Tuesday, March 30, 2010

Kasih sayang Ayah dan Ibu



Ayah dan Ibu adalah ikatan keluarga yang sangat dibutuhkan bagi seorang anak. Mulai dari kasih sayang, perhatian, pengawasan, memotivasi dan lain sebagainya. Namun yang saya temui sebagian siswa ternyata sangat membutuhkan sekali perhatian dan kasih sayangnya. Terbukti dengan kekesalan siswa dialami disekolahnya maupun dilingkungan bermainnya. Kekecewaan maupun kesedihan menjadi kenangan buat memori si Anak jika orang tua ditinggal pergi bahkan hilang sekejab hanya karena kesibukan kerja bahkan dengan kesibukan dakwahnya. Sangat tragis sekali jika si anak tidak mendapat perhatian apalagi kurangnya pengawasan secara intensif menanyakan kabarnya selama ia belajar bahkan bermain dengan temannya. Kekesalan anak hanya menjadikan target buat dirinya harus nilai bagus, baik perilakunya bahkan, menjadikan cita-cita yang tinggi dan terbaik.
Melihat seperti ini miris sekali bahkan yang saya temui sangat disesalkan bagi si anak untuk menjadi kebebasan dari pengawasan bahkan keinginannya bisa dilampiaskan oleh pribadi bahwa aku bisa menguasainya dari pada orang tuaku. Akhirnya pilihannya adalah aku memang tidak ada perhatian dari orang tua bahkan kesibukannyalah yang menjadi alasan. Kesepian, tidak ada waktu bicara curhat, selalu salah dalam mengerjakan, atau salah dalam memberikan keputusan bagi si anak yang akhirnya anak menjadi depresi dan bingung curhat/konsultasi kemana ya ?
"Aku bingung karena ayah dan ibuku selalu pulang malam, keluar kota/negeri,tidak membantuku PR/tugas pelajaran" ujar keluhan siswa. Kadang yang menjadi kesalahan anak sendiri disekolahnya adalah PR/tugas tidak dikerjakan, lupa, terlambat masuk sekolah, tidak ada bahan alat praktek dan lain sebgainya. Aku pusing, aku malas, aku nggak suka gurunya dan seterusnya......itulah keluhan seputar anak yang biasa mendapatkan pelanggaran atau sanksi yang akhirnya anak menjadi tidak semangat untuk belajar bahkan tidak nyaman dalam belajarnya. Ibarat ada puisi bagi orag tua seperti di bawah ini :
Ayah

Kamu bagai semut bekerja keras
Kamu bagai lebah mencari madu
Kamu inginkan aku
Bagai lebah berterbang kebebasan
Tanpa kesusahan, tanpa kesukaran

Mengetepikan perkara yang nahi
Mengetepikan dunia bermukah
Mengetepikan dunia kebebasan
Pesanan Ibu dan Ayah senantiasa diingati
Tidak terlepas dari ingatanku

Ibu
Kamulah segalanya bagiku
Kamulah ratu hatiku
Yang mencegahku sejak
Aku mengenali duniaku ini
Yang mencegahku dari kesalahanku
Yang mendidikku dengan penuh kasih sayangmu
Kamulah lambang cintaku

Janganlah bantah, ikuti perintah
Itulah kata-katamu Ayah
Kamu berkorban demi anakmu
Kamu bersusah payah demi anakmu
Kamu mencari nafkah yang halal

Apakah Ayah ibu moral kedisiplinan dirumah sudah terwarnai dalam rumah tangganya? atau justru lebih sibuk menyiapkan ini-itu yang bersifat material seperti pesta mewah dan segala perabot baru pengisi rumah mereka. Sebaliknya persiapan mental untuk mengarungi biduk rumah tangga seolah terabaikan. Semisal, "Siapkah aku menjadi seorang istri/suami? siapkah aku bisa mengurusi anak dengan saleh ?" Contohnya, orang tua membiarkan saja anaknya berlaku pasif karena asyik nonton teve/internet seharian tanpa adanya pemberian stimulasi konkret yang seharusnya dapat mengasah kemampuannya. Entah itu kemampuan motorik, kognitif, ataupun afektif, dan kemampuan verbal. Orang tua bersikap demikian semata-mata karena menganggap anak seusia ini belum mengerti apa-apa.
Oleh karena itu orang tua menganjurkan agar orang tua tidak pernah merasa lelah untuk terus berburu pengetahuan mengenai perkembangan anak. Toh sumbernya bisa dari mana saja, baik buku, majalah, koran, tabloid, seminar, pertemuan informal, sampai internet. Anggapan bahwa kecerdasan hanya terpatok pada skor IQ saja paling tidak bisa dikoreksi. Lantas, pemahaman akan berbagai aspek kecerdasan akan mendorong orang tua untuk menggali segala potensi yang dimiliki anaknya.
sebetulnya ketidaktahuan/kekurangan orang tua dalam menerapkan pola asuh terhadap anak disebabkan minimnya awareness (kesadaran), knowledge (pengetahuan), attitude (sikap), dan practice (penerapan) atau AKAP. "Sekalipun orang tua harus berada di atas kursi roda, kalau dia memiliki AKAP, dia mampu kok menerapkan pola asuh yang benar agar perkembangan anaknya bisa optimal."

Lain soal kalau kekurangan tersebut mencakup aspek iman, mental, dan moral alias tidak menghadirkan Allah dalam kehidupannya sehari-hari. "Jangankan berkembang optimal, kekurangan di bidang ini sih jelas-jelas bisa menjerumuskan anak." Selain itu, kedisiplinan mesti ditanamkan sejak dini. Bila tidak, di usia 8 tahunan ke atas, giliran anaklah yang akan "menguji" orang tuanya karena di usia itu anak mulai memasuki tahap kritis sekaligus pemberontakan.

Oleh karena itu saya mengingatkan bahwa penerapan disiplin sudah bisa dilakukan sejak anak masih bayi. Mulailah dari hal-hal yang sangat sederhana semisal membiasakan anak mandi, makan dan tidur tepat waktu, buang air besar dan kecil di tempat tertentu, sholat, menutup aurat dan pada jam-jam tertentu, serta melatih anak membereskan mainannya setip kali usai bermain. Dengan begitu anak pun terbiasa dengan disiplinnya tanpa ada sanksi dari orang tua bahkan guru sekalipun. Sehingga perhatian dan kedisiplinan terjaga dan kasih sayangpun tak perna ketinggalan dalam kesehariannya dirumah. Tentu si buah hatipun ikut senang jika orang tua pun saling berinteraksi dan berdiskusi karena bertanda anak membutuhkan kasih sayangnya Wallahu'Alam

Dian Parikesit,S.Pd

Thursday, March 25, 2010

Untung dan ruginya facebook



Suatu hari saya menemukan begitu banyak siswa sekolah akan sibuk dengan facebook sebagai jejaring komunikasi sosial yang akhirnya mereka lebih sibuk dengan chating, memberi komentar maupun menjadi teman penggemar idolanya. Rupanya belajar informasi internet menjadi ajang kebutuhan maupun mendapatkan informasi update yang sangat baru apalgi hal-hal yang baru maupun ajaib bagi wawasan anak asalkan tidak berbuat yang tidak baik bagi perilaku dan akhlak siswa sendiri.

Menurut data statistik yang dilansir CheckFacebook.com, jumlah pengguna Facebook di Indonesia telah masuk 10 besar jumlah pengguna Facebook terbesar di dunia. Indonesia bertengger di peringkat tujuh, mengatasi Australia, Spanyol, dan Kolombia di peringkat 10.Menurut data tersebut, Pengguna situs jejaring sosial Facebook telah mencapai 325 juta user dari seluruh dunia. Angka tersebut merupakan raihan sampai akhir pekan lalu. Dari 325 juta pengguna tersebut, seperti dilaporkan VIVAnews yang dilansir dari CheckFacebook, 9 November 2009, dari data terakhir yang mereka kumpulkan, pengguna Facebook di Indonesia semakin mendekati angka 12 juta. Dan dari 11 juta pengguna lebih tersebut, 47,04 persen di antaranya merupakan pengguna aktif. Adapun urutan negara dengan pengguna terbanyak adalah Amerika Serikat, Inggris, Turki, Perancis, Kanada, Italia, Indonesia, Spanyol, Australia, dan Filipina.
Tepatnya 11.759.980 user. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi ke 7 sebagai negara pengguna Facebook terbesar di dunia.

Namun yang herannya sebagian siswa banyak memberikan komentar di facebook dengan komentar yang tidak baik bahkan negatif thinking yang akhirnya mulai perasaan tidak suka bahkan menjurus penghinaan terhadap seseorang atau istilah kata (korban bullying). Begitu luar biasanya informasi dan jaringan sosial facebook yang akhirnya anak lebih suka dengan FB dari pada untuk mencari ilmu dan wawasan pengetahuan yang bisa diambil digoogle maupun yang lainnya. Komentar maupun perkataan harus juga diresapi dengan kehati-hatian bagi sang anak karena boleh jadi sang anak tidak tersadarkan dirinya bahwa facebook bisa dilihat semua (kalo tidak menggunakan sistem privasinya) karena itu adalah komunikasi dua arah bahkan semua arah bisa diakses.

Pepler dan Craig (1988) mengidentifikasi beberapa faktor internal dan eksternal yang terkait dengan korban bullying. Secara internal, anak yang rentan menjadi korban bullying biasanya memiliki temperamen pencemas, cenderung tidak menyukai situasi sosial (social withdrawal), atau memiliki karakteristik fisik khusus pada dirinya yang tidak terdapat pada anak-anak lain, seperti warna rambut atau kulit yang berbeda atau kelainan fisik lainnya. Secara eksternal, ia juga pada umumnya berasal dari keluarga yang overprotektif, sedang mengalami masalah keluarga yang berat, dan berasal dari strata ekonomi/kelompok sosial yang terpinggirkan atau dipandang negatif oleh lingkungan. Inilah yang akhirnya mereka pun memberikan status facebook dalam keadaan curhat pada keadaan yang sebenarnya terjadi hari ini juga.

Rupanya zaman memang sudah mulainya era informasi (internet) namun jangan lupa hal terburukpun sikap kehati-hatian juga perlu pengawasan baik dari orang tua maupun dari guru yang akhirnya mengetahui kondisi karakter anak yang sebenarnya. Berikanlah arahan maupun petunjuk yang baik agar komentar maupun curhat yang dipublikasikan hendaknya yang baik bukan berburuk sangka apalagi fitnah, bahkan memvonis yang kurang baik kepada teman facebooknya. Memang perlu informasi melalui kabar/pekerjaan yang anak belum tahu dalam memberikan komentarnya seperti ia sakit namun temannya memberikan informasi PR atau tugas disekolahnya atau menjadi bahan diskusi tugas siswa. Tidak hanya mencari kesalahan atau berburuk sangka kepada orang lain. karena minum obat lebih baik dari pada mengobatinya, artinya sebelum terjadi hendaklah kita terus memberikan petunjuk yang baik, arahan yang jelas sehingga anak pun terbiasa dengan berbaik sangka kepada orang lain(positif thinking) Wallahua'alam

Dian Parikesit, S.Pd

Monday, March 15, 2010

Tahukah Anda Bagaimana merangsang dan meningkatkan kreativitas anak ?

Pertanyaan yang sering timbul dan di tanyakan oleh orang tua adalah Bagaimana merangsang dan meningkatkan kreativitas anak ? Sebagai orang tua yang peduli terhadap tumbuh kembang anak, tentu menginginkan untuk memiliki anak yang creative dan cerdas. Kreativitas sebenarnya sudah dimulai sejak bayi.

Seorang professor bidang ilmu pendidikan di Amerika Serikat, yang bernama Dr. E. Paul Torrance, mengatakan bahwa semua anak belajar melalui cara Trial and Error. Contoh yang paling sederhana adalah ketika anak sedang belajar untuk berjalan, berapa kali anak akan gagal dan terus mencoba dan gagal lagi, hingga akhirnya bisa berjalan. Sebenarnya disini peran orang tua penting untuk membantu. Banyak proses seperti diatas yang tidak disadari oleh orang tua untuk memberikan motivasi aktif kepada anak. Dari contoh di atas sudah jelas bahwa kreativitas sebenarnya sudah di dimulai sejak bayi.

Ada 2 hal yang harus diketahui oleh orang tua, yaitu :
Semua anak kecil memiliki kreativitas
Kreativitas dapat ditingkatkan melalui rangsangan, kesempatan dan latihan yang berkesinambungan


Karena kreativitas ini sudah dimulai sejak bayi, berarti mendidik dan melatih kreativitas anak dapat dimulai dari lingkungan yang paling dekat yaitu keluarga dalam hal ini ayah dan ibu.


Menurut Dr. E. Paul Torrace kembali, kreativitas pada anak mulai meningkat pada saat berusia 3 tahun, dan mencapai puncaknya pada usia sekitar 5 tahun. Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang tua untuk meningkatkan kreativitas anak adalah sebagai berikut :
Tentukan media yang dapat merangsang kreativitas anak, contoh nya adalah melipat, menempel, mewarnai, bahkan bereksperimen.
Biarkan anak bebas melakukan apa yang di yakini atau di sukainya. Menurut Dr. Dale Grubb, orang tua yang terlalu mengajari dalam berbagai hal kepada anak membuat anak kurang kreatif, berbeda dengan anak yang diberikan kebebasan oleh orang tuanya untuk belajar, dimana anak tersebut akan lebih kreatif. Menurut Dr. Dale Grubb, orang tua, guru harus menghargai kreativitas anak apapun dan bagaimana pun yang dilakukan oleh anak, sehingga anak dapat berkreasi sendiri dengan gayanya.
Beri solusi kepada anak, ketika anak tidak dapat memecahkan masalah, sehingga anak dapat berpikir dengan cara yang berbeda.

Jadi sekarang, jika ingin anak Anda tambah kreatif dan menjadi anak yang dapat memecahkan masalah dalam hidupnya, cobalah untuk terus memberikan pengawasan dan melatih anak untuk terus berkreatif kapanpun dan dimanapun. Jika anak menikmati permainan dengan kreativitas yang dimilikinya, maka anak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya dengan mudah


Meningkatkan Kepercayaan diri

Dalam masa anak-anak, bermain merupakan sesuatu yang bermain merupakan sesuatu yang setiap hari dilakukan, namun ketika sudah menginjak remaja dan dewasa, bermain bukanlah sesuatu yang dilakukan setiap hari, banyak hal-hal yang membuat anak remaja tidak memiliki waktu untuk bermain lagi, karena kesibukan dan kepadatan aktivitas baik di sekolah maupun di rumah.

Menurut Psikolog Harvard Jerome Kagan, dia mengidentifikasikan ada 3 cara yang bisa digunakan untuk memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak, Yaitu :
Interaksi Langsung
Indentifikasi Emosi
Cerita-cerita keluarga

Di usia remaja, anak sudah memiliki keputusan, dengan siapa mereka berteman dan dengan siapa mereka pergi. Bagi sebagian remaja berjalan bersama orang tua sudah tidak lagi menyenangkan, dan merasa malu jika berjalan bersama-sama. Di usia ini anak-anak remaja sebenarnya ingin berinteraksi langsung yaitu : ingin di terima oleh lingkungannya, ingin menjadi pusat perhatian bagi lingkungan dan teman-temannya.


Setiap bermain pun anak juga mempunyai keputusan yang mereka anggap itu bermanfaat atau sekedar iseng saja apalagi semakin mulainya anak ingin bebas bersama dengan ayah dan ibunya sendiri. Bercerita, sharing, bermain atau diskusi dengan temannya adalah salah satu faktor bahwa anak membutuhkan bermain dengan seorang teman. Sebagian murid banyak sekali mereka kehilangan teman bermain yang pada akhirnya hilang dan kurangnya kreativitas anak. Karena ia membutuhkan koreksi maupun saran dari orang lain apakah karya yang dibuatnya benar atau tidak?
Merangsang kreativitas anak tidak harus dengan batasan waktu bahkan sangat kurang sekali waktu yang perlu dikembangkan namun tergantung kecepatan daya tangkap berpikir maupun diskusi dari karya kreativitasnya sendiri yang membuat butuh waktu lama. Tapi ada saja interaksi yang putus disebabkan kurangnya komunikasi yang efektif terhadap temannya maupun guru dan orang tuanya yang masih belum dukungan menunjang petunjuk yang praktis. seperti keterangan, alat dan bahan atau media yang belum memadai.
Oleh karena itu ubahlah cara berpikir kreatif mereka dengan pendekatan maupun diskusi karena begitu banyak anak selalu bertanya keingin tahuan mereka dalam belajar karena mereka yakin kalo mereka bisa melebihi kreatifnya dari guru maupun orang tua yaitu sambil belajar, bermain dan menyenangkan dalam berteman sesuai dengan aturan waktu yang akan ditawarkan. Cobalah untuk berkreasi dan merangsang kreatif mereka.

Thursday, March 11, 2010

Perbedaan antara Pembelajaran Tuntas dengan Pembelajaran Konvensional

Pembelajaran Tuntas adalah pola pembelajaran yang menggunakan prinsip ketuntasan secara individual. Dalam hal pemberian kebebasan belajar, serta untuk mengurangi kegagalan peserta didik dalam belajar, strategi belajar tuntas menganut pendekatan individual, dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal), tetapi mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan perorangan peserta didik sedemikiah rupa, sehingga dengan penerapan pembelajaran tuntas memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal. Dasar pemikiran dari belajar tuntas dengan pendekatan individual ialah adanya pengakuan terhadap perbedaan individual masing-masing peserta didik.

Untuk merealisasikan pengakuan dan pelayanan terhadap perbedaan individu, pembelajaran harus menggunakan strategi pembelajaran yang berasaskan maju berkelanjutan (continuous progress). Untuk itu, pendekatan sistem yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam teknologi pembelajaran harus benar-benar dapat diimplementasikan. Salah satu caranya adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar harus dinyatakan secara jelas, dan pembelajaran dipecah-pecah ke dalam satuan-satuan (cremental units). Peserta didik belajar selangkah demi selangkah dan boleh mempelajari kompetensi dasar berikutnya setelah menguasai sejumlah kompetensi dasar yang ditetapkan menurut kriteria tertentu. Dalam pola ini, seorang peserta didik yang mempelajari unit satuan pembelajaran tertentu dapat berpindah ke unit satuan pembelajaran berikutnya jika peserta didik yang bersangkutan telah menguasai sekurang-kurangnya 75% dari kompetensi dasar yang ditetapkan. Sedangkan pembelajaran konvensional dalam kaitan ini diartikan sebagai pembelajaran dalam konteks klasikal yang sudah terbiasa dilakukan, sifatnya berpusat pada guru, sehingga pelaksanaannya kurang memperhatikan keseluruhan situasi belajar (non belajar tuntas).

Dengan memperhatikan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa perbedaan antara pembelajaran tuntas dengan pembelajaran konvensional adalah bahwa pembelajaran tuntas dilakukan melalui asas-asas ketuntasan belajar, sedangkan pembelajaran konvensional pada umumnya kurang memperhatikan ketuntasan belajar khususnya ketuntasan peserta didik secara individual.

C. Indikator Pelaksanaan Pembelajaran Tuntas

1. Metode Pembelajaran
Strategi pembelajaran tuntas sebenarnya menganut pendekatan individual, dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal), tetapi juga mengakui dan memberikan layanan sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual peserta didik, sehingga pembelajaran memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal.

Adapun langkah-langkahnya adalah :
mengidentifikasi prasyarat (prerequisite),
membuat tes untuk mengukur perkembangan dan pencapaian kompetensi,
mengukur pencapaian kompetensi peserta didik.

Metode pembelajaran yang sangat ditekankan dalam pembelajaran tuntas adalah pembelajaran individual, pembelajaran dengan teman atau sejawat (peer instruction), dan bekerja dalam kelompok kecil. Berbagai jenis metode (multi metode) pembelajaran harus digunakan untuk kelas atau kelompok.
Pembelajaran tuntas sangat mengandalkan pada pendekatan tutorial dengan sesion-sesion kelompok kecil, tutorial orang perorang, pembelajaran terprogram, buku-buku kerja, permainan dan pembelajaran berbasis komputer (Kindsvatter, 1996)

2. Peran Guru
Strategi pembelajaran tuntas menekankan pada peran atau tanggung jawab guru dalam mendorong keberhasilan peserta didik secara individual. Pendekatan yang digunakan mendekati model Personalized System of Instruction (PSI) seperti dikembangkan oleh Keller, yang lebih menekankan pada interaksi antara peserta didik dengan materi/objek belajar.
Peran guru harus intensif dalam hal-hal berikut:
Menjabarkan/memecah KD (Kompetensi Dasar) ke dalam satuan-satuan (unit-unit) yang lebih kecil dengan memperhatikan pengetahuan prasyaratnya.
Mengembangkan indikator berdasarkan SK/KD.
Menyajikan materi pembelajaran dalam bentuk yang bervariasi
Memonitor seluruh pekerjaan peserta didik
Menilai perkembangan peserta didik dalam pencapaian kompetensi (kognitif, psikomotor, dan afektif)
Menggunakan teknik diagnostik
Menyediakan sejumlah alternatif strategi pembelajaran bagi peserta didik yang mengalami kesulitan

3. Peran Peserta didik
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memiliki pendekatan berbasis kompetensi sangat menjunjung tinggi dan menempatkan peran peserta didik sebagai subjek didik. Fokus program pembelajaran bukan pada “Guru dan yang akan dikerjakannya” melainkan pada ”Peserta didik dan yang akan dikerjakannya”. Oleh karena itu, pembelajaran tuntas memungkinkan peserta didik lebih leluasa dalam menentukan jumlah waktu belajar yang diperlukan. Artinya, peserta didik diberi kebebasan dalam menetapkan kecepatan pencapaian kompetensinya. Kemajuan peserta didik sangat bertumpu pada usaha serta ketekunannya secara individual.

4. Evaluasi
Penting untuk dicatat bahwa ketuntasan belajar dalam KTSP ditetapkan dengan penilaian acuan patokan (criterion referenced) pada setiap kompetensi dasar dan tidak ditetapkan berdasarkan norma (norm referenced). Dalam hal ini batas ketuntasan belajar harus ditetapkan oleh guru, misalnya apakah peserta didik harus mencapai nilai 75, 65, 55, atau sampai nilai berapa seorang peserta didik dinyatakatan mencapai ketuntasan dalam belajar.
Asumsi dasarnya adalah:
bahwa semua orang bisa belajar apa saja, hanya waktu yang diperlukan berbeda,
standar harus ditetapkan terlebih dahulu, dan hasil evaluasi adalah lulus atau tidak lulus. (Gentile & Lalley: 2003)
Sistem evaluasi menggunakan penilaian berkelanjutan, yang ciri-cirinya adalah:
Ulangan dilaksanakan untuk melihat ketuntasan setiap Kompetensi Dasar
Ulangan dapat dilaksanakan terdiri atas satu atau lebih Kompetensi Dasar (KD)
Hasil ulangan dianalisis dan ditindaklanjuti melalui program remedial dan program pengayaan.
Ulangan mencakup aspek kognitif dan psikomotor
Aspek afektif diukur melalui kegiatan inventori afektif seperti pengamatan, kuesioner, dsb.
Sistem penilaian mencakup jenis tagihan serta bentuk instrumen/soal. Dalam pembelajaran tuntas tes diusahakan disusun berdasarkan indikator sebagai alat diagnosis terhadap program pembelajaran. Dengan menggunakan tes diagnostik yang dirancang secara baik, peserta didik dimungkinkan dapat menilai sendiri hasil tesnya, termasuk mengenali di mana ia mengalami kesulitan dengan segera. Sedangkan penentuan batas pencapaian ketuntasan belajar, meskipun umumnya disepakati pada skor/nilai 75 (75%) namun batas ketuntasan yang paling realistik atau paling sesuai adalah ditetapkan oleh guru mata pelajaran, sehingga memungkinkan adanya perbedaan dalam penentuan batas ketuntasan untuk setiap KD maupun pada setiap sekolah dan atau daerah.

Monday, February 15, 2010

Pengaruh Media Informasi Pada Anak-anak kita


1. Pengaruh TV Pada Anak-anak kita


Anggit Hernowo dalam satu presentasinya di LK3 mengatakan survai menemukan 25% dari bayi (usia di bawah 1 tahun) sudah jadi sasaran televisi. Lanjutnya 92% dari semua anak-anak sudah menonton berbagai macam jenis siaran. Saya yakin 92% iklan ditonton anak-anak. Karena semua iklan sangat menarik, mulai dari musik, warna-warninya, kata-katanya. Semua menarik. TV memang tidak bisa kita hindari. Kita harus “bersahabat” dengan TV. Bagaimana agar TV tidak menjadi perusak bagi anak kita? Sebagai orang tua kita harus tetap waspada karena program yang kita tonton tanpa kita sadari dapat memberi efek negatif kepada kita, seperti paku dan palu, yang semakin lama akan mengancam. Selain di media TV, ada radio, majalah dan tabloid yang sudah banyak dilihat anak-anak yang lumayan besar. Anak-anak usia 4 tahun ke atas sudah 100% nonton TV. Sejauh mana mereka mengerti?

Anggit Hernowo lebih lanjut mengingatkan kita bahwa jika anak-anak terus melihat iklan mereka akan kena pengaruh buruknya. Kita tidak sadar selama melihat iklan apa saja yang dipukulkan acara TV ke dalam otak anak-anak itu? Bagaimana pengaruhnya pada perasaan mereka setiap kali iklan atau acara itu terus-menerus ditanamkan dalam perasaan mereka? Sementara, berapa jamkah waktu kita yang efektif bersama anak-anak kita dan mempengaruhi mereka. Bisakah kita bayangkan apa saja yang sudah tertanam dalam hati, otak, dan perasaan mereka? Apa yang ditonton anak-anak pada jam-jam 15.00-21.00? Film, sinetron, telenovela, berita. Kita juga harus mewaspadai berita. TV sekarang menayangkan berita yang berdarah-darah. Anak saya yang umur 10 tahun lihat tukang copet dikeroyok. Dia berkomentar, “Syukurluh digebukin, siapa suruh nyopet!” Dia tidak punya kepekaan lagi. Dia berpikir, orang jahat boleh dipukuli. Perhatikanlah. isi infotainment saat ini adalah artis-artis yang kawin-cerai. Baru bercerai, kawin lagi, rebutan harta gono-gini dan seterusnya. Rata-rata itu saja isinya. Itulah yang dilihat anak-anak kita. Nilai-nilai apa yang kira-kira bisa mereka ambil? Jangan-jangan dia punya pikiran, begitulah orang dewasa yang sudah menikah. Mama-papaku gimana, yah? Apakah mereka selingkuh? Apakah mereka akan bercerai juga? Kalau mereka cerai, apakah akan rebutan harta gono-gini juga?

2. Pengaruh Game dan Internet

Di samping TV anak anak kita sangat dipengaruhi game dan internet. Tidak ada yang mudah jika anak sudah terlibat jauh dengan masalah kecanduan game dan internet. Tidak ada jalan pintas. Kecanduan itu sendiri berarti ada sesuatu yang sudah terikat begitu dalam.

Perkembangan teknologi jaringan tanpa kabel membuat kita dengan mudah mengakses internet dari mana saja tanpa ketergantungan terhadap saluran telepon. Disatu pihak ini sangat positif untuk perkembangan pengetahuan dan informasi, dilain pihak dampak negatif yang ditimbulkan juga besar. Kita tidak bisa membendung perkembangan teknologi. Teknologi akan terus berjalan, makin hari makin canggih, dan akan membentuk komunitas tersendiri. Pengaruh perkembangan Teknologi dan Informasi akan juga mempengaruhi gaya hidup kita.

Apa yang harus kita lakukan bila kita mempunyai anak didik yang sudah terlanjur masuk kedalam ketergantungan pada media yang tidak sehat? Pertama, mengutamakan pendampingan yang penuh kasih dari ortu. Kehadiran dan keterlibatan bersama anak. Menyediakan waktu terbaik bersama mereka. Kita belejar mengenali mainan dan tontonan mereka lalu secara bertahap kita mengalihkan mereka kepada hal yang lebih positif. Kedua, kita melibatkan mereka pada kegiatan positif seperti ikut klub olahraga dan lainnya.  

Yang terpenting dalam membina remaja adalah menanam nilai-nilai kebenaran pada anak. Kalau anak-anak kita sudah menerima nilai-nilai kebenaran, maka dia bisa membedakan apa yang salah dan apa yang benar, terutama saat dia menghadapi banjirnya informasi media audio-visual yang sangat menggoda.

Hati-hati jika anak terlalu banyak menonton televisi atau game. Jika anak remaja kita melihat video game, buku komik, televisi, ia akan sangat terpengaruh. Akibatnya akan kehilangan fokus pada segala yang bersifat teks, seperti pelajaran sejarah, matematika, dan lain-lain. Tontonan televisi misalnya, sangat membuat perhatian anak mudah teralihkan dari satu isu ke isu lainnya karena banyak intervensi iklan di dalam setiap film. Jika seorang anak sudah terbiasa main game atau menonton terlalu lama, ketika guru memnta dia membaca buku teks untuk dibaca dia akan cepat mengantuk karena tidak menarik. Dia sudah terbiasa dengan gambar bergerak.

Menurut Martin Elvis , Game dan film kekerasan yang diserap anak anak kita juga telah melenyapkan empati dalam diri anak kita. Media seperti video game dan digital game justru bermuatan makna-makna agresivitas yang hanya menciptakan Kecerdasan Destruktif. Perasaan empati justru lenyap di dalam dunia game yang cenderung mengutamakan kecepatan, rasionalitas dan ketepatan.

Kita perlu mewaspadai, banyak game anak menonjolkan unsur kekerasan. Akibatnya mereka menganggap kekerasan itu adalah hal yang biasa. Selain itu dunia maya membuat anak akan bisa menciptakan dunianya sendiri di dalam komputer. Dia menjadi enggan mau bergaul dengan teman-teman. Jangan heran anak enggan berkomunikasi dengan keluarga, atau bepergian dengan orang tua. Game telah menjadi sahabat baiknya.

Hal penting lainnya adalah jangan sampai anak terlalu lama bermain game. Buatlah kesepakatan dengan anak berapa lama mereka boleh bermain game dan internet. Intinya, batasi. Namun untuk itu ada harga yang harus kita bayar. Kita harus meluangkan (menyediakan) waktu terbaik kita untuk menemani anak-anak. Berkomunikasi dengan mereka, bermain bersama remaja kita. Apakah itu bermain catur, halma, ulartangga, monopoli, dan sebagainya. Mengajak anak berolahraga. Komunikasi seperti ini dapat menjadi hiburan pengganti yang menyenangkan anak, dan lebih membantu pertumbuhan emosi anak. Daripada membiarkan anak berlama lama di depan televisi atau bermain game, sediakanlah waktu anda bermain dengan mereka.

Martin Elvis dalam salah satu seminarnya menegaskan ada lima hal besar yang tidak bisa dilakukan oleh media terhadap anak-anak kita:
a. Media tidak dapat menyebut nama, tidak mempunyai perhatian secara pribadi, anak kita dianggap sebagai konsumer. Inilah kesempatan kita, anak kita adalah satu pribadi yang unik, kita bisa memanggil namanya, memperhatikan dia, menatap matanya, berkomunikasi secara pribadi dengan dia.
b. Media tidak dapat memangku anak kita.
c. Media tidak bisa memeluk anak kita, tidak bisa membacakan buku cerita sebelum tidur.
d. Media tidak pernah mendengarkan anak kita. Kita diberikan anugerah untuk bisa mendengarkan curhat anak kita.
e. Media tidak bisa menaikkan anak ke tempat tidur lalu mengajaknya berdoa.



3. Tidak semua film TV dapat ditonton anak-anak.

Untuk anak yang lebih besar, misalnya kelas 1-3 SD, orangtua biasanya kesulitan menentukan lamanya menonton film atau bermain playstation, apalagi kalau si anak hanya dengan pembantu saja. Orangtua juga harus menyeleksi film atau bacaan yang sesuai dengan usianya. Ini tidak mudah. Apalagi jika tidak ada otoritas yang mengawasi.

Film kartun pun belum tentu sesuai dengan usia mereka. Komik-komik Doraemon, Crayon Sinchan, atau Donal Bebek sekalipun, banyak memuat kalimat-kalimat yang kasar dan tidak patut diperkenalkan pada anak-anak di bawah 10 tahun. Apalagi, anak-anak di bawah 10 tahun memiliki daya ingat yang kuat terhadap apa yang mereka lihat dan baca.

Bagaimana agar anak-anak kita yang duduk di SD disiplin dengan aturan-aturan yang kita buat, sekalipun kita tidak di rumah? Maksudnya, mereka mandi pukul 4.30 sore, lantas belajar, makan malam pukul 7. Saat Anda tiba di rumah, berikan waktu kepada anak-anak untuk menceriterakan kegiatan mereka seharian. Lantas tanpa disuruh, mereka tidur pukul 8.30.

4. Perlu Waktu dan Kesempatan

Berapa banyak waktu yang diperlukan untuk melatih anak disiplin? Siapa yang menjalankannya?
Ini pertanyaan yang sulit dijawab, terutama oleh orangtua yang supersibuk. Dalam suatu wawancara TV seorang artis mengatakan, “Bagi saya, yang penting kualitas waktu pertemuan dengan anak. Untuk apa sehari-harian dengan anak, tapi nggak ngapa-ngapain?”

Bagi orang yang sibuk, ini mungkin semacam defence mechanism (mekanisme pertahanan diri). Mungkin, kalau ditanya lebih jauh akan ketahuan bahwa bagi si Artis toh ada baby sitter yang mengurusi anak-anaknya. Jika kita hanya memikirkan kualitas waktu, kita cenderung mendikte anak dengan sejumlah peraturan, tanpa anak bisa belajar dari orangtuanya cara menerapkan peraturan itu.
“Buanglah sampah di tempatnya!” perintah Mama. Melani bertanya, “Mengapa sampah harus dibuang di tempatnya?”
“Jangan lama-lama main playstasion!” kata Pak Budi.
“Lho, si Albert (teman sekelas yang juga tetangganya) kok boleh?” balas Edo. Rupanya, tanpa setahu Pak Budi, Edo (7 tahun) tiap hari bermain di rumah si Albert.

Siapa yang harus menjawab? Orangtua memberi peraturan, tetapi tidak ada waktu untuk menjelaskan atau menjawab pertanyaan. Makin lama makin banyak “mengapa” yang muncul dari anak-anak. Sebab itu, orangtua harus berusaha memberi waktu sebanyak mungkin untuk menjelaskan kepada anak-anak mengapa dan bagaimana disipin dijalankan. Kadang-kadang, anak-anak berusaha menenangkan hati kita, “Udah, deh, Pa, Ma. Beres. Papa dan Mama pergi aja tenang-tenang. Nggak usah kuatir.”

Seharusnya orangtua mulai waspada jika anak-anak merasa tidak membutuhkan mereka lagi. Lebih baik hentikan semua kegiatan kantor atau pelayanan yang membutuhkan waktu lebih lama dari jam kerja. Mungkin itulah sebenarnya saat anak-anak paling membutuhkan kita. Jangan dikira, kalau anak-anak sudah mandiri (bisa mengurus diri sendiri), mereka dapat dibiarkan begitu saja.


Tips: Mendampingi Anak Menonton dan Bermain Game

1. Usahakan mendisiplin waktu anak menonton sejak masih kecil
2. Buat kesepakatan jenis film yang bisa ditonton dan jumlah waktu yang bisa digunakan anak
3. Sedapat mungkin dampingi anak menonton
4. Temani anak memilih jenis game yang mereka beli di toko
5. Diskusikan dengananak dampak setiap game yang mereka mainkan
6. Usahakan anak bermain di rumah, bukan di warnet, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan

Thursday, February 4, 2010

Kematian


Suatu hari, Imam Al Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Ia mengajukan enam pertanyaan. Pertama, “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman dan kerabatnya. Imam Al Ghazali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “kematian”. Sebab kematian adalah janji Allah SWT. “ Setiap yang bernyawa( pasti) akan merasakan mati“ ( QS Ali Imran [ 3]: 185 ). Lalu Imam Al Ghazali meneruskan ke pertanyaan yang kedua, “ Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini ?”. Murid-muridnya ada yang menjawab negeri Cina, bulan, matahari dan bitang-bintang. Lalu Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar. Tetapi jawaban yang paling benar adalah “masa lalu”. Siapapun kita, bagaimanapun kita dan betapapun kayanya , kita tetap tak bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari kita yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. 

Imam Al Ghazali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga, “Apa yang paling besar di dunia ini ?”. Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi dan matahari. Semua jawaban itu benar, kata Imam Al Ghazali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “nafsu”. Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu. Karena itu kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini, yang “menyerang” pemikiran kita dengan berbagai cara agar kita terjerumus ke neraka. Pertanyaan keempat adalah, “ Apa yang paling berat di dunia ini ?” Murid-muridnya ada yang menjawab besi, baja dan gajah. Semuanya benar, kata Imam Al Ghazali , tetapi yang paling berat di dunia ini adalah “memegang amanah”.

Pertanyaan kelima, “Apa yang paling ringan di dunia ini ?”. Murid-muridnya ada yang menjawab kapas, angin, debu dan dedaunan. Semuanya benar, tetapi yang paling ringan di dunia ini adalah “meninggalkan shalat”. Lalu pertanyaan keenam yaitu, “Apa yang paling tajam di dunia ini ?”. Murid-muridnya menjawab dengan serentak : “pedang”. Benar, kata Imam Al Ghazali, tetapi yang paling tajam diatas segalanya adalah “lidah manusia”. Karena melalui lidah yang tak bertulang , manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan kematian, senantiasa belajar dari masa lalu, dan tidak memperturutkan hawa nafsu ?

Sudahkah kita mampu mengemban amanah sekecil apapun, senantiasa menjaga shalat, dan selalu menjaga lidah kita ?

Wednesday, February 3, 2010

Tips Memperbaiki anak dengan Hukuman/Sanksi


BAGAIMANA CARA KITA MEMPERBAIKI ANAK YANG SUKA MENGGANGGU.

Jangan menghukum anak-anak ketika kesalahan tidak dilakukan di hadapan Anda atau tidak ada bukti yang menguatkan bahwa itu kesalahan mereka.
Jangan menghukum anak-anak hanya supaya sama dengan orang lain, misal Anda marah dengan ayah Anda tetapi Anda menyakiti anak laki-laki Anda. Itu merupakan hal yang tidak adil.
Jangan menunda hukuman ketika kesalahan diperbuat pada saat Anda melihatnya atau Anda mempunyai cukup bukti, dengan berkata “Tunggu sampai ayahmu pulang, ibu akan memberitahu ayahmu agar memukulmu”.
Jangan menggunakan peristiwa yang tidak berhubungan untuk menghukum anak-anak, misalnya Anda menjanjikan mereka untuk bermain. Kemudian anak-anak Anda membuat sebuah kesalahan, sehingga Anda memutuskan untuk membatalkan bermain. Membatalkan bermain diharapkan untuk menghukum anak-anak. Anda sama sekali tidak boleh melakukan cara semacam ini.
Jangan bersikap seperti seseorang pemenang sesudah Anda menghukum seorang anak. Anak akan percaya bahwa hukuman hanya melegakan orangtuanya. Atau hal tersebut akan memperlihatkan bahwa Anda adalah orang yang lemah. Anak tidak akan segan kepada Anda di masa depan.
Jangan menghukum anak-anak jika hukuman lain sudah pernah dibebankan pada mereka. Contohnya, anak-anak nakal dan jatuh. Anda marah, memukulnya, dan berkata yang tidak sopan. Itu tidak benar. Jatuh sudah mengajarkan mereka sebuah pelajaran bagaimana sakitnya. Jangan menambahkan sakit mental kepada mereka. Jika anak-anak hanya bayi yang polos, Anda sendiri yang harus berhati-hati untuk memperhatikannya.
Jangan menghukum anak-anak dengan memakai lidah Anda. Memaki-maki dan mengomel tidak berguna untuk anak-anak. Itu hanya akan membantu mengalihkan kebiasaan buruk kepada anak-anak. Hati-hati dengan lidah tajam Anda.
Sesuatu yang Anda ucapkan salah, selamanya tetap salah, misalnya, anak Anda menampar wajah Anda dan Anda menampar balik karena bersikap tidak baik. Nantinya anak itu akan menampar Anda lagi, yang kebetulan terjadi ketika Anda pada situasi yang baik sehingga Anda tertawa dan menganggap itu bercanda. Sikap Anda akan membingungkan anak dan mereka tidak tahu pasti kapan atau bagaimana yang benar atau salah.
Jangan menggunakan perbedaan standar antara siapa pun yang menghukum, ayah atau ibu harus memakai hukuman yang sama untuk kesalahaan yang hampir serupa.
Jangan memberikan hukuman tidak adil, contohnya pertengkaran antar saudara. Kakaknya dihukum lebih berat dari adiknya karena yang satu lebih kecil. Kakaknya sakit hati dan menjadi cemburu pada adiknya. Kakaknya marah dan bisa menyakiti yang adiknya kelak dan juga tidak menghormati Anda.
Jangan menghukum seorang anak berulang-ulang, tetapi gunakan dengan cara meyakinkan. Lakukan itu dengan sungguh-sungguh.
Jangan menghukum seorang anak dengan tidak benar, contohnya menunjukkan kemarahan dengan tidak berbicara kepada mereka selama tiga hari.
Jangan memperdebatkan soal hukuman di depan anak Anda. Jika Anda ingin berdebat, lakukan tanpa terlihat oleh mereka.
Jangan melakukan hukuman dengan setengah hati sebab Anda tidak ingin melakukannya sendiri, tetapi membuat suara kemarahan yang keras untuk membuat orang lain melakukannya untuk Anda. Hukuman Anda tidak akan berarti dan anak-anak tidak akan menjadi takut.

Saturday, January 23, 2010

Hilangkan Rasa Stres Anak


Setiap anak mempunyai kebebasan berpikir, bermain, maupun beradaptasi dengan orang lain namun tentunya ada batasan dalam kebebasannya. Salah seorang anak mengeluh jika pembelajaran hanya sebatas kejar nilai target atau setoran hafalan namun akhirnya membuat si anak menjadi stres bahkan menjadi bingung dalam belajarnya yang akhirnya tidak konsentrasi sampai juga menimbulkan anak sakit demam atau malas dalam belajarnya. Komunikasi orang tua dan anak kadang hanya sebatas pertemuan dalam sepatah kata "Bagaimana nilaimu atau sudah kerjakan PR nya buat besok ?". Itulah kilahan bagi sang orang tua. Akhirnya anak lebih memilih menyendiri, bersembunyi atau bermain tanpa memikirkan tugas-tugas maupun harapan nilai-nilai pelajarannya "apa adanya". Seringkali orang tua kurang memahami apakah anaknya sudah memberikan kebebasannya dalam pelajaran ? Padahal mereka sebagian besar stres terhadap pelajaran atau kurang nyaman dalam belajarnya.

Yang terpenting adalah bagaimana orangtua mengatur waktu, mengajarkan kepada anak agar mereka dapat mengenali dan mengekspresikan emosi mereka, dengan menggunakan cara-cara sehat untuk mengatasi stres yang mereka alami. Orangtua dapat membantu mempersiapkan anak-anak untuk menghadapi masalah apapun secara bersama. Hasil polling yang dilakukan, teryata yang menyebabkan stres pada anak adalah: Nilai, sekolah dan rumah (36%), keluarga (32%), dan teman-teman, gosip, dan gangguan lainnya (21%).

Dan yang dilakukan anak-anak untuk mengatasi atau menghilangkan stres adalah dengan cara, sebagai berikut;

- 52% bermain atau melakukan sesuatu yang aktif.
- 44% mendengarkan musik.
- 30% berbicara dengan seorang teman.
- 29% tidak mencoba untuk berpikir tentang hal ini.
- 28% mencoba melakukan atau mengerjakan sesuatu.
- 26% makan sesuatu.
- 23% meluapkan emosinya dengan marah dan membanting benda.
- 22% berbicara dengan orangtua.
- 11% menangis.

Kurangnya tindakan untuk mengantispasi anak yang stres bahkan orang tua pun stres melihat anaknya kurang semangat dalam belajar dan sedih karena prestasinya rendah. Ini adalah PR buat keluarga sang pendidik utama dalam menentukan masa depan bagi si Anak bukan guru saja. Yang akhirnya ujung-ujungnya Guru menjadi tumpuan bagi perubah sang anak didiknya. Apakah guru jadi tumpuan utama perubah ? tentu saja tidak, jika saja anak membuat stres karena orang tua kurang berkomunikasi atau tidak membiasakan jadwal belajarnya dengan baik bahkan sedikit memberikan kebebasannya dalam bermain. Bahkan dalam ungkapan salah satu anak berkata "Aku bermain futsal untuk menghilangkan stres". Lihatlah ternyata ungkapan itu menjadi ujung tombak bagi siswa bahwa si Anak membutuhkan waktunya bermain, bercengkraman, berdiskusi dengan si Anak agar bisa menyenangkan dalam belajar. Bahkan barangkali dirumah pun si anak tidak ada tempat bermain, bercanda dengan teman sebayanya yang akhirnya lebih memilih bermain teman sebayanya.

Kini waktunya anak membutuhkan bermain, diskusi belajar yang menyenangkan, bercanda dengan senang tentunya membuat si anak tidak stres bahkan menjadi sakit, karena kurangnya pengalaman, interaksi, adaptasi pada lingkungannya. Ini tergantung bagaiamana si Orang tua menyeleksi bahkan mencoba mengawasi apakah anak tersebut mendapat pergaulan yang baik dalam bermainnya. Sangat perlu sekali pengawasan tersebut apalagi anak harus tahu bagaimana tanggung jawabnya, kemandiriannya juga kesadarannya.

Sekitar 25% dari anak-anak yang disurvei mengatakan bahwa ketika mereka bingung, mereka kadang memukul kepalanya dengan sesuatu atau melakukan sesuatu yang lain untuk menyakiti diri. Orangtua harus waspada bahwa anak-anak akan melakukan sesuatu untuk membahayakan dirinya saat mereka stres.

Jajak pendapat yang juga mengungkapkan berita penting bagi orangtua. 75% dari anak-anak yang disurvei mengatakan mereka ingin agar orangtua membantu mereka memecahkan masalah. Jadi saat anak Anda stres cobalah untuk menghabiskan waktu bersama mereka.

Saya memberikan poin utama menghilangkan stres bagi si anak :

1. Ajaklah mereka berolahraga dengannya maupun teman sekolahnya agar ia semangat.

2. Ajaklah mereka berkunjung ketempat toko buku atau perpustakaan agar mengetahui  pembelajaran mana yang ia sukai.

3. Sediakan waktu dan dengarkan anak Anda dengan senyuman, meminta mereka untuk memberitahu apa yang salah saat ia membicarakan persoalan.

4. Tanggapi secara bijkasana dalam mengambil keputusan dan tambahkan rasa humor Anda.

5. Evaluasi apakah ada tekanan dan cek ulang dalam prestasinya, jangan lupa berikan reward untuknya.

6. Perbanyak doa dan selalu meningkatkan ibadah bersamanya agar terkontrol dan bisa perhatian dengan si anak 

Semoga Tips ini menjadikan anak selalu bersemangat dan terhindar dari kezhaliman bagi si Anak, kepedulian dari orang tua sangat penting sekali  dan sangat di tunggu olehnya agar stres yang menimpa dirinya tidak membuat emosi bahkan menjadi sangat menyenangkan dalam kehidupannya sehari-hari. wallahu'alam bi showab

Dian Parikesit, S.Pd


Sunday, January 17, 2010

Ketergantungan Kurikulum Diknas ?


Guru dan kurikulum adalah komponen penting dalam sebuah sistem pendidikan. Keberhasilan atau kegagalan dari suatu sistem pendidikan sangat dipengaruhi oleh dua faktor tersebut.  Benci atau sukanya siswa terhadap suatu pelajaran bergantung pada bagaimana guru mengajar. Saya katakan bahwa guru adalah ujung tombak dalam sistem pendidikan. Sebagai ujung tombak, tentu kita sangat berharap kepada peran guru dan kharismanya di hadapan siswa.Ada juga guru yang untuk menutupi kemalasannya dan ketidakmampuannya menguasai materi memberikan tugas kepada siswa untuk merangkum materi pelajaran atau membuat makalah dengan topik materi pelajaran yang akan diajarkan. Dengan siswa telah membuat rangkuman atau makalah guru menganggap siswa sudah mempelajari materi tersebut dan menganggap siswa sudah mampu menjawab semua pertanyaan yang berkaitan dengan materi tersebut. Wow, hebat sekali ya! (Jadi, ngapain aja tuh guru?)

Guru yang lainnya, untuk menutupi kemalasannya dan kekurangannya, ada yang memanfaatkan otoritasnya dengan bersikap galak kepada siswa. Ini diharapkan dapat menarik perhatian siswa terhadap pelajaran yang diajarkannya sehingga guru akan lebih leluasa mengajarkan materi pelajaran.

Wajar saja kalau kegiatan belajar di kelas menjadi kurang menarik dan sulit lha wong gurunya saja tidak pernah memberikan pelajaran sama sekali dan lebih suka marah-marah ketimbang mengajar. Dari mana siswa mendapat tambahan pengetahuan kalau bukan dari guru? Padahal guru bertanggung jawab untuk mengantarkan siswa memahami pelajaran dan membimbing siswa untuk menerapkan pelajaran yang diajarkannya.

Kurikulum yang ada selama ini hanya mampu diikuti oleh segelintir siswa saja yang mampu sedangkan sebagian besar siswa tidak dapat mengikuti apa yang diajarkan oleh guru. Mengapa ? Seharusnya kurikulum dibuat untuk dapat diikuti oleh semua siswa, tidak hanya oleh segelintir siswa yang pintar saja.  Dan belum tentu bisa dipahami oleh semua siswa karena kemampuan masing-masing siswa berbeda-beda. Akibatnya, tidak cukup waktu yang tersedia untuk menyelesaikan seluruh materi yang ada dalam kurikulum. Guru pun hanya berpedoman pada kurikulum Diknas sesuai ketentuan UN atau sesuai acuan target kisi-kisi soal ujian nasional tidak melihat segi psikomotorik siswa, yang pada akhirnya guru tidak bisa mengembangkan kurikulum yang bernama kebebasan berpikir, kreativitas maupun imanjinasi ujian yang telah dibuatnya.

Sangat sinis sekali seandainya siswa harus berpacu pada materi-materi  UN tapi kecerdasan dalam berpikir imajinasi terkena batin yang akhirnya siswa hanya menggeleng-geleng kecapean atau dengan nada " Huh letih sekali". Apakah pendidikan itu membuat melemahkan konsentrasi siswa dalam belajar atau sebagai ancaman agar tidak bisa lulus ? Kewajiban yang harus direformasi dalam pendidikan agar bagaimana kelulusan sekolah agar anak itu bisa mendapatkan pengalaman dan pengembangan kreativitas belajarnya bukan dilihat sebagai ancaman dalam belajarnya. Sehingga Kelululusan menjadi sebuah impian teror bagi siswa yang bisa membunuh karakter siswa atau akhirnya dengan perkataan "Yang penting lulus dulu" namun keyakinan pengalaman pembelajaran hanya terhenti diam tanpa melihat segi nyata ketika ia mendapatkan ilmu yang nyata ditempat kerja atau aktivitas lingkungan siswa yang ia temukan disekitarnya.

Akan tetapi, karena kurikulum telah dijadikan pedoman dan bahkan seolah-olah bagaikan kitab suci yang wajib digunakan, kekurangan-kekurangan yang ada dalam kurikulum tidak bisa diganggu gugat. Ini menjadi beban tersendiri buat guru dan siswa. Padahal kurikulum bisa membuat keluasan berpikir guru untuk mendapatkannya dari berbagai media mulai dari indikator keberhasilan, waktu, media pembelajaran dari luar negeri maupun studi banding kurikulum sekolah yang mapan dan sukses. Begitu luar biasanya penanaman siswa utuk  berpikir memberikan karya kreativitas anak agar negara bisa maju dikarenakan keistimewaan siswa yang selalu mempunyai daya pikir yang luarbiasa dan kebebasan dalam berkarya. begitu banyaknya negara maju membuat hipotesis atau hasil temuan-temuan baru dikarenakan siswa dan guru saling berkompetisi untuk selalu mengembangkan pikiran-pikiran baru agar menjadi peneliti baru dan bagaimana seseorang bisa mempunyai hasil temuan karya dirinya sendiri. Tidak salahnya kalo kita bisa melanjutkan generasi yang berpikir dengan temuan yang baru  tanpa harus selalu merujuk pada kurikulum Diknas. Pada akhirnya kurikulum menjadikan boneka hiasan namun kurang dipahami bahkan dimengerti oleh sang pendidik . tentunya harus mengambil jalan baru atau yang terbaik kurikulum tersebut.

GURU ADALAH CERMIN UNTUK MURIDNYA.
GURU BUKAN KERJA SAMPINGAN.
GURU YANG MENJADIKAN NEGARA MAJU ATAU TERPURUK.

Guru mengajar dengan AKAL dan pengetahuannya maka akan diterima oleh AKAL muridnya.
Guru mengajar dengan HATI dan rasa tanggung jawabnya, maka akan diterima oleh HATI muridnya dengan penuh tanggung jawab.
Guru mengajar dengan hawa nafsu dan ke”bodoh”annya,maka akan diterima oleh HAWA NAFSU muridnya dengan kebencian dan ketidaktahuannya.

Ada ilmu yang dibutuhkan siswa dalam hidupnya, tapi siswa tidak tahu terhadap ilmu itu, wajib disampaikan dan diajarkan dengan cara bagaimana supaya siswa itu butuh pada ilmu itu dan mengejarnnya.

Ada ilmu yang dibutuhkan siswa dalam hidupnya, dan siswa tahu ilmu itu dibutuhkannya,wajib disampaikan dan diajarkan dengan cara bagaimanapun biasanya siswa itu butuh pada ilmu itu maka akan mengejarnya.

Apakah harus ketergantungan kurikulum Diknas ? Hanya Anda yang bisa menjawab atau memang harus ditinggalkan semuanya ?

Dian Parikesit, S.Pd

Wednesday, January 13, 2010

Dunia tanpa Batas ?


Semakin lama zaman semakin modern, bumi pun juga semakin tua ketika punahnya bumi atau istilahnya tidak kuat dengan usia yang terlampau tua dan besar maka mudahlah ia rapuh maupun mudah terkena penyakit. Akankah dunia mudah terkena penyakit ? Maka istilah dokter mengatakan "mencegah lebih baik daripada mengobatinya". Ketika semakin banyaknya media informasi maka makin banyak pula tantangan dan ujian yang akan dialami dunia pendidikan. Begitu banyak hobi dan bakat siswa dalam menempuh dunia teknologi informasi yang terus diminati namun juga sering terjadi akhirnya lalai dalam memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Sebagian besar yang kami alami begitu habisnya waktu untuk siswa melakukan kegiatan refresingnya dengan televisi, komputer , internet namun minat untuk membaca semakin berkurang. Begitu banyaknya kemodernan informasi yang didapatkan dari ilmu informasi namun tidak dilandasi dengan kekaryaan terbarunya melalui tulisan dan tangan pena mereka. Yang hanya mereka bisa copy/paste, fotocopy, rekam, atau mendapatkan modul bahan ajaran.

Pertanyaan besar dalam diri saya apakah mereka selama ini hanya bisa menyontek atau meniru ? Namun yang sangat disayangkan bagaimana siswa dilatih untuk menulis, membaca bahkan mempresentasikan hasil kekaryaannya dimulai dengan kemandirian dan tanggung jawab kepribadian. Sungguh luarbiasa nya dunia informasi seperti internet yang akhirnya masih terjadinya meniru bahkan banyak kurang kreatifnya siswa untuk melakukan potensi yang harus dikembangkan. Siswa justru lebih banyak bermain face book, chatting bahkan game online bagaimana siswa selalu berkomunikasi melalui sms yang terus menerus yang hanya masalahnya ia tidak berjumpa ataupun tidak tahu informasi dari sahabatnya. Justru sms, facebook menjadi penting dibandingkan kemandirian dan kesadaran belajar, diskusi maupun bermain sesuai kaidah pendidikan yang baik.

Akankah dunia bisa dibatasi dengan informasi ini ? Tentu saja tidak, dunia semakin terus berkembang dan maju dengan teknologinya maupun model zaman forman yang akan membentuk karater manusia pada masa yang akan datang. Tentu setiap zaman harus mempunyai aturan batasan yang tidak sampai terobsesi anak menjadi budak informasi ataupun pengikut internet. Batasan perlu adanya sistem yang mewakili dari bakat dan kreativitas siswa maupun budaya yang memang harus merka kembangkan. Akan tetapi modal batasan juga harus dikelola dengan baik dan benar. bagaimana karakter anak membentuk tanggung jawab, berprestasi serta dapat sadar dengan sendirinya bisa menghasilaan kekaryaan yang baru. bukan justru terobsesi menjadi budak atau secara otomatis hanya peniruan bakat saja tanpa ada hasil karya yang ditemukannya.

Ubahlah bagaimana anak bisa membuat tulisan tersendiri (blog/memoar), memberikan diskusi, bahkan bagaimana anak dengan sadar bisa menggunakan jilbab menutup auratnya), sholat dan tilawah dengan kesadaran diri dan bisa dipertanggung jawabkan dengan akhirnya evaluasi pun akan menjadi membanggakan bagi keluarga maupun dunia pendidikan tidak harus mengikuti lomba event tertentu tapi harus dilandasi dengan batas wajar yang menurut orang tua wajib untuk menuntut anaknya agar tidak terobsesi hal-hal yang merugikan bagi si anak. Apalagi bagi dunia pendidikan. Berapa banyak informasi begitu hebatnya yang akhirnya bisa menutup usia tua namun banyak terjangkit penyakit yang mudah melemahkan belajar (malas, ngantuk, tidak peduli, emosional, pelit, berkelahi dan lain-lain).

itulah pelajaran tantangan bagi dunia pendidikan apakah kita bisa mengelola dunia ini tanpa batas ? kalo memang tidak ada batas siapa yang bisa mengawasi bahkan yang mengobatinya dengan resep yang manjur bahkan sehat sepanjang zamannya. Itupun kalo kita bisa mempertahankan arti budaya tradisional. Ternyata yang benama tradisional pun mempunyai makna dan manfaat yang banyak sekali untuk meningkatkan bakat maupun kemandirian siswa secara efektif dan efisien . Wallahu' alam bishowab

Dian Parikesit, S.Pd

Tuesday, January 5, 2010

Terlalu Bagus menjadi Kenyataan ?


Kekuatan potensi siswa diukur bukan hanya dilihat dari akademik namun juga harus dilihat dari segi psikomotorik. Bagaimana bisa seorang anak untuk berusaha menempuh pendidikan dengan nilai target yang dicapai kalo harus dibunuh karakter pribadinya. Kepuasan seorang peserta didik justru di berikan melalui pengalaman siswa seutuhnya dari proses pembelajaran dan ilmu tambahan dari informasi media, komunikasi, maupun dari sahabat pribadinya yang membuat anak mencari identitasi kehidupan pengalaman yang seutuhnya. Cita-cita anak tak harus dibuat oleh orang tua yang mengharuskan target pembelajaranya standar tinggi dalam proses nilai belajar. Jika keadaan seperti itu maka anak Indonesia belum menjadikan anak yang mandiri dan hanya bersifat parsial tanpa mengelola dan memanfaatkannya dari psikomotoriknya yang dicapai dalam pendidikan.

Sangat berpeluang jika anak diberikan pembelajaran tanggung jawab, kepeminpinan, pengorganisasian, serta bagaimana siswa dapat merancang tujuan pendidikan yang terampil tanpa harus menargetkan nilai yang ditargetkan disekolahnya maupun target bagi si Orang tua. Pembelajaran tanggung jawab, kepeminpinan siswa sangat baik sekali  ketika dalam variasi kegiatan belajarnya mampu membuat rancangan hasil karya dan produktivitas kinerja yang benar-benar dilatih agar siswa bisa menerapkan bagaimana siswa berpikir apa arti tujuan akhir belajar di sekolahnya. Yang diinginkan sebagian besar siswa untuk bersekolah adalah pendidikan yang baik, mendapatkan teman, bersenang-senang meski harus diakui segala keinginannya adalah kedamaian hati dan mampu berpikir dengan kesadaran diri. Namun  jika diperhatikan kebanyakan kasus, orang tua/guru hanya berpikir bisa mendidik kompetensi tapi justru sulit untuk mendidik karakter siswa. 

Ubahlah persepsi kita agar menjadikan pembelajaran/sekolah yang bagus, tapi bukan sekolah yang berprestasi tinggi A, B, C. bila kita hanya memikirkan mencapai nilai tes tinggi, saya pun khawatir kita akan menciptakan generasi anak-anak yang tidak mendapat melakukan apa-apa selain mengerjakan tes dengan baik apalagi ketrampilan dan tanggung jawab karakter siswa. Saya percaya bahwa secara keseluruhan bagi kaum pelajar masa kini merupakan generasi yang paling gemilang dan berbakat yang pernah ada dibumi ini sekalipun. 

Mereka dapat mengakses lebih banyak penyesuaian, pengetahuan, kecerdikan dan sumber daya daripada generasi sebelumnya. Maka dalam pertanyaan kita  masa depan seperti apa yang akan dihadapi orang-orang muda generasi ini ?Apa yang dinantikan mereka ?  Tapi perlu diingat masa depan akan menjadi sebuah petualangan yang tak ada duanya bagi mereka. Dunia bisnis sudah berubah bentuk karena teknologi meratakan lapangan permainan globalisasi dan persaingan ketat terjadi didalam setiap perusahaan dan berdampak pada semua rumah tangga. Apakah anak-anak Indonesia akan memiliki kemampuan dan kualitas karakter yang diperlukan untuk suskes di masa depan ?

Bukankah sebagian besar guru lebih memikirkan "Pelajaran apa yang harus saya persiapkan hari ini ? dari pada memikirkan "Karir masa depan apakah yang paling cocok untuk 10 tahun yang akan datang ?Maka seorang anak akan berpikir panjang yang harus ia katakan  "Apa makan siang hari ini ?" atau "Saya akan bergaul dengan siapa usai jam sekolah ?" Tentunya sekolah-sekolah tidak saja mengajarkan kompetensi akademik yang dipikirkan namun ketrampilan yang akan berdampak masa depan siswa dan juga ketrampilan yang berprinsip memberi dampak langsung hari ini, hanya siswa membuat pilihan yang lebih baik , hari ini Kita. anak-anak sudah berusaha untuk belajar yang bagus, terbaik namun janganlah ia terbunuh dengan karakter pribadinya dengan akademik, nilai maupun target capaian yang tidak memenuhi standar Anda. Berilah keleluasan dan kebebasan berpikir dalam belajarnya agar ia bisa bertanggung jawab dan juga bisa menumbuhkan kesadaran yang berarti dalam belajarnya.

Dian Parikesit, S.Pd

Sunday, December 27, 2009

Nikmat Umur, Nikmat Berharga



Sambutan hari kelahiran atau "Birthday" ialah untuk menyatakan kesyukuran dan kegembiraan kerana dilanjutkan usia ataupun dipanjangkan umur. Allah s.w.t. menjadikan manusia sebagai semulia-mulia makhluk dan dikurniakanNya dengan berbagai-bagai nikmat setiap saat. Di antara nikmat kurnia Allah itu ialah nikmat umur iaitu salah satu nikmat Allah yang paling tinggi, paling mahal nilai harganya.


Sebagai seorang Islam, kita adalah digalakkan mengambil tahu dan merenungkan perkara umur ini kerana ia ada hubungan dengan kebahagiaan dan masa depan kehidupan kita. Di akhirat nanti, setiap kita akan dipertanggungjawabkan tentang umur kita di hadapan Allah s.w.t., sebagaimana tersebut di dalam hadis Nabi s.a.w. yang bermaksud: "Tidak berganjak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga ia disoal tentang umurnya pada perkara apakah ia habiskan, dan tentang ilmunya untuk apakah ia gunakan, dan tentang harta bendanya dari manakah ia perolehi dan pada apakah ia belanjakan, dan juga tentang tubuh badannya pada perkara apakah ia susutkan kemudaan dan kecergasannya". (HR Tarmizi)

Sehubungan dengan itu, adalah penting untuk kita menggunakan umur kita itu dengan berhati-hati dan dengan amalan-amalan yang baik khasnya untuk mencapai Husnul Khatimah iaitu penghabisan umur yang baik. Dan mereka yang tidak menggunakan usianya dengan sebaik-baiknya, maka mereka berada di dalam kerugian di dunia dan di akhirat. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah s.w.t. di dalam surah al 'Asr: Tafsirnya: "Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar".

Allah s.w.t. telah menerangkan bahawa umur manusia di dunia ini adalah berpindah keadaannya dari satu ke satu keadaan dan dari satu peringkat ke satu peringkat yang lain, sebagaimana firmanNya dalam Surah al Haj, ayat 5: Tafsirnya: "Dan Kami pula menetapkan dalam kandungan rahim (ibu yang mengandung itu) apa yang Kami rancangkan hingga suatu masa yang ditentukan lahirnya; kemudian Kami mengeluarkan kamu berupa kanak-kanak; kemudian (kamu dipelihara) hingga sampai peringkat umur dewasa; dan dalam pada itu ada di antara kamu yang dimatikan (semasa kecil atau semasa dewasa) dan ada pula yang dilanjutkan umurnya ke peringkat tua nyanyuk sehingga ia tidak mengetahui lagi akan sesuatu yang telah diketahuinya dahulu".

'Ulama Islam Imam Ibnu al Jauzi telah membahagikan umur manusia ini menjadi lima masa iaitu:
Pertama : Masa Kanak-kanak - sejak dilahirkan hingga mencapai umur lima belas tahun.
Kedua : Masa Muda - dari umur lima belas tahun hingga umur tiga puluh lima tahun.
Ketiga : Masa Dewasa - dari umur tiga puluh lima tahun hingga umur lima puluh tahun.
Keempat : Masa Tua - dari umur lima puluh tahun hingga umur tujuh puluh tahun.
Kelima : Masa Usia Lanjut - dari umur tujuh puluh tahun hingga akhir umur yang dikurniakan oleh Allah.

Sabda Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dari Jabir r.a.: Maksudnya: "Sebaik-baik kamu orang yang panjang umurnya dan baik amalnya kepada Allah".

Dan sabda Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Ahmad: Maksudnya: "Jangan seseorang kamu itu berangan-angan mati, adapun jika dia orang baik, maka barangkali ia bertambah-tambah berbuat baik kepada Allah, dan jika dia orang yang berbuat salah, maka barangkali ia bertaubat dan kembali kepada Allah".

Tetapi Rasulullah s.a.w. mohon berlindung dari dikembalikan pada umur yang membawa nyanyuk dan berubah akal fikiran dan tiada tentu fikiran. Maka sehubungan dengan itu kita amat bersyukur kehadhrat Allah s.w.t. kerana kita telah dikurniakan umur panjang yang disertai dengan amal baik kepada Allah. Kita berkeadaan sihat, taat beribadah dan mentaati Allah.

Adakalanya Allah s.w.t. memberikan berkatNya pada umur yang pendek bagi sebahagian hambaNya yang terpilih, sehingga amalannya lebih banyak kebaikannya dan lebih terasa manfaatnya daripada orang-orang yang dipanjangkan umurnya. Seperti umur Imam Syafie, umur Imam Ghazali dan umur Imam Nawawi dan lain-lain lagi ulama-ulama besar yang tiada dipanjangkan umur mereka tetapi mereka dapat menyebarkan kebajikan yang banyak yang dapat dimanfaatkan oleh sekalian manusia. Itulah kelebihan dari Allah s.w.t. yang dikurniakan kepada siapa yang dikehendakinya.

Islam menggalakkan umatnya supaya sentiasa mengingati mati, bukannya memanjangkan harapan (menunda-nunda taubat kerana merasa umur masih panjang dan ia terus saja terbuai dalam angan-angan mencapai kemewahan dunia) yang merupakan perkara yang dilarang. Firman Allah s.w.t. dalam Surah al Munafiqun ayat 9 -11, Tafsirnya: "Wahai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu dilalaikan oleh urusan harta benda kamu dan anak pinak kamu daripada mengingati Allah (dengan menjalankan perintahNya). Dan ingatlah, sesiapa yang melakukan demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi".

Dan belanjakanlah (dermakanlah) sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada kamu sebelum seseorang dari kamu sampai ajal maut kepadanya, (Kalau tidak) maka ia (pada saat itu) akan merayu dengan katanya: "Wahai Tuhanku! Alangkah baiknya kalau Engkau lambatkan kedatangan ajalku ke suatu masa yang sedikit sahaja lagi, supaya aku dapat bersedekah dan dapat pula aku menjadi dari orang-orang yang soleh".

Dan ingatlah, Allah tidak sekali-kali akan melambatkan kematian seseorang (atau sesuatu yang bernyawa) apabila sampai ajalnya, dan Allah Amat Mendalam PengetahuanNya mengenai segala yang kamu kerjakan.

Marilah kita renungkan pesanan junjungan besar kita Nabi Muhammad s.a.w. iaitu sabda Baginda dalam hadis: Maksudnya: "Rebutah olehmu akan lima perkara sebelum datang lima perkara; hidup kamu sebelum mati, sihat kamu sebelum sakit, masa lapang kamu sebelum masa kesibukan kamu, muda kamu sebelum tua, dan kaya kamu sebelum miskin". (HR Hakim dan Baihaqi)

Saturday, December 26, 2009

Tips Model Evaluasi/Ujian Akademik


Berikut ini tips untuk memperkenalkan anak dengan model evaluasi/ujian akademik dengan model sekolah.


a. Mengacu pada kurikulum
Berangkatlah dari kurikulum sebagai gambaran besar pencapaian-pencapaian akademis yang harus dicapai oleh anak. Kurikulum menjelaskan tentang cakupan materi yang harus dikuasai pada jenjang tertentu dan semakin tinggi jenjangnya akan semakin luas dan dalam cakupannya. Dengan berangkat dari kurikulum, anak tidak hanya belajar untuk lulus tes (learn-to-test), tetapi karena memang ada sasaran-sasaran pelajaran yang hendak diraihnya.

b. Buku sekolah
Untuk proses belajar, Anda dapat menggunakan bahan apa saja, mulai buku, audio-visual, proyek, dan sebagainya. Untuk keperluan evaluasi, belilah buku PR atau buku tes sesuai mata pelajaran yang akan diujikan.

c. Sepakati tes dan periode tes
Sepakati dengan anak-anak mengenai tes yang akan dilakukan; apa saja saja yang akan dites, berapa lama tes, dan seberapa sering tes dilakukan. Untuk menghindari proses belajar yang hanya dilakukan untuk mengerjakan tes, jangan terlalu sering mengadakan tes. Tetapi jangan terlalu longgar juga sehingga tes baru diadakan menjelang ujian. Hindari persiapan mendadak agar Anda dan anak Anda memiliki waktu untuk memperbaiki penguasaan materi-materi yang dirasa kurang.

d. Uji performa melalui tes
Buat jenjang-jenjang tes, misalnya tes kecil dan tes besar. Tes kecil dalam periode lebih sering tetapi dengan cakupan yang lebih sedikit. Sementara tes besar menjadi semacam ujian komprehensif terhadap apa-apa yang sudah dipelajari selama enam bulan atau satu tahun. Dalam pengenalan mengenai tes akademik, Anak perlu tahu dan belajar bahwa ada penguasaan materi yang diujikan dan jangka waktu penyelesaian yang harus ditaati.

e. Tes akademik bukan segalanya
Bottom line, ingatlah bahwa tes akademik hanyalah salah satu bagian dari proses belajar. Tanpa meremehkan tes akademik, ujian tertulis bukanlah keseluruhan proses belajar dan tidak boleh menjadi tujuan pembelajaran. Banyak waktu yang dapat Anda gunakan dalam proses belajar untuk mengembangkan minat dan bakat Anak, serta belajar dan menekuni hal-hal yang diminatinya. 

Yang utama adalah anak-anak dapat terampil menjalani kehidupannya, bukan sekedar terampil mengerjakan tesnya saja.