Friday, October 2, 2020

Tahapan Edukasi 1.0 sampai 4.0, Cara Belajar Unik di Era Digital

 


Bila manusia tidak bisa mengubah cara belajar dan mengajarnya masih sama seperti 30 tahun yang lalu. Siap-siap saja kemampuan para guru akan kalah dengan mesin dalam mengajarkan peserta didik. Apa yang mesin lakukan jauh lebih pintar dan lebih cepat dari cara manusia mengajarkan manusia lainnya. Kini ubah caranya dengan cara belajar dan mengajar kita jadi lebih unik dan spesifik karena mesin tidak bisa melakukannya.


Petikan pembicaraan dari Jack Ma saat acara World Economic Forum tahun 2018 di Davos-Klosters. Ia bercerita banyak mengenai cara membangun perusahaan digital, pekerjaan di masa depan, kreativitas yang dibutuhkan di masa depan hingga sektor paling penting yaitu penerapan pendidikan. Akan banyak disrupsi yang terjadi dan salah satunya adalah di bidang pendidikan.


Bukan hanya jalan panjang revolusi industri yang mengalami perubahan, arah pendidikan mengalami hal serupa dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan besar ini mengubah cara manusia belajar dan mengenyam pendidikan. Pastinya segala perubahan ini sesuai dengan arah revolusi yang terjadi, jika manusia tak mengubah cara belajarnya. Mereka bisa terdisrupsi dengan teknologi yang mereka buat sendiri.

Itu semua bukan isapan jempol belaka, pendidikan jadi salah satu cara dalam mengubah peradaban dan juga pola pikir manusia. Pastinya semuanya harus sejalan dengan industri yang berkembang saat ini. Bila pendidikan yang kita pelajari tertinggal dengan industri, siap-siap saja mengalami disrupsi.


Melihat Jalan Panjang Revolusi Industri
Pendidikan dan industri selalu saja berjalan berdampingan, jalan panjang di awali dengan Revin 1.0, dimulai dari awal abad 18 saat penemuan mesin uap oleh James Watt. Bermula dari Thomas Savery yang mengembangkannya dan dilanjutkan oleh Thomas Newcoman dalam desain mesin uap. Sampai akhirnya James Watt berhasil mematenkan kinerja mesin uap yang mengubah industri manusia ke arah lebih modern.


Manusia pun saat itu belajar banyak, penerapan pendidikan mengenai mesin yang berkembang seperti apa yang telah didalami oleh James Watt sebelumnya jadi sebuah contoh. Mesin tersebut seakan menggantikan sejumlah peralatan manual yang berpatokan pada tenaga manusia dan hewan.
Proses produksi meningkat tajam dan menguntungkan industri yang mengandalkan mesin. Setiap disrupsi nyatanya menghasilkan banyak dilema, ada banyak orang yang harus kehilangan pekerjaan saat itu. Mau tak mau harus mengikuti perubahan zaman yang sangat dinamis.


Lebih seabad lamanya, di awal abad 19 terjadi Revin 2.0 yang ditandai pemanfaatan dan pengayaan energi. Negara di Eropa dan Amerika berdampak besar dalam pemanfaatan energi dalam meningkatkan ekonomi. Tanda itu semakin kental saat perang dunia pertama meletus, bak sebuah pamer superioritas siapa yang paling kuat dan mutakhir memanfaatkan energi.


Ilmuwan terkemuka kala itu seperti Albert Einstein dan Nikola Tesla sangat masyhur kala itu, ilmu mereka dalam penerapan energi seperti listrik begitu membantu hajat hidup orang banyak. Kemudian lagi kehadiran Henry Ford dalam menghasilkan kendaraan saat energi mulai dimanfaatkan dengan optimal. Masa awal inilah yang menjadi era awal manusia mulai banyak terpengaruh dengan mesin dan energi.
Lebih dari 5 dekade berlalu, seakan munculkan Revin 3.0. Semua diawali dalam penemuan komputer yang dikembangkan Alan Turing di awal tahun 40-an. Peran penting komputer mulai terasa setelah perang dunia II berakhir, yang awal mulanya hanya digunakan dalam dunia militer.


Saat era digital segala akses lebih membutuhkan koneksi jaringan yang baik. Salah satu bisnis industri yang paling berpengaruh adalah komputer dan jaringan internet. Saat itu raksasa komputer lahir dan mendisrupsi dunia kala itu.


Steve Jobs bersama Steve Wozniak dengan perusahaan Apple dan Bill Gates dan Paul Allen dengan perusahaan Microsoft di akhir tahun 70-an. Mereka membuat inovasi dunia perangkat keras dan perangkat lunak yang mampu memudahkan pekerjaan manusia hingga saat ini.
Di Akhir abad 20, kehadiran mesin pencari seperti Google jadi awal langkah sebelum makin ditebarkan sayapnya saat gebrakan Facebook sebagai platform berbasis sosial media. Saat itulah dunia digital semakin terbuka dan akses informasi seakan tanpa sekat lagi. Berkat si pendiri Google yaitu Sergey Brin dan Larry Page, pengetahuan dan pendidikan mereka mengenai komputer sains berhasil diterapkan dalam perusahaan temuan mereka yakni: Google.


Memasuki Revin 4.0, kesadaran akan energi terbarukan semakin diperlukan dalam hajat hidup masyarakat modern, Elon Musk lahir dengan segudang inovasi tak masuk akalnya. Mulai dari mobil listrik Tesla, GigaFactory hingga membangun kloni di Mars. Sejurus dengan pikiran Elon, ada juga Jeff Bezos selaku bos e-commerce terbesar di dunia.
Ia baru saja dinobatkan sebagai orang kaya sejagat karena bisnisnya dan menggabungkan teknologi. Peran Machine Learning dan AI sangat kental di dalam Amazon, sehingga layak perusahaannya menjadi salah satu penggerak Revin 4.0. Peran seperti AI, IoT, AR dan VR sangat kentara di era kini, ditambah lagi dengan makin padunya internet yang sudah berbasis 5G.


Apa hubungannya Revin 4.0 dengan Edukasi 4.0?
Pada dasarnya, untuk apa kita belajar sesuatu yang kemudian bisa sangat mudah dan cepat dikerjakan dengan mesin. Bila itu terjadi, akan banyak manusia yang akan mengalami disrupsi pekerjaan di masa depan.

Keduanya sangat selaras

Seperti yang penelitian oleh Mckinsey Global Institute dalam meramal pekerjaan nyeleneh atau yang hilang di masa depan. Tahun 2030 akan banyak pekerjaan terautomasi dengan robot dan AI, sedikitnya ada 800 juta pekerjaan yang tergantikan kala itu. Sebagai asumsi, saat itu akan ada 7,8 miliar penduduk dengan separuhnya berada di usia kerja. Ada sekitar 30% usia pekerjaan yang harus kehilangan pekerjaannya.
Pekerjaan dengan kemampuan standar kala itu, misalnya saja sopir, buruh pabrik, akuntan hingga tenaga medis bisa tergantikan. Robot dan AI bisa bekerja lebih baik dan minim kesalahan, manusia yang tidak kreatif harus kala dengan perubahan tersebut. Saat itulah butuh metode pendidikan usia dini yang baik, bagaimana mengembangkan kreativitas yang bisa menunjang si anak saat memasuki usia kerja. Ia tak perlu takut kemampuannya bisa dilakukan oleh robot atau AI.


Sejarah panjang pendidikan di Indonesia
Memutar jauh ke belakang sekaligus belajar sejarah Indonesia. Pendidikan di tanah air diawali sejak abad 16, saat era kegelapan (Renaissance) mulai berakhir. Saat itulah Bangsa Eropa mulai mencari kehidupan baru di benua atau dataran baru. Mereka mulai mencari dunia baru dengan cara mengarungi Samudra, penjelajahan mereka akhirnya menemukan negara yang kaya akan hasil rempah-rempahnya. Nusantara (nama Indonesia kala itu) jadi lokasi pendaratan Bangsa Portugis.

Kehadiran Portugis di Malaka

Di awali oleh langkah Bangsa Portugis yang penuh dengan ambisi besar, nusantara bak tanah empuk dalam mendapatkan rempah-rempah. Meski begitu mereka tak lupa juga mengenalkan pendidikan pada kalangan pribumi. Salah satunya dengan mendirikan sekolah yang memberikan pendidikan baca dan tulis, sekaligus menyebarkan agama Katolik. Sekolah saat hanya bisa didapatkan pada kalangan bangsawan saja.


Zaman pun beralih dengan sangat cepat, Belanda pun datang dan Portugis cukup banyak mengalami kekalahan dan masyarakat pribumi serta Belanda. Mau tak mau mereka harus angkat kaki dari tanah air. Abad 18 jadi era penjajahan Belanda di Nusantara.

Sekolah di Era Belanda di dominasi kalangan bangsawan

Saat itulah Belanda membangun banyak sekolah di nusantara, terhitung ada 20 sekolah, dari ibukota keresidenan. Para murid hanya harus berasal dari keluarga kerajaan atau bangsawan saja, sedangkan rakyat jelata tidak mendapatkan pendidikan serupa.


Kemudian di akhir tahun 1942, invasi Jepang di Asia Tenggara dan Indochina makin tak terbentuk. Belanda harus memberikan kekuasaannya pada Jepang. Saat itu pendidikan di Indonesia lebih setara tanpa mengenal latar belakangnya. Masyarakat biasa bisa mengecap dunia pendidikan dan tahu baca tulis kala itu.

Kehadiran Jepang di tanah air

Hingga akhirnya di tahun 1945 Indonesia mengecap kemerdekaan dan jadi negara yang berdaulat. Saat itulah kurikulum pendidikan dibangun. Tujuannya mengentaskan buta huruf kala itu, saat itu pendidikan masih dilakukan secara satu arah saja. Pendidikan masih sangat menitikberatkan guru sebagai pusat pengetahuan dan buku pelajaran sumber materi. Cara ini lebih dikenal dengan Edukasi 1.0.


Lebih dari lima dasawarsa, penetrasi internet mulai dikenal oleh sebagian masyarakat. Tepatnya di awal tahun 2000-an. Model Edukasi 1.0 sudah kurang relevan, lahirlah konsep Edukasi 2.0. Peran Pendidikan tidak sepenuhnya pada guru, tapi juga tukar pikiran dengan siswa. Interaksi lebih luas, bisa guru dengan murid, murid dengan murid lainnya serta murid dengan ahlinya.
Sekolah mulai memiliki gedung bukan hanya ruang sekolah saja. Pembangunan seperti laboratorium dan jaringan komputer sekolah jadi awal perubahan itu. Saat itulah siswa mulai mengenal praktik dan mencari tahu pengetahuan lebih luas lagi dengan internet. Saat itu siswa mungkin sudah mencari tahu segala info, bisa saja melalui Wikipedia atau website pembelajaran lainnya.


Tahun 2010 jadi era baru di dunia pendidikan, model baru dalam belajar diterapkan yaitu Edukasi 3.0. Proses belajar bukan hanya dengan guru saja tapi sudah bersifat kolaborasi dan saling mencari tahu. Pengajar pun datang dari tenaga profesional dan orang yang ahli di bidangnya. Dengan begitu ilmu pengetahuan tersebut lebih mudah diarahkan pada peserta didik, sekaligus melihat bakat si anak ke depan. 


Terobosan paling terasa adalah lahirnya repositori yang memuat konten pendidikan secara digital. Ia bisa mengaksesnya kapan saja dan di mana saja. Proses pembelajaran jadi lebih fleksibel dan terarah sesuai keinginan peserta didik.


Misalnya saja Pustekkom yang sudah membangun konten belajar berbasis Pendidikan bernama Rumah Belajar, Quipper, Ruang Guru hingga Zenius. Para pembuat atau pengguna konten pun bisa saja berasal dari pelajar. Jadinya para pelajar lebih aktif dan interaktif dalam menerapkan ilmunya rasa ingin tahunya.
Memasuki era selanjutnya yaitu tepatnya di tahun 2018, arah pendidikan berubah dengan sangat cepat dibandingkan sebelumnya. Lahirlah Konsep Edukasi 4.0 yang mengedepankan fleksibilitas dan kreativitas. Proses pembelajaran pun tak jarang bidang dilakukan secara jarak jauh (Tele Learning).


Konsep utama yang diterapkan pada Edukasi 4.0 mengedepankan enam hal utama yaitu: Beragam waktu dan tempat, personalized learning, free choice, berbasis proyek, pengalaman lapangan, dan interpretasi data. Sehingga proses belajar berhasil diterapkan dan sesuai dengan perubahan zaman. Apa sajakah itu, berikut ulasannya:


Beragam waktu dan tempat, proses belajar bukan hanya di ruang kelas saja seperti pendidikan sebelumnya. Jumlah durasi di kelas jadi berkurang dan akan ada banyak waktu belajar di waktu serta ruang berbeda. Sistem belajar dibalik, materi teoritis lebih banyak dilakukan di luar kelas sedangkan praktis dilakukan di dalam kelas.
Personalized Learning, proses belajar ini akan menyesuaikan si pelajar dalam memahami materi. Ia akan memecahkan jawaban sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Ibarat bermain game, yang lebih banyak mampu memecahkan tantangan akan cepat naik level jadi bukan lagi cara pukul rata kemampuan siswa.


Free Choice, sistem ini akan dipilih oleh siswa sesuai pada perangkat, program atau teknik dalam belajar yang ia kehendaki. Di sini siswa akan mempraktikkan cara belajar yang paling ia rasa nyaman sehingga kemampuannya terus terasah.


Berbasis Proyek, siswa diajak menerapkan keterampilan yang ia sudah pelajari dalam berbagai situasi. Seperti belajar bagaimana cara instalasi komputer, memecahkan kode struktur, dan coding. Jadi pengalamannya akan terasa untuk nantinya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya.
Pengalaman Lapangan, link and match di dunia pekerjaan sangatlah penting. Saat ini banyak sekali materi yang diajarkan di bangku sekolah dan perkuliahan yang tidak nyambung dengan dunia kerja. Pada Edukasi 4.0 akan banyak pengalaman lapangan saat masih di sekolah dipraktikkan di dunia kerja.


Interpretasi Data, Setiap siswa akan lebih banyak tahu mengenai komputer dan analisa data. Mengingat di era Revin 4.0 sangat banyak bersinggungan dengan data. Peran Big Data sangat sentral dalam memecahkan masalah yang ada. Data tersebut bisa digunakan sesuai kebutuhan dan menganalisa sejumlah masalah jadi solusi akhir.


Bagaimanakah Penerapan Konsep Edukasi 4.0?
Pada Edukasi 4.0, siswa bukan lagi siswa yang dahulu. Pengetahuan mereka bila melampaui gurunya, akses informasi tanpa batas jadi alasan. Dibandingkan menyuruh membaca buku materi yang terlihat sangat membosankan, ia bisa mengakses segala pengetahuan dengan gadgetnya.


Tak ada lagi konsep guru berceramah panjang lebar atau mencatat apa yang ada di papan tulis. Peran di era saat ini lebih pada proses mentoring berkelanjutan. Misalnya saat pengaplikasian dengan perangkat IT yang ada di sekolah. Kemudian lagi kemampuan memecahkan masalah jadi lebih berbeda, karena teamwork jadi sesuatu yang menonjol dalam Edukasi 4.0. Terakhir proses penilaiannya bukan lagi menitikberatkan pada nilai tapi proses berjuang di dalamnya.


Model kelasnya berbasis Digital Classroom juga menggunakan konsep IoT, platform ini akan melakukan proses kegiatan akademik jarak-jauh. Memungkinkan para siswa belajar melalui Video, PPT, bahkan tes online. Konsep ini lahir saat jadwal dosen sangat padat dan memungkinkan ia tidak bisa masuk ke dalam kelas. Platform atau website tersebut bisa diakses dengan mudah.

Digital Classroom dianggap contoh edukasi 4.0

Nantinya dalam proses ujian pun akan ada tes online, ujian dipantau webcam dan sensor. Saat melakukan kecurangan seperti melihat buku, otomatis akan terdeteksi dari aplikasi tersebut. Karena tidak menitikberatkan pada nilai, otomatis tekanan dalam ujian tidak seberat sistem sebelumnya. Sehingga siswa bisa mengedepankan rasa jujur dalam membangun pendidikan bukan sebatas nilai.

Penerapan IoT pada sekolah

Di level bangku perkuliahan akan ada teknologi IoT (Internet of Things), salah satunya ID tertentu sehingga bisa mengetahui siswa yang masuk dan tidak masuk. Proses scanning inilah yang guru atau dosen lakukan terhadap siswa atau mahasiswanya. ID tersebut berupa jam tangan pintar berbasis IOT, akan ketahuan siapa saja yang membolos atau bahkan terlambat.


Makin lengkap lagi dengan penerapan Blockchain, dulunya konsep ini hanya diterapkan pada sistem mata uang kripto berbasis peer to peer. Karena sifatnya global, Blockchain sangat cocok juga dikembangkan pada berbagai bidang salah satu pendidikan.


Penerapannya adalah dalam penggunaan e-certificate berbasis Blockchain, kecurangan di dunia Pendidikan jadi alasan besar Blockchain menanggulanginya. Ijazah palsu, pemalsuan nama, hingga nilai jadi sisi mirip dunia pendidikan. Adanya Blockchain yang bersifat desentralisasi seakan menyulitkan orang memalsukan ijazah. Apalagi di era teknologi, kepercayaan dan transparansi jadi hal wajib dan Blockchain menawarkannya.


Salah satu tempat lokasi belajar yang sudah menerapkan konsep ini adalah kampus nomor wahid di dunia, Massachusetts Institute of Technology, USA. Sekaligus penerapan Pendidikan berbasis 4.0, konsep ini bisa membangun karakter setiap anak didik. Khususnya menjadi pribadi yang jujur sejak dini, teknologi jadi salah satu cara yang dipilih bijak.

Ijazah berbasis blockchain

Dengan begitu kita tak perlu takut atau anak kita tak perlu takut menghadapi perubahan di masa depan. Secara pendidikan ia siap bersaing, perubahan banyak pekerjaan dan tugas robot dalam mengganti manusia tak terpengaruh sedikit pun. Karena kita berhasil menjadi manusia yang unik…


Terakhir… kita harus mengapresiasikan peran guru dan pemerintah. Penerapan Edukasi 4.0 dinilai bantu menyesuaikan cara belajar sesuai zaman. Guru pun naik kelas, bukan lagi sekedar mengajar saja. Mereka jadi agen perubahan dan agen kemajuan buat anak didiknya menggapai apa yang mereka inginkan.

No comments: