejadian harapan sang anak sangat menentukan pilihan apakah dirinya masih disayangi maupun dicintainya dengan penuh keikhlasan. Berapa banyak memeluk dan mengusapnya dengan perkataan "Ayah sangat sayang sama kakak".

Keutamaan perkataan dan pembicaraan kedua belah pihak yang seringkali dari sang Ayah maupun Ibu mempunyai rasa istimewa dan penuh dengan penyatuan ikatan hati. Ibarat sangkar burung dengan memberikan makanan kepada sang anak burung dengan ikhlas dan ridho itulah yang diharapkan dan keinginan kebersamaan. Saling bercerita bertukar pikiran maupun tambahan ilmu bagi si buah hati. Namun sangat disayangkan jika orang tua yang hanya mengharapkan prestasi maupun target akademik yang tinggi tetapi tidak ada penghargaan berarti bagi sang anak.

Cobalah berkaca diri sudahkah bimbingan yang selama hidupnya untuk menuntut ilmu seringkali ia diberikan penghargaan ? minimal dengan pelukan kasih sayangnya yang sangat berarti. Obsepsi anak akan sangat dasyat berubah yang sinifikan jika kurangnya pengontrolan maupun kurangnya perhatian kasih sayang. Sang anak ingin harapannya dikabulkan tapi justru sebaliknya sering kali sedikit berkomunikasi dengan Ayah Bundanya. Potensi anak sangat besar diberikan pengalaman yang begitu banyak dari sang orangtua tanpa harus mengandalkan nilai prestasi yang tinggi. Karena kelak masa depannya ia juga harus mengetahui apa yang dikerjakan dan kemandirian dalam bekerja pada masa yang akan datang.

Jika saja orang tua melarang bahkan tidak memberikan keteladanan yang baik bagi si buah hatinya maka akan sangat tinggi juga biaya maupun sedikit sekali psikologi yang pasif maupun stagnan dalam pertumbuhan anak (adaptasi). Wujudkan kesalehan dalam aktivitasnya, selalu tegur sapa, maupun berdialog dengan santai adalah kunci pengenalan dan perubahan yang lebih baik bagi anak tanpa berpikir lagi "Saya sulit membagi waktu atau lelah sehingga ketiduran tanpa menanyakan harapan yang diinginkannya". Rasululah Nabi Muhammad SAW pun sering ditanya kepada sang anaknya Fatimah walaupun ia sudah dewasa hanya minta "Ayah saya ingin minta pembantu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah". Namun Rasululah memberikan penjabaran kepada Fatimah tidak langsung jawab (justice) akan tetapi diajak berdialog dengan santai keuntungan dan kerugian ketika membutuhkan pembantu. Apa jawab Rasululah SAW "Alangkah baiknya jika pekerjaan rumah bisa selesai semua yang kamu (Fatimah) kerjakan maka dzikir sebanyak-banyaknya lebih utama pahalanya dari pada seorang pembantu rumah". Lihatlah Rasulullah SAW memberikan dialog kepada Fatimah yang lebih penting dahulu adalah reward (balasan)/ pahalanya ketika ia bekerja sambil berdzikir. Ganjaran maupun gambaran surga ketika beramal saleh lebih dahulu ketimbang penjabaran materi mengenai adanya pembantu rumah.

Bukan berarti sang anak tidak boleh protes/ usul akan tetapi orang tua harus memberikan gambaran arahan reward terbesar lebih dahulu ketimbang yang diutamakan imbalan materi (hadiah). Jangan sampai hadiah yang diberikan membuat anak terus-menerus hanya mengharapkan imbalan tanpa adanya rasa kemandirian maupun bekerja ikhlas terlebih dahulu. Ibarat pancingan ikan jangan kasih cacing besar dahulu tetapi mungkin harus lihat juga kesukaan ikan maupun ketertarikan bagi ikan tersebut contohnya roti barangkali yang terpenting bisa menyentuh makanan pancingan tersebut sehingga menjadi sangat menarik/unik untuk memakannya. Semoga saja orang tua dan guru bisa berkaca diri kira-kira apa yang bisa membuat tertarik dan semangat dalam beramal saleh sehingga dukungan kedua belah pihak juga sangat mendukung terjadinya kesuksesan dalam membimbing anak belajar di sekolah dan di rumah.

Dian Parikesit, S.Pd

No comments: