Monday, April 18, 2016

Ayo Sekolah di Sekolah yang Tepat!


Bagi kebanyakan orang tua yang memiliki anak usia sekolah, pertengahan tahun merupakan masa-masa “penuh tantangan” karena di bulan Juni-Juli orang tua harus mengerahkan biaya dan perhatian untuk urusan sekolah. Mulai dari menyisihkan dana untuk biaya baju seragam, buku-buku, uang pangkal masuk sekolah baru, hingga memberikan perhatian khusus bagi anak untuk membantunya menyesuaikan diri di lingkungan sekolah. Anak harus bisa mendapatkan fasilitas yang memadai dan nyaman belajar bagi si buah hati.
Bicara soal pendidikan, hampir semua orang tua ingin putra-putrinya menempuh pendidikan setinggi dan sebaik mungkin. Oleh sebab itu orang tua zaman sekarang sudah jauh-jauh hari menyiapkan dana pendidikan anak. Kalaupun dana sudah tersedia, masalahnya sekarang adalah menentukan pilihan sekolah. Sekolah mana yang tepat?

Apakah sekolah dengan ruang kelas ber-AC?
Sekolah yang memiliki fasilitas laboratorium lengkap?
Sekolah yang dekat rumah?
Sekolah yang populer atau favorit?
Atau sekolah yang berbasis agama?
Banyaknya jenis sekolah menimbulkan dilema tersendiri bagi orang tua. Terlebih lagi jika mendengar rumor tentang sisi negatif suatu sekolah seperti:
“Ah, di sekolah itu kan banyak siswanya yang kecanduan narkoba.”
“Ah, sekolah itu kan gurunya kurang berkualitas.”
“Sekolah itu kan fasilitasnya minim sekali.” ... atau,
“Sekolah itu kuno sistem pengajarannya.”
Hal ini ini membuat orang tua merasa tetap saja bingung walaupun dana pendidikan anak sudah mencukupi. Mau tak mau orangtua perlu memiliki pemahaman memadai tentang pemilihan sekolah yang tepat untuk anak agar tidak salah dalam menentukan pilihan sekolah buat si anak.
Sekarang, mari kita luruskan dahulu beberapa anggapan keliru tentang sekolah yang selama ini berkembang di masyarakat. Harapannya, dengan memahami informasi yang benar, orang tua akan terbantu ketika kelak memilih sekolah yang paling tepat untuk anak mereka.

Sekolah Unggulan
Menurut Pemerintah, sekolah unggulan adalah sekolah dengan rata-rata NUAN (dulu NEM) yang bagus. Pengertian “bagus” ini belum dirumuskan dengan jelas dan tidak ada nilai baku yang terstandar karena nilai NUAN selalu berubah setiap tahun. Artinya, bisa saja rata-rata NUAN sebuah sekolah terlihat tinggi karena secara kebetulan ada siswa-siswa tertentu di sekolah tersebut yang sangat cerdas sehingga nilai NUAN mereka mampu mengangkat rata-rata nilai NUAN sekolahnya. Unggulan juga ternyata bukan dipandang dari metode pengajaran yang bagus, kualitas guru yang bagus, atau bahkan fasilitas sekolah. Jadi, orang tua harus waspada untuk tidak mudah tergiur semata-mata karena label ”unggulan”. Lihat kembali, apakah sekolah itu memiliki kualitas guru yang bagus dan fasilitas yang memadai.

Mitos Sekolah Negeri
Anggapan yang paling umum mengenai sekolah negeri adalah bahwa biayanya murah dan memiliki fasilitas yang lengkap. Dulu, memang sekolah negeri mematok biaya yang relatif lebih rendah dibanding sekolah swasta. Saat ini, ada juga sekolah negeri yang menarik biaya cukup mahal. Biasanya ini karena sekolah tersebut telah mendapat label favorit/ akreditasi A sebagai?.. sehingga berani mematok biaya hampir sama dengan sekolah swasta. Mengenai fasilitas, dulu setiap sekolah negeri memang bisa bergantung pada subsidi pemerintah. Saat ini, subsidi pemerintah tidak lagi mencukupi sehingga sekolah perlu mencari dana lain untuk menyediakan fasilitas yang diperlukan. Hal inilah yang pada akhirnya meningkatkan biaya bulanan bersekolah di sekolah negeri. Anggapan lain tentang sekolah negeri adalah bahwa lulusannya bermutu karena metode pengajarannya bermutu. Hal ini pun belum tentu benar karena unggulnya metode pengajaran baru terasa jika didukung oleh fasilitas serta guru-guru yang berkualitas. Oleh karena itu, pelajari juga riwayat sekolah dan cari tahu kualitas guru dan sarana sekolahnya. Bahkan pola pengajaran yang tidak membosankan bagi si buah hati.

Mitos Sekolah Swasta
Masih ada anggapan bahwa sekolah swasta adalah “sekolah buangan” yaitu sekolah yang siswanya memiliki NUAN buruk sehingga tidak diterima di sekolah negeri. Kenyatannya, banyak sekolah swasta yang bermutu baik. Hal ini terbukti dari banyaknya lulusan sekolah swasta yang juga sanggup meraih NUAN tinggi. Kita juga mengenal sekolah swasta yang berbasis agama (sekolah Katolik, Kristen, atau Islam misalnya). Sekolah berbasis agama tentu saja ikut menitikberatkan pendidikan agama. Akhirnya muncul mitos bahwa sekolah seperti itu cenderung “kolot” atau “kaku” karena banyak aturan-aturan yang ketat. Adapula yang beranggapan bahwa sekolah berbasis agama banyak yang identik dengan suku bangsa tetentu. Seperti sekolah Katolik dan Kristen banyak didominasi oleh etnis Tionghoa, sedangkan sekolah Islam mayoritas siswanya pribumi atau Arab. Sekolah swasta juga dikenal menarik biaya yang mahal. Bijaklah menyikapi persepsi ini. Ada sekolah swasta yang bisa memberi keringanan bagi siswa yang kurang mampu. Disiplin sekolah swasta di satu sisi juga bisa memberi manfaat bagi anak untuk belajar bertanggung jawab. Sedangkan terkait dengan dominasi etnis tertentu, di saat bangsa kita mesti membangun kebhinekaan, tentunya kurang bijak kalau kita justru menghindarkan anak kita dari pembauran. Sepanjang mutu sekolah memang bagus, anak kita tetap akan menerima proses pembelajaran yang terbaik bukan? Bahkan mungkin ia juga akan belajar beradaptasi dengan etnis lain, sebuah pelajaran yang mungkin tidak diterima siswa di sekolah lain.

Sekolah Nasional Plus
Dewasa ini, status sekolah Nasional Plus sedang menjamur. Di jalan-jalan terpampang iklan-iklan yang menjual kehebatan sekolah Nasional Plus. Sekolah ini biasanya berkolaborasi dengan lembaga pendidikan luar negeri seperti dari Singapura, Malaysia, atau Australia. Bahasa Inggris yang dipandang sebagai bahasa keren bagi banyak orang tua membuat sekolah Nasional Plus menjadi incaran karena menggunakan metode pengajaran bilingual (dua bahasa: Indonesia dan Inggris). Selain itu, sekolah ini juga menjual keunggulan berupa fasilitas yang lengkap dan mewah, diantaranya laboratorium bahasa yang canggih, serta fasilitas olah raga dan ekstrakurikuler yang bergengsi seperti berkuda, golf, tennis, orkestra, atau berenang di kolam renang sekolah, dan lainnya. Sekolah ini kadangkala mengandalkan fasilitas dan lisensi metode pengajaran luar negeri serta gedung mewah. Hal ini membuat para orang tua tergiur dan beranggapan bahwa sekolah mahal adalah sekolah bagus. Benarkah demikian? Sekali lagi, orang tua perlu meneliti lebih jauh. Walaupun didukung fasilitas yang sangat memadai, jika sekolah Nasional Plus tidak memiliki jajaran pengajar yang berpengalaman, maka julukan ”sekolah yang bermutu” masih belum layak disandang oleh sekolah ini.
Wah, memilih sekolah di jaman sekarang memang tidak mudah ya. Cukup memusingkan dan menjadi beban bagi orang tua. Berikut ini beberapa patokan yang dapat digunakan dalam memilih sekolah. Patokan seperti ini dapat disepakati orang tua dan anak (jika anak sudah mampu mengenal potensinya) dalam memilih sekolah yang paling tepat.
Sekolah yang TEPAT, mengandung arti sekolah tersebut dapat mengakomodir aktualisasi potensi anak. Oleh karena itu,
  • Jika kemampuan anak tergolong kurang, jangan dipaksakan masuk ke sekolah yang kompetisi akademiknya sangat keras karena akan membuat anak menjadi terbebani, minder, dan akhirnya merasa lebih bodoh dari apa yang mestinya masih bisa ia tampilkan.
  • Sesuaikan pemilihan sekolah dengan minat anak. Cari informasi tentang kegiatan ekstrakurikuler yang tersedia, apakah dapat mendukung minat anak, misalnya di bidang seni atau olahraga. Selain berpeluang mengembangkan bakat anak, juga dapat membantu membuat anak menyukai sekolah.
  • Bagi anak yang sudah menginjak remaja, perlu ada dialog antara orang tua dan anak mengenai minat dan keinginan anak. Hal ini untuk mengantisipasi timbulnya alasan “Aku malas sekolah karena ini bukan sekolah pilihanku”. Ikut sertakan anak dalam mencari informasi dan membahas mutu sekolah.
  • Bagi anak yang masih kecil dan baru akan memasuki Play Group, TK, atau SD, maka orang tua perlu melihat program pengajaran yang ditawarkan sekolah, apakah sesuai dengan kesiapan belajar anak. Misalnya metode pengajaran bilingual, apakah anak sudah cukup menguasai bahasa utamanya sehingga siap untuk belajar bahasa kedua? Apakah orang tua bisa mendukung anak di rumah untuk berlatih bahasa kedua? Juga tentang nilai-nilai moral dan sosial, apakah metode pengajaran sesuai dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan orang tua? Misalnya saja, perlukah anak bersekolah di sekolah yang berbasis agama?
  • Kalau anak yang memiliki kebutuhan khusus misalnya hiperaktif atau ada gangguan motorik, jangan paksakan anak bersekolah di sekolah dengan banyak siswa dalam satu kelas meskipun sekolah itu sangat baik di mata orang tua. Anak-anak seperti ini membutuhkan penanganan khusus agar ia dapat berkembang optimal. Carilah sekolah yang menyediakan fasilitas terapis atau paling tidak school buddy sehingga perkembangan anak di sekolah dapat terpantau dan terfasilitasi dengan baik.
  • Fasilitas yang menggiurkan juga belum tentu menjawab kebutuhan anak khusus karakter dan bakatnya. Meskipun fasilitas lengkap dapat menunjang anak untuk lebih mudah belajar, namun jika tidak didukung oleh kualitas guru yang baik dalam arti mampu memahami karakteristik anak, maka fasilitas pun akan kurang berperan.
Semua sekolah pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga orang tua butuh waktu untuk mempertimbangkan sekolah mana yang unsur positifnya paling banyak. Langkah pertama adalah pahami anak anda sedalam mungkin untuk membantunya menemukan sekolah yang paling tepat. Ingat, sekolah yang baik menurut orang tua belum tentu merupakan sekolah yang paling tepat bagi anak. Kedua, carilah informasi tentang sekolah-sekolah yang menjadi alternatif pilihan. Hadirlah jika ada sesi open-house, ajak guru-gurunya mengobrol di luar acara formal untuk mengetahui pengalaman mereka dalam mengajar dan minat mereka pada pengembangan anak. Carilah orang tua yang anaknya sudah cukup lama bersekolah di situ dan tanyakan kesan-kesan mereka. Sedapat mungkin, cari juga keterangan dari anak mereka yang merasakan langsung bersekolah di sana. Selain mutu pendidikan, tanyakan juga kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Berikutnya, barangkali Anda juga perlu mempertimbangkan hal-hal lain seperti unsur keselamatan dan aksesibilitas (mudah dijangkau kendaraan umum, ada telepon umum), kebersihan, dan sebagainya.
Semoga informasi ini dapat membantu Anda, sebab bentuk kasih sayang orang tua salah satunya tercermin dari kebijaksanaan orang tua saat memilih sekolah yang TEPAT bagi anak dan masa depannya.
Sumber : Erfianne S. Cicilia & DEC

Ayo Sekolah di Sekolah yang Tepat!

PrintEmail
Erfianne S. Cicilia
Bagi kebanyakan orang tua yang memiliki anak usia sekolah, pertengahan tahun merupakan masa-masa “penuh tantangan” karena di bulan Juni-Juli orang tua harus mengerahkan biaya dan perhatian untuk urusan sekolah. Mulai dari menyisihkan dana untuk biaya baju seragam, buku-buku, uang pangkal masuk sekolah baru, hingga memberikan perhatian khusus bagi anak untuk membantunya menyesuaikan diri di lingkungan sekolah.
Bicara soal pendidikan, hampir semua orang tua ingin putra-putrinya menempuh pendidikan setinggi dan sebaik mungkin. Oleh sebab itu orang tua jaman sekarang sudah jauh-jauh hari menyiapkan dana pendidikan anak. Kalaupun dana sudah tersedia, masalahnya sekarang adalah menentukan pilihan sekolah. Sekolah mana yang tepat?
Apakah sekolah dengan ruang kelas ber-AC?
Sekolah yang memiliki fasilitas laboratorium lengkap?
Sekolah yang dekat rumah?
Sekolah yang populer?
Atau sekolah yang berbasis agama?
Banyaknya jenis sekolah menimbulkan dilema tersendiri bagi orang tua. Terlebih lagi jika mendengar rumor tentang sisi negatif suatu sekolah seperti:
“Ah, di sekolah itu kan banyak siswanya yang kecanduan narkoba.”
“Ah, sekolah itu kan gurunya kurang berkualitas.”
“Sekolah itu kan fasilitasnya minim sekali.” ... atau,
“Sekolah itu kuno sistem pengajarannya.”
Hal ini ini membuat orang tua merasa tetap saja bingung walaupun dana pendidikan anak sudah mencukupi. Mau tak mau orangtua perlu memiliki pemahaman memadai tentang pemilihan sekolah yang tepat untuk anak.
Sekarang, mari kita luruskan dahulu beberapa anggapan keliru tentang sekolah yang selama ini berkembang di masyarakat. Harapannya, dengan memahami informasi yang benar, orang tua akan terbantu ketika kelak memilih sekolah yang paling tepat untuk anak mereka.
Sekolah Unggulan
Menurut Pemerintah, sekolah unggulan adalah sekolah dengan rata-rata NUAN (dulu NEM) yang bagus. Pengertian “bagus” ini belum dirumuskan dengan jelas dan tidak ada nilai baku yang terstandar karena nilai NUAN selalu berubah setiap tahun. Artinya, bisa saja rata-rata NUAN sebuah sekolah terlihat tinggi karena secara kebetulan ada siswa-siswa tertentu di sekolah tersebut yang sangat cerdas sehingga nilai NUAN mereka mampu mengangkat rata-rata nilai NUAN sekolahnya. Unggulan juga ternyata bukan dipandang dari metode pengajaran yang bagus, kualitas guru yang bagus, atau bahkan fasilitas sekolah. Jadi, orang tua harus waspada untuk tidak mudah tergiur semata-mata karena label ”unggulan”. Lihat kembali, apakah sekolah itu memiliki kualitas guru yang bagus dan fasilitas yang memadai.
Mitos Sekolah Negeri
Anggapan yang paling umum mengenai sekolah negeri adalah bahwa biayanya murah dan memiliki fasilitas yang lengkap. Dulu, memang sekolah negeri mematok biaya yang relatif lebih rendah dibanding sekolah swasta. Saat ini, ada juga sekolah negeri yang menarik biaya cukup mahal. Biasanya ini karena sekolah tersebut telah mendapat label sebagai ..?.. sehingga berani mematok biaya hampir sama dengan sekolah swasta. Mengenai fasilitas, dulu setiap sekolah negeri memang bisa bergantung pada subsidi pemerintah. Saat ini, subsidi pemerintah tidak lagi mencukupi sehingga sekolah perlu mencari dana lain untuk menyediakan fasilitas yang diperlukan. Hal inilah yang pada akhirnya meningkatkan biaya bulanan bersekolah di sekolah negeri. Anggapan lain tentang sekolah negeri adalah bahwa lulusannya bermutu karena metode pengajarannya bermutu. Hal ini pun belum tentu benar karena unggulnya metode pengajaran baru terasa jika didukung oleh fasilitas serta guru-guru yang berkualitas. Oleh karena itu, pelajari juga riwayat sekolah dan cari tahu kualitas guru dan sarana sekolahnya.
Mitos Sekolah Swasta
Masih ada anggapan bahwa sekolah swasta adalah “sekolah buangan” yaitu sekolah yang siswanya memiliki NUAN buruk sehingga tidak diterima di sekolah negeri. Kenyatannya, banyak sekolah swasta yang bermutu baik. Hal ini terbukti dari banyaknya lulusan sekolah swasta yang juga sanggup meraih NUAN tinggi. Kita juga mengenal sekolah swasta yang berbasis agama (sekolah Katolik, Kristen, atau Islam misalnya). Sekolah berbasis agama tentu saja ikut menitikberatkan pendidikan agama. Akhirnya muncul mitos bahwa sekolah seperti itu cenderung “kolot” atau “kaku” karena banyak aturan-aturan yang ketat. Adapula yang beranggapan bahwa sekolah berbasis agama banyak yang identik dengan suku bangsa tetentu. Seperti sekolah Katolik dan Kristen banyak didominasi oleh etnis Tionghoa, sedangkan sekolah Islam mayoritas siswanya pribumi atau Arab. Sekolah swasta juga dikenal menarik biaya yang mahal. Bijaklah menyikapi persepsi ini. Ada sekolah swasta yang bisa memberi keringanan bagi siswa yang kurang mampu. Disiplin sekolah swasta di satu sisi juga bisa memberi manfaat bagi anak untuk belajar bertanggung jawab. Sedangkan terkait dengan dominasi etnis tertentu, di saat bangsa kita mesti membangun kebhinekaan, tentunya kurang bijak kalau kita justru menghindarkan anak kita dari pembauran. Sepanjang mutu sekolah memang bagus, anak kita tetap akan menerima proses pembelajaran yang terbaik bukan? Bahkan mungkin ia juga akan belajar beradaptasi dengan etnis lain, sebuah pelajaran yang mungkin tidak diterima siswa di sekolah lain.
Sekolah Nasional Plus
Dewasa ini, status sekolah Nasional Plus sedang menjamur. Di jalan-jalan terpampang iklan-iklan yang menjual kehebatan sekolah Nasional Plus. Sekolah ini biasanya berkolaborasi dengan lembaga pendidikan luar negeri seperti dari Singapura, Malaysia, atau Australia. Bahasa Inggris yang dipandang sebagai bahasa keren bagi banyak orang tua membuat sekolah Nasional Plus menjadi incaran karena menggunakan metode pengajaran bilingual (dua bahasa: Indonesia dan Inggris). Selain itu, sekolah ini juga menjual keunggulan berupa fasilitas yang lengkap dan mewah, diantaranya laboratorium bahasa yang canggih, serta fasilitas olah raga dan ekstrakurikuler yang bergengsi seperti berkuda, golf, tennis, orkestra, atau berenang di kolam renang sekolah, dan lainnya. Sekolah ini kadangkala mengandalkan fasilitas dan lisensi metode pengajaran luar negeri serta gedung mewah. Hal ini membuat para orang tua tergiur dan beranggapan bahwa sekolah mahal adalah sekolah bagus. Benarkah demikian? Sekali lagi, orang tua perlu meneliti lebih jauh. Walaupun didukung fasilitas yang sangat memadai, jika sekolah Nasional Plus tidak memiliki jajaran pengajar yang berpengalaman, maka julukan ”sekolah yang bermutu” masih belum layak disandang oleh sekolah ini.
Wah, memilih sekolah di jaman sekarang memang tidak mudah ya. Cukup memusingkan dan menjadi beban bagi orang tua. Berikut ini beberapa patokan yang dapat digunakan dalam memilih sekolah. Patokan seperti ini dapat disepakati orang tua dan anak (jika anak sudah mampu mengenal potensinya) dalam memilih sekolah yang paling tepat.
Sekolah yang TEPAT, mengandung arti sekolah tersebut dapat mengakomodir aktualisasi potensi anak. Oleh karena itu,
  • Jika kemampuan anak tergolong kurang, jangan dipaksakan masuk ke sekolah yang kompetisi akademiknya sangat keras karena akan membuat anak menjadi terbebani, minder, dan akhirnya merasa lebih bodoh dari apa yang mestinya masih bisa ia tampilkan.
  • Sesuaikan pemilihan sekolah dengan minat anak. Cari informasi tentang kegiatan ekstrakurikuler yang tersedia, apakah dapat mendukung minat anak, misalnya di bidang seni atau olahraga. Selain berpeluang mengembangkan bakat anak, juga dapat membantu membuat anak menyukai sekolah.
  • Bagi anak yang sudah menginjak remaja, perlu ada dialog antara orang tua dan anak mengenai minat dan keinginan anak. Hal ini untuk mengantisipasi timbulnya alasan “Aku malas sekolah karena ini bukan sekolah pilihanku”. Ikut sertakan anak dalam mencari informasi dan membahas mutu sekolah.
  • Bagi anak yang masih kecil dan baru akan memasuki Play Group, TK, atau SD, maka orang tua perlu melihat program pengajaran yang ditawarkan sekolah, apakah sesuai dengan kesiapan belajar anak. Misalnya metode pengajaran bilingual, apakah anak sudah cukup menguasai bahasa utamanya sehingga siap untuk belajar bahasa kedua? Apakah orang tua bisa mendukung anak di rumah untuk berlatih bahasa kedua? Juga tentang nilai-nilai moral dan sosial, apakah metode pengajaran sesuai dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan orang tua? Misalnya saja, perlukah anak bersekolah di sekolah yang berbasis agama?
  • Kalau anak yang memiliki kebutuhan khusus misalnya hiperaktif atau ada gangguan motorik, jangan paksakan anak bersekolah di sekolah dengan banyak siswa dalam satu kelas meskipun sekolah itu sangat baik di mata orang tua. Anak-anak seperti ini membutuhkan penanganan khusus agar ia dapat berkembang optimal. Carilah sekolah yang menyediakan fasilitas terapis atau paling tidak school buddy sehingga perkembangan anak di sekolah dapat terpantau dan terfasilitasi dengan baik.
  • Fasilitas yang menggiurkan juga belum tentu menjawab kebutuhan anak. Meskipun fasilitas lengkap dapat menunjang anak untuk lebih mudah belajar, namun jika tidak didukung oleh kualitas guru yang baik dalam arti mampu memahami karakteristik anak, maka fasilitas pun akan kurang berperan.
Semua sekolah pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga orang tua butuh waktu untuk mempertimbangkan sekolah mana yang unsur positifnya paling banyak. Langkah pertama adalah pahami anak anda sedalam mungkin untuk membantunya menemukan sekolah yang paling tepat. Ingat, sekolah yang baik menurut orang tua belum tentu merupakan sekolah yang paling tepat bagi anak. Kedua, carilah informasi tentang sekolah-sekolah yang menjadi alternatif pilihan. Hadirlah jika ada sesi open-house, ajak guru-gurunya mengobrol di luar acara formal untuk mengetahui pengalaman mereka dalam mengajar dan minat mereka pada pengembangan anak. Carilah orang tua yang anaknya sudah cukup lama bersekolah di situ dan tanyakan kesan-kesan mereka. Sedapat mungkin, cari juga keterangan dari anak mereka yang merasakan langsung bersekolah di sana. Selain mutu pendidikan, tanyakan juga kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Berikutnya, barangkali Anda juga perlu mempertimbangkan hal-hal lain seperti unsur keselamatan dan aksesibilitas (mudah dijangkau kendaraan umum, ada telepon umum), kebersihan, dan sebagainya.
Semoga informasi ini dapat membantu Anda, sebab bentuk kasih sayang orang tua salah satunya tercermin dari kebijaksanaan orang tua saat memilih sekolah yang TEPAT bagi anak dan masa depannya.
- See more at: http://lptui.com/artikel/talent-mapping-pendidikan/ayo-sekolah-di-sekolah-yang-tepat#sthash.vtIP79Sz.dpuf

Ayo Sekolah di Sekolah yang Tepat!

PrintEmail
Erfianne S. Cicilia
Bagi kebanyakan orang tua yang memiliki anak usia sekolah, pertengahan tahun merupakan masa-masa “penuh tantangan” karena di bulan Juni-Juli orang tua harus mengerahkan biaya dan perhatian untuk urusan sekolah. Mulai dari menyisihkan dana untuk biaya baju seragam, buku-buku, uang pangkal masuk sekolah baru, hingga memberikan perhatian khusus bagi anak untuk membantunya menyesuaikan diri di lingkungan sekolah.
Bicara soal pendidikan, hampir semua orang tua ingin putra-putrinya menempuh pendidikan setinggi dan sebaik mungkin. Oleh sebab itu orang tua jaman sekarang sudah jauh-jauh hari menyiapkan dana pendidikan anak. Kalaupun dana sudah tersedia, masalahnya sekarang adalah menentukan pilihan sekolah. Sekolah mana yang tepat?
Apakah sekolah dengan ruang kelas ber-AC?
Sekolah yang memiliki fasilitas laboratorium lengkap?
Sekolah yang dekat rumah?
Sekolah yang populer?
Atau sekolah yang berbasis agama?
Banyaknya jenis sekolah menimbulkan dilema tersendiri bagi orang tua. Terlebih lagi jika mendengar rumor tentang sisi negatif suatu sekolah seperti:
“Ah, di sekolah itu kan banyak siswanya yang kecanduan narkoba.”
“Ah, sekolah itu kan gurunya kurang berkualitas.”
“Sekolah itu kan fasilitasnya minim sekali.” ... atau,
“Sekolah itu kuno sistem pengajarannya.”
Hal ini ini membuat orang tua merasa tetap saja bingung walaupun dana pendidikan anak sudah mencukupi. Mau tak mau orangtua perlu memiliki pemahaman memadai tentang pemilihan sekolah yang tepat untuk anak.
Sekarang, mari kita luruskan dahulu beberapa anggapan keliru tentang sekolah yang selama ini berkembang di masyarakat. Harapannya, dengan memahami informasi yang benar, orang tua akan terbantu ketika kelak memilih sekolah yang paling tepat untuk anak mereka.
Sekolah Unggulan
Menurut Pemerintah, sekolah unggulan adalah sekolah dengan rata-rata NUAN (dulu NEM) yang bagus. Pengertian “bagus” ini belum dirumuskan dengan jelas dan tidak ada nilai baku yang terstandar karena nilai NUAN selalu berubah setiap tahun. Artinya, bisa saja rata-rata NUAN sebuah sekolah terlihat tinggi karena secara kebetulan ada siswa-siswa tertentu di sekolah tersebut yang sangat cerdas sehingga nilai NUAN mereka mampu mengangkat rata-rata nilai NUAN sekolahnya. Unggulan juga ternyata bukan dipandang dari metode pengajaran yang bagus, kualitas guru yang bagus, atau bahkan fasilitas sekolah. Jadi, orang tua harus waspada untuk tidak mudah tergiur semata-mata karena label ”unggulan”. Lihat kembali, apakah sekolah itu memiliki kualitas guru yang bagus dan fasilitas yang memadai.
Mitos Sekolah Negeri
Anggapan yang paling umum mengenai sekolah negeri adalah bahwa biayanya murah dan memiliki fasilitas yang lengkap. Dulu, memang sekolah negeri mematok biaya yang relatif lebih rendah dibanding sekolah swasta. Saat ini, ada juga sekolah negeri yang menarik biaya cukup mahal. Biasanya ini karena sekolah tersebut telah mendapat label sebagai ..?.. sehingga berani mematok biaya hampir sama dengan sekolah swasta. Mengenai fasilitas, dulu setiap sekolah negeri memang bisa bergantung pada subsidi pemerintah. Saat ini, subsidi pemerintah tidak lagi mencukupi sehingga sekolah perlu mencari dana lain untuk menyediakan fasilitas yang diperlukan. Hal inilah yang pada akhirnya meningkatkan biaya bulanan bersekolah di sekolah negeri. Anggapan lain tentang sekolah negeri adalah bahwa lulusannya bermutu karena metode pengajarannya bermutu. Hal ini pun belum tentu benar karena unggulnya metode pengajaran baru terasa jika didukung oleh fasilitas serta guru-guru yang berkualitas. Oleh karena itu, pelajari juga riwayat sekolah dan cari tahu kualitas guru dan sarana sekolahnya.
Mitos Sekolah Swasta
Masih ada anggapan bahwa sekolah swasta adalah “sekolah buangan” yaitu sekolah yang siswanya memiliki NUAN buruk sehingga tidak diterima di sekolah negeri. Kenyatannya, banyak sekolah swasta yang bermutu baik. Hal ini terbukti dari banyaknya lulusan sekolah swasta yang juga sanggup meraih NUAN tinggi. Kita juga mengenal sekolah swasta yang berbasis agama (sekolah Katolik, Kristen, atau Islam misalnya). Sekolah berbasis agama tentu saja ikut menitikberatkan pendidikan agama. Akhirnya muncul mitos bahwa sekolah seperti itu cenderung “kolot” atau “kaku” karena banyak aturan-aturan yang ketat. Adapula yang beranggapan bahwa sekolah berbasis agama banyak yang identik dengan suku bangsa tetentu. Seperti sekolah Katolik dan Kristen banyak didominasi oleh etnis Tionghoa, sedangkan sekolah Islam mayoritas siswanya pribumi atau Arab. Sekolah swasta juga dikenal menarik biaya yang mahal. Bijaklah menyikapi persepsi ini. Ada sekolah swasta yang bisa memberi keringanan bagi siswa yang kurang mampu. Disiplin sekolah swasta di satu sisi juga bisa memberi manfaat bagi anak untuk belajar bertanggung jawab. Sedangkan terkait dengan dominasi etnis tertentu, di saat bangsa kita mesti membangun kebhinekaan, tentunya kurang bijak kalau kita justru menghindarkan anak kita dari pembauran. Sepanjang mutu sekolah memang bagus, anak kita tetap akan menerima proses pembelajaran yang terbaik bukan? Bahkan mungkin ia juga akan belajar beradaptasi dengan etnis lain, sebuah pelajaran yang mungkin tidak diterima siswa di sekolah lain.
Sekolah Nasional Plus
Dewasa ini, status sekolah Nasional Plus sedang menjamur. Di jalan-jalan terpampang iklan-iklan yang menjual kehebatan sekolah Nasional Plus. Sekolah ini biasanya berkolaborasi dengan lembaga pendidikan luar negeri seperti dari Singapura, Malaysia, atau Australia. Bahasa Inggris yang dipandang sebagai bahasa keren bagi banyak orang tua membuat sekolah Nasional Plus menjadi incaran karena menggunakan metode pengajaran bilingual (dua bahasa: Indonesia dan Inggris). Selain itu, sekolah ini juga menjual keunggulan berupa fasilitas yang lengkap dan mewah, diantaranya laboratorium bahasa yang canggih, serta fasilitas olah raga dan ekstrakurikuler yang bergengsi seperti berkuda, golf, tennis, orkestra, atau berenang di kolam renang sekolah, dan lainnya. Sekolah ini kadangkala mengandalkan fasilitas dan lisensi metode pengajaran luar negeri serta gedung mewah. Hal ini membuat para orang tua tergiur dan beranggapan bahwa sekolah mahal adalah sekolah bagus. Benarkah demikian? Sekali lagi, orang tua perlu meneliti lebih jauh. Walaupun didukung fasilitas yang sangat memadai, jika sekolah Nasional Plus tidak memiliki jajaran pengajar yang berpengalaman, maka julukan ”sekolah yang bermutu” masih belum layak disandang oleh sekolah ini.
Wah, memilih sekolah di jaman sekarang memang tidak mudah ya. Cukup memusingkan dan menjadi beban bagi orang tua. Berikut ini beberapa patokan yang dapat digunakan dalam memilih sekolah. Patokan seperti ini dapat disepakati orang tua dan anak (jika anak sudah mampu mengenal potensinya) dalam memilih sekolah yang paling tepat.
Sekolah yang TEPAT, mengandung arti sekolah tersebut dapat mengakomodir aktualisasi potensi anak. Oleh karena itu,
  • Jika kemampuan anak tergolong kurang, jangan dipaksakan masuk ke sekolah yang kompetisi akademiknya sangat keras karena akan membuat anak menjadi terbebani, minder, dan akhirnya merasa lebih bodoh dari apa yang mestinya masih bisa ia tampilkan.
  • Sesuaikan pemilihan sekolah dengan minat anak. Cari informasi tentang kegiatan ekstrakurikuler yang tersedia, apakah dapat mendukung minat anak, misalnya di bidang seni atau olahraga. Selain berpeluang mengembangkan bakat anak, juga dapat membantu membuat anak menyukai sekolah.
  • Bagi anak yang sudah menginjak remaja, perlu ada dialog antara orang tua dan anak mengenai minat dan keinginan anak. Hal ini untuk mengantisipasi timbulnya alasan “Aku malas sekolah karena ini bukan sekolah pilihanku”. Ikut sertakan anak dalam mencari informasi dan membahas mutu sekolah.
  • Bagi anak yang masih kecil dan baru akan memasuki Play Group, TK, atau SD, maka orang tua perlu melihat program pengajaran yang ditawarkan sekolah, apakah sesuai dengan kesiapan belajar anak. Misalnya metode pengajaran bilingual, apakah anak sudah cukup menguasai bahasa utamanya sehingga siap untuk belajar bahasa kedua? Apakah orang tua bisa mendukung anak di rumah untuk berlatih bahasa kedua? Juga tentang nilai-nilai moral dan sosial, apakah metode pengajaran sesuai dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan orang tua? Misalnya saja, perlukah anak bersekolah di sekolah yang berbasis agama?
  • Kalau anak yang memiliki kebutuhan khusus misalnya hiperaktif atau ada gangguan motorik, jangan paksakan anak bersekolah di sekolah dengan banyak siswa dalam satu kelas meskipun sekolah itu sangat baik di mata orang tua. Anak-anak seperti ini membutuhkan penanganan khusus agar ia dapat berkembang optimal. Carilah sekolah yang menyediakan fasilitas terapis atau paling tidak school buddy sehingga perkembangan anak di sekolah dapat terpantau dan terfasilitasi dengan baik.
  • Fasilitas yang menggiurkan juga belum tentu menjawab kebutuhan anak. Meskipun fasilitas lengkap dapat menunjang anak untuk lebih mudah belajar, namun jika tidak didukung oleh kualitas guru yang baik dalam arti mampu memahami karakteristik anak, maka fasilitas pun akan kurang berperan.
Semua sekolah pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga orang tua butuh waktu untuk mempertimbangkan sekolah mana yang unsur positifnya paling banyak. Langkah pertama adalah pahami anak anda sedalam mungkin untuk membantunya menemukan sekolah yang paling tepat. Ingat, sekolah yang baik menurut orang tua belum tentu merupakan sekolah yang paling tepat bagi anak. Kedua, carilah informasi tentang sekolah-sekolah yang menjadi alternatif pilihan. Hadirlah jika ada sesi open-house, ajak guru-gurunya mengobrol di luar acara formal untuk mengetahui pengalaman mereka dalam mengajar dan minat mereka pada pengembangan anak. Carilah orang tua yang anaknya sudah cukup lama bersekolah di situ dan tanyakan kesan-kesan mereka. Sedapat mungkin, cari juga keterangan dari anak mereka yang merasakan langsung bersekolah di sana. Selain mutu pendidikan, tanyakan juga kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Berikutnya, barangkali Anda juga perlu mempertimbangkan hal-hal lain seperti unsur keselamatan dan aksesibilitas (mudah dijangkau kendaraan umum, ada telepon umum), kebersihan, dan sebagainya.
Semoga informasi ini dapat membantu Anda, sebab bentuk kasih sayang orang tua salah satunya tercermin dari kebijaksanaan orang tua saat memilih sekolah yang TEPAT bagi anak dan masa depannya.
- See more at: http://lptui.com/artikel/talent-mapping-pendidikan/ayo-sekolah-di-sekolah-yang-tepat#sthash.vtIP79Sz.dpuf

Ayo Sekolah di Sekolah yang Tepat!

PrintEmail
Erfianne S. Cicilia
Bagi kebanyakan orang tua yang memiliki anak usia sekolah, pertengahan tahun merupakan masa-masa “penuh tantangan” karena di bulan Juni-Juli orang tua harus mengerahkan biaya dan perhatian untuk urusan sekolah. Mulai dari menyisihkan dana untuk biaya baju seragam, buku-buku, uang pangkal masuk sekolah baru, hingga memberikan perhatian khusus bagi anak untuk membantunya menyesuaikan diri di lingkungan sekolah.
Bicara soal pendidikan, hampir semua orang tua ingin putra-putrinya menempuh pendidikan setinggi dan sebaik mungkin. Oleh sebab itu orang tua jaman sekarang sudah jauh-jauh hari menyiapkan dana pendidikan anak. Kalaupun dana sudah tersedia, masalahnya sekarang adalah menentukan pilihan sekolah. Sekolah mana yang tepat?
Apakah sekolah dengan ruang kelas ber-AC?
Sekolah yang memiliki fasilitas laboratorium lengkap?
Sekolah yang dekat rumah?
Sekolah yang populer?
Atau sekolah yang berbasis agama?
Banyaknya jenis sekolah menimbulkan dilema tersendiri bagi orang tua. Terlebih lagi jika mendengar rumor tentang sisi negatif suatu sekolah seperti:
“Ah, di sekolah itu kan banyak siswanya yang kecanduan narkoba.”
“Ah, sekolah itu kan gurunya kurang berkualitas.”
“Sekolah itu kan fasilitasnya minim sekali.” ... atau,
“Sekolah itu kuno sistem pengajarannya.”
Hal ini ini membuat orang tua merasa tetap saja bingung walaupun dana pendidikan anak sudah mencukupi. Mau tak mau orangtua perlu memiliki pemahaman memadai tentang pemilihan sekolah yang tepat untuk anak.
Sekarang, mari kita luruskan dahulu beberapa anggapan keliru tentang sekolah yang selama ini berkembang di masyarakat. Harapannya, dengan memahami informasi yang benar, orang tua akan terbantu ketika kelak memilih sekolah yang paling tepat untuk anak mereka.
Sekolah Unggulan
Menurut Pemerintah, sekolah unggulan adalah sekolah dengan rata-rata NUAN (dulu NEM) yang bagus. Pengertian “bagus” ini belum dirumuskan dengan jelas dan tidak ada nilai baku yang terstandar karena nilai NUAN selalu berubah setiap tahun. Artinya, bisa saja rata-rata NUAN sebuah sekolah terlihat tinggi karena secara kebetulan ada siswa-siswa tertentu di sekolah tersebut yang sangat cerdas sehingga nilai NUAN mereka mampu mengangkat rata-rata nilai NUAN sekolahnya. Unggulan juga ternyata bukan dipandang dari metode pengajaran yang bagus, kualitas guru yang bagus, atau bahkan fasilitas sekolah. Jadi, orang tua harus waspada untuk tidak mudah tergiur semata-mata karena label ”unggulan”. Lihat kembali, apakah sekolah itu memiliki kualitas guru yang bagus dan fasilitas yang memadai.
Mitos Sekolah Negeri
Anggapan yang paling umum mengenai sekolah negeri adalah bahwa biayanya murah dan memiliki fasilitas yang lengkap. Dulu, memang sekolah negeri mematok biaya yang relatif lebih rendah dibanding sekolah swasta. Saat ini, ada juga sekolah negeri yang menarik biaya cukup mahal. Biasanya ini karena sekolah tersebut telah mendapat label sebagai ..?.. sehingga berani mematok biaya hampir sama dengan sekolah swasta. Mengenai fasilitas, dulu setiap sekolah negeri memang bisa bergantung pada subsidi pemerintah. Saat ini, subsidi pemerintah tidak lagi mencukupi sehingga sekolah perlu mencari dana lain untuk menyediakan fasilitas yang diperlukan. Hal inilah yang pada akhirnya meningkatkan biaya bulanan bersekolah di sekolah negeri. Anggapan lain tentang sekolah negeri adalah bahwa lulusannya bermutu karena metode pengajarannya bermutu. Hal ini pun belum tentu benar karena unggulnya metode pengajaran baru terasa jika didukung oleh fasilitas serta guru-guru yang berkualitas. Oleh karena itu, pelajari juga riwayat sekolah dan cari tahu kualitas guru dan sarana sekolahnya.
Mitos Sekolah Swasta
Masih ada anggapan bahwa sekolah swasta adalah “sekolah buangan” yaitu sekolah yang siswanya memiliki NUAN buruk sehingga tidak diterima di sekolah negeri. Kenyatannya, banyak sekolah swasta yang bermutu baik. Hal ini terbukti dari banyaknya lulusan sekolah swasta yang juga sanggup meraih NUAN tinggi. Kita juga mengenal sekolah swasta yang berbasis agama (sekolah Katolik, Kristen, atau Islam misalnya). Sekolah berbasis agama tentu saja ikut menitikberatkan pendidikan agama. Akhirnya muncul mitos bahwa sekolah seperti itu cenderung “kolot” atau “kaku” karena banyak aturan-aturan yang ketat. Adapula yang beranggapan bahwa sekolah berbasis agama banyak yang identik dengan suku bangsa tetentu. Seperti sekolah Katolik dan Kristen banyak didominasi oleh etnis Tionghoa, sedangkan sekolah Islam mayoritas siswanya pribumi atau Arab. Sekolah swasta juga dikenal menarik biaya yang mahal. Bijaklah menyikapi persepsi ini. Ada sekolah swasta yang bisa memberi keringanan bagi siswa yang kurang mampu. Disiplin sekolah swasta di satu sisi juga bisa memberi manfaat bagi anak untuk belajar bertanggung jawab. Sedangkan terkait dengan dominasi etnis tertentu, di saat bangsa kita mesti membangun kebhinekaan, tentunya kurang bijak kalau kita justru menghindarkan anak kita dari pembauran. Sepanjang mutu sekolah memang bagus, anak kita tetap akan menerima proses pembelajaran yang terbaik bukan? Bahkan mungkin ia juga akan belajar beradaptasi dengan etnis lain, sebuah pelajaran yang mungkin tidak diterima siswa di sekolah lain.
Sekolah Nasional Plus
Dewasa ini, status sekolah Nasional Plus sedang menjamur. Di jalan-jalan terpampang iklan-iklan yang menjual kehebatan sekolah Nasional Plus. Sekolah ini biasanya berkolaborasi dengan lembaga pendidikan luar negeri seperti dari Singapura, Malaysia, atau Australia. Bahasa Inggris yang dipandang sebagai bahasa keren bagi banyak orang tua membuat sekolah Nasional Plus menjadi incaran karena menggunakan metode pengajaran bilingual (dua bahasa: Indonesia dan Inggris). Selain itu, sekolah ini juga menjual keunggulan berupa fasilitas yang lengkap dan mewah, diantaranya laboratorium bahasa yang canggih, serta fasilitas olah raga dan ekstrakurikuler yang bergengsi seperti berkuda, golf, tennis, orkestra, atau berenang di kolam renang sekolah, dan lainnya. Sekolah ini kadangkala mengandalkan fasilitas dan lisensi metode pengajaran luar negeri serta gedung mewah. Hal ini membuat para orang tua tergiur dan beranggapan bahwa sekolah mahal adalah sekolah bagus. Benarkah demikian? Sekali lagi, orang tua perlu meneliti lebih jauh. Walaupun didukung fasilitas yang sangat memadai, jika sekolah Nasional Plus tidak memiliki jajaran pengajar yang berpengalaman, maka julukan ”sekolah yang bermutu” masih belum layak disandang oleh sekolah ini.
Wah, memilih sekolah di jaman sekarang memang tidak mudah ya. Cukup memusingkan dan menjadi beban bagi orang tua. Berikut ini beberapa patokan yang dapat digunakan dalam memilih sekolah. Patokan seperti ini dapat disepakati orang tua dan anak (jika anak sudah mampu mengenal potensinya) dalam memilih sekolah yang paling tepat.
Sekolah yang TEPAT, mengandung arti sekolah tersebut dapat mengakomodir aktualisasi potensi anak. Oleh karena itu,
  • Jika kemampuan anak tergolong kurang, jangan dipaksakan masuk ke sekolah yang kompetisi akademiknya sangat keras karena akan membuat anak menjadi terbebani, minder, dan akhirnya merasa lebih bodoh dari apa yang mestinya masih bisa ia tampilkan.
  • Sesuaikan pemilihan sekolah dengan minat anak. Cari informasi tentang kegiatan ekstrakurikuler yang tersedia, apakah dapat mendukung minat anak, misalnya di bidang seni atau olahraga. Selain berpeluang mengembangkan bakat anak, juga dapat membantu membuat anak menyukai sekolah.
  • Bagi anak yang sudah menginjak remaja, perlu ada dialog antara orang tua dan anak mengenai minat dan keinginan anak. Hal ini untuk mengantisipasi timbulnya alasan “Aku malas sekolah karena ini bukan sekolah pilihanku”. Ikut sertakan anak dalam mencari informasi dan membahas mutu sekolah.
  • Bagi anak yang masih kecil dan baru akan memasuki Play Group, TK, atau SD, maka orang tua perlu melihat program pengajaran yang ditawarkan sekolah, apakah sesuai dengan kesiapan belajar anak. Misalnya metode pengajaran bilingual, apakah anak sudah cukup menguasai bahasa utamanya sehingga siap untuk belajar bahasa kedua? Apakah orang tua bisa mendukung anak di rumah untuk berlatih bahasa kedua? Juga tentang nilai-nilai moral dan sosial, apakah metode pengajaran sesuai dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan orang tua? Misalnya saja, perlukah anak bersekolah di sekolah yang berbasis agama?
  • Kalau anak yang memiliki kebutuhan khusus misalnya hiperaktif atau ada gangguan motorik, jangan paksakan anak bersekolah di sekolah dengan banyak siswa dalam satu kelas meskipun sekolah itu sangat baik di mata orang tua. Anak-anak seperti ini membutuhkan penanganan khusus agar ia dapat berkembang optimal. Carilah sekolah yang menyediakan fasilitas terapis atau paling tidak school buddy sehingga perkembangan anak di sekolah dapat terpantau dan terfasilitasi dengan baik.
  • Fasilitas yang menggiurkan juga belum tentu menjawab kebutuhan anak. Meskipun fasilitas lengkap dapat menunjang anak untuk lebih mudah belajar, namun jika tidak didukung oleh kualitas guru yang baik dalam arti mampu memahami karakteristik anak, maka fasilitas pun akan kurang berperan.
Semua sekolah pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga orang tua butuh waktu untuk mempertimbangkan sekolah mana yang unsur positifnya paling banyak. Langkah pertama adalah pahami anak anda sedalam mungkin untuk membantunya menemukan sekolah yang paling tepat. Ingat, sekolah yang baik menurut orang tua belum tentu merupakan sekolah yang paling tepat bagi anak. Kedua, carilah informasi tentang sekolah-sekolah yang menjadi alternatif pilihan. Hadirlah jika ada sesi open-house, ajak guru-gurunya mengobrol di luar acara formal untuk mengetahui pengalaman mereka dalam mengajar dan minat mereka pada pengembangan anak. Carilah orang tua yang anaknya sudah cukup lama bersekolah di situ dan tanyakan kesan-kesan mereka. Sedapat mungkin, cari juga keterangan dari anak mereka yang merasakan langsung bersekolah di sana. Selain mutu pendidikan, tanyakan juga kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Berikutnya, barangkali Anda juga perlu mempertimbangkan hal-hal lain seperti unsur keselamatan dan aksesibilitas (mudah dijangkau kendaraan umum, ada telepon umum), kebersihan, dan sebagainya.
Semoga informasi ini dapat membantu Anda, sebab bentuk kasih sayang orang tua salah satunya tercermin dari kebijaksanaan orang tua saat memilih sekolah yang TEPAT bagi anak dan masa depannya.
- See more at: http://lptui.com/artikel/talent-mapping-pendidikan/ayo-sekolah-di-sekolah-yang-tepat#sthash.vtIP79Sz.dpuf

Ayo Sekolah di Sekolah yang Tepat!

PrintEmail
Erfianne S. Cicilia
Bagi kebanyakan orang tua yang memiliki anak usia sekolah, pertengahan tahun merupakan masa-masa “penuh tantangan” karena di bulan Juni-Juli orang tua harus mengerahkan biaya dan perhatian untuk urusan sekolah. Mulai dari menyisihkan dana untuk biaya baju seragam, buku-buku, uang pangkal masuk sekolah baru, hingga memberikan perhatian khusus bagi anak untuk membantunya menyesuaikan diri di lingkungan sekolah.
Bicara soal pendidikan, hampir semua orang tua ingin putra-putrinya menempuh pendidikan setinggi dan sebaik mungkin. Oleh sebab itu orang tua jaman sekarang sudah jauh-jauh hari menyiapkan dana pendidikan anak. Kalaupun dana sudah tersedia, masalahnya sekarang adalah menentukan pilihan sekolah. Sekolah mana yang tepat?
Apakah sekolah dengan ruang kelas ber-AC?
Sekolah yang memiliki fasilitas laboratorium lengkap?
Sekolah yang dekat rumah?
Sekolah yang populer?
Atau sekolah yang berbasis agama?
Banyaknya jenis sekolah menimbulkan dilema tersendiri bagi orang tua. Terlebih lagi jika mendengar rumor tentang sisi negatif suatu sekolah seperti:
“Ah, di sekolah itu kan banyak siswanya yang kecanduan narkoba.”
“Ah, sekolah itu kan gurunya kurang berkualitas.”
“Sekolah itu kan fasilitasnya minim sekali.” ... atau,
“Sekolah itu kuno sistem pengajarannya.”
Hal ini ini membuat orang tua merasa tetap saja bingung walaupun dana pendidikan anak sudah mencukupi. Mau tak mau orangtua perlu memiliki pemahaman memadai tentang pemilihan sekolah yang tepat untuk anak.
Sekarang, mari kita luruskan dahulu beberapa anggapan keliru tentang sekolah yang selama ini berkembang di masyarakat. Harapannya, dengan memahami informasi yang benar, orang tua akan terbantu ketika kelak memilih sekolah yang paling tepat untuk anak mereka.
Sekolah Unggulan
Menurut Pemerintah, sekolah unggulan adalah sekolah dengan rata-rata NUAN (dulu NEM) yang bagus. Pengertian “bagus” ini belum dirumuskan dengan jelas dan tidak ada nilai baku yang terstandar karena nilai NUAN selalu berubah setiap tahun. Artinya, bisa saja rata-rata NUAN sebuah sekolah terlihat tinggi karena secara kebetulan ada siswa-siswa tertentu di sekolah tersebut yang sangat cerdas sehingga nilai NUAN mereka mampu mengangkat rata-rata nilai NUAN sekolahnya. Unggulan juga ternyata bukan dipandang dari metode pengajaran yang bagus, kualitas guru yang bagus, atau bahkan fasilitas sekolah. Jadi, orang tua harus waspada untuk tidak mudah tergiur semata-mata karena label ”unggulan”. Lihat kembali, apakah sekolah itu memiliki kualitas guru yang bagus dan fasilitas yang memadai.
Mitos Sekolah Negeri
Anggapan yang paling umum mengenai sekolah negeri adalah bahwa biayanya murah dan memiliki fasilitas yang lengkap. Dulu, memang sekolah negeri mematok biaya yang relatif lebih rendah dibanding sekolah swasta. Saat ini, ada juga sekolah negeri yang menarik biaya cukup mahal. Biasanya ini karena sekolah tersebut telah mendapat label sebagai ..?.. sehingga berani mematok biaya hampir sama dengan sekolah swasta. Mengenai fasilitas, dulu setiap sekolah negeri memang bisa bergantung pada subsidi pemerintah. Saat ini, subsidi pemerintah tidak lagi mencukupi sehingga sekolah perlu mencari dana lain untuk menyediakan fasilitas yang diperlukan. Hal inilah yang pada akhirnya meningkatkan biaya bulanan bersekolah di sekolah negeri. Anggapan lain tentang sekolah negeri adalah bahwa lulusannya bermutu karena metode pengajarannya bermutu. Hal ini pun belum tentu benar karena unggulnya metode pengajaran baru terasa jika didukung oleh fasilitas serta guru-guru yang berkualitas. Oleh karena itu, pelajari juga riwayat sekolah dan cari tahu kualitas guru dan sarana sekolahnya.
Mitos Sekolah Swasta
Masih ada anggapan bahwa sekolah swasta adalah “sekolah buangan” yaitu sekolah yang siswanya memiliki NUAN buruk sehingga tidak diterima di sekolah negeri. Kenyatannya, banyak sekolah swasta yang bermutu baik. Hal ini terbukti dari banyaknya lulusan sekolah swasta yang juga sanggup meraih NUAN tinggi. Kita juga mengenal sekolah swasta yang berbasis agama (sekolah Katolik, Kristen, atau Islam misalnya). Sekolah berbasis agama tentu saja ikut menitikberatkan pendidikan agama. Akhirnya muncul mitos bahwa sekolah seperti itu cenderung “kolot” atau “kaku” karena banyak aturan-aturan yang ketat. Adapula yang beranggapan bahwa sekolah berbasis agama banyak yang identik dengan suku bangsa tetentu. Seperti sekolah Katolik dan Kristen banyak didominasi oleh etnis Tionghoa, sedangkan sekolah Islam mayoritas siswanya pribumi atau Arab. Sekolah swasta juga dikenal menarik biaya yang mahal. Bijaklah menyikapi persepsi ini. Ada sekolah swasta yang bisa memberi keringanan bagi siswa yang kurang mampu. Disiplin sekolah swasta di satu sisi juga bisa memberi manfaat bagi anak untuk belajar bertanggung jawab. Sedangkan terkait dengan dominasi etnis tertentu, di saat bangsa kita mesti membangun kebhinekaan, tentunya kurang bijak kalau kita justru menghindarkan anak kita dari pembauran. Sepanjang mutu sekolah memang bagus, anak kita tetap akan menerima proses pembelajaran yang terbaik bukan? Bahkan mungkin ia juga akan belajar beradaptasi dengan etnis lain, sebuah pelajaran yang mungkin tidak diterima siswa di sekolah lain.
Sekolah Nasional Plus
Dewasa ini, status sekolah Nasional Plus sedang menjamur. Di jalan-jalan terpampang iklan-iklan yang menjual kehebatan sekolah Nasional Plus. Sekolah ini biasanya berkolaborasi dengan lembaga pendidikan luar negeri seperti dari Singapura, Malaysia, atau Australia. Bahasa Inggris yang dipandang sebagai bahasa keren bagi banyak orang tua membuat sekolah Nasional Plus menjadi incaran karena menggunakan metode pengajaran bilingual (dua bahasa: Indonesia dan Inggris). Selain itu, sekolah ini juga menjual keunggulan berupa fasilitas yang lengkap dan mewah, diantaranya laboratorium bahasa yang canggih, serta fasilitas olah raga dan ekstrakurikuler yang bergengsi seperti berkuda, golf, tennis, orkestra, atau berenang di kolam renang sekolah, dan lainnya. Sekolah ini kadangkala mengandalkan fasilitas dan lisensi metode pengajaran luar negeri serta gedung mewah. Hal ini membuat para orang tua tergiur dan beranggapan bahwa sekolah mahal adalah sekolah bagus. Benarkah demikian? Sekali lagi, orang tua perlu meneliti lebih jauh. Walaupun didukung fasilitas yang sangat memadai, jika sekolah Nasional Plus tidak memiliki jajaran pengajar yang berpengalaman, maka julukan ”sekolah yang bermutu” masih belum layak disandang oleh sekolah ini.
Wah, memilih sekolah di jaman sekarang memang tidak mudah ya. Cukup memusingkan dan menjadi beban bagi orang tua. Berikut ini beberapa patokan yang dapat digunakan dalam memilih sekolah. Patokan seperti ini dapat disepakati orang tua dan anak (jika anak sudah mampu mengenal potensinya) dalam memilih sekolah yang paling tepat.
Sekolah yang TEPAT, mengandung arti sekolah tersebut dapat mengakomodir aktualisasi potensi anak. Oleh karena itu,
  • Jika kemampuan anak tergolong kurang, jangan dipaksakan masuk ke sekolah yang kompetisi akademiknya sangat keras karena akan membuat anak menjadi terbebani, minder, dan akhirnya merasa lebih bodoh dari apa yang mestinya masih bisa ia tampilkan.
  • Sesuaikan pemilihan sekolah dengan minat anak. Cari informasi tentang kegiatan ekstrakurikuler yang tersedia, apakah dapat mendukung minat anak, misalnya di bidang seni atau olahraga. Selain berpeluang mengembangkan bakat anak, juga dapat membantu membuat anak menyukai sekolah.
  • Bagi anak yang sudah menginjak remaja, perlu ada dialog antara orang tua dan anak mengenai minat dan keinginan anak. Hal ini untuk mengantisipasi timbulnya alasan “Aku malas sekolah karena ini bukan sekolah pilihanku”. Ikut sertakan anak dalam mencari informasi dan membahas mutu sekolah.
  • Bagi anak yang masih kecil dan baru akan memasuki Play Group, TK, atau SD, maka orang tua perlu melihat program pengajaran yang ditawarkan sekolah, apakah sesuai dengan kesiapan belajar anak. Misalnya metode pengajaran bilingual, apakah anak sudah cukup menguasai bahasa utamanya sehingga siap untuk belajar bahasa kedua? Apakah orang tua bisa mendukung anak di rumah untuk berlatih bahasa kedua? Juga tentang nilai-nilai moral dan sosial, apakah metode pengajaran sesuai dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan orang tua? Misalnya saja, perlukah anak bersekolah di sekolah yang berbasis agama?
  • Kalau anak yang memiliki kebutuhan khusus misalnya hiperaktif atau ada gangguan motorik, jangan paksakan anak bersekolah di sekolah dengan banyak siswa dalam satu kelas meskipun sekolah itu sangat baik di mata orang tua. Anak-anak seperti ini membutuhkan penanganan khusus agar ia dapat berkembang optimal. Carilah sekolah yang menyediakan fasilitas terapis atau paling tidak school buddy sehingga perkembangan anak di sekolah dapat terpantau dan terfasilitasi dengan baik.
  • Fasilitas yang menggiurkan juga belum tentu menjawab kebutuhan anak. Meskipun fasilitas lengkap dapat menunjang anak untuk lebih mudah belajar, namun jika tidak didukung oleh kualitas guru yang baik dalam arti mampu memahami karakteristik anak, maka fasilitas pun akan kurang berperan.
Semua sekolah pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga orang tua butuh waktu untuk mempertimbangkan sekolah mana yang unsur positifnya paling banyak. Langkah pertama adalah pahami anak anda sedalam mungkin untuk membantunya menemukan sekolah yang paling tepat. Ingat, sekolah yang baik menurut orang tua belum tentu merupakan sekolah yang paling tepat bagi anak. Kedua, carilah informasi tentang sekolah-sekolah yang menjadi alternatif pilihan. Hadirlah jika ada sesi open-house, ajak guru-gurunya mengobrol di luar acara formal untuk mengetahui pengalaman mereka dalam mengajar dan minat mereka pada pengembangan anak. Carilah orang tua yang anaknya sudah cukup lama bersekolah di situ dan tanyakan kesan-kesan mereka. Sedapat mungkin, cari juga keterangan dari anak mereka yang merasakan langsung bersekolah di sana. Selain mutu pendidikan, tanyakan juga kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Berikutnya, barangkali Anda juga perlu mempertimbangkan hal-hal lain seperti unsur keselamatan dan aksesibilitas (mudah dijangkau kendaraan umum, ada telepon umum), kebersihan, dan sebagainya.
Semoga informasi ini dapat membantu Anda, sebab bentuk kasih sayang orang tua salah satunya tercermin dari kebijaksanaan orang tua saat memilih sekolah yang TEPAT bagi anak dan masa depannya.
- See more at: http://lptui.com/artikel/talent-mapping-pendidikan/ayo-sekolah-di-sekolah-yang-tepat#sthash.vtIP79Sz.dpuf

No comments: