Wednesday, August 28, 2013

Menyikapi Anak Kritis

Anak yang banyak bertanya menandakan kritis, cerdas, dan kreatif. Tapi banyak orang yang tak sabar, lalu bagaimanakah dengan Anda?
Hari Rabu pagi saya mengajar IPA di kelas 6 tentang energi. Seperti biasanya, setelah diberi arahan tentang yang akan dipelajari, saya biasa menugaskan siswa untuk membaca terlebih dahulu. Sepuluh menit berlalu, tiba – tiba siswa mulai ada yang bertanya “Pak Guru, listrik terbuat dari apa?”, mendapat pertanyaan demikian tentu saja saya berpikir cukup keras untuk mencari jawaban. Karena tidak mungkin saya jawab dengan teori listrik maka saya arahkan siswa dengan tanya jawab tentang dinamo sepeda. Akhirnya siswa yang bertanya tadi pun diam, seolah seperti sudah terpenuhi jawabannya.
Ternyata perkiraan saya salah, siswa tersebut diam bukan karena sudah puas dengan jawaban yang diperoleh tetapi karena sedang menyiapkan pertanyaan lagi.
“Pak Guru, listrik PLN dari mana?”
Sebelum saya sempat menjawab pertanyaan kedua, pertanyaan berikutnya pun meluncur dari siswa yang lain
“Dinamo PLN besar sekali ya Pak?”
“Nuklir apa bisa jadi listrik?”
“Mengapa jika memakai listrik harus bayar?”


.....
Karena terlalu banyak pertanyaan, akhirnya semua siswa yang bertanya saya hentikan, dan saya meminta agar pertanyaan ditulis di buku, saat akhir pelajaran baru dibahas.

Memiliki siswa yang suka bertanya di kelas sungguh sangat menyenangkan, membuat suasana kelas hidup dan menjadikan semangat dalam mengajar. Tetapi jika siswa sudah mulai bertanya terus – menerus hingga pertanyaan melenceng dari pokok bahasan maka pembelajaran pun menjadi tidak fokus dan bisa – bisa jam pelajaran habis kadang habis pula kesabaran.

TIDAK TERGANTUNG TINGKAT KECERDASAN
Anak kritis tidak selalu anak yang mempunyai kecerdasan tinggi. Hal ini telah saya buktikan dari pengalaman mengajar kelas 4, 5, dan kelas 6. Ada anak yang cerdas suka bertanya, ada pula anak yang sangat lambat belajar juga suka bertanya.

"Sikap kritis ini biasanya dominan saat anak berusia tiga tahun lebih. Di usia ini rasa ingin tahu anak sedang meluap-luap," ujar Vera. Kritis atau tidaknya seorang anak, sama sekali tidak tergantung pada tingkat kecerdasan. Bisa saja anak dengan taraf kecerdasan rata-rata lebih kritis dibanding anak dengan taraf kecerdasan jauh di atas rata-rata. "Yang paling menentukan adalah lingkungan di mana si anak dibesarkan. Dalam hal ini lingkungan keluarganya. Anak yang kritis biasanya adalah anak yang mendapat keleluasaan untuk mengemukakan pendapat. Si anak bebas mengeluarkan pendapatnya tanpa takut 'dibantai' atau dimarahi," lanjut Vera.

Selain itu, banyaknya rangsangan dari luar juga dapat membantu anak mempertajam kemampuan berpikirnya. Rangsangan dari luar ini dapat berupa informasi mengenai berbagai hal di lingkungannya. Informasi ini dapat diberikan oleh orang tua secara aktif melalui berbagai media, seperti buku, televisi, rekreasi ke tempat baru, dan sebagainya. Orang tua bisa membacakan cerita, menerangkan tentang tempat yang dikunjungi atau apa saja yang ditemui di lingkungan sekitar. Dengan begitu, diharapkan anak dapat terpancing untuk bertanya, karena bertanya merupakan salah satu dari wujud berpikir kritis”
( Vera dalam Tabloid nakita dimuat pada http://www.nusantaraku.org/forum/chit-chat/32949-bagaimana-menyikapi-anak-kritis.html)

BAGAIMANA MENYIKAPINYA?
Anak kritis jika tidak disikapi dengan baik, atau justru dimarahi maka hal ini bisa berdampak kurang baik terhadap psikologi anak . Mungkin anak menjadi takut bertanya lagi, kurang terbuka, tidak percaya diri, frustasi dll
Berikut ini tips yang bisa digunakan untuk menyikapi anak kritis
Berpikir Positif
Terima pertanyaan anak dengan berpikir positif, terima pertanyaan anak dengan senyuman seolah kita sedang menerima hadiah. Berpikir positif menjadikan kita lebih tenang dalam menjawab pertanyaan siswa. Siswa pun akan menjadi lebih terbuka dan menghargai kita.
Jadilah Pendengar yang Baik
Ingat prinsip bahwa mulut satu sedangkan telinga dua, less talk, listen more. Terkadang anak – anak hanya ingin didengarkan, pertanyaan yang diajukan sering bersifat retoris, anak sudah tahu sendiri jawaban.
Kesiapan
Bacalah!Bacalah!Bacalah! Dengan membaca wawasan kita akan meningkat sehingga ketika ditanya oleh siswa kita sudah selangkah memiliki kesiapan.
Sepakati Aturan
Jangan biarkan waktu kita habis hanya untuk bertanya jawab, buatlah kesepakatan dengan siswa hanya boleh bertanya tentang hal yang sedang dipelajari saja misalnya, jika siswa mempunyai pertanyaan tentang hal di luar yang sedang dipelajari, maka dicatat baru ditanyakan sepulang sekolah atau ketika istirahat.
Jujur

Kejujuran sangat diperlukan untuk memelihara hubungan baik jangka panjang. Bila kita tidak tahu jawaban pertanyaan siswa jawab saja tidak tahu. Jika kita asal menjawab, maka suatu saat anak mungkin tahu jawaban pertanyaan yang sama dari sumber yang berbeda, bila tebukti jawaban kita salah maka kredibilitas kita pun ‘hancur’ di mata anak. Ajak anak mencari tahu bila kita tidak tahu jawaban tersebut.
Arahkan pada Penemuan Jawaban
Berikanlah analogi yang sederhana, tuntun anak berpikir hingga ia menemukan jawaban sendiri
Kesabaran
Kita memang bukan malaikat, kesabaran bisa dijaga pada titik tertentu. Jadikan titik kesabaran kita lebih tinggi lagi dengan terus melatihnya. Sebosan kita menghadapi anak teruslah berusaha untuk memberikan ‘pelayanan, yang baik dengan begitu makin lama kita akan menjadi lebih terbiasa dan tingkat kesabaran kita menjadi tinggi.

BILA SIKAP KRITIS DITANGGAPI POSITIF

Bila orang tua selalu mengakomodasi keingintahuan anak, menurut Vera ada beberapa dampak positif yang bakal didapatnya:
1. Rasa ingin tahunya terus berkembang dan ini akan menguatkan motivasinya untuk terus mempelajari hal-hal baru. Termasuk pelajaran di sekolah, hingga ia terlihat penuh semangat.
2. Tumbuh menjadi pribadi yang penuh percaya diri karena merasa diterima oleh orang tua/lingkungan terdekatnya.
3. Ketajaman berpikirnya semakin terasah.
4. Memperoleh kesempatan untuk menambah kosakata baru yang didapatnya dari pertanyaan yang diajukan sekaligus memperluas wawasannya.

BILA DITANGGAPI NEGATIF
Tanggapan yang tidak bijaksana terhadap sikap kritis anak hanya akan melahirkan beberapa dampak
merugikan. Berikut uraian Vera:
1. Mematikan kreativitas dan rasa ingin tahu anak. Dengan begitu, ia tidak lagi terdorong untuk menggali hal-hal baru yang ditemuinya. Semua diterima secara pasif sebagaimana adanya
2. Anak jadi kurang percaya diri karena merasa selalu disalahkan dan dianggap sebagai pengganggu.
3. Anak akan tumbuh jadi orang yang cenderung memilih diam. Baginya diam berarti "aman" dan membuatnya terhindar dari berbagai kesulitan.
4. Anak jadi frustrasi karena kebutuhannya tidak terpenuhi.
5. Anak terdorong untuk mencari sumber lain yang belum tentu benar guna memenuhi kebutuhannya yang tidak terpenuhi dari orang tua.
6. Merenggangkan hubungan anak dengan orang tua. Anak enggan terbuka pada orang tua karena menganggap orang tuanya kurang kompeten, minimal enggak asyik diajak "ngobrol".

AGAR ANAK KRITIS
Seperti telah dikatakan Vera, sikap kritis seseorang tidak berbanding lurus dengan tingkat
kecerdasannya. Beberapa hal berikut bisa dilakukan orang tua untuk merangsang sikap kritis anak.
1. Berikan kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk mengemukakan buah pikirannya maupun urun pendapat. Hilangkan budaya dimana "apa kata mama/papa" merupakan sesuatu yang mutlak alias tak bisa ditawar.
2. Latih anak untuk memecahkan masalah-masalah keseharian sesuai dengan tahapan usianya. Lontarkan pertanyaan-pertanyaan yang merangsangnya untuk menemukan solusi. Contohnya ketika anak berniat main di luar rumah, tanyakan, "Bagaimana, ya, caranya memindahkan mainan sekaligus dari kamar ke pekarangan?"
3. Berikan kesempatan seluasnya pada anak untuk menemukan hal-hal baru. Bisa tempat yang belum pernah dikunjungi, buku atau sarana lainnya. Lalu biarkan anak menggali pertanyaan tentang hal-hal baru tersebut.
4. Ada jenis percakapan yang dapat membantu merangsang sikap kritis anak, yakni:1. Membicarakan suatu hal dari sisi baik dan buruknya.2. Ajak anak berandai-andai menjadi orang lain.3. Libatkan anak membicarakan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi sebagai akibat dari suatu kejadian. Contohnya, "Apa ya yang kira-kira terjadi kalau hujan enggak berhenti selama berhari-hari?"


Referensi
http://kesehatan.kompasiana.com/seksologi/2011/03/31/strategi-menjawab-pertanyaan- anak-yang-super-kritis/

http://majalahqalam.com/features/feature-anak/menjawab-pertanyaan-kritis-anak-2/

http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Anak/Menjawab-Si-Kecil-yang-Kritis-1

Tabloid nakita dalam http://www.nusantaraku.org/forum/chit-chat/32949-bagaimana-menyikapi-anak-kritis.html

No comments: