Sunday, October 5, 2014

Hubungan Antara Imajinasi dan Kreativitas


1. Pengertian Imajinasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, imajinasi ialah daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar-gambar (lukisan, karangan, dsb) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Imajinasi juga merupakan kekuatan atau proses menghasilkan ide. Jadi imajinasi hanya terdapat dalam pikiran manusia yang membayangkan gambar-gambar atau kata-kata. Imajinasi bersifat khayal dan hanya terdapat dalam angan-angan, bukan yang sebenarnya. Sedangkan hal atau sesuatu yang dibayangkan dalam pikiran disebut dengan imaji.
Imajinasi terkadang muncul tiba-tiba, tanpa disengaja terlintas di pikiran manusia. Namun tak jarang pula imajinasi dengan sengaja dimunculkan dengan memikirkan suatu hal atau masalah, sehingga imajinasi pun dapat digunakan untuk menemukan pemecahan suatu masalah. Terkadang jika tidak terkontrol, imajinasi bisa berubah menjadi liar dan tidak terkendali. Oleh karena itu, dibutuhkan media penyaluran yang tepat agar imajinasi menjadi lebih terarah dan menghasilkan hal-hal yang positif dan berguna serta tidak merugikan pihak lain.

2. Jenis-jenis Imajinasi
Imajinasi terbagi menjadi dua, yaitu imajinasi verbal dan imajinasi visual. Imajinasi verbal adalah imajinasi yang terbentuk oleh kata-kata dalam pikiran manusia dan diproses di dalam otak kiri. Sedangkan imajinasi visual adalah imajinasi yang berbentuk gambar-gambar dalam mata pikiran manusia dan diproses oleh otak kanan. Orang dewasa yang telah mengetahui banyak kosa kata cenderung lebih menggunakan kata-kata dalam berimajinasi, sehingga banyak orang dewasa yang justru mengalami ketumpulan dalam berimajinasi dengan gambar. Namun tak sedikit pula yang imajinasi visualnya tetap tajam dan berkembang baik.
Sedangkan pada anak-anak yang belum banyak mengenal kosa kata akan memvisualisasikan apa yang ia lihat dan pikirkan dalam bentuk gambar dalam pikiran mereka. “Anak-anak adalah makhluk yang terbiasa berpikir dengan menggunakan imaji. Mereka melakukan hal tersebut jauh sebelum mereka memiliki kemampuan bahasa” (I.Robertson,2009:20). Jadi dapat disimpulkan bahwa kemampuan imajinasi visual kita sedikit demi sedikit menurun ketika kita semakin beranjak dewasa. Hal ini disebabkan oleh pengaruh bahasa, semakin banyak kita mengetahui kosa kata semakin menurun kemampuan kita dalam berimajinasi secara visual.
Seperti yang dialami oleh ilmuwan terkenal, Albert Einstein. Einstein diajarkan untuk berpikir dengan imaji visual saat ia masih duduk si bangku sekolah. Pada usia 16 tahun, ia menggunakan imaji visual untuk melakukan terobosan eksperimen otak yang mendasari ilmu pemecahan atom. Ucapannya yang terkenal yaitu, “Kata-kata atau bahasa tidak berperan penting dalam mekanisme pikiran saya … elemen pikiran saya adalah imajinasi.”
3. Manfaat Imajinasi
Walau tidak dapat dilihat secara kasat mata, imajinasi ternyata memiliki manfaat-manfaat yang berguna dalam kehidupan manusia. Dengan mengasah kemampuan pikiran kita untuk bebas berimajinasi, kita dapat membayangkan dan membuat sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Dimulai dari hal-hal kecil yang terkesan remeh seperti membuat mainan dari barang-barang bekas. Dibutuhkan kreativitas, imajinasi, pikiran, dan pertimbangan untuk menciptakan sesuatu menggunakan bahan-bahan yang tidak terpakai (Prof. Dr. Joan Freeman dan Prof. Dr. Utami Munandar, 1996: 265-266).
Untuk membuat hal-hal kecil saja dibutuhkan imajinasi, apalagi dengan hal-hal besar yang dapat merubah dunia seperti Wright bersaudara yang pertama kali menciptakan pesawat terbang. Keinginan mereka agar manusia dapat terbang di angkasa membuat mereka berpikir untuk menciptakan alat yang dapat menerbangkan manusia. Mereka melakukan berbagai percobaan hingga dapat menciptakan alat yang dapat membawa mereka terbang. Walau belum secanggih pesawat terbang di masa sekarang, namun penemuan mereka dapat merubah dunia menjadi lebih baik.
Selain itu, imajinasi juga dapat membantu menyelesaikan permasalahan. Ketika seseorang memiliki suatu masalah dan membutuhkan penyelesaian yang tepat, imajinasi dapat membantu menemukan penyelesaian dengan membiarkan mata pikiran mengolah masalah yang dihadapi tersebut untuk menemukan penyelesaian yang tepat. Pemecahan yang didapat tergantung dari bagaimana orang tersebut berpikir. Jika seseorang berpikir secara cerdas, pemecahan yang didapatkan bisa lebih dari satu pemecahan melalui pemikiran divergen. Namun dalam sistem pendidikan, siswa biasanya hanya dididik untuk menemukan satu pemecahan saja dengan pemikiran konvergen dan harus patuh pada aturan yang menyebabkan kreativitasnya justru dibatasi. Dengan menemukan pemecahan yang tepat, permasalahan yang sedang dihadapi dapat segera teratasi, karena cara terbaik untuk melarikan diri dari masalah adalah dengan menyelesaikannya.
Imajinasi ternyata dapat pula digunakan sebagai alat untuk memerangi penyakit. Kekebalan dan penyakit kita ternyata sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kejiwaan. Keadaan pikiran kita dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh kita dengan memerangi virus, bakteri, serta sel-sel berbahaya yang menggerogoti sistem kekebalan tubuh kita.
Seperti kisah berikut ini, tentang seseorang yang menderita herpes genital selama 10 tahun dan mengakibatkan sistem kekebalan tubuhnya menurun. Selama 10 tahun tersebut ia harus minum obat-obat antivirus yang hanya menyembuhkan penyakitnya sementara saja, karena jika ia berhenti meminum oba-obat tersebut penyakit itu datang lagi. Kemudian ia dilatih oleh seseorang untuk menciptakan imaji dalam mata pikirannya untuk memerangi penyakit tersebut. Ia dilatih untuk memvisualisasikan ikan paus dan lumba-lumba yang memburu virus-virus herpes yang ada di dalam tubuhnya. Setelah beberapa minggu, dokter mengukur sistem kekebalan tubuhnya. Sistem kekebalan tubuhnya kembali membaik dan penyakitnya tak lagi sering muncul, bahkan saat ia tidak minum obat.
Imajinasi juga dapat kita manfaatkan ketika menghadapi operasi. Dengan imajinasi ini kita tidak hanya dapat memvisualisasikan pemandangan yang menyenangkan untuk relaksasi dan mengurangi kepanikan menjelang operasi, tetapi kita bahkan dapat mengimajinasikan respon-respon terhadap rasa sakit dan tertekan tersebut dan berpikir kita dapat mengatasinya dengan bersikap tenang dan rileks.
Manfaat imajinasi lainnya yaitu dalam hal menghafalkan dan menirukan rangkaian gerakan seperti yang dilakukan oleh para atlet senam. Semakin baik kemampuan imajinasi mereka, semakin baik pula kemampuan mereka untuk menirukan sebuah gerakan setelah pengamatan yang singkat. Sehingga, biasanya para atlet terbaik tidak hanya mahir dalam dunia fisik, melainkan juga juara dalam simulasi mata pikiran.
Tidak hanya itu, imajinasi ternyata bermanfaat juga untuk meningkatkan daya ingat. Orang yang mempunyai daya imajinasi tinggi, biasanya dapat mengingat peristiwa yang telah terjadi bertahun-tahun lalu dengan lebih jelas. Seperti Presiden Amerika Serikat saat ini, Barack Obama yang mampu mengingat masa kecilnya ketika masih tinggal di Indonesia dengan jelas sangat jelas, seolah-olah baru kemarin saja terjadi.
Manfaat-manfaat imajinasi seperti yang telah disebutkan di atas dapat digunakan oleh orang yang benar-benar mengasah kemampuan imajinasinya. Sehingga diharapkan setiap orang dapat mengambil manfaat-manfaat tersebut dengan terus belajar meningkatkan daya imajinasi mereka menjadi semakin baik dari waktu ke waktu.
4. Cara Otak Menciptakan Imaji
Hal pertama yang kita lakukan untuk menciptakan imaji dalam pikiran kita adalah dengan melihat. Ketika melihat suatu obyek tertentu, otak kita secara otomatis akan mengolah informasi tersebut. Dengan begitu otak akan memvisualisasikan obyek yang kita lihat tersebut dalam mata pikiran kita. Saat kita menciptakan imaji visual dalam pikiran kita, kita tidak hanya sekedar menciptakan gambar mental yang statis dalam pikiran kita. Tetapi kita juga memindahkan imaji secara mental dalam mata pikiran kita (I. Robertson, 2009: 64).
Setelah otak mencerna dan mengolah obyek yang kita lihat tadi, pikiran kita akan mulai bertanya-tanya tentang obyek yang kita lihat tersebut. Kemudian, setelah pikiran kita dapat menyimpulkan obyek tersebut, maka saat itulah imajinasi mulai bekerja. Kita akan mulai memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan obyek yang kita lihat tersebut. Dan pikiran-pikiran tersebut hanya terdapat dalam angan-angan kita saja dan tidak sungguh-sungguh terjadi pada obyek tersebut. Begitulah cara otak kita menciptakan imaji dalam pikiran kita.
5. Pengertian Kreativitas
Kreativitas adalah kemampuan mencipta atau daya cipta. Banyak orang beranggapan bahwa kreativitas tidak dapat dipelajari dan merupakan sifat bawaan yang tidak dapat diolah dengan dua kemungkinan: anda kreatif atau tidak. Sangat sedikit orang yang mengerti bahwa mereka bisa belajar agar menjadi kreatif. Orang sering frustasi ketika menemui jalan buntu dan tidak mampu menyelesaikan masalah mendesak. Hal ini dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan diri dan semangat kerja. Bahkan, jika mendapat ide cemerlang sekalipun, orang lebih cemas akan kritikan orang lain, bukannya terus maju untuk mewujudkannya.
Kini, banyak orang yang mulai menyadari bahwa kreativitas berperan dalam meraih kebahagiaan pribadi dan keunggulan profesional. “Orang-orang kreatif menjadi pemimpin dalam bisnis dan masyarakat, mengerti cara memecahkan masalah ataupun menghilhami orang lain untuk meningkatkan peran dalam kehidupan” (Jordan E. Ayan, 2002: 26).
Perlu diketahui pula bahwa tidak ada kepribadian tertentu yang menjadi prasyarat kreativitas. Seperti apapun kepribadian kita, kita memiliki kapasitas kreatif yang sama dengan orang lain. Para manusia kreatif terdiri dari berbagai ukuran dan bentuk, serta dapat ditemukan pada profesi manapun. Sehingga kita tidak boleh berkecil hati serta rendah diri dan menganggap kita tidak memiliki kreativitas seperti yang dimiliki oleh orang lain.
.
6. Cara-cara untuk Meningkatkan Kreativitas
Ada berbagai macam cara yang dapat kita tempuh untuk belajar menjadi orang kreatif. Yang pertama adalah menyatu dengan masyarakat luas. Dengan berkomunikasi dengan orang lain kita bisa mendapatkan informasi apa pun yang mungkin dapat bermanfaat bagi kita. Sehingga kemungkinan kita bisa mendapatkan ide-ide kreatif ketika kita sedang berkomunikasi dengan orang lain.
Strategi kedua untuk memupuk kreativitas adalah mendapatkan ruangan dan lingkungan yang mampu menjadikan pikiran dan energi mengalir deras. Pengaruh lingkungan terhadap kreativitas ternyata lebih besar daripada yang diketahui orang. Lingkungan mempengaruhi suasana hati dan keseluruhan cara memandang hidup. Lingkungan juga memberi rangsangan kuat pada perasaan, ide, dan wawasan terhadap orang yang kita temui, atau kejadian yang kita alami. Oleh karena itu kenalilah lingkungan kita untuk membangkitkan ide-ide cemerlang dalam pikiran kita.
Cara ketiga adalah dengan bepergian. Bepergian selain bisa menyegarkan kembali pikiran yang suntuk, juga dapat memberi kita inspirasi dan memunculkan ide-ide yang sama sekali belum pernah terpikirkan oleh kita karena terbelenggu oleh rutinitas.
Yang keempat yaitu melalui permainan. Kreativitas tidak hanya berurusan dengan hal-hal yang bersifat serius. Bermain mencakup semua bentuk hal-hal yang bersifat bersenang-senang, namun bermain juga merupakan komponen penting dalam proses mengembangkan kreativitas. “Lewat permainan, jiwa kreatif berhubungan dengan proses mental penuh daya khayal sehingga kita mampu membuat kaitan baru, melihat gambaran baru, dan mendapat wawasan baru” (Jordan E. Ayan, 2002: 145).
Strategi kelima adalah melalui imajinasi. Dengan membiarkan pikiran kita berkelana mencari hal-hal baru, kita bisa menemukan hal-hal yang sama sekali belum pernah terpikirkan oleh siapa pun. Dengan begitu kita dapat mengasah kreativitas kita yang semula tumpul agar dapat menciptakan ide dan gagasan cemerlang.
Dan masih ada banyak cara lain yang bisa digunakan untuk meningkatkan kreativitas kita. Tergantung dari kita yang lebih merasa nyaman menggunakan metode yang mana dalam menghidupkan ide-ide kreatif. Dengan terus menggali potensi kreatif kita, kita bisa membangun dunia yang jauh lebih baik lagi.
7. Tujuh Jenis Kecerdasan yang Berhubungan dengan Kreativitas
Menurut Dr. Howard Gardner dari Universitas Harvard dalam bukunya Erames of Mind, dan dipopulerkan oleh Thomas Amstrong dalam bukunya Seven Kinds of Smart, kita tidak hanya diberkahi satu jenis kecerdasan, namun tujuh, yaitu:
1) Verbal / linguistik : kemampuan memanipulasi kata secara lisan atau tertulis.
2) Matematis / logis : kemampuan memanipulasi sistem nomor dan konsep logis.
3) Spasial : kemampuan melihat dan memanipulasi pola dan desain.
4) Musikal : kemampuan mengerti dan memanipulasi konsep musik, seperti nada, irama, dan keselarasan.
5) Kinestetis-tubuh : kemampuan memanfaatkan tubuh dan gerakan, seperti dalam olahraga atau tari.
6) Intrapersonal : kemampuan memahami perasaan diri sendiri, gemar merenung serta berfilsafat.
7) Interpersonal : kemampuan memahami orang lain, pikiran, serta perasaan mereka.
Dengan tujuh jenis kecerdasan tersebut di atas, setiap orang jelas mempunyai potensi kreatif masing-masing yang bisa dikembangkan. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk menganggap bahwa kreativitas sejati adalah hak khusus orang-orang yang dikaruniai bakat, karena setiap orang mempunyai bakat sendiri-sendiri yang sedang menunggu untuk diolah lebih lanjut.
8. Hubungan Daya Imajinasi dengan Kreativitas
Seperti yang telah dijelaskan di depan, bahwa imajinasi dapat memunculkan ide-ide kreatif yang mungkin selama ini hanya terpendam dalam tanpa ada upaya lebih lanjut untuk menggalinya. Sehingga kita dapat melihat bahwa daya imajinasi seseorang jelas akan mempengaruhi kreativitas yang ia miliki. Seperti kutipan kata-kata seorang ilmuwan jenius terkemuka, Albert Einstein, “Untuk mengajukan berbagai pertanyaan baru, kemungkinan baru, untuk menilai masalah lama dari sudut pandang baru, dibutuhkan daya khayal kreatif. Daya khayal kreatif menjadikan ilmu pengetahuan maju pesat.”
Oleh sebab itu, untuk mensyukuri karunia yang telah diberikan oleh Tuhan sudah semestinya kita memanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan cara berkarya. Dengan berkarya dari hasil imajinasi dan kreativitas kita, kita dapat memajukan dunia. Kita tidak perlu malu mendengar olok-olok dan cercaan dari orang lain, karena siapa tahu suatu saat ide kreatif kita justru akan membuat orang lain kagum. Jangan takut untuk melangkah lebih maju dengan potensi kreatif kita, walaupun orang-orang yang memiliki imajinasi dan kreativitas tinggi sering dianggap remeh bahkan sinting oleh orang lain. Jadi sudah seharusnya pula kita menghargai karya orang lain seperti kita menghargai karya kita. Karena setiap manusia pasti akan merasa senang apabila hasil karyanya dihargai oleh orang lain (Syamsuri, 2006: 124).

No comments: