Thursday, September 25, 2014

Jabatan mulia yang sering dilupakan

Memiliki jabatan yang tinggi merupakan cita-cita kebanyakan orang. Sesulit apapun jalan yang harus ditempuh untuk mencapainya, akan dilakukan dengan sepenuh hati bagaimanapun caranya. Pada kenyataannya tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk memilikinya, meski mungkin telah melakukan cara-cara yang sama dalam memenuhi segala persyaratan yang ada untuk mendapatkan jabatan tersebut.
Untuk ukuran saat ini hanya orang-orang yang memiliki uang milyaran rupiah yang bisa menduduki jabatan tinggi di kursi pemerintahan. Yang hanya memiliki uang pas-pasan, cukup menduduki jabatan sebagai pemimpin bagi dirinya sendiri.
Kehilangan materi, akal bahkan jiwa merupakan risiko yang harus dihadapi oleh mereka yang sedang berlomba untuk mendapatkan kursi. Belum lagi risiko lain di akhirat yang harus diterima karena kegagalannya dalam memimpin.

Ada jabatan mulia yang sering dilupakan orang, yaitu jabatan sebagai hamba Allah SWT. Jabatan ini tidak membutuhkan persyaratan yang rumit. Semua orang bisa memilikinya, apapun profesinya, tukang becak, guru, pengacara, presiden, direktur, office boy, orang miskin, orang kaya, laki-laki, perempuan, tua, muda, bahkan orang buta bisa memiliki jabatan tersebut. Selagi kita menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-laranganNya maka otomatis kita terangkat mendapatkan jabatan yang mulia sebagai hamba Allah.
Sahabat Ibnu Umar ra berkata: Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Penguasa adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang lelaki adalah pemimpin dalam rumah tangga, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Pembantu rumah tangga adalah pemimpin dalam menjaga harta kekayaan tuannya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Dan setiap kamu adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah SAW bersabda: ‘Demi Allah, saya tidak akan menyerahkan jabatan kepada orang yang meminta dan tidak pula kepada orang yang berharap-harap untuk diangkat’. (HR. Bukhari dan Muslim). Senada dengan hadits ini, Nabi Muhammad SAW berkata kepada Abdur Rahman Ibnu Samurah ra.: ‘Wahai Abdur Rahman, Janganlah engkau meminta untuk diangkat menjadi pemimpin. Sebab, jika engkau menjadi pemimpin karena permintaanmu sendiri, tanggung jawabmu akan besar sekali. Dan jika engkau diangkat tanpa permintaanmu sendiri engkau akan ditolong orang dalam tugasmu.’ (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain dijelaskan,  Abu Dzar ra. Pernah berkata: ‘Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak hendak mengangkatku memegang suatu jabatan?’ Rasulullah SAW menepuk bahuku dan berkata: ‘Wahai Abu Dzar, engkau ini lemah sedangkan jabatan itu amanah yang pada hari kiamat kelak harus dipertanggung jawabkan dengan resiko penuh penghinaan dan penyesalan, kecuali orang yang memenuhi syarat dan dapat memenuhi tugas yang dibebankan kepadanya dengan baik’. (HR. Muslim)
Dari keterangan-keterangan hadits di atas, maka dapat disimpulkan, mengajukan diri untuk diangkat menjadi pemimpin adalah sesuatu yang tercela apalagi tidak dibarengi dengan kelayakan diri menjadi pemimpin. Namun sebaliknya, apabila seseorang diangkat menjadi pemimpin karena dukungan atau permintaan umat, memenuhi syarat dan mampu menjalankan tugas dengan amanah, maka yang seperti ini tidaklah tercela.
Jika berharap atau meminta diangkat menjadi pemimpin atau pejabat itu tercela, lalu bagaimana dengan apa yang pernah dilakukan Nabi Yusuf a.s. yang meminta jabatan dan menonjolkan dirinya agar diberikan jabatan itu? Sebagaimana dikisahkan dalam Al Quran: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (Q.S. Yusuf: 55).
Sebagaimana yang disebutkan dalam Al Quran: “(Di antara sifat hamba Allah yang mendapatkan kemuliaan) adalah orang-orang yang berkata: Wahai Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. al-Furqan: 75)

No comments: